Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

Menpora: Astaghfirullah, Bendera Indonesia Terbalik di SEA Games Malaysia

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?



Menteri Pemuda dan Olahraga RI Imam Nahrawi menyesalkan kecerobohan Malaysia pada SEA Games 2017 di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Sabtu (19/8). Pasalnya, gambar bendera Indonesia terpampang dengan kondisi terbalik pada buku panduan pelaksanaan pesta olahraga negara-negara di Asia Tenggara itu.?

Menpora: Astaghfirullah, Bendera Indonesia Terbalik di SEA Games Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora: Astaghfirullah, Bendera Indonesia Terbalik di SEA Games Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora: Astaghfirullah, Bendera Indonesia Terbalik di SEA Games Malaysia

“Pembukaan #SEAgame2017 yg bagus tapi tercederai dg keteledoran fatal yg amat menyakitkan. Bendera kita....Merah Putih. Astaghfirullaah...,” ungkap Imam Nahrawi melalui akun Twitter pribadinya.

Pada twitt tersebut, menteri asal Madura, Jawa Timur itu juga menunjukkan gambar bendera Indonesia yang menjadi putih merah. Kesalah yang terletak di halaman 80 tersebut, hanya bendera Indonesia yang mengalaminya.?

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Malaysia, Khairy Jamaluddin, sebagaimana dilaporkan Okezone.com mengemukakan permintaan maaf atas kejadian memalukan pada pembukaan SEA Games itu.?

“Bapak Imam, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya. Sesungguhnya tak ada niat jahat (terbaliknya bendera). Saya merasa kesal dengan kesalahan ini, mohon maaf,” tulis Khairy dalam akun Twitter miliknya, Sabtu (19/8). (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Sejarah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Kreatif Buat Aplikasi, Jebolan Pesantren Krapyak Ini Raih 4,2 Miliar

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Zaman terus maju ke depan dan cara menghadapi perkembangan zaman juga harus berubah. Inovasi dalam menghadapi pergeseran tersebut pun mutlak harus dilakukan. Maka, kaidah “memelihara hal-hal lama yang bagus dan mengambil hal-hal baru yang lebih bagus” mesti terus diaktualisasikan.

Kreatif Buat Aplikasi, Jebolan Pesantren Krapyak Ini Raih 4,2 Miliar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kreatif Buat Aplikasi, Jebolan Pesantren Krapyak Ini Raih 4,2 Miliar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kreatif Buat Aplikasi, Jebolan Pesantren Krapyak Ini Raih 4,2 Miliar

Prinsip itulah yang dipegang Aris Sofyan, santri alumni Pondok Pesantren Al-Munawir Krapyak Yogjakarta. Berkat kegigihannya dalam berkarya, ia mampu masuk ke persaingan di era digital.

Aris membuat konsep aplikasi untuk telepon pintar yang saat ini hampir setiap orang mempunyainya. Dari kreativitasnya, Aris bersama tim nya berhasil memperoleh investasi sebesar 4,2 miliar untuk pengembangan konsep aplikasi yang telah dibuatnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dunia bisnis memang sudah menjadi ketertarikannya sejak kecil meski selama ini ia belum menemukan bisnis yang tepat. “Makin ke sini karena saya juga punya hobi utak-atik komputer, baik itu coding-nya maupun mengikuti perkembangan teknologinya, saya baru tahu kalau startup (perusahaan rintisan) bidang IT itu bisa mendapatkan dana besar dari investor,” ungkap Aris di Jakarta, Sabtu (12/8).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari pemahaman itu, ia mencoba membuat konsep startup aplikasi dan kemudian menawarkan kerja sama ke perusahaan-perusahaan di bidang teknologi dan informasi untuk mengembangkan aplikasi tersebut.

Aplikasi yang dibuatnya itu diberi nama Kongkon. Kongkon adalah aplikasi berbasis android yang dibuat untuk melayani segala kebutuhan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Investor melihat bahwa konsep Kongkon ini menarik dan memiliki prospek positif. Dari situlah akhirnya pihak investor mau untuk membiayai pengembangan aplikasi ini.

“InsyaAllah dalam waktu dekat aplikasi layanan Kongkon sudah bisa dinikmati oleh masyarakat,” jelas pria yang sekarang menjadi CEO Kongkon ini.

Dari pengalaman keberhasilan merintis usaha tersebut, Aris yang juga menjabat sebagai Wakil Bendahara Umum PP IPNU ini menginginkan agar semua santri berani bermimpi untuk mengejar apa yang mereka cita-citakan.

“Era sekarang membutuhkan orang yang bisa membaca keadaan dan inovatif. Santri yang terbiasa hidup sederhana dan terkenal sebagai orang yang ulet harus bisa beradaptasi dengan kebutuhan zaman,” terang Aris ?

Menurutnya santri harus melakukan inovsi-inovasi tersebut supaya santri tidak dianggap selalu ketinggalan zaman dan diremehkan orang yang bukan santri.

“Dan yang terpenting, kita harus memperbanyak silaturahmi sebagai budaya kita, karena silaturrahmi melancarkan rezeki,” pungkasnya. (Jefri Samodro/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah, Sejarah, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

Geliat Ekonomi pada Pengajian Tarekat Menjanjikan

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dengan menenteng empat karung plastik berukuran besar, Roshid (25) warga Sumobito Jombang, berjalan mondar mandir di depan puluhan ribu jamaah Thariqah Qadiriyah wan Naqsyabandiyah Rejoso Peterongan, Jombang, Jawa Timur, yang sedang menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Geliat Ekonomi pada Pengajian Tarekat Menjanjikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Geliat Ekonomi pada Pengajian Tarekat Menjanjikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Geliat Ekonomi pada Pengajian Tarekat Menjanjikan

Bersama 10 tetangganya, lelaki lajang ini menjajakan makanan ringan berupa krupuk, kacang goreng, melinjo, dan jipang, Sabtu (31/1) itu. "Setiap ada kegiatan seperti ini saya selalu datang, bersama adik dan beberpa tetangga. Mereka juga sama berjualan seperti saya," ujarnya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Dalam setiap acara pengajian tarekat semacam ini, Roshid mengaku bisa menjual hingga 20 bal jipang dan juga krupuk. Dan uang yang dikantongi bisa mencapai hingga Rp 500 ribu, " itu termasuk modal, sebesar Rp 300 ribu, keuntungan ini cukup membantu ekonomi keluarga," tambahnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lulusan Madrasah Ibtidiyah ini bercerita, ia menjadi pedagang asongan sejak kelas 6 madrasah ibtidaiyah. Kalau tidak ada kegiatan dirinya bersama beberapa tetangga berdagang di pasar dan kereta api. "Terkadang di sini (Rejoso Peterongan), kalau Senin sering ke Cukir, Diwek," bebernya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tidak hanya Roshid, para pedagang dari luar Jombang juga memiliki minat yang sama. Seperti yang ada yang mengomando, mereka berdatangan tiap ada pengajian tarekat yang banyak digelar di pesantren-pesantren. "Saya hanya berjualan tas untuk ibu ibu, " ujar Susiadi (55), pedagang tas asal tanggulangin Sidoarjo.

Dengan harga antara Rp 15 ribu hingga 25 ribu, Susiadi mengatakan bisa menjual antara 20 bahkan lebih tas yang dibawanya. "Biasanya bisa Rp 400 ribu, kalau musim panen bisa lebih hingga Rp 500 ribu pendapatan," imbuhnya.

Dari pantauan di lokasi, puluhan pedagang tampak menjajakan dagangannya, mulai makanan ringan, tas, kipas bambu, hingga tikar plastik yang banyak diminati jamaah tarekat sebagai alas untuk mengikuti wirid dan doa. Mereka bersila di sepanjang jalan menuju kawasan masjid pesantren Darul Ulum Peterongan.

Puluhan pedagang makanan dadakan, atau pedagang kaki lima tidak kalah banyak. Puluhan pedagang makan siap saji ini terlihat memenuhi jalan, sehingga jalur menuju lokasi digelarnya kegiatan tarekat pimpinan KH Dhimyati Romly nyaris macet, dan harus ditempuh dengan merayap. "Putaran ekonomi di jamaah tarekat potensinya sangat besar, kalau dihitung bisa ratusan juga setiap ada kegiatan," ujar Agus Mahfudzin, salah satu Dosen Unipdu.

Hal ini lanjut dosen muda ini menambahkan, ribuan jamaah yang datang dari berbagai daerah di Jawa Timur bahkan luar Jatim dengan menggunakan kendaraan serta kebutuhan makanan? yang dibutuhkan. "Besarnya putaran eknomi bisa dilihat mulai dari sewan kendaraan oleh rombongan, belum makanan yang dibutuhkan saat mengikuti kegiatan serta peralatan seperti tikar sebagai alas dan lainnya," pungkas Agus yang juga sekretaris PC ISNU Jombang ini.

Seperti diketahui, jumlah jamaah atau pengikut Thariqat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah Rejoso Peterongan Jombang mencapai ratusan ribu. Mereka datang dari berbagai daerah. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sejarah, Nasional, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Memahami Histori dan Metode Pemikiran Syaikh Siti Jenar

Judul: ? Pengakuan-Pengakuan Syaikh Siti Jenar

Penulis : Argawi Kandito

Penerbit/Distributor: Pustaka Pesantren

Pencetak: PT LKiS Printing Cemerlang

Memahami Histori dan Metode Pemikiran Syaikh Siti Jenar (Sumber Gambar : Nu Online)
Memahami Histori dan Metode Pemikiran Syaikh Siti Jenar (Sumber Gambar : Nu Online)

Memahami Histori dan Metode Pemikiran Syaikh Siti Jenar

Terbitan: I, 2011

Tebal: 200 Halaman 12 x 18 cm

Peresensi: Junaidi*

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Karena metode “berlayar di permukaan” itu mereka menikamku di depan santri-santriku”. Itu segelintir ucapan Syaikh Siti Jenar. Sedangkan para wali yang lainnya memakai metode “menyelam di dalam laut”. Sehingga pemahaman masyarakat berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nama kecil Syaikh Siti Jenar adalah Abdul Hasan bin Abdul Ibrahim bin Ismail (Hal. 18). Sosok Siti Jenar menjadi buah bibir di kalangan masyarakat Jawa, bahkan misteri kematian dan pemikirannya dikenal di berbagai penjuru di negeri ini. Ada yang mengatakan bahwa ajaran Siti Jenar menyesatkan bagi kehidupan masyarakat Jawa, sehingga beliau dibunuh oleh para wali yang lainnya. Misteri kematian Syaikh Siti Jenar tidak kunjung selesai sampai pada dari mulut ke mulut masyarakat Jawa saja. Akan tetapi meluas di lingkungan keagamaan di nusantara ini.

Pada umumnya masyarakat mengenal Syaikh Siti Jenar berkaitan dengan tiga hal; wali yang sakti, wali yang mengaku sebagai Tuhan, dan wali yang berasal dari cacing merah. Dari ketiga hal ini, cerita yang ketiga (yang berasal dari cacing merah) paling bersifat kontradiktif. Sebab, apa mungkin gen cacing merah bisa menjadi sosok manusia hanya karena sabda seorang wali?

Bahkan dari nama syaikh Siti Jenar ada dua versi: Pertama, nama itu karena disesuaikan dengan pakaian yang sering dipakai dalam kesehariannya yaitu gamis warna mirah tanah. Syaikh Maulana Maghribi menyapa Abdul Hasan dengan sebutan Si Lemah Bang (sesuai dengan pakaian merah tanah yang digunakannya). Karena pada waktu itu Abdul Hasan juga memakai Iqal yang mayoritas digunakan oleh para wali, maka sebutan tadi pun mengembang dengan sebutan “Syaikh” di depannya. Menjadi terkenallah Abdul Hasan dengan sebutan “Syaikh Lemah Bang”. Kemudian Raden Pati Unus yang hadir di perkumpulan wali itu memperhalus sebutan “Syaikh Lemah Bang” dengan boso kromo menjadi “Syaikh Siti Jenar”. Mulai saat itu, sebutan Syaikh Siti Jenar mulai terkenal (Hal. 42).

Kedua, konon katanya ada seorang wali yang sedang melakukan wejangan pada seorang santrinya di atas perahu. Ketika itu, mereka mengetahui bahwa ada lubang di perahunya sehingga ada rembesan air ayng masuk ke dalam perahunya. Kemudian mereka menambal dengan tanah lumpur, dengan tidak disadari oleh mereka, di lumpur tadi ada cacing merah yang menempel. Mereka melanjutkan wejangannya setelah dirasa aman. Tiba-tiba sang wali terhenyak karena merasa ada gangguan, seperti ada orang yang datang. Namun, dalam pandangan mata mereka tidak ada orang selain mereka berdua. Setelah melakukan pencarian melalui pengaktifan mata batin, sang wali menemukan sumber gangguan itu berasal dari cacing merah yang menempel di lumpur tadi.

Cacing tadi diminta oleh sang wali untuk menampakkan diri dalam wujud manusia. Maka cacing itu menampakkan diri dalam wujud manusia. Setelah itu sang wali bertanya kepada tentang apa yang diketahui dari pertemuan sang wali dengan santrinya. Ia mengaku tahu apa yang dilakukan oleh mereka berdua di atas perhunya. Mendengar ucapan manusia jelmaan cacing tadi sang wali lantas mengaku sebagai mruidnya yang tingkatannya sama dengan santrinya tadi. Sang wali kemudian memberinya nama dengan sebutan Siti Jenar, artinya manusia yang berasal dari cacing merah (Hal. 83).

Begitulah kisah tentang keberadaan Syaikh Siti Jenar. Namun, Argawi tidak hanya mengulas akan hal itu saja. Akan tetapi berbagai pemikiran keislaman Syaikh Siti Jenar yang ada kontroversi dengan para wali yang lain juga dipaparkan dengan lugas dan jelas. Sehingga kita sebagai pembaca mudah untuk memahami histori Syaikh Siti Jenar yang menjadi perbincangan masyarakat secara turun temurun.

Buku ini ditulis berdasarkan kontak langsung antara Argawi Kandito (penulis) dengan Syaikh Siti Jenar di alamnya sekarang. Dia mengklarifikasi apa pun yang dilakukannya selama hidup di dunia. Beberapa informasi awal yang dipahami masyarakat dijadikan kata kunci untuk melakukan klarafikasi olehnya. Hasil dari klarafikasi itulah yang ditulis oleh Argawi Kandito.

Secara garis besar buku ini mengisahkan masa kecil syaikh Siti Jenar, masa remajanya, masa menuntut ilmu, bagaimana ia meramu ajarannya, pokok-pokok ajaran dan pemikrannya, kendala-kendala yang dihadapi dalam kehidupannya hingga kematiannya. Data klarafikasi yang berasal dari pengakuan-pengakuannya kemudian dideskripsikan olehnya agar mudah dipahami oleh para pembaca.

Gaya penulisan buku ini sedikit berbeda denga buku-buku yang lainnya. Dalam buku ini pembahasannya berbentuk deskriptif. Meskipun demikian, teknik pengambilan data sama saja yakni melalui perjumpaan dengan nara sumber di alamnya secara kontak batin. Demikian pula, dan tujuannya pun sama yakni ingin berbagi informasi dari perjalanan spiritual yang dilakukan oleh penulis.

* Penulis adalah mahasiswa jurusan Sastra Inggris fakultas Adab sekaligus jurnalis pada Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Solidaritas IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, Sejarah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Begini Suasana Lebaran di Italia

Roma, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?

Bertugas di negara yang mayoritas penduduknya Katolik menjadikan pengalaman berbeda. Lebaran di sini tentu saja tidak seramai di Indonesia. jumlah Muslim Indonesia di Italia masih bisa dihitung dengan jari. Setiap ada momen kumpul-kumpul seperti buka bersama, festival budaya, hari-hari libur nasional, dan lebaran menjadi obat kangen terhadap kampung halaman Indonesia.?

Semua diaspora yang terdiri dari pekerja, mahasiswa, dan native Italia yang menikah dengan orang Indonesia akan berdatangan ke tempat-tempat acara. Biasanya wisma KBRI di Via Campania, 55, 00187 Roma menjadi tempat acara bagi yang tinggal di Roma dan sekitarnya termasuk Vatikan.?

Begini Suasana Lebaran di Italia (Sumber Gambar : Nu Online)
Begini Suasana Lebaran di Italia (Sumber Gambar : Nu Online)

Begini Suasana Lebaran di Italia

Bagi masyarakat Indonesia di Milan, biasanya menyewa gedung pertemuan di Circolo Sempre Avanti, Via Bertola da Novate, 11, Novate Milanese, seperti acara buka bersama pertengahan Ramadhan lalu.?

Keharmonisan antarpemeluk agama di sini sangat terjaga. Masyarakat Indonesia di Italia sudah seperti saudara, mereka baik dan saling menghargai. Ketika ada suatu acara, maka semua akan bahu membahu membantu demi kesuksesan acara tersebut. Ada yang membawa makanan yang dibuatnya. Maka tidak heran menu makanan sayur asem lengkap dengan melinjonya pun ada di sini.?

“Melinjo beli di Indonesia langsung 3 kilogram, dititipkan kepada orang yang pulang ke Indonesia,” cerita Irwanda, Staff lokal KBRI di Roma.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Persiapan lebaran bagi orang-orang Indonesia di Italia tidak jauh berbeda dengan masyarakat Indonesia umumnya. Baju baru, ketupat, opor ayam, juga ada di sini. Open house di KBRI pun sudah disiapkan dengan hidangan pembuka bakso. Di rumah-rumah sudah disiapkan pula seperti somay buatan sendiri. Tentang kuliner, jangan khwtir. Orang indonesia sudah jagonya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Masalahnya adalah di Italia tidak ada libur Idul fitri, sehingga di saat yang berbahagia ini, masyarakat Indonesia yang bekerja pun tetap harus masuk.

“Termasuk juga para diplomat, tidak boleh ada yang pulang ke Indonesia kecuali ada izin dari Kementrian Luar Negeri di Indonesia atau panggilan resmi dari instansi pemerintah,” kata Kolonel Bambang Dharmawan. Ia diplomat dari TNI Angkatan Laut. Selain untuk KBRI Italia yang meliputi Cyprus, Malta, San Marino, ia juga bertugas untuk KBRI Yunani. Tugas untuk tiga tahun, dan tidak boleh pulang jika tidak ada undangan atau panggilan tugas dari panglima.

Para diplomat biasanya memang bertugas selama tiga tahun di tempat penugasan. Mereka dibolehkan membawa anggota keluarga. Anak-anak yang dibawa biasanya mudah sekali beradaptasi dengan bahasa Italia. Hanya 3,5 bulan sudah lancar bahasa Italia. Anak-anak itu bergaul dengan teman-teman Italia di sekolah.

Kalau ada yang berbeda dari persiapan lebaran di Italia dengan di Indonesia, adalah bahwa di Italia kurang ramai saja. Di sini tidak ada misalnya bunyi petasan jangwhe yang meluncur ke atas seperti kebanyakan di Indonesia.?

Pada hari Jumat (23/6), digelar acara buka puasa bersama di kota suci Vatikan. Duta Besar Republik Indonesia untuk tahta suci Vatikan, Agus Sriyono mengatakan senang sekali melihat kebersamaan dan gotong royong masyarakat dalam mengisi akhir-akhir bulan Ramadhan. Keputusan Idul Fitri di Vatikan menunggu kepastian dan pengumuman resmi dari masjid Islamic Centre Roma setelah sidang penglihatan hilal.

Seperti di Indonesia, sebagai bentuk taat pada pemerintah, Idul Fitri menunggu juga keputusan Kementrian Agama, setelah dilakukan sidang isbat.?

Semoga puasa Ramadhan sebulan penuh yang kita lakukan mendapat ridla dari Allah SWT. Sehingga pasca berpuasa, ibadah yaang kita lakukan menjadi bertambah dan istikamah. Minal aidin wal faizin, Mohon maaf lahir batin. Selamat lebaran. Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1438 H, diucapkan dari Roma-Italia. (H Khumaini Rosadi, anggota Tim Inti Dai dan Media Internasional (TIDIM) LDNU, dan Dai Ambassador Cordofa 2017 dengan penugasan ke Roma, Italia)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pertandingan, Kiai, Sejarah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Hari Ini, Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung PWNU DKI Jakarta

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi DKI Jakarta mengadakan istighotsah, Ahad (13/8). Setelah istighotsah puluhan nahdliyin ini mengikuti upacara peletakan batu pertama pembangunan kantor PWNU DKI Jakarta di Jalan Utan Kayu Raya Nomor 112 Jakarta.

Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta KH Mahfudz Asirun mengatakan, pilihan hari Ahad adalah sesuai dengan penciptaan gunung oleh Allah SWT dengan harapan nantinya agar PWNU Jakarta akan kokoh seperti gunung.

Hari Ini, Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung PWNU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Ini, Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung PWNU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Ini, Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung PWNU DKI Jakarta

Turut hadir dalam acara itu Ketua PBNU H Eman Suryaman, Ketua PWNU DKI Jakarta H Saefullah yang Sekda DKI Jakarta, pengurus harian syuriyah dan tanfidziyah, serta perwakilan dari banom dan lembaga di lingkungan PWNU DKI Jakarta.

Saefullah menyampaikan agar pembangunan nanti dapat lebih bermanfaat khususnya bagi warga NU di Jakarta, maupun secara umum bagi masyarakat Jakarta.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia berpesan kepada hadirin agar membantu dengan doa, terutama agar cita-citanya selanjutnya yaitu akan menggunakan tanah di sekitar Kuningan, Jakarta Selatan untuk pengembangan ekonomi dan pendidikan bagi Nahdlatul Ulama.

"Kita berharap apapun yang kita perbuat kali ini, semoga bisa bermanfaat untuk umat sekaligus dalam rangka ikut perintah PBNU dalam upaya mengembangkan potensi ekonomi dan pendidikan warga NU," ujar Saefullah.

Hadir dalam acara ini KHMahfudz Asirun, KH Ibrahim Karim, KH Ibnu Abidin, KH Shodiqin Maqsudi, KH Syaroni Hadi, KH Lukmanul Hakim, para kiai dan pengurus NU lainnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Sejarah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Sekjen: Malam ini Indonesia Akan Diguyur 1 Miliar Shalawat Nariyah

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Tanggal 21 Oktober 2016 menjadi hari yang bersejarah. Untuk pertama kalinya, Shalawat Nariyah akan dibacakan secara kolosal mulai dari Sabang sampai Merauke. Pembacaan Shalawat Nariyah tersebut akan serentak dilaksanakan pukul 19.00 Wib.

Saat dikonfimasi, Sekjen HA Helmy Faishal Zaini menjelaskan bahwa PBNU berinisiatif untuk menghelat hajatan besar ini guna ingin mengharap berkah dari pembacaan Shalawat Nariyah. Lebih jauh pria kelahiran Cirebon ini mengatakan bahwa di tengah kondisi yang silang sengkarut dan ancaman krisis yang di depan mata seperti saat ini, potensi konflik horizontal sangat besar. Oleh karena itu, PBNU berinisiatif untuk menghelat pembacaan 1 Miliar Sholawat Nariyah untuk keselamatan bangsa.

Sekjen: Malam ini Indonesia Akan Diguyur 1 Miliar Shalawat Nariyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen: Malam ini Indonesia Akan Diguyur 1 Miliar Shalawat Nariyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekjen: Malam ini Indonesia Akan Diguyur 1 Miliar Shalawat Nariyah

“Kondisi yang serba susah seperti saat ini, menurut hemat kami, akan semakin memicu masyarakat untuk bertindak emosional. Ekonomi yang sulit, sangat mungkin memicu masyarakat untuk berbuat tindakan emosial bahkan irasional. Maka dari itu 1 Miliar Sholawat Nariah ini kami maksudkan terutama untuk mengharapkan keberkahan dan semoga bangsa Indonesia bias selamat dari segala macam bentuk ancaman dan pertikaian,” jelas Helmy. (Fariz Alniezar)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sejarah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock