Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Pelajar NU Pabedilan Ngaji Fiqih Seputar Haid

Cirebon, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Pimpinan Anak Cabang IPNU dan IPPNU Kecamatan Pabedilan Kabupaten Cirebon menggelar kajian fiqih seputar haid di Pesantren Raudlatut Tholibin Desa Kalibuntu, Pabebdilan, Kamis (30/6). Kegiatan ini terlaksana berkat kerja sama dengan Ikatan Alumni Pesantren Lirboyo Kecamatan Pangenan yang diikuti puluhan anggota IPNU dan IPPNU setempat.

Menurut Ketua IPPNU Pabedilan Sri Mahmudah, kegiatan seminar ini membahas perempuan khususnya haid, nifas, dan seluruh permasalahannya. Kajian ini menghadirkan narasumber Ustadz Harun Purhadi, alumni Pesantren Lirboyo.

Pelajar NU Pabedilan Ngaji Fiqih Seputar Haid (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Pabedilan Ngaji Fiqih Seputar Haid (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Pabedilan Ngaji Fiqih Seputar Haid

"Intinya menuju perempuan salehah. Minimalnya tahu dan mengerti seluk-beluk haid. Tentang haid ini menurutku sangat penting juga dikaji baik oleh perempuan maupun laki-laki. Karena perempuan dan laki-laki sudah seharusnya mengerti persoalan haid dan permasalahannya,” jelas Mudah.

Sedangkan Ketua IPNU Pabedilan Ahmad Fahrurrijal mengatakan, kegiatan ini penting karena banyak para kader yang membutuhkan pengetahuan seputar haid dan thaharah agar lebih mantap dalam menjalankan ibadah sehari-hari. Untuk laki-laki, agar kelak setelah berumah tangga paham tentang haid dan dapat menuntun istrinya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Alhamdulillah acara kami disambut dengan baik oleh kader. Setelah seminar acara kami lanjut dengan tadarus Al-Qur’an sambil ngabuburit dan buka bersama. Malamnya setelah Tarawih, kami isi dengan rapat koordinasi dengan seluruh ranting dan komisariat yang ada di Kecamatan Pabedilan,” jelas Rijal kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari IPNU-IPPNU Kabupaten Cirebon. Ketua IPNU Cirebon Ayub Al-Ansori dan Ketua IPPNU Cirebon Nur Aida Fajriyanti berharap ke depan seluruh anak cabang Pelajar NU selain gencar kaderisasi formal juga penting untuk memerhatikan keilmuan para pelajar baik dalam bentuk seminar, diskusi, maupun pelatihan. (Nurjannah Al-Kendali/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah, Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

PMII: Aparat Jangan Takluk pada Preman

Medan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Bangsa ini harus cepat keluar dan mengembalikan citranya yang negatif. Cap yang kini disandang Indonesia sebagai negara koruptor, menyukai kekerasan, negara terorisme, dan label negatif lainnya harus dipandang dengan cara prihatin.

Hal itu diungkapkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) A Jabidi Ritonga, pada seminar kebangsaan bertajuk “Ancaman Ideologi dan Ormas Radikal terhadap NKRI” yang digelar Pengurus Koordinator Cabang PKC PMII Sumut di Hotel Semarak Medan, Rabu (29/2) sore.

PMII: Aparat Jangan Takluk pada Preman (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII: Aparat Jangan Takluk pada Preman (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII: Aparat Jangan Takluk pada Preman

Dia juga menyatakan prihatin melihat banyaknya Ormas dan OKP yang mengatasnamakan agama dan rakyat sering melakukan tindakan kekerasan. Ormas dan OKP tersebut bukan hanya melanggar hukum, tapi juga telah merugikan banyak orang dan menjadikan masa depan negara ini suram.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Semakin kelihatan lemahnya negara saat ini. Preman sekarang sudah berani demonstrasi bila rekannya ditangkap. Melihat situasi ini, PB PMII merekomendasikan, bubarkan ormas dan OKP yang selalu membuat kekerasan dan keresahan bagi masyarakat. Aparat jangan takut dan takluk pada preman. Mari selamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ajaknya.

Kapolda Sumut diwakili Direktur Bimas Polda Sumut Kombes Pol Heri Subiansauri menyatkan, aparat tidak pernah takut dengan siapapun yang melakukan pelanggaran hukum. “Negara tidak boleh lemah dan kalah dengan preman. Yang melanggar hukum kita sikat,” tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sedangkan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sumut, H Abdul Rahim menegaskan, Islam melarang tindak kekerasan dan pengrusakan. “Jadilah tauladan yang baik, santun dalam ucapan dan perbuatan, karena itu yang diajarkan Islam kepada umatnya,” ucapnya.

Sedangkan Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbang Polinmas) Bukit Tambunan mengatakan, masyarakat Sumatera Utara sudah maju dalam menyampaikan kritik terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

“Kritikan-kritikan yang disampaikan masyarakat Sumatera Utara dilakukan dengan santun dan beretika. Namun, apabila ada Ormas atau siapa saja yang melanggar aturan main, akan kita tertibkan,” kata Bukit.

Sebelumnya, Pjs Ketua PMII Sumut Kurnia Hidayat menyatakan, PMII akan berada di garda terdepan untuk mempertahankan NKRI. "PMII akan berada di garis depan untuk membantu pemerintah dalam mengawal NKRI," kata Kurnia Hidayat.

Sekretaris Umum PKC PMII Hasan Basri dalam pengantar seminar menyoroti, negara sering terlambat dan terkesan membiarkan terjadinya tindakan kekerasan. Contoh terbaru kasus Bima, Lampung dan lainnya. Negara seakan kehilangan powernya. “Hal-hal seperti ini tidak boleh terulang lagi,” harapnya.

Redaktur? ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Hamdani Nasution

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Kontekstualisasi Al-Quran dalam Era Tinggal Landas

Oleh KH MA Sahal Mahfudh . Al-Quran yang telah diwahyukan dan diturunkan Allah Swt kepada RasulNya yang terakhir, ayat demi ayat selama 23 tahun, mempunyai beberapa ciri yang membedakannya dengan kitab-kitab samawiyah lain sebelumnya. Ciri-ciri itu antara lain al-Mujiz, artinya mempunyai kekuatan melemahkan. Dari segi nilai sastra dan gramatikanya yang tinggi, sastrawan mana pun tidak mampu menandinginya, meski pada waktu itu banyak yang mencoba membuat al-Quran buatan. Ciri lain ialah, membaca al-Quran saja tanpa memahami arti dan maknanya, dihitung sebagai ibadah.

Al-Quran yang merupakan sumber utama dan pertama bagi ajaran Islam, pada dasarnya mengajak semua manusia agar mau menghambakan dan mengabdikan dirinya kepada Allah SWT dengan aqidah dan syariatNya, serta berakhlak mulia baik bagi Allah mau pun dalam pergaulan hidup dengan sesama manusia dan makhluk lain. Sebagai dasar orientasi hidup manusia, al-Quran mengacu ke arah tumbuhnya inspirasi yang terefleksikan dalam sifat, sikap dan perilaku yang inheren pada eksistensi dan proses hidup manusia sebagai titah. yang akrom.

Kontekstualisasi Al-Quran dalam Era Tinggal Landas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kontekstualisasi Al-Quran dalam Era Tinggal Landas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kontekstualisasi Al-Quran dalam Era Tinggal Landas

Pada masa pembangunan, kontekstualisasi al-Quran menjadi penting. Pembangunan manusia yang selalu menjanjikan kesejahteraan, bahkan menuju kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, merupakan proses interaksi dari serangkaian kegiatan yang mengarah pada peningkatan kualitas hidup manusia, dari aspek pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, politik dan utamanya aspek agama. Potensi, profesi dan berbagai wawasan keagamaan dan sosial tertata dalam suatu sistem dan mekanisme yang terarah.

Kualitas manusia yang menyangkut berbagai aspek, dikelola dengan dukungan sumber daya manusia sendiri dan kekuatan dari luar dirinya. Dalam hal ini al-Quran sebagai sumber motivasi, diletakkan sebagai penyeimbang aqidah, syariah dan akhlaq karimah.

***

Manusia (bani Adam) oleh Allah SWT dalam al-Quran disebut mempunyai karamah (kemuliaan) dan kehormatan di atas semua makhluk lainnya. Nilai lebih ini bermakna sebagai titik pembeda dan makhluk lain, tentu saja dengan konsekuensi yang berat, bahkan teramat berat. Karena, pada diri manusia terdapat nafsu yang tidak selamanya bisa diajak kompromi untuk melestarikan karamah tersebut.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nafsu inilah yang sering membuat manusia tidak konsisten pada kediriannya dan sering membuat manusia kehilangan nilai karamahnya. Salah satu aspek dari kekaramahan itu adalah kemampuan fisik dan rasio. Kemampuan inilah yang pada dasarnya akan menumbuhkan sumber daya manusia, sekaligus memacu ke arah pencapaian kualitasnya, manakala dibarengi kemauan berikhtiyar.

Namun di sisi lain—meskipun memiliki nilai karamah—manusia oleh al-Quran disebut abdu. Abdu yang berarti hamba, menuntut tanggung jawab yang melekat pada diri manusia. Dalam kapasitasnya sebagai hamba Allah, manusia mukallaf diberi berbagai taklif (tanggung jawab) yang harus dilaksanakan menurut ketentuan dan kemampuan berikhtiyar.

Sejauh mana manusia mampu memenuhi taklif, sejauh itu ia mempertahankan nilai karamahnya. Sejauh mana manusia menghambakan dirinya terhadap Allah SWT, sejauh itu pula manusia melaksanakan tanggung jawabnya sebagai abdu. Ini berarti, manusia di dalam hidup dan kehidupannya selalu harus beribadah kepada Allah, karena Allah tidak menciptakan jin dan mausia kecuali untuk beribadah kepadaNya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Meskipun manusia berstatus sebagai hamba, namun ia diberi kedudukan sebagai khalifah Allah dengan berbagai tingkat dan derajatnya, satu di atas yang lain, dalam hubungannya secara vertikal dengan Allah mau pun hubungan horisontal antar sesama manusia dan alam lingkungan. Khalifah sebagai pengganti, diberi wewenang terbatas sesuai dengan potensi diri dan posisinya. Namun wewenang itu pada dasarnya adalah tugas yang harus diemban.

Tugas itu dalam al-Qur an disebut imaratul ardli, di samping ibadatullah. Allah menciptakan manusia dari bumi ini dan menugaskan manusia melakukan imarah (pengelolaan dan pemeliharaan) di atasnya. Karena manusia di dalam melaksanakan wewenang dan tugas imarah-nya sering berbuat sewenang-wenang, bahkan merusak lingkungan dan tidak mengindahkan manusia lain yang berada pada posisi di bawahnya, maka Allah selanjutnya memerintahkan manusia agar mohon ampunan Allah dengan bertaubat.

Imaratul ardli yang berarti mengelola dan memelihara bumi, tentu saja bukan sekadar membangun tanpa tujuan, apalagi hanya untuk kepentingan diri sendiri. Tugas membangun justru merupakan sarana yang sangat mendasar untuk melaksanakan tugasnya yang pertama, yaitu ibadatullah. Lebih dari itu adalah sarana untuk mencapai saadatud darain (kebahagiaan dunia dan akhirat) sebagai tujuan hidup manusia.

Dari sinilah dapat dipahami, masyarakat dalam konsepsi al-Quran adalah masyarakat ibadah dan imarah, di mana satu dengan yang lain saling berkait erat. Hal ini telah diisyaratkan Rasulullah SAW ketika beliau hijrah ke Madinah dengan membangun secara berurutan, dua bangunan monumental yang hingga sekarang masih dilestarikan bahkan dikembangkan. Dua bangunan itu adalah masjid Quba dan pasar. Tidak seharusnya ada kesenjangan antara masjid dan pasar, yang secara simbolik merupakan wujud konsepsi manusia seutuhnya.

***

Dalam hal perubahan masyarakat sebagai proses pembangunan, al-Quran mengisyaratkan, Allah SWT tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka sendiri mengubah keadaannya. Mengubah di sini berarti berupaya dan ikhtiyar yang menuntut berbagai kemampuan yang disebut kualitas. Ini berarti, membangun manusia butuh kualitas. Garis lingkar balik seperti ini terjadi, karena manusia sebagai subyek sekaligus obyek pembangunan. Pada dasarnya keberhasilan proses pembangunan itu banyak ditentukan oleh sumber daya manusia.

Allah SWT dalam al-Quran memerintahkan kepada manusia agar mempu berpacu dalam berbagai kebajikan (istibaqul khairat). Perintah ini dipahami untuk menumbuhkan sikap dan perilaku kompetisi yang sehat untuk mencapai al-khairat, yang berarti memerlukan dinamika tinggi dan lumintu, serta wawasan kreatif dan inovatif yang luas, di samping daya analisis untuk mengantisipasi proses transformasi menuju masa depan.

Pembangunan kualitas manusia dipahami sebagai dinamika, bukan hanya sebagai metode yang menitiktekankan pada program-program. Wujud dinamika ini adalah gerakan-gerakan yang selalu menuntut etos kerja tinggi dari semua lapisan masyarakat. Etos kerja ini dalam al-Quran disebut sebagai ibtigha al-fadlillah (secara optimal berupaya mencari anugerah Allah) atau secara umum disebut sebagai amal shalih. Kehidupan Rasulullah dalam kesehariannya menunjukkan adanya etos kerja yang tinggi. Beliau selalu mempunyai kesibukan, sampai-sampai membantu isterinya menjahit dan memperbaiki sandal. Bahkan beliau dalam sebunh hadits mengatakan, seberat-berat siksa manusia pada hari kiamat adalah orang yang hanya mau dicukupi orang lain dan menganggur.

Kualitas manusia pada dasarnya, ditentukan oleh potensi dirinya. Potensi diri yang membentuk kualitas ini meliputi berbagai aspek kehidupan. Secara umum, potensi yang telah dibekalkan Allah kepada setiap manusia mukallaf adalah potensi rasio dan fisik. Yang pertama berkembang menjadi potensi ilmu pengetahuan dan teknolgi, profesi dan kemampuan rasionalitas lainnnya. Dan yang kedua berkembang menjadi keterampilan, etos kerja dan ketahanan tubuh dengan kesehatan yang prima.

Dalam al-Quran potensi tersebut diformulasikan secara singkat dalam kalimat qawiyyun atau makinun, yang berarti punya quwwah (potensi) atau makanah (ketangguhan). Sebuah firman Allah menyebutkan, "Sebaik-baik orang yang kamu serahi tugas mengupayakan sesuatu adalah orang yang berpotensi dan berkemampuan menerima amanat serta dipercaya". Ayat ini dapat dipahami, bahwa setiap upaya apapun untuk mencapai prestasi menuntut adanya potensi dan amanah yang membentuk kualitas. Rasulullah dalam hal ini mengatakan, "Orang mukmin berpotensi lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada orang yang lemah".

***

Pembangunan bukan saja membawa perubahan secara fisik, namun juga perubahan transendental. Hal ini antara lain terlihat dari perubahan nilai religius menjadi nilai ekonomis. Artinya, langkah dan gerak manusia yang semula diperhitungkan secara religius, bergeser menjadi diperhitungkan untung ruginya secara materiil belaka. Hampir dapat dipastikan, nilai ekonomis akan makin berkembang pesat pada era tinggal landas. Era di mana kapitalisasi makin merambah berbagai aspek kehidupan dan industrialisasi mulai menjangkau semua aspek komoditas, etos kerja makin meningkat, peran ketrampilan dan modal makin dominan. Perhitungan untung rugi secara materiil makin kuat posisinya. Akibatnya, nilai religius terbentur dan terlempar.

Era tinggal landas memang selalu menjanjikan kehidupan yang menggiurkan dan kesejahteraan yang spektakuler. Namun justru di situlah nilai-nilai iman dan tawakal terancam. Di situ pula unsur ghurur al-dunya makin mendapat banyak peluang untak menggiring nafsu manusia pada puncak keangkaramurkaannya.

Tawakal dan iman terancam oleh posisi ikhtiyar yang makin dominan. Dalam hal ini al-Quran memandang kehidupan dunia ini sebagai materi yang menipu manusia (mata al-ghurur). Makin maju kehidupan dunianya, manusia makin melalaikan kehidupan yang kekal di akhirat nanti. Maka al-Quran memberi petunju akan keseimbangan yang sering diformulasikan dalam kalimat al-wasath dan al-adlu.

Keadilan sebagai konsepsi al-Quran dipahami sebagai keseimbangan dalam kehidupan manusia. Menakuti manusia dengan siksaan Allah, diimbangi dengan sikap optimis terhadap ampunan dan rahmat Allah. Kewajiban diimbangi dengan hak. Keberanian fisik diim

bangi keberanian mental. Potensi rasio diimbangi potensi fisik. Meskipun al-Quran menunjukkan, seluruh isi bumi ini diciptakan untak manusia, dengan pengertian manusia diberi kebebasan mengolah dan memanfaatkannya untuk kepentingan hidup, namun al-Quran juga memberikan batas-batas tertentu yang tidak boleh dilampaui agar terjadi keseimbangan, tidak israf (berlebihan) dan tabdzir (mubazir). Sampai pada soal makan dan minum, al-Quran melarang israf dan tabdzir. Tidak boleh melampaui batas kualitas, batas kuantitas, batas maksimal dan minimal, agar terjadi keseimbangan dalam tubuh manusia.

Era tinggal landas harus dilandasi semangat keseimbangan antara etos kerja dan tawakal. Etos kerja dan gerakan-gerakan pembangunan dipahami sebagai ikhtiyar yang pada dasarnya hanya merupakan sarana, karena yang menentukan keberhasilannya adalah Allah dengan qudrah dan iradah-Nya. Tawakal tanpa ikhtiyar akan menimbulkan sikap fatalistik yang berakibat pada munculnya sikap thama (dependen) yang tidak dibenarkan. Sebaliknya, ikhtiyar tanpa tawakal bisa menghilangkan nilai imani. Bila manusia hanya berpegang pada ikhtiyar lalu gagal, ia akan kehilangan keseimbangan, stress dan tidak mustahil putus asa (yasu). Sikap ini dilarang keras oleh al-Quran.

Dalam menghadapi era tinggal landas, perlu potensi pengendalian diri dalam arus transformasi. Hanya dengan pengendalian diri ini, manusia akan dapat eksis pada kediriannya, karamah dan akram. Akram di sisi Allah dalam al-Quran disebut, adalah orang yang paling bertaqwa sesuai dengan statusnya sebagai hamba.

Ini bisa dicapai dengan mengembangkan potensi ruhaniah, iman, aqidah Islamiyah, ketaqwaan yang diformulasikan dalam ajaran syariah Islamiyah dan akhlaq karimah. Potensi ini justru menjadi sarana mengatasi kesulitan dan memberikan jalan keluar serta mendapatkan rizqi tak terduga sesuai dengan jaminan Allah yang dituangkan dalam al-Quran. Ini berarti bahwa era tinggal landas harus diimbangi dengan peningkatan wawasan keagamaan dan kualitas keberagamnan Islam, yang pada gilirannya akan menumbuhkan keseimbangan antara ibadatullah dan imaaratul ardli, antara masjid dan pasar.

?

*) Tulisan ini pernah disampaikan KH MA Sahal Mahfudh pada seminar menjelang MTQ Nasional di Yogyakarta pada 2 Februari 1991. Bisa ditemukan dalam buku "Nuansa Fiqih Sosial", 2004 (Yogyakarta: LKiS) dengan judul yang sudah diubah, "Kontekstualisasi Al-Quran".

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

LKSB Ajak Pemuda Kembali ke Khittah 1928

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Lembaga Kajian Strategis Kebangsaan (LKSB) yang dikomandoi oleh Abdul Ghopur menilai bahwa saat ini nasionalisme di dada para pemuda kian hari makin jauh dari prinsip-prinsip yang menjadi cita-cita para pendiri bangsa (founding fathers).

Seba itu, pihaknya mengajak seluruh elemen pemuda bangsa untuk kembali ke khittah 1928 sebagaimana para pemuda saat itu bersama-sama meneguhkan persatuan dan kesatuan bangsa di tengah perbedaan yang ada.

LKSB Ajak Pemuda Kembali ke Khittah 1928 (Sumber Gambar : Nu Online)
LKSB Ajak Pemuda Kembali ke Khittah 1928 (Sumber Gambar : Nu Online)

LKSB Ajak Pemuda Kembali ke Khittah 1928

Hal itu mengemuka saat LKSB menggelar diskusi bertajuk Kembali ke Khittah 1928: Meneguhkan Komitmen Bhinneka Tunggal Ika serta Mewujudkan Negara Amanat dan Cita-cita Proklamasi 45 Demi Keutuhan Bangsa. Diskusi yang diikuti oleh sejumlah organisasi mahasiswa dan pemuda lintas agama dan etnis ini digelar, Rabu (2/11) di Gedung PBNU Jakarta.

Ghopur menilai, etos kerja keras yang tidak budayakan, mental korup, budaya instan, dan pragmatisme yang ada dalam diri para pemuda zaman sekarang membuat mereka terlena di saat bangsa ini membutuhkan penguatan identitas. Atas dasar ini, akhirnya mereka mudah terpengaruh oleh gerakan-gerakan yang cenderung memecah belah bangsa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Persoalan yang terjadi selanjutnya adalah lemahnya sinyal ketahanan dan kedaulatan bangsa,” ujar Ghopur, Direktur Eksekutif LKSB ini.

Para pemuda dan organisasi mahasiswa yang hadir dalam forum diskusi tersebut sepakat dan berkomitmen untuk terus menjaga persatuan, kesatuan, dan keutuhan bangsa di tengah kemajemukan seperti yang dicita-citakan para founding fathers dan para pemuda lintas etnis dan agama dalam Sumpah Pemuda 1928.

Untuk itu, sebelum dimulai diskusi, mereka menandatangani Deklarasi Kembali ke Khittah 1926 yang digoreskan dalam sebuah spanduk. LKSB berharap, hal ini menjadi landasan gerak para pemuda untuk menciptakan kehidupan bangsa yang lebih baik tanpa diskriminasi, dikotomisasi, dan intoleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Fathoni)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Ketika Jokowi Kenakan Sarung di Muktamar NU

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kehadiran Presiden Joko Widodo di Muktamar Ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, Sabtu (1/8) malam, menyedot perhatian banyak pihak. Puluhan ribu warga dari berbagai daerah memadati alun-alun Jombang, menyaksikan orang nomor satu ini membuka secara resmi perhelatan akbar NU.

Satu hal yang unik dari Jokowi malam itu adalah penampilannya yang lain dari biasanya. Jika pada tiap kunjungan di forum formal ia mengenakan kemeja putih, jas, lengkap dengan celana hitam, pada Muktamar NU kali ini ia memakai jas, peci hitam, dan sarung merah tua bermotif kotak-kotak.

Ketika Jokowi Kenakan Sarung di Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Jokowi Kenakan Sarung di Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Jokowi Kenakan Sarung di Muktamar NU

“Sarung ini dibelikan istri saya,” katanya di hadapan muktamirin yang sontak disambut tawa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mantan walikota Solo ini lalu bercerita, sarung tersebut ia kenakan saat berada di hotel beberapa saat sebelum prosesi acara pembukaan muktamar berlangsung, lantas meluncur ke alun-alun menggunakan mobil.

Mantan Presiden Megawati yang juga hadir menyapanya begitu Jokowi turun dari mobil, “Sarungnya bagus.”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Apanya, Bu?” Gerrr kembali berderai. Hadirin seolah sedang membayangkan sesuatu.

“Warnanya,” jawab Megawati sebagaimana ditirukan Jokowi.

Tapi yang membuat terkesan Jokowi bukan pertanyaan ketua umum PDI-P itu. Ia mengaku justru kaget tatkala memasuki arena Muktamar dan menyaksikan pengurus NU ternyata banyak yang tak mengenakan sarung seperti dirinya.

“Begitu turun mobil ternyata banyak yang pakai jas (tak pakai sarung, red). Untung saya ditemani Gus Mus.” Mata Jokowi melirik Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri di depannya.

Penampilan Jokowi ini juga tak luput dari komentar Ketua PBNU H Saifullah Yusuf. Ia bersyukur Presiden bersedia mengenakan pakaian khas pesantren tersebut. Tapi anehnya, wakil gubernur Jatim ini justru tidak bersarung alias memakai celana.

“Pak presiden pakai sarung karena ingin menghormati NU, saya pakai celana karena ingin menghormati presiden.” Gerrrr... (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara

Jepara, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Rektor Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, H Anis Malik Thoha berkesempatan hadir dalam Halal Bihalal yang diselenggarakan Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara yang berlangsung di Gedung Haji MWCNU Tahunan, Kompleks Unisnu Jepara, awal pekan kemarin.

Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara

Dalam kesempatan tersebut Anis menjelaskan mengenai tradisi halal bihalal di Indonesia, lantaran ada sebagian pihak yang mengkritisi tradisi yang telah mengakar tersebut sebagai bid’ah.

Menurutnya tidak semua hal dihukumi sesat. Demikian halnya tradisi halal bihalal atau saling maaf-memaafkan. Tradisi tersebut memang hanya ditemukan di Indonesia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tradisi halal bihalal menurut Katib Syuriyah NU Cabang Istimewa Malaysia sudah ada sejak zaman pangeran Mangku Negara I sekitar abad ke-18. Pangeran Samber Nyowo memperkenalkan tradisi baru tersebut dengan bersalam-salaman setelah shalat Id yang dilaksanakan di Keraton bersama seluruh abdi dalem.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Oleh ulama tradisi tersebut kemudian dihidupkan sebagai halal bihalal. Sebagai momentum saling memaafkan. Halal bihalal sebagai tradisi nasional masih dilestarikan hingga sekarang. (Syaiful Mustaqim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri, Cerita, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

PCNU Padang Serahkan Paket pada Korban Banjir

Padang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Umat Islam yang terkena musibah banjir diharapkan tetap menjaga kebersamaan. Jangan sampai merusak rasa persatuan dan ukhuwah yang sudah terbina sebelumnya. Bencana yang menimpa hendaknya dapat dijadikan evaluasi diri sehingga mampu meningkatkan keimanan kepada Allah Swt.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Padang Yulter Ardi mengatakan hal itu ketika menyerahkan 70 paket bantuan kepada korban banjir di Kelurahan Mato Aia Kecamatan Padang Selatan, Sabtu (25/6) di halaman musalla Hasanah.

PCNU Padang Serahkan Paket pada Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Padang Serahkan Paket pada Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Padang Serahkan Paket pada Korban Banjir

Menurut Yulter, bencana banjir yang terjadi pada Senin (22/6/2016) lalu hendaknya dapat lebih meningkatkan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah.

"Bencana tidak selalu harus kita ratapi. Tapi bagaimana kita mengambil hikmah. Kita jadikan momen mengevaluasi diri. Mungkin selama ini banyak kemungkaran yang sudah dilakukan dan lalai dari perintah Allah Swt," kata Yulter Ardi, alumni Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman, Propinsi Sumatera Barat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Yulter, paket yang diserahkan kepada 70 kepala keluarga, berisikan gula, minyak goreng, beras, selimut, mie? dan sirup. "Walaupun tidak banyak, kita berharap dapat meringankan beban masyarakat yang terkena banjir.? Karena keterbatasan, memang tidak semua warga yang terkena banjir yang dapat diberikan paket bantuan. Untuk itu, kepada warga yang tidak mendapatkan, kita harapkan bersabar. Mudah-mudahan ada rezeki dari yang lain," harap Yulter. (armaidi tanjung/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Santri, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock