Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Banyak naskah pesantren yang rusak, hilang atau diperjualbelikan tanpa ada arsip. Akibatnya khazanah pesantren yang tak ternilai harganya tidak bisa ke tangan santri generasi selanjutnya.
Penulis buku Pesantren Studies, Ahmad Baso, mengatakan, hal semacam itu terjadi di Sulawesi Selatan.
| Perlu Gerakan Kesadaran Dokumentasi (Sumber Gambar : Nu Online) |
Perlu Gerakan Kesadaran Dokumentasi
“Hal itu terjadi di Makasar. Ada kiai jadi penulis, mengoleksi banyak kitab dalam tulisan tangan. Tapi tak banyak yang menerbitkan. Hanya meenjadi bacaan santri terbatas. Setelah dia meninggal, tak ada generasi keluarganya yang merawat dokumentasi itu.” katanya di gedung PBNU, Jakarta, pada Rabu, (09/1)Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal
Ahmad Baso menambahkan, ada seorang ulama besar, Kiai Abdul Kadir Kholik. Ia lulusan dari Mesir. Ia ahli tafsir, menulis naskah tulisan tangan.“Tapi nggak ada yang baca dan merawat, kita masuk lagi ke rumahnya, udah nggak ada itu,” ungkapnya.
Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal
Bikin miris dan marah. Banyak naskah-naskah pesantren dan naskah-naskah kiai diperjualbelikan. Sekarang banyak jatuh ke tangan orang lain yang bertujuan komersil.Oleh karena itu, sambung Wakil Ketua PP Lakpesdam NU, harus ada gerakan kesadaran untuk pendokumentasian naskah pesantren. NU harus melakukannya.
“Bisa melalui LTN, RMI, atau Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal misalnya,” katanya.
Caranya, kita dekati anak-anak kiai punya banyak naskah dan dokumen. Terus adakan pelatihan untuk merawat naskah. Kita beri tahu bahwa naskah ini harus dijaga. Terus bikin katalog, dan deskripsi atau informasi apa saja koleksinya itu.
“Kalau tidak ada kesadaran pendokumnetasaian, lama-lama habis naskah-naskah itu. Habis pula sejarah kita!”
Penulis: Abdullah Alawi
Dari Nu Online: nu.or.id
Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Makam, Pahlawan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

EmoticonEmoticon