Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Adrian, anak umur 5 tahun pengidap Hepatitis B dan kanker hati, meninggal dunia Selasa (5/1). Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) yang turut menggalang dana untuk pengobatannya pun melakukan takziah ke kediaman keluarga Adrian di Kampung Kelapa Cagak, Desa Teluk Lada, Pandeglang, Banten, Rabu (6/1).

Direktur Program dan Operasional Pengurus Pusat LAZISNU Nur Rohman bersama rombongan datang ke rumah duka sebagai bentuk ungkapan belasungkawa. Ketua PP LAZISNU Syamsul Huda yang berhalangan hadir mengucapkan duka melalui sambungan telepon.

LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati

Mereka disambut hangat ayah Adrian, Susanto, didampingi relawan dan mahasiswa Banten. Pihak keluarga mengucapkan terima kasih kepada LAZISNU atas bantuan dan tali persaudaraan yang dijalin sebagai sama-sama keluarga besar NU. Dalam kesempatan itu LAZISNU menyerahkan dana santunan sebesar 5 juta rupiah hasil sumbangan dari masyarakat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rombongan dari LAZISNU menempuh perjalanan tujuh jam dari Jakarta menuju rumah duka. Medan yang sulit membuat waktu tempuh lebih lama dari yang diperkirakan. “Jalannya kayak kobangan kerbau di sawah,” kata Nur Rohman.

Ia mengucapkan terima kasih kepada para donatur yang telah sudi membantu Adrian melalui rekening LAZISNU. Rohman berharap, bantuan menjadi amal ibadah yang membawa berkah bagi para dermawan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sebelum meninggal dunia, Adrian sempat menjalani pengobatan di Rumah Sakit Cipto Mengunkusumo (RSCM), Jakarta. Ia divonis dokter mengidap Hepatitis B dan kanker hati sehingga harus melakukan transplantasi hati dan karenanya membutuhkan biaya 1,2 miliar. Orang tuanya yang berpenghasilan 30 ribu rupiah per hari sebagai buruh tani tak sanggup menanggung biaya itu. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Sunnah, Habib Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

Geliat Ekonomi pada Pengajian Tarekat Menjanjikan

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dengan menenteng empat karung plastik berukuran besar, Roshid (25) warga Sumobito Jombang, berjalan mondar mandir di depan puluhan ribu jamaah Thariqah Qadiriyah wan Naqsyabandiyah Rejoso Peterongan, Jombang, Jawa Timur, yang sedang menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Geliat Ekonomi pada Pengajian Tarekat Menjanjikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Geliat Ekonomi pada Pengajian Tarekat Menjanjikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Geliat Ekonomi pada Pengajian Tarekat Menjanjikan

Bersama 10 tetangganya, lelaki lajang ini menjajakan makanan ringan berupa krupuk, kacang goreng, melinjo, dan jipang, Sabtu (31/1) itu. "Setiap ada kegiatan seperti ini saya selalu datang, bersama adik dan beberpa tetangga. Mereka juga sama berjualan seperti saya," ujarnya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Dalam setiap acara pengajian tarekat semacam ini, Roshid mengaku bisa menjual hingga 20 bal jipang dan juga krupuk. Dan uang yang dikantongi bisa mencapai hingga Rp 500 ribu, " itu termasuk modal, sebesar Rp 300 ribu, keuntungan ini cukup membantu ekonomi keluarga," tambahnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lulusan Madrasah Ibtidiyah ini bercerita, ia menjadi pedagang asongan sejak kelas 6 madrasah ibtidaiyah. Kalau tidak ada kegiatan dirinya bersama beberapa tetangga berdagang di pasar dan kereta api. "Terkadang di sini (Rejoso Peterongan), kalau Senin sering ke Cukir, Diwek," bebernya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tidak hanya Roshid, para pedagang dari luar Jombang juga memiliki minat yang sama. Seperti yang ada yang mengomando, mereka berdatangan tiap ada pengajian tarekat yang banyak digelar di pesantren-pesantren. "Saya hanya berjualan tas untuk ibu ibu, " ujar Susiadi (55), pedagang tas asal tanggulangin Sidoarjo.

Dengan harga antara Rp 15 ribu hingga 25 ribu, Susiadi mengatakan bisa menjual antara 20 bahkan lebih tas yang dibawanya. "Biasanya bisa Rp 400 ribu, kalau musim panen bisa lebih hingga Rp 500 ribu pendapatan," imbuhnya.

Dari pantauan di lokasi, puluhan pedagang tampak menjajakan dagangannya, mulai makanan ringan, tas, kipas bambu, hingga tikar plastik yang banyak diminati jamaah tarekat sebagai alas untuk mengikuti wirid dan doa. Mereka bersila di sepanjang jalan menuju kawasan masjid pesantren Darul Ulum Peterongan.

Puluhan pedagang makanan dadakan, atau pedagang kaki lima tidak kalah banyak. Puluhan pedagang makan siap saji ini terlihat memenuhi jalan, sehingga jalur menuju lokasi digelarnya kegiatan tarekat pimpinan KH Dhimyati Romly nyaris macet, dan harus ditempuh dengan merayap. "Putaran ekonomi di jamaah tarekat potensinya sangat besar, kalau dihitung bisa ratusan juga setiap ada kegiatan," ujar Agus Mahfudzin, salah satu Dosen Unipdu.

Hal ini lanjut dosen muda ini menambahkan, ribuan jamaah yang datang dari berbagai daerah di Jawa Timur bahkan luar Jatim dengan menggunakan kendaraan serta kebutuhan makanan? yang dibutuhkan. "Besarnya putaran eknomi bisa dilihat mulai dari sewan kendaraan oleh rombongan, belum makanan yang dibutuhkan saat mengikuti kegiatan serta peralatan seperti tikar sebagai alas dan lainnya," pungkas Agus yang juga sekretaris PC ISNU Jombang ini.

Seperti diketahui, jumlah jamaah atau pengikut Thariqat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah Rejoso Peterongan Jombang mencapai ratusan ribu. Mereka datang dari berbagai daerah. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sejarah, Nasional, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Larangan Melaknat dan Mendoakan Jelek

Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudzâharah wal Muwâzarah, halaman 141, menjelaskan tentang larangan mendoakan jelek dan melaknat, baik ditujukan pada diri sendiri, orang lain maupun sesuatu apa pun di luar dirinya sebagai berikut:

Larangan Melaknat dan Mendoakan Jelek (Sumber Gambar : Nu Online)
Larangan Melaknat dan Mendoakan Jelek (Sumber Gambar : Nu Online)

Larangan Melaknat dan Mendoakan Jelek

? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?,  ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? "? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?".

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Artinya: “Jangan sekali-kali mendoakan datangnya bencana atau mengutuk diri sendiri, keluargamu, hartamu ataupun seseorang dari kaum Muslimin walaupun ia bertindak dzalim terhadapmu, sebab siapa saja mengucapkan doa kutukan atas orang yang mendzaliminya, berarti ia telah membalasnya. Rasulullah SAW telah bersabda: ‘Jangan mendoakan bencana atas dirimu sendiri, anak-anakmu ataupun harta hartamu. Jangan-jangan hal itu bertepatan dengan saat pengabulan doa oleh Allah SWT’.”

Dari kutipan diatas dapat diuraikan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, mendoakan jelek atau melaknat siapa pun dan apa pun dari kaum Muslimin termasuk diri sendiri, harta benda, keluarga dan orang lain agar tertimpa suatu bencana sangat tidak dianjurkan sekalipun mereka telah berbuat kedzaliman kepada kita. Artinya tidak sepantasnya kita melakukan hal yang sama buruknya sebab mendoakan jelek dan melaknat bukan akhlak karimah. Doa yang sebaiknya diucapkan untuk  orang yang telah berbuat dzalim adalah doa yang baik saja, misalnya agar ia mendapatkan hidayah dari Allah SWT, lalu menyadari kesalahannya dan bertobat.

Kedua, mengucapkan doa kutukan atau laknat atas orang lain agar tertimpa bencana bisa sama saja dengan melaknat diri sendiri. Alasannya,  sebagimana dijelaskan Rasulullah SAW, adalah  bisa saja pada saat kita mengucapkan kutukan atau laknat kepada orang lain, pada saat itu Allah sedang menghendaki  terkabulnya doa-doa, sementara orang lain tersebut ternyata tidak pantas mendapat kutukan karena tidak bersalah, misalnya.  Kutukan atau laknat seperti itu bisa berbalik kepada diri sendiri  sebagaimana dijelaskan  Sayyid Abdullah Al-Haddad di halaman yang sama (hal. 141) sebagai berikut: 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. 

Artinya: “Ketahuilah bahwa suatu laknat, bila telah keluar dari mulut seseorang, akan naik ke arah langit, maka ditutuplah pintu-pintu langit di hadapannya sehingga ia turun kembali ke bumi dan dijumpainya pintu-pintu bumi pun tertutup baginya, lalu ia menuju ke arah orang yang dilaknat jika ia memang patut menerimany , atau jika tidak, laknat itu akan kembali kepada orang yang mengucapkannya.”

Dari kutipan di atas sangat jelas bahwa kutukan atau laknat memiliki dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, orang yang dilaknat akan terkena bencana jika memang menurut Allah ia pantas menerimanya. Kemungkinan kedua, jika ternyata Allah memandang lain, maka bencana itu akan menjadi bumerang  atau berbalik arah menuju orang yang telah mengucapkannya. Ini artinya sangat riskan melakukan kutukan atau melaknat orang lain. 

Dalam kaitan itu, Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh atau teladan yang baik ketika beliau didzalimi orang-orang Thaif yang menolak dakwahnya. Beliau mendoakan agar mereka tetap diberi keselamatan atau hak hidup dengan berharap dari anak cucunya akan ada yang mau beriman kepada Allah SWT. Sebenarnya mengutuk atau melaknat orang lain hanya diperbolehklan kepada orang-orang tertentu saja yang telah di-nash oleh Allah sendiri sebagaimana penjelasan Sayyid Abdullah Al-Haddad di halaman yang sama (hal. 141) sebagai berikut: 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. 

Artinya: “Jauhkan dirimu dari perbuatan melaknat seorang Muslim (termasuk pelayan dan sebagainya), bahkan seekor hewanpun. Jangan melaknat seorang manusia tertentu secara langsung, walaupun ia seorang kafir, kecuali bila Anda yakin bahwa ia telah mati dalam keadaan kafir sepeti Fir’aun, Abu Jahal dan sebagainya. Ataupun, yang Anda ketahui bahwa rahmat Allah tak mungkin mencapainya seperti Iblis.”

Dari kutipan diatas semakin jelas bahwa kita sangat dianjurkan untuk tidak pernah melaknat siapa pun dan apa pun, baik itu manusia maupun bukan manusia; baik itu Muslim maupun kafir. Orang kafir sekarang bisa saja akan menjadi mukmin di masa depan dengan hidayah Allah SWT. Laknat hanya boleh ditujukan kepada orang-orang kafir yang sudah jelas kekafirannya hingga akhir hayat  seperti Fir’aun, Abu Jahal dan sebagainya. 

Iblis juga boleh dilaknat karena rahmat Allah SWT memang tidak akan pernah sampai kepadanya. Ia telah membangkang terhadap perintah Allah dan menyombongkan diri kepada-Nya sebagaimana di tegaskan di dalam Al-Qur’an, surah Al-Baqarah, ayat 34: “Aba wastakbara wakâna minal kâfirîn.” (Iblis membangkang Allah dan menyombongkan diri. Ia kafir).  Demikian pula setan-setan boleh dilaknat sebagaimana terdapat dalam bacaan ta’awudz:  “A’ûdzu billâhi minasy-syaithânir rajîm.” (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk). Wallahu alam. (Muhammad Ishom)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Syariah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 13 Februari 2018

Dikukuhkan, IPNU-IPPNU Kriyan Agendakan Ngaji Kitab

Jepara, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara, Jawa Tengah, masa khidmah 2015-2017 telah resmi dikukuhkan. Pengurus baru siap bergerak cepat melaksanakan program-program organisasi.

Dikukuhkan, IPNU-IPPNU Kriyan Agendakan Ngaji Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)
Dikukuhkan, IPNU-IPPNU Kriyan Agendakan Ngaji Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)

Dikukuhkan, IPNU-IPPNU Kriyan Agendakan Ngaji Kitab

"Setelah agenda Pelantikan, PR IPNU-IPPNU Kriyan siap mengadakan upgrading untuk pengurus sekaligus membuat progam organisasi. Namun kami sudah merencanakan untuk bulan September ini, tepatnya malam idul adha akan mengadakan takbir keliling se-Desa Kriyan," ujar Eko Supriyanto, Ketua PR IPNU Kriyan.

Hal senada juga disampaikan Nur Laili Nimah. Ia menyatakan siap melanjutkan progam-progam IPPNU yang sudah terlaksana di periode sebelumnya, seperti kegiatan rutin Yasinan tiap malam Jumat, acara dua mingguan dzikir Ratibul Hadad, serta forum pertemuan pengurus PR IPNU-IPPNU Kriyan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Dalam periode saya, akan kami tambahkan progam kegiatan, yaitu rutin kajian kitab baik untuk pengurus maupun anggota IPNU IPPNU Kriyan. Ini penting karena untuk bekal dalam kehidupan kita," tambahnya.

Fathurrohman, Ketua PR IPNU periode sebelumnya berharap, agar kepengurusan yang sudah dilantik ini bisa solid, sehingga dapat menjalankan progam yang sudah diagendakan bersama. Ia juga mengharapkan kegiatan yang sudah berjalan baik di periode sebelumnya untuk dilanjutkan dan diperbaiki untuk menjadi lebih baik.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pelantikan berlangsung meriah pada Jumat (4/9) di Gedung NU Ranting Kriyan dan dipandu langsung oleh Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Jepara. (Miqdad Syaroni/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Cerita, Tokoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

SMK Ma’arif NU 03 Larangan Raih Emas di MAPSI Jateng

Brebes, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Maarif NU 03 Larangan, Kabupaten Brebes atas nama Nurul Isnaeni Putri berhasil meraih emas pada lomba Pidato Mata Pelajaran Pendidikan Agama dan Seni Islam (MAPSI) tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Nurul menumbangkan 35 peserta, utusan dari kabupaten/kota se-Jawa Tengah. Pada lomba di kampus Universitas Wahid Hasyim Semarang, pada Sabtu (23/1/16) lalu, medali perak diraih utusan Kabupaten Pemalang dan perunggu dari Kota Surakarta.

SMK Ma’arif NU 03 Larangan Raih Emas di MAPSI Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
SMK Ma’arif NU 03 Larangan Raih Emas di MAPSI Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

SMK Ma’arif NU 03 Larangan Raih Emas di MAPSI Jateng

“Alhamdulillah, Allah SWT mengabulkan doa saya, sehingga juara,” tutur Nurul ketika di temui di SMK Maarif NU 03 Larangan, Rabu (27/1).

Siswa kelas XII Akuntasi tersebut mengaku pada awalnya kurang percaya diri karena dirinya berasal dari dusun dan baru kali pertama mengikuti lomba tingkat Jawa Tengah. Namun dengan kemantapan hati yang kukuh dan dorongan dari Pembina Ahmad Rifai, akhirnya tampil memukau di hadapan dewan juri.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dara manis kelahiran Brebes 21 Desember 1998 itu saat berpidato membawakan tema tentang shalat. Antara lain menguatkan tentang pentingnya shalat fardlu ain, sebagai alat komunikasi antara hamba dengan Sang Khaliq. Disamping itu, sholat menjadi tiang agama yang apabila shalatnya tidak diperkuat dengan jamaah, maka agama Islam akan runtuh.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Untuk meraih juara, aktivis IPPNU ini sangat getol berlatih tanpa mengenal lelah. Teman-teman di kelasnya dijadikan penonton, hingga melebar di hadapan 905 siswa SMK favorit di Larangan tersebut. “Saya tidak lagi grogi setelah digladi terus menerus,” ucap penyuka bakso tersebut.

?

Selain pidato, Anak pasangan Bapak Sohirun dan Ibu Musriah ini juga mahir membaca puisi. Terbukti pernah menjadi juara 3 baca puisi tingkat Kabupaten Brebes. Di sekolahnya, juga pernah meraih juara 1 drama, baca puisi, fashion show.

Meski hidup dalam kesederhanaan, namun tidak menghalangi semangatnya untuk belajar dan selalu belajar. Nurul rutin setiap bada maghrib dan bada subuh di rumahnya jalan A Yani Dukuh Penjalin Banyu, Desa Siandong, Kecamatan Larangan, Brebes membaca buku pelajaran dan bahan bacaan lainnya yang dipinjam di perpustakaan sekolahnya.

Baginya, segala halangan tidak masalah asalkan mau berusaha dengan sekuat tenaga dan tidak melupakan berdoa kepada Allah SWT. Sebagaimana motto hidupnya, kesuksesan berawal dari kemauan yang kuat. “Tidak bermaksud membusungkan dada, dengan ikhtiar yang kuat dan iringan doa segalanya bisa diraih dengan sukses,” pungkasnya bersyukur.

Menurut Kepala SMK Maarif NU 03 Larangan H Harun MAg menerangkan, Nurul tergolong siswi yang rajin dan penuh dedikasi yang tinggi. Sehingga di kelas maupun di sekolahnya selalu menorehkan prestasi baik akademik maupun nonakademik. Atas prestasi tersebut, dirinya berjanji akan memberikan reward sepantasnya, karena telah mengharumkan nama sekolah dan juga Kabupaten Brebes serta sekolah di bawah naungan MWCNU Larangan dan LP Maarif Brebes. (wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Ansor Jombang: Presiden Tak Harus Minta Maaf kepada PKI

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Gerakan Pemuda Ansor sependapat bahwa tragedi kemanusiaan berupa kontak fisik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) 50 tahun silam tidak terulang kembali di masa mendatang. Namun peristiwa yang mengakibatkan jatuhnya banyak nyawa tersebut hendaknya dapat dilihat lebih arif dan cerdas.

Pandangan tersebut disampaikan H Zulfikar Damam Ikhwanto yang juga Ketua PC GP Ansor Jombang Jawa Timur, Kamis (1/10).  Dalam rilis yang diterima media ini, Gus Antok, sapaan akrabnya, juga menolak keras kalau kemudian Presiden RI harus meminta maaf terhadap PKI.

Ansor Jombang: Presiden Tak Harus Minta Maaf kepada PKI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Jombang: Presiden Tak Harus Minta Maaf kepada PKI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Jombang: Presiden Tak Harus Minta Maaf kepada PKI

"Ini sejarah kelam dan memprihatinkan yang tidak boleh terulang kembali," katanya. Soal politik harus dipahami dan dilakukan secara arif dan cerdas, tidak perlu sampai bunuh membunuh atau menciptakan konflik horisontal seperti masa lalu, lanjutnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam pandangannya, masyarakat sudah sangat mengerti tentang bahaya ideologi dan gerakan komunisme atau PKI, baik model lama dan model baru. Demikian juga upaya saling memaafkan di antara warga masyarakat sudah terjadi secara alamiah dan membudaya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Toh sampai hari ini, masyarakat, baik PKI dan bukan PKI, sudah tidak mampu lagi dibedakan," terangnya. Semua sudah membaur dan menyatu.

Ia justru mengkhawatirkan jika permintaan maaf kepada PKI secara resmi, apalagi dilakukan oleh Presiden sebagai pimpinan sebuah negara, akan membuka luka lama dan kekecewaan mendalam bagi pihak yang juga menjadi korban PKI di masa lalu.

"Harapan kami, soal perebutan kekuasaan atau politik, tidak semestinya membunuh akal sehat dan mengakibatkan pertumpahan darah serta perang saudara," ungkapnya. Semua pihak yang berkepentingan dan juga semua warga negara harus bisa saling menjaga dan mengawal proses berpolitik dan berdemokrasi ala Pancasila yang baik, lanjutnya.

Segala ideologi, apalagi sampai memunculkan gerakan yang melawan Pancasila dan mengancam keutuhan NKRI tidak boleh ada dan tumbuh subur di bumi Indonesia tercinta ini. "Siapapun dan dalam bentuk apapun, jika bertentangan dengan Pancasila dan mengancam NKRI, maka hanya ada satu kata yang kita tolak," tegasnya.

PKI jelas-jelas bertentangan dan ingin menjatuhkan Pancasila. "Kalau kemudian presiden meminta maaf secara resmi, maka akan membuka cerita kelam," sergahnya.

Permintaan maaf secara terbuka juga dapat dianggap sengaja membiarkan Pancasila dikoyak serta akan mengancam keutuhan NKRI. "Dengan alasan apapun, permintaan maaf secara resmi itu tidak perlu dilakukan," katanya.

"Ansor Jombang menolak PKI dan ajaran komunis di negeri ini, demikian juga kami menolak permintaan maaf secara resmi yang dilakukan presiden kepada PKI," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pahlawan, Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur

Oleh : Ahmad Ali Adhim



Pengasuh Pesantren Sunan Drajat Lamongan yang keturunan Kanjeng Sunan Drajat (Raden Qosim) ke-14 ini selalu mempunyai ciri khas tersendiri dalam mensyiarkan agama Islam. Beliau adalah Prof. Dr. KH Abdul Ghofur. Beberapa kali putra H. Marthokan ini mendapat gelar doktor honoris causa dari universitas dalam dan luar negeri karena pengabdian nya yang luar biasa untuk masyarakat, seperti penganugerahan Doktor HC di bidang Ekonomi Kerakyatan dari American Institute of Management Hawaii, Amerika. Tanpa melalu proses belajar di kampus beliau berhasil meneliti “Khasiat Buah Mengkudu dan Pelestarian Tanaman” akhirnya Beliau juga mendapat gelar professor. 

Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur (Sumber Gambar : Nu Online)
Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur (Sumber Gambar : Nu Online)

Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur

Pesantren peninggalan Wali Songo yang nyaris terkubur oleh sejarah itu, kini di bawah asuhan Kiai Abdul Ghofur memiliki kurang lebih 12.000 santri. Rasanya hal itu sebanding dengan proses belajar Kiai Abdul Ghofur, jika kita runtut kembali melihat riwayat pendidikan yang pernah beliau tempuh. Pada masa mudanya beliau Menghabiskan waktu belajarnya di Pondok Pesantren Denanyar – Jombang, Pondok Pesantren Kramat dan Sidogiri di Pasuruan, Kemudian melanjutkan mondoknya di Pondok Pesantren Sarang, Rembang dalam asuhan KH Zubair, lanjut ke Pondok Pesantren Lirboyo, Pesantren Tretek, Pesantren Roudhotul Qur’an Kediri. Sempat menimba ilmu juga di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo.

Pengalaman beliau sebagai kiai yang setiap hari menjadi tempat keluh kesah berbagai permasalahan kehidupan masyarakat, membuat beliau menarik kesimpulan bahwa pendidikan di pesantren merupakan ruang belajar yang terbaik. Selain tidak terpengaruh pergaulan bebas, seks bebas, dan narkoba, pesantren juga menjadikan seseorang selain mendapat ijazah resmi dari negara juga menjadikan seseorang bisa mengaji (baik Al-Qur’an maupun kitab kuning), berceramah agama dan berkhutbah, memimpin doa, kemampuan-kemampuan keahlian keagamaan lainnya yang berguna saat terjun di masyarakat nanti. Pendidikan di pesantren yang tidak bisa terlepas dari budaya ngantri, jauh dari orang tua, makan yang dibatasi, jam tidur yang singkat, dan padatnya kegiatan yang harus diikuti akan membentuk pribadi yang sabar, sederhana, rendah hati, peduli, ikhlas, rajin, disiplin, hemat, bersahaja, santun, dan beradab.

Manfred Ziemek (seorang ahli sosiologi) telah mengutip pendapat Kalnia Bhasin dan mengemukakan rumusan secara sederhana, di sini secara umum tujuan pendidikan pesantren adalah ditujuan untuk mempersiapkan pimpinan-pimpinan akhlak dan keagamaan. Setelah proses pembelajaran di bangku sekolah selesai diharapkan para santri akan pulang ke masyarakat mereka sendiri untuk menjadi pimpinan yang tidak resmi dari masyarakatnya. Rumusan tujuan pendidikan pesantren di atas merupakan sintesa dari beberapa tujuan pendidikan pesantren yang pernah dikunjungi Klania Bhasin. Rumusan tujuan tersebut ada titik temunya jika dikomparasikan dengan ayat Al-Qur’an yang artinya: “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan pada kaumnya apabila mereka kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (Q.S. At-Taubah: 122)

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, maka dalam merumuskan tujuan atau cita-citanya tentu saja mengarah kepada nilai-nilai Islam, baik rumusan tersebut secara formal atau hanya berupa slogan-slogan yang didawuhkan oleh pengasuh pesantren. Jika mengacu pada buku yang diterbitkan Dirjen Bimbaga Islam Depag RI, 1984/1985, hal. 6-7, di situ sangat jelas bahwa misi awal Proyek Pembinaan dan Bantuan kepada pondok pesantren, Dalam Standarisasi Pengajaran Agama di Pondok Pesantren menuju suatu lokakarya intensifikasi pengembangan pendidikan pondok pesantren bulan Mei 1987 di Jakarta telah merumuskan beberapa tujuan institusional pendidikan pesantren yang salah satunya secara khusus bertujuan untuk mendidik santri dan anggota masyarakat agar menjadi Muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, keterampilan, sehat lahir dan batin sebagai warga negara yang berpancasila. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rupanya untuk mencapai tujuan mulia itu, KH Abdul Ghofur memilih jalur Thoriqoh Pendidikan. Bagaimanakah konsep Thoriqoh Pendidikan yang ditawarkan oleh beliau? Dalam kitab Al-Ma’arif Al-Muhammadiyah Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku jalan (thoriqoh) terdekat kepada Allah yang paling mudah bagi hamba-hambanya dan yang paling utama bagi Allah!” Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi ketika di muka bumi masih terdapat orang yang mengucapkan lafadz “Allah”.”

Imam Ghazali dalam karyanya Muroqil Ubudiyah fi Syarhi Bidayatil Hidayah menjelaskan arti kata thariqah dalam kalimat aktif, yakni melaksanakan kewajiban dan kesunatan atau keutamaan, meninggalkan larangan, menghindari perbuatan mubah (yang diperbolehkan) namun tidak bermanfaat, sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari hal-hal yang tidak disenangi Allah dan yang meragukan (syubhat), sebagaimana orang-orang yang mengasingkan diri dari persoalan dunia dengan memperbanyak ibadah sunah pada malam hari, berpuasa sunah, serta menghindari kata-kata yang tidak beguna.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Annemarie Schimmel (Seorang ahli dalam bidang mistisisme Islam) dalam karyanya Mystical Dimensions of Islam (USA: The University of North Carolina Press, pada tahun 1975, halaman 98, ia mengartikan thoriqoh dengan istilah: “The tariqa, the “path” on which the mystics walk, has been defined as “the path which comes out of the sharia, for the main road is called shar‘i, the path, tariq.” This derivation shows that the Sufi’s considered the path of mystical education a branch of that high -way that consists of the God-given law, on which every Muslim is supposed to walk. No path can exist without a main road from which it branches out ; no mystical experience can be realized if the binding injunctions of the shar’ia are not followed faithfully first. The path , tariqa, however, is narrower and more difficult to walk and leads the adept—called salik, “wayfarer”—in his suluk, “wandering,” through different stations (maqam) until he perhaps reaches, more or less slowly, his goal, the perfect tauhid, the existential confession that God is One.”

Definisi tersebut memberi gambaran bahwa thoriqoh adalah jalan khusus bagi salik (penempuh jalan ruhani) untuk mencapai kesempurnaan tauhid, yaitu ma’rifatullah. Jalan yang diambil oleh para sufi berasal dari jalan utama, syariat. Dijelaskan oleh Carl W. Ernst seorang spesialis dalam studi Islam, dengan fokus di Asia Barat dan Selatan dalam bukunya Ajaran dan Amaliah Tasawuf yang diterjemahkan oleh Arif Anwar pada tahun 2003 hal 153. Adapun thoriqoh dalam bentuk institusi baru muncul pada abad 11. Awalnya merupakan gerakan bersifat privat yang dilakukan oleh orang-orang yang sepaham pada awal-awal masa Islam, akhirnya tumbuh menjadi suatu kekuatan sosial utama yang menembus sebagaian besar masyarakat Muslim.

Dalam Al-Qur’an sendiri, misalnya jika ditinjau dalam surat Al-Jin Ayat 16, kita akan menemukan penjelasan seperti ini “Dan jika manusia tetap pada suatu thoriqoh, pasti mereka akan mendapatkan air yang menyegarkan. Sedangkan dalam bidang tasawuf seringkali dikenal istilah thoriqoh, yang berarti jalan untuk mencapai keridhoan Allah SWT. Dengan pengertian ini bisa digambarkan, adanya kemungkinan banyak jalan, sehingga sebagian sufi mengatakan “jalan menuju Allah itu sebanyak hitungan nafas makhluk”, aneka ragam dan bermacam-macam.

Untuk memahami seperti apakah thoriqoh pendidikan yang dimaksud oleh Kiai Abdul Ghofur, kita bisa mengingat kembali bahwa Ibnu Abdil Barr pernah meriwayatkan satu hadits yang artinya seperti ini ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. Dalam Hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi Rasulullah pernah bersabda ”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang”. Kedua Hadits itu sudah sangat jelas bahwa menuntu ilmu (proses dalam pendidikan) adalah suatu jalan yang harus kita tempuh.

Kiai Abdul Ghofur dalam ceramahnya pernah menyampaikan “Aku wakafkan hidupku untuk pendidikan, dan thoriqohku adalah pendidikan.” Dapat kita fahami bersama, beliau sangat peduli terhadap pendidikan, karena bagi beliau “pendidikan” akan menjadikan manusia dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak tahu menjadi tahu. Bila kita merujuk pada tujuan pendidikan di negara kita seperti yang tercantum dalam undang-undang nomor 12 tahun 1954, terutama pasal 3. Tujuan pendidikan dan pengajaran, ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Mengusung misi yang sangat mulia seperti itu kenapa perhatian pemerintah terhadap pendidikan pesantren tidak begitu serius? Kiai Abdul Ghhofur sangat prihatin kenapa pesantren dijadikan pilihan kedua bahkan terakhir oleh banyak para orang tua dalam memilih pendidikan bagi anaknya?

Padahal tujuan pendidikan pesantren (Islam) sudah sangat jelas. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Addin bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan untuk mencari kedudukan yang menghasilkan uang. Seperti itulah ajaran-ajaran yang diberikan dalam pesantren. Karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan pada mendekatkan diri kepada Allah SWT, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian, dan permusuhan.

Konteks yang lebih menarik dari pengertian tujuan pendidikan adalah bagaimana kita melawan kebodohan dan kemalasan yang ada dalam diri kita. Sebagaimana dawuh Kiai Abdul Ghofur “Sekarang sudah bukan masanya berjihad dengan peperangan, akan tetapi yang lebih tepat adalah berjihad melawan kemalasan dan kebodohan, yaitu dengan cara memperbanyak beribadah, serius dalam belajar.”

Begitu agung dan bijaksana nasihat yang telah beliau berikan kepada kita, seakan-akan beliau mengajak kita semua untuk membuat “negara pondok pesantren“. Dimana semua pendidikan di negara ini berbasis pondok pesantren. Serta semua pemimpin dan pejabatnya sebisa mungkin harus lulusan pondok. Karena bagi beliau, dengan memiliki pemimpin lulusan pondok pesantren, maka Insya Allah negara kita akan menjadi negara yang sejahtera, religius, dan bebas korupsi. Seperti itulah Konsep Thoriqoh Pendidikan yang dikembangkan di Pondok Pesantren Sunan Drajat oleh KH Abdul Ghofur, kurang dan lebihnya hanya Allah SWT dan Kiai Abdul Ghofur yang tahu.





Penulis, mahasiswa Manajemen dan Kebijakan Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, IMNU, Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock