Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Maret 2018

Ansor-Banser Solo Raya Napak Tilasi “Syuhada 15”

Boyolali, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal -

Pengurus Pimpinan Cabang GP Ansor se-Solo Raya beserta Pimpinan Wilayah Jawa Tengah mengadakan kegiatan Napak Tilas “15 Syuhada” di Jagir, Dragan, Musuk, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (24/3). Agenda ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam menyambut Harlah GP Ansor ke-83.

Kegiatan napak tilas ini semula diselenggarakan oleh PC GP Ansor-Banser Boyolali, namun pada penyelenggaraan kali ini, diikuti para peserta dari PC GP Ansor-Banser se-Solo Raya.

Ansor-Banser Solo Raya Napak Tilasi “Syuhada 15” (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor-Banser Solo Raya Napak Tilasi “Syuhada 15” (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor-Banser Solo Raya Napak Tilasi “Syuhada 15”

Ketua PC GP Ansor Boyolali Khoiruddin Ahmad mengatakan acara Napak Tilas ini bertujuan untuk mengenang perjuangan para tokoh NU dan Ansor di daerah tersebut, yang gugur dalam memperjuangkan Islam.

“Napak tilas serta haul di monumen Syuhada 15, semoga juga menambah semangat kita, walaupun sampai mempertaruhkan nyawa, seperti yang dialami para pemimpin Islam di Jagir Musuk ini,” kata dia.

Rute kegiatan Napak Tilas berakhir di kompleks Pemakaman Jagir, Desa Dragan, Kecamatan Musuk. Di tempat tersebut, dimakamkan beberapa tokoh NU, Ansor, Banser, dan pejuang Islam lainnya, yang gugur karena dibunuh oleh PKI pada tahun 1965.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain diadakan Napak Tilas, panitia juga menggelar acara peringatan haul yang diisi dengan pengajian dzikir dan shalawat, Sabtu (25/3) malam. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, Hikmah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali

Saling membantu sesama makhluk Allah sangat lazim dalam kehidupan di dunia ini. Pasalnya keberuntungan dan nasib orang berbeda-beda. Di sinilah letak pentingnya upaya manusia untuk saling menutupi dan saling melengkapi kekurangan satu sama lain.

Imam Al-Ghazali sendiri menulis tatakrama perihal ini. Hujjatul Islam ini menyebut sejumlah rincian yang sangat ramah terhadap mereka yang memerlukan bantuan. Dalam Al-Adab fid Din Imam Al-Ghazali menyebut akhlak seorang yang bersedekah.

Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Artinya, “Seyogianya seorang yang ingin bersedekah mendonasikan hartanya sebelum diminta, diam-diam saat memberi, menutup-tutupi sedekahnya setelah memberi, ramah terhadap pengemis, jangan mengawali pembicaraan dengan jawaban penolakan, menolak permintaan dengan suara perlahan, mengusir godaan bakhil dari dalam hati, memberikan sesuatu sesuai permintaan atau menolaknya dengan cara yang baik. Apabila Iblis laknatullah berbisik, ‘Orang ini tidak berhak terima sedekah,’ maka jangan perhatikan nikmat yang anugerahkan pada si pengemis. Tetapi tegaskan di dalam hati bahwa orang tersebut layak menerima sedekah.”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sejumlah rangkaian tatakrama bagi seorang yang berbagi sesuatu kepada mereka yang membutuhkan ini sebenarnya dapat saja berbeda di zaman dan daerah tertentu. Hanya saja sejumlah tatakrama ini dibuat dengan tujuan agar mereka yang menerima bantuan tidak merasa terhina.

Demikian juga dengan pemberi. Semua etika ini diatur agar kedermawanan pemberi tidak kehilangan nilai di sisi Allah. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai, Aswaja, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Mulai Kuliah Perdana Hari Ini

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pascasarjana Program Magister (PPM) Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta mulai aktif perkuliahaan perdana hari ini, Jumat (9/10). Sebanyak 90 mahasiswa baru S2 ini akan mengikuti berbagai mata kuliah terkait dengan metodologi Islam Nusantara, baik secara sosiologis, antropologis, etnografis, dan lain-lain.

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Mulai Kuliah Perdana Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Mulai Kuliah Perdana Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Mulai Kuliah Perdana Hari Ini

Demikian disampaikan Asisten Direktur PPM STAINU Jakarta, Dr Muhammad Ulinnuha Husnan, MA saat dihubungi Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Jumat (9/10) di Jakarta.

“Untuk semester perdana ini diasuh atau diampu oleh berbagai dosen dan praktisi yang mumpuni di bidangnya,” ujar Ulin, sapaan akrabnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ulin menegaskan kepada mahasiswa baru, bahwa keseriusan dalam mengikuti perkuliahaan sangat penting untuk keseuksesan mahasiswa itu sendiri. Dia juga mengatakan, para mahsiswa juga diharap bisa memahami konsep Islam Nusantara dengan di PPM STAINU Jakarta.

“Hal ini saya sampaikan karena banyak informasi-informasi atau tulisan-tulisan tentang Islam Nusantara yang berkembang di media,” paparnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Namun demikian, kata Ulin, penting juga bagi mahasiswa untuk memahami konsep Islam Nusantara dari berbagai pandangan sehingga mampu mengidentifikasi distingsi atau perbedaan pendapat yang ada.

Proses perkuliahaan PPM STAINU Jakarta dilaksanakan dua hari, yakni setiap hari Jumat dan Sabtu. Hari Jumat dimulai dari pukul 14.00 WIB dan Sabtu dimulai sejak pukul 09.00 pagi. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Khofifah Lakukan Penyerahan Bibit Cabe ke Pesantren Cipasung

Tasikmalaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Menteri Sosial Hj Khofifah Indar Parawansa akan datang kembali ke Tasikmalaya, Ahad (30/4). Khofifah direncanakan menghadiri dua kegiatan yakni di Pondok Pesantren Cipasung Singaparna dan Masjid Agung Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Khofifah Lakukan Penyerahan Bibit Cabe ke Pesantren Cipasung (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Lakukan Penyerahan Bibit Cabe ke Pesantren Cipasung (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Lakukan Penyerahan Bibit Cabe ke Pesantren Cipasung

Menurut Ketua PC Muslimat NU Kota Tasikmalaya, Hj Ai Muhammad, Khofifah akan melakukan penyerahan bibit cabe ke Pondok Pesantren Cipasung. Selanjutnya menghadiri Harlah NU ke-94 tingkat Kota Tasikmalaya di Masjid Agung.

"Kalau di Cipasung pagi hari, siangnya di Masjid Agung," kata Ai, Sabtu (29/4).

Ai pun mengungkapkan bahwa Khofifah juga sebagai Ketua Umum PP Muslimat NU sehingga kehadirannya ke Kota Tasikmalaya atas undangan PC Muslimat NU Kota Tasikmalaya. (Nurjani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Kang Said: Islam Membela Non Muslim

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Bukti bahwa Islam sangat menghormati dan melindungi non Muslim banyak terekam dalam al Quran. Banyak kisah-kisah non Muslim yang justru ada dalam al Quran dan tidak tersebut di kitab suci mereka. Demikian penjelasan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam Refleksi Awal Tahun PBNU, Selasa, 4 Desember 2011.



Kang Said: Islam Membela Non Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Islam Membela Non Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Islam Membela Non Muslim

"Ketika terjadi Perang antara Romawi (Katolik) melawan Persia (Majusi) Rasulullah berharap Romawi menang, namun nyatanya Romawi kalah dan turunlah surat ar Rum yang menghibur. Dan ini diabadikan dalam al Quran," kata pria yang akrab disapa Kang Said ini.

Dalam surat ar Rum disebutkan bahwa tidak lama lagi Romawi akan segera menang dan di saat itulah kaum Mumin harus ikut bergembira menyambut kemenangan Romawi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kang Said bercerita, suatu saat Rasulullah menerima hadiah dari Gubernur Mesir, yakni Mariah yang kemudian menjadi istri Rasulullah. Mariah adalah seorang wanita yang beragama Ortodok Koptik. Rasulullah berkata kepada Khalifah Umar, "Nanti Mesir akan berjaya melalui tanganmu (kekuasaanmu), saya titipkan keluarga Mariah kepadamu."

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kang Said menjelaskan bahwa Rasulullah menitipkan keluarga Mariah adalah untuk menjaga agama Mariah sebelumnya yakni Ortodok Koptik. "Dan akhirnya terbukti, ketika Perang Salib, tidak satupun orang Ortodok Koptik yang diserang. Dan hingga saat ini Ortodok Koptik tetap eksis di Alexandria," jelas Kang Said.

Kisah pembantaian Nasrani Najran diabadikan oleh al Quran dalam surah al Buruj. Saat itu Raja Dzu Nuwas dengan kejam membantai Nasrani Najran dan kemudian dimasukkan dalam lubang dan dibakar hidup-hidup. "Kisah ini terekam jelas dalam al Quran yang justru tidak disebutkan oleh Injil," jelas Kang Said.

"Jadi jangan dikira bahwa dalam kisah itu adalah cerita orang Islam, itu adalah kisah Nasrani Najran," tegas pria yang akrab disapa Kang Said ini.

Korban yang terbunuh akibat kekejaman Dzu Nuwas ini hanya memiliki satu kesalahan, yakni beriman kepada Allah.

Cerita lain tentang pembelaan Islam terhadap non Muslim juga terjadi pada saat Khalifah Umar menerima kunci dan berkunjung ke gereja di Palestina. Saat itu masuk waktu ashar dan Khalifah Umar ingin bergegas melaksanakan salat. Kemudian Sofrinus, yang menyerahkan kunci, memersilakan Umar untuk salat di dalam gereja, namun Umar menolaknya.

Lalu Kang Said menjelaskan alasan penolakan Umar, "Khalifah Umar menolak bukan karena salat di dalam gereja. Namun beliau takut jika suatu saat nanti gereja tersebut akan direbut kaum Muslimin dengan alasan beliau pernah salat di sana."

Kisah-kisah perlindungan Islam terhadap non Muslim ini, menurut Kang Said, harus bisa dijadikan contoh teladan bagi kaum Muslimin agar tidak melakukan tindakan semena-mena terhadap non Muslim. (bil)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, AlaSantri, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Alun-alun depan Masjid Agung Garut, Jawa Barat bakal dipadati oleh puluhan ribu nahdliyin pada Sabtu (17/11). Pasalnya, di alun-alun tersebut akan diselenggarakan pelantikan Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Garut dan apel akbar Barisan Ansor Serba Guna (Banser) sebanyak lima ribu pasukan.

Pada acara yang akan dimulai pukul 08.00 pagi-13.00 siang akan dihadiri oleh Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Kholil Qoumas, PWNU Jabar, Ketua PW Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haidar, Pengurus Cabang NU Kabupaten Garut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut, Kapolres Garut, Kodim Garut, serta tamu undangan lainnya.

Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut

Kegiatan akbar ini rencananya ditutup dengan taushiyah oleh Rais Aam Jam’iyah Ahlu Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdiyah (Jatman) Habib Luthfy Al-Habib Muhammad Luthfy bin Ali bin Yahya Pekalongan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pengurus Lembaga Ta’lif wan Nasyr Kabupaten Garut Muhammad Salim melalui sambungan telepon mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk membuktikan bahwa eksistensi kader NU, khususnya Ansor dan Banser diperhitungkan di Kabupaten Garut.

Selain itu, lanjutnya, kegiatan ini juga diharapkan mampu memberikan asupan informasi bagi warga Garut yang sedang berkembang di Kabupaten Garut terkait isu pembubaran pengajian oleh Banser.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kita buktikan siapa yang membubarkan pengajian, dan siapa yang suka mengisi dan mengamankan pengajian,” jelasnya. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, RMI NU, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Agama Mata Pedang

Oleh Ren Muhammad



Fenomena takfir (pangafiran) mewabah lagi di Jakarta. Sekelompok orang yang mengaku Muslim, sayangnya terlibat dalam pewabahan ini. Semua atribut keislaman, lebih tepatnya kearaban, melekat di tubuh mereka. Sedari tasbih, jubah, sorban, hingga pola ucap yang melulu terarabisasi. Namun bila menilik jalan pikiran mereka, kita seolah menyaksikan perulangan sejarah Islam generasi pertama (1 H/7 M).

Agama Mata Pedang (Sumber Gambar : Nu Online)
Agama Mata Pedang (Sumber Gambar : Nu Online)

Agama Mata Pedang

Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan radliyallahuanhu adalah pemantik pertikaian umat Muslim generasi perdana. Latarnya, kekecewaan atas keputusan politik Ali. Bukan perbedaan keyakinan atau aqidah yang berseberangan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Muawiyah yang bersaudara dengan Utsman, meminta Khalifah Ali bin Abi Thalib (pengganti Utsman) agar memberantas komplotan pembunuh itu. Keputusan Ali jauh dari tuntutan itu. Ia hanya mengizinkan hukum qishash (balas) pada si pembunuh saja. Urusan persaudaraan darah ini, kemudian merebak jadi perkara besar politik.

Muawiyah bangkit memberontak Ali sebagai pemimpin sah umat yang ditunjuk oleh dewan Ahlul Halli wa l-Aqdi (terdiri dari para Sahabat terpandang). Perang pun pecah. Sebagai pemimpin besar Islam kala itu, juga jenderal perang Rasulullah, Ali dan pasukannya nyaris menumpas Muawiyah bin Abu Sufyan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kekalahan Muawiyah urung terjadi setelah Amr bin Ash, komandannya, mengusulkan agar ia mengangkat mushaf (lembaran) al-Quran yang ditancapkan pada mata tombak. Ali mafhum. Mereka sepakat berdamai (tahkim-arbitrase). Efek dominonya adalah, kawanan kecil dari pasukan Ali yang kemudian malah membelot. Sejarahwan Islam menemukan catatan untuk mereka yang kemudian bernama Khawarij. Kata jamak dari kharij, yang artinya keluar dari barisan.

Target kelompok kecil ini hanya dua. Membunuh Muawiyah dan Ali. Berdasar keyakinan bahwa mereka pelaku dosa besar. Padahal latarnya jelas. Lagi-lagi, kekecewaan politik belaka. Mereka lupa, Nabi Muhammad Saw pernah dan teramat sering mengalami penindasan politik dari masyarakat Quraisy--kaumnya sendiri. Terutama ketika ia harus dengan lapang dada menandatangani Perjanjian Hudaibiyah. Berisi pelarangan memasuki tanah kelahirannya, Makkah, selama sepuluh tahun.

Pelajaran lain yang juga tak kalah penting adalah, saat Nabi Muhammad terusir dari Makkah dan kemudian mengamini tawaran sekelompok Yahudi yang meminta bantuannya membenahi Yatsrib (sekarang Madinah). Perjanjian itu kemudian dibalas dengan keislaman mereka secara sukarela, setelah Muhammad Saw berhasil memenuhi janjinya. Ia mengubah Madinah menjadi Munawarah. Kota yang berkilauan cahaya kebaikan. Jadi kotanya yang ia cintai, sebagaimana Makkah al-Mukarramah.

Berislam dalam Waktu



Jika kita belajar dari teori sejarah Ibn Khaldun (bapak ilmu sejarah dunia) tentang hukum siklus sejarah, maka demikian pula yang terjadi dalam riwayat panjang Islam masa ke masa. Muawiyah yang tampil sebagai pemenang lantaran gagal terbunuh oleh Khawarij, kemudian mendirikan dinasti baru bernama Umayyah. Dinasti yang bertahan hampir seabad ini, kelak dihancurkan Abu l-Abbas as-Saffah, keturunan Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim, paman Nabi Muhammad Saw dari jalur ayah.

Lembaran tulisan ini tidak dimaksudkan mengurai rantai sejarah Islam hingga hari ini. Tapi mari becermin pada apa yang terjadi di dunia kita sekarang. Suriah, Libya, Lebanon, Mesir, Sudan, Ethiopia, Afghanistan, Irak, Filipina, dan Indonesia, semua dilatari atas klaim benar-salah. Khususnya, upaya pembangkangan pada pemerintah (uli l-amri).

Terlepas dari pendomplengan isu adicita antara demokrasi Amerika dan komunis Rusia-China, para pelaku kekerasan berwacana Islam, kerap muncul dari barisan sakit hati politik. Jika dirunut rantai darah dan keguruannya, mereka akan terpaut dengan Ibn Muljam (pembunuh Khalifah Ali), Ibn Qayyim al-Jauziyah, Abdullah bin Abdul Wahab, Ibn Taymiyyah.

Golongan yang dinamai Esposito sebagai peminum ramuan mematikan (lethal coctail) ini, mengabaikan sepenuhnya misi besar kenabian Muhammad Saw yang diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia dan membawa rahmat bagi semesta alam. Kerana itulah mereka meyakini penuh bahwa kebenaran berpihak pada kubunya. Bukan pada kubu lain yang notabene juga Muslim.

Kebuntuan memahami Islam secara baik dan kaffah, jadi faktor lain pembentuk mereka. Bahkan ada satu sempalan lagi dari kaum Khawarij yang yakin betul bahwa persoalan besar manusia hari ini akan terjawab dengan mendirikan khilafah Islam. Romantisme buta ini jelas berbahaya. Mereka benarbenar menutup mata pada fakta dinasti kekhilafahan--non Khulafa ar-Rasyidun--yang sebagian besarnya berangkat dari pertumpahan darah.

Dalam kancah perpolitikan dunia modern pun, tak kurang banyaknya pemimpin negara-bangsa yang juga Muslim. Tapi kenyataannya, jauh panggang dari api. Muslim atau bukan, tak menjamin kualitas kepemimpinan. Tanpa tasbih, sorban, jubah, Sukarno berhasil meramu perjuangan bangsa kita merebut kemerdekaannya. Mandela yang bukan Muslim, berjaya di Afrika. Gandhi yang Hindu, jadi kecintaan India. Chavez yang Katolik, dipuja di Venezuela.

Agama dan ajarannya, memang bisa dijadikan sandaran pengelolaan kehidupan. Tapi bukan berarti para pemeluknya harus kehilangan kewarasan berpikir, dan kejernihan hati. Kehancuran sebuah bangsa di masa lalu, cenderung terjadi ikhwal kasus keributan agama yang ditunggangi pegiat politik yang berambisi kuasa. Nyaris semua agama dunia era kita, punya riwayat kelam seperti ini.

Semua ayat suci yang sudah diturunkan tuhan ke muka bumi, tak cukup hanya dijadikan korpus belaka. Ia memang berjarak dengan penganutnya secara ruang. Namun tidak secara waktu. Dalam Islam misalnya, ada ayat yang berbunyi, "Wa l-ashri. Inna l-insana lafi khusrin: Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian." (QS. al-Asr [103]: 1-2)

Jadi, kerugian terbesar manusia bukan terletak pada di ruang mana ia hidup. Melainkan seberapa cakap ia memeriksa rambatan waktu yang ia lalui dalam hidupnya. Bukan waktu lalu atau yang akan datang. Melainkan waktu kini. Di sini. Sekarang. Manusia wajib memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Jadi apa pun kita, waktulah yang kelak menentukan seberapa berkualitas hidup kita.

Keniscayaan ini yang menyita habis kehidupan para penganjur kebaikan pada setiap zaman. Mereka sadar dan paham betul, waktu pasti kan melindasnya. Maka tak ada pilihan lain kecuali hidup bersama waktu yang berawal tapi tak berakhir. Jalan terbaik mewujudkan itu adalah, menjadi agen kebaikan bagi manusia dan makhluk tuhan lainnya. Hanya dengan begitulah, nama mereka harum sepanjang masa. Hidup mereka pun abadi dalam sejarah manusia. []

Penulis adalah pendiri Khatulistiwamuda yang bergerak pada tiga matra kerja: pendidikan, sosial budaya, dan spiritualitas. Selain terus membidani kelahiran buku-buku, juga bertugas sebagai Pemimpin Redaksi Majalah ARKA.



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, Kyai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock