Tampilkan postingan dengan label Meme Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Meme Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Mengapa Puasa Ramadhan Hanya Milik Orang-orang Beriman?

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?

KH Mustain Syafii, salah seorang ulama asal Jombang menjelaskan alasan perintah untuk menjalan ibadah puasa Ramadhan hanya untuk orang beriman saja.

Menurut Kiai Mustain, dipilihnya kata beriman dalam ayat Al-Quran yang memerintahkan manusia untuk berpuasa dikarenakan orang beriman yakin dengan apa yang dilakukannya dan kebanyakan orang beriman itu berhasil.

Mengapa Puasa Ramadhan Hanya Milik Orang-orang Beriman? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa Puasa Ramadhan Hanya Milik Orang-orang Beriman? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa Puasa Ramadhan Hanya Milik Orang-orang Beriman?

"Orang beriman itu seperti petani yang menanam kacang dengan cara meletakkan bijinya di dalam tanah. Petani hanya berusaha dan yakin apa yang dia lakukan, selanjutnya Allah yang menumbuhkan," jelas salah satu pengasuh rubrik tafsir di Majalah Risalah NU ini, Jumat (26/5).

Kiai yang mempunyai konsen dalam kajian ilmu tafsir ini mengingatkan kepada jamaah untuk beribadah dengan sungguh-sungguh dan memanfaatkan Bulan Suci Ramadhan yang datang sekali dalam setahun.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain itu, Kiai Mustain juga mengatakan bila orang beriman bisa menggapai derajat takwa tetapi orang yang berilmu belum tentu bisa menggapai takwa.

Banyak golongan manusia yang berilmu tetapi tidak bisa membuat dia semakin dekat kepada pencipta dan menyadari kedudukannya sebagai manusia. Ilmu yang dimilikinya hanya digunakan melayani hawa nafsu syahwat dan nafsu duniawi lainnya.

"Ayat yang memerintahkan puasa itu diawali kata "beriman" dan diakhiri kata takwa, ini bukan asal pilih kata saja," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu

Blora, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Untuk suksesnya perjuangan diperlukan dukungan dari berbagai pihak, utamanya dukungan dari keluarga dekat dan lingkungan sekitar. Dengan dukungan tersebut, maka perjuangan akan memiliki akar yang kuat dan memliki basis yang riil.

Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu (Sumber Gambar : Nu Online)

Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu

”Untuk menyempurnakan perjuangan, langkah pertama NU-kan dulu keluarga dekat kita,” ungkap Sholihin Hasan saat menyampaikan materi Aswaja pada acara LKD Fatayat NU Ancab Kunduran, Blora, Jawa Tengah, Selasa (28/3).

Untuk meng-NU-kan keluarga, bisa dilakukan dengan beberapa cara. Selain aktif di Fatayat, maka seorang kader juga harus menggerakkan suaminya untuk aktif di Ansor, LP Ma’arif, atau NU. Kemudian putra-putrinya sejak dini harus ditanamkan nilai-nilai ke-NU-an. Jika punya anak atau keponakan berusia remaja agar didorong untuk aktif di IPNU-IPPNU atau PMII.

Sholihin Hasan yang juga Wakil Ketua LP Ma’arif NU Blora itu menambahkan, jika masih punya orang tua, maka kader Fatayat harus bisa memfasilitasi orang tuanya untuk bisa aktif di NU atau Muslimat. ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

”Tetangga kanan kiri juga harus terus dilakukan pemahaman akan arti pentingnya aktif di NU,” ungkap dosen Aswaja dan Kepesantrenan STAI Almuhammad Cepu.

Selain itu, untuk memperluas akses dakwah kader Fatayat juga diajak berda’wah di dunia maya. Dakwah di internet perlu dilakukan agar konten di dunia maya tidak dominasi oleh kalangan radikal dan orang penyebar hoax.?

“Jika seluruh kader Fatayat aktif berdakwah lewat internet, maka nilaia-nilai Islam moderet akan mendominasi dunia maya,” tambah mahahsiswa Program Doktor UIN Walisongo Semarang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

LKD yang dilaksanakan di MI Alhuda Kunduran itu, diikuti 125 peserta. Mereka merupakan perwakilan pengurus ranting yang ada di Kecamatan Kunduran. Acara tersebut dibuka oleh Ketua MWC NU Kunduran, K. Drs Mohadi Said. (Sholihin Hasan/Abdullah Alawi) ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam, Berita, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) berharap pelajar putri NU berperan dalam menjaga kedamaian dan keutuhan NKRI. Menurut Menpora, saat ini indikasi ingin memecah-belah negara ini makin sering terjadi. ?

Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja

"Selamatkan Indonesia dengan menyelamatkan Ahlussunnah wal Jamaah. Kita jaga NU di bumi Nusantara. Saat ini NU mendapatkan godaan yang semakin berat," katanya saat pidato di Rakernas Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama pada Jumat (23/12) di Pondok Pesantren Luhur Ats-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan.

Untuk hal itu, menurutnya, IPPNU saat ini perlu memperkuat kaderisasi dari bawah.?

Sebagai kader IPPNU jangan malu menunjukkan identitas sebagai kader NU. Tebarkan paham-paham Aswaja melalui media sosial.?

"Kita buktikan bahwa Aswaja telah menyelamatkan dan memberikan perdamaian dunia," tegasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Saat ada acara-acara kepemudaan di daerah, lanjutnya, kader IPPNU harus bepartisipasi. Bahkan, kalau ia hadir ke daerah, maka kader IPPNU di daerah itu wajib hadir, mau diundang atau tidak.

"Dampingi dan kawal saya atau Menteri yang lain berkunjung ke daerah," pesannya.

Sementara Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj berpesan agar kader IPPNU konsisten dalam bersikap moderat (tawasuth) meski tidak mudah.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tawasuth adalah sikap yang memerlukan kecerdasan dan keberanian seperti telah dicontohkan Imam Syafi’i dalam bidang fiqh, Abu Musa Al-Asyari dalam bidang tauhid, Imam Ghazali dalam bidang akhlak dan Hadratusysekh KH M Hasyim Asyari dalam bidang kenegaraan.

Rakernas pertama ini dihadiri para pengurus wilayah se-Indonesia. Turut hadir Staf Ahli Mendikbud Hari Budiman, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU MargaretAliyatul Maimunah. (Ahmad Suhendra/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Meme Islam, Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Diakui atau tidak, pondok pesantren telah sejak lama mengajarkan serta membudayakan minat baca dan belajar. Tak hanya itu. Tradisi menulis pun seakan telah menjadi tradisi di lembaga pendidikan tradisional khas Indonesia itu.

Tak berlebihan jika Wakil Presiden Jusuf Kalla menyarankan agar sistem pendidikan dan tradisi membaca serta menulis di pesantren patut dijadikan contoh. Karena, menurutnya, seminar-seminar bertema pengembangan minat membaca kerap diadakan, namun belum banyak menghasilkan minat belajar bagi para siswa.

Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja (Sumber Gambar : Nu Online)
Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja (Sumber Gambar : Nu Online)

Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja

"Kalau mau belajar soal bagaimana mengharuskan membaca, nggak perlu ke luar negeri, pergi saja ke pesantren," ujar Wapres Kalla saat membuka Seminar Nasional bertajuk “Sosialisasi Pengembangan Budaya Minat Baca dan Pembinaan Perpustakaan Nasional” di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (12/7).

Di pesantren, tutur Wapres Kalla, para santri, tiap hari wajib membaca kitab-kitab kuning dengan penuh khusyuk, tentang materi-materi keagamaan ataupun sastra. Hal itulah yang merupakan dasar bagi pengembangan minat baca di pesantren.

"Bahkan sambil terkantuk-kantuk, santri tetap baca. Mereka nurut (patuh) pada ustad, ustad nurut pada kiai, kiai nurut pada kiai khos-nya. Pak Mendiknas (Menteri Pendidikan Nasional, red) harus jadi kiai khos-nya," ujar Wapres Kalla disambut tawa peserta seminar, termasuk Mendiknas Bambang Sudibyo.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia mengungkapkan, sebaiknya Mendiknas membuat aturan mengenai keharusan untuk membaca. Para siswa diwajibkan untuk membaca dan mengetahui pelajaran-pelajaran yang harus dia ketahui dari buku, bukan sekadar menumbuhkan minat membaca.

"Kalau minat saja, kalau anaknya tidak mau, bagaimana. Yang penting itu harus membaca, karena dari keharusan akan menjadi kebiasaan," tandasnya.

Karena itu, Wapres berharap, seminar yang diadakan Departemen Pendidikan Nasional itu tidak hanya membicarakan pentingnya membaca, tapi bagaimana membuat aturan soal keharusan membaca. (rif/dtc)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

IPNU harus Jadi Motor Perangi Penyalahgunaan Narkoba

Padang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pelajar yang terhimpun dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) harus berkerja keras dalam memperjuangkan nasib generasi bangsa mendatang, menjauhkan diri dari narkoba dan pergaulan bebas. Narkoba dan pergaulan bebas menghancurkan masa depan pelajar, merusak tatanan kehidupan yang sudah dituntun oleh nilai-nilai agama, serta runtuhnya nilai-nilai adat.

IPNU harus Jadi Motor Perangi Penyalahgunaan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU harus Jadi Motor Perangi Penyalahgunaan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU harus Jadi Motor Perangi Penyalahgunaan Narkoba

Pembina IPNU Kota Padang Armaidi Tanjung  mengungkapkan hal itu pada pembukaan Seminar Pendidikan Rahmatan lil Alamin dan Konferensi Cabang (konfercab) IPNU Kota Padang, Sabtu (21/12/2013) di aula PWNU Sumbar jalan Ciliwung No. 10 Padang. Seminar dihadiri 45 orang yang berasal dari utusan komisariat dan OSIS IPNU se Kota Padang. Hadir Pengurus PW IPNU Sumbar  Fauzi Remon, Ketua IPNU Padang Pebriyaldi dan Ketua Umum PMII Kota Padang Yosef Firman Susilo.

Konfercab berhasil memilih Neri Yusmardi sebagai Ketua IPNU Kota Padang dua tahun mendatang. Neri Yusmardi  meraih 15 suara dan pesaingnya Mariyono 9 suara. Selanjutnya tim formatur yang terdiri dari Pebriyaldi, Neri Yusmardi, Khalik, Syamsuardi dan Mariyono akan menyusun kepengurusan lengkap IPNU Kota Padang periode 2013-2015.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Armaidi, penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar setiap tahun terus meningkat. Ini kondisi yang amat memprihatinkan dan ancaman masa depan bagi pelajar. IPNU harus menjadi motor untuk memerangi penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar di Kota Padang.

“Selain itu, pergaulan bebas di kalangan pelajar juga memprihatinkan dan mencengangkan kita semua. Saya dapat informasi pengakuan seorang Kepala KUA di Kota Padang yang menikahkan pasangan calon pengantin, menemukan rata-rata 20-an orang  sudah melakukan hubungan suami isteri sebelum dinikahkan. Istilah kerennya, kawin  “kecelakaan”,” kata Armaidi yang juga Wakil Sekretaris PWNU Sumbar ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dikatakan Armaidi, pergaulan bebas di kalangan pelajar ini merupakan fenomena yang menjadi pemandangan biasa di tengah masyarakat. Seorang pelajar putri yang berboncengan di atas motor tidak merasa risih merangkul pelajar putra. Terkadang lebih mesra ketimbang sepasang suami isteri berkendaraan. Ironisnya, si perempuan juga menggunakan jilbab sebagai simbol seorang muslimah.

“Perkembangan perangkat teknologi yang semakin memudahkan dan memberikan manfaat pada kehidupan manusia, namun  juga mendatangkan bencana. Perangkat teknologi ibarat pisau, jika digunakan dengan benar seperti untuk mengiris bahan masakan di dapur. Sebaliknya, pisau juga dapat digunakan untuk membunuh orang lain oleh seorang anak yang tengah panik,” kata Armaidi.  

Penggunaan facebook melalui internet  misalnya, dapat meningkatkan silaturrahmi pertemanan. Namun mulai muncul kasus kejahatan bermula dari pertemanan di facebook. Ini akibat facebook  disalahgunakan. Jika berlebihan, main facebook dan internet hingga larut malam bahkan sampai subuh dinihari, juga  merusak. Betapa makin banyak anak-anak muda yang hingga larut malam hanya berada di depan internet. Sehingga tidak lagi mendatangkan manfaat, malah mengganggu kesehatan dan kegiatan yang bermanfaat lain. 

“Kader IPNU harus menempatkan perangkat teknologi yang proposional dalam menunjang kehidupan yang lebih baik untuk masa depan,” kata Armaidi menambahkan. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam, Pesantren, AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 29 Januari 2018

PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mempertanyakan dasar pemberhalaan praktik ziarah kubur di makam para wali. Dengan menyebut makam wali sebagai berhala, Ditjen Pendis Kemenag dalam buku guru SKI Kelas VII MTs Kurikulum 2013 sudah seharusnya mempertanggungjawabkan pijakan argumentasinya.

Rais Syuriyah PBNU KH Saifuddin Amsir meminta Kemenag mengeluarkan klarifikasi dan pernyataan permohonan maaf secara terbuka atas keteledorannya.

PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah

“Di mana letak pemberhalaan ziarah kubur?” Kiai Saifuddin menuntut penjelasan Kemenag, Rabu (17/9) pagi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Orang-orang yang berziarah ke makam orang tuanya, para guru dan kiai, orang-orang saleh, para wali hingga makam Rasulullah Saw, hakikatnya mengikuti perintah Rasulullah sendiri. Kiai Saifuddin menyitir hadits Nabi Muhammad Saw, ‘Ala fazuruha. Liannaha tudzakkirukumul mauta’ (Ingat, berziarahlah. Karena, ziarah kubur itu akan mengingatkanmu pada kematian).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Jadi kalau Nabi yang menyuruh orang ziarah untuk mengingat kematian, kok malah disamakan dengan penyembahan berhala? Musyrik? Apanya yang musyrik? Yang musyrik itu orang yang mempertahankan sesuatu selain Allah,” kata Rais Syuriyah PBNU yang aktif mengajar kitab kuning di puluhan masjid di Jakarta kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Kiai Saifuddin menantang pihak Kemenag untuk musyawarah perihal argumentasi pernyataan itu. “Saya pengen banget lihat tampang orang Kemenag yang sok-sok begitu, yang ngomongnya ngaco. Kalau mereka bisa meruntuhkan argumentasi kesunahan ziarah kubur, saya akan membayar mereka.” (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sunnah, Meme Islam, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Musabaqah Kitab Kuning Penting untuk Jaga Tradisi Keilmuan NU

Pringsewu, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Maraknya kegiatan beberapa partai yang menggelar Musabaqah Kitab Kuning patut disyukuri oleh segenap kalangan khususnya warga Nahdlatul Ulama. Kegiatan tersebut menurut Ketua Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Provinsi Lampung Ustadz Munawir, dapat menjadi ajang tepat untuk menjaga tradisi keilmuan NU.

Musabaqah Kitab Kuning Penting untuk Jaga Tradisi Keilmuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Musabaqah Kitab Kuning Penting untuk Jaga Tradisi Keilmuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Musabaqah Kitab Kuning Penting untuk Jaga Tradisi Keilmuan NU

"Ngaji kitab kuning memang tradisi yang sangat erat kaitannya dengan pesantren. Perlu kita bersyukur karena sudah ada Partai yang mau ikut menjaga tradisi NU ini, bukan sebaliknya, NU yang menjaga tradisi partai," ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Jumat (18/3).

Munawir mengingatkan pula kepada partai politik khususnya para politisi yang menggelar kegiatan tersebut untuk tidak hanya berorientasi mendapatkan simpati warga NU. "Sebaiknya kegiatan ini diagendakan secara rutin jangan hanya ketika memiliki kepentingan, baru dilaksanakan," ujarnya.

Dengan adanya kegiatan baik kajian maupun lomba yang berhubungan dengan kitab-kitab kuning ini, tuturnya, maka masyarakat khususnya umat Islam akan lebih menyadari pentingnya pemahaman dan pengkajian kitab kuning sebagai sumber referensi keilmuan maupun hukum Islam.?

"Al-Quran dan Hadits merupakan sumber utama yang tentu harus ditafsirkan secara kontekstual melalui kitab-kitab karya ulama. Penafsiran tersebut juga harus dari para Ulama yang ahli. Bukan dari orang yang mengaku ulama dengan keilmuan yang minim berdasarkan nalar mereka sehingga penafsirannya pun kaku dan terkesan serampangan," terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lebih lanjut Gus Nawir -panggilan akrabnya- juga merasa prihatin atas fenomena banyak kitab kuning karya para ulama besar sekarang ini yang dihilangkan atau diganti beberapa bagian kalimatnya untuk kepentingan beberapa kelompok.?

"Sekarang ini kita harus berhati-hati khususnya ketika mendapatkan atau pun mengunduh kitab dari internet yang sumbernya tidak jelas. Banyak yang sudah dimanipulasi oleh orang tidak bertanggungjawab," ingatnya.

Oleh karenanya, kegiatan lomba atau musabaqah seperti yang sedang ramai dilaksanakan oleh beberapa partai ini akan dapat menjadi tempat juga untuk menjaga orisinalitas dari kitab-kitab karangan ulama Ahlussunnah wal Jamaah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Mari kita jaga aset berharga berupa kitab kuning karya para Ulama Ahlussunnah wal Jamaah sebagai ikhtiar menjaga ilmu dan amaliyah kita sehingga umat Islam benar-benar mendapatkan sumber hukum yang tepat dari para ulama yang alim," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock