Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bojonegoro mengumpulkan 350 kepala sekolah/madrasah di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Sabtu (22/11), di Bojoengoro, Jawa Timur. Pertemuan dimaksudkan untuk menyosialisasikan perubahan administrasi dan perlunya peningkatan kaderisasi NU di tingkat pelajar.

PCNU Bojonengoro dalam kesempatan tersebut mendorong kepala madrasah/sekolah untuk menjadi fasilitator dalam pendirian komisariat Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) di masing-masing unit pendidikan.

NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU

Salah satu pengurus LP Ma’arif NU Bojonegoro, H. Agus Huda, mengatakan, sudah menjadi tugas lembaganya untuk menekankan kepada sekolah atau madrasah agar membentuk komisariat IPNU mengingat organisasi ini memang berada di tingkat pelajar.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada Acara tersebut dilaksanakan pula penandatanganan kemitraan untuk pendirian komisariat IPNU-IPPNU oleh H. Agus Huda (PC LP Ma’arif NU Bojonegoro), M. Masluhan (PC IPNU Bojoengoro), H. Yasmani, (Kasi Penma Kemenag Bjn ), dan H. Basuki (PC NU Bojonegoro).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain tentang pendirian komisariat IPNU-IPPNU, LP Ma’arif NU dalam pertemuan ini juga menyampaikan sejumlah informasi, di antaranya mengenai pedoman penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan Ma’arif NU dan tindak lanjut perubahan akte notaris.

Sekretaris PC LP Ma’arif NU Moh. Sholihul Hadi menjelaskan, sosialisasi administratif itu dilakukan seiring dengan telah diperbaruinya Anggaran Dasar Perkumpulan Jam’iyah Nahdlatul Ulama Nomor: C.2-7028.HT.01.05.TH.89 dengan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No. AHU-119.AH.01.08 Tahun 2013, bahwa satuan pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama diwajibkan menggunakan Badan Hukum Perkumpulan Jam’iyah Nahdlatul Ulama. (M Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Maulid Nabi Tak Pernah Berhenti

Bekasi, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Maulid adalah isim zaman dan isim makan dari walada. Walada, kata kerja lampau, berari telah lahir. Sedangkan Maulid bermakna hari dilahirkan atau tempat kelahiran. Dalam tradisi Islam Nusantara, maulid memiliki tiga makna.

Maulid Nabi Tak Pernah Berhenti (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid Nabi Tak Pernah Berhenti (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid Nabi Tak Pernah Berhenti

Pertama, bulan. Bulan yang dimaksud adalah bulan dalam almanak Hijriyah, yakni Robi’ul Awal. Muslim Nusantara tidak menggunakan Robi’ul Awal, melainkan dengan sebutan Maulid, disebabkan karena bulan tersebut merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tepatnya tanggal 12 Maulid. Penyebutan Maulid pun rasanya lebih muda ketimbangan Robi’ul Awal.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Orang Jawa, orang Sunda, orang Banjarmasin, orang Jakarta, dan lain-lain menyebut bulan Robbi’ul Awal dengan Maulid atau Mulud.

Sementara orang Madura menyebut dengan Molod dan Molot. Orang Aceh menyebut dengan Moloed. Bulan ini sangat dihormati, bahkan disebut bulan suci. Bulan maulid dianggap suci, karena orang suci dilahirkan. Ramadlan dikenal dengan bulan suci, karena pada waktu itulah kitab suci diturunkan. Ada lagu yang masyhur tentang bulan Maulid karya Nasida Ria, “Bulan maulid bulan yang suci”.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Makna kedua dari Maulid adalah hari pringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dalam kalender Hijriyah jatuh pada tanggal 12 Robi’ul Awal. Pada tanggal 12 Maulid itu, umat Islam Nusantara, terutama pemegang Madzhab Aswaja, berkumpul di tempat yang disepakati, di masjid atau surau, di pesantren atau tempat-tempat bersejarah seperti keraton, hingga alun-alun kota.

Di Yogyakarta, Keraton mengadakan Grebeg Maulid pada tanggal 12 Maulid. Di Keraton Kasepuhan, ada tradisi Malam Panjang Jimat, di tanggal hari kelahiran Nabi SAW. Di desa-desa Nusantara, tanggal 12 Maulid dirayakan dengan membaca sejarah Nabi SAW yang terdapat di kitab al-Barzanji, dan lain-lain.? Pada hari tersebut juga, perayaan identik dengan acara makan-makan bersama atau bancakan seusai acara inti. Di Yogyakarta, ada Gunungan yang terbuat dari aneka macam makanan, bahkan di Padang Pariaman, ketika Maulid ada makanan khas, yakni Lemang.

Ketiga, Maulid bermakna pengajian umum yang dikhususkan untuk mempringati kelahiran Nabi Muhammad. Penyelenggraan pengajian ini tidak terikat tanggal 12 Maulid. Ia bisa dilakukan ditanggal 1, 9, 23 Maulid dan seterusnya. Pengajian ini dikenal dengan sebutan Maulidan atau Muludan.

Di daerah-daerah yang tradisi Islamnya kental, pengajian Maulid dilakukan di luar bulan Maulid. Bahkan, di Pada Pariaman-Sumatara Barat, Maulid Nabi dilakukan selama tiga bulan, dengan makanan khasnya Malemang, yaitu Rabiul Awal, Rabiul Akhir dan Jumadil Awal. Pengajian yang diselenggarakan di masjid, surau, berisi ceramah keagamaan, sholawat Nabi, dan lain-lain.

Tidak seperti beberapa tahun lampau, hari ini peringatan Maulid Nabi diadakan secara terbuka, makin semarak, di tempat-tempat modern, di kampus, sekolah, kantor dan tempat-tempat umum lainnya, juga televisi-televisi. Penyelenggara Maulidan mulai dilakukan oleh pemuda, komunitas pekerja, ibu-ibu, organisasi masyarakat, hingga institusi negara.

Hari ini, tampaknya orang melupakan pertanyaan, ”Apa hukum Maulid?”, “Mana dalil Maulid Nabi?”

Mereka sudah berasyik-masuk dengan acara Maulid yang penuh kegembiraan, penuh ekspresi, dari mualai merayakan dengan seni sastra, suara, musik, hingga makanan-makanan yang khas, yang tidak ada kecuali pada perayaan Maulid Nabi.

Memang masih ada saja orang yang usil dengan agenda Maulid Nabi, tapi di Indonesia jumlah kelompok yang mengharamkan acara tersebut amat kecil. Tapi juga seringkali suka cari perhatian dengan melakukan aksi-aksi over acting, teriak-teriak di radio, menyebarkan fitnah lewat lembaran-lembaran kecil, bahkan mendatangi rumah-rumah. Sampai di sini saya teringat dengan almaghfurlah Ki Fuad Hasyim Buntet, ketika menjelaskan perbedaan antara Maulid dan Haul.

“Kenapa bukan maulidan yang diperingati?” tanya Ki Fuad kepada jamaah Haul Mbah Ali Maksum Krapyak, beberapa tahun lampau. Lalu ia menjawab pertanyaannya sendiri dengan fasih dan lancar.

“Inilah perbedaan antara kita sebagai manusia biasa dengan Nabi Muhammad sebagai Rasul Tuhan. Peringatan maulid hanya layak kita rayakan untuk Baginda Nabi Muhammad SAW, karena kelahirannya membawa cahaya dan kabar gembira juga peringatan. Kehadirannya dipastikan akan memberi jalan untuk mendapatkan hidayah Tuhan, mengejawantahkan akhlak mulia dan mengembangkan peradaban dunia, mewujudkan kemaslahatan bagi semua, serta bergerak untuk keadilan sosial di muka bumi ini. Semuanya pasti akan dilakukan oleh Muhammad sebagai sang rasul. Sedangkan kita, manusia biasa, tidak. Peringatan ulang tahun Muhammad diselenggarakan untuk mengingatkan akan fungsi kenabiannya yang juga diwariskan kepada para pengikutnya.”

“Bagaimana dengan pesta ulang tahun yang sudah membudaya di masyarakat kita?” Kang Fuad bertanya lagi. Lalu ia menjawab sendiri dengan singkat tapi gamblang, “Peringatan ulang tahun atau biasa disingkat dengan ultah atau harlah sebetulnya bukan tradisi kita. Namun, kita tidak bisa menghentikan kebiasaan (‘adah) yang sudah melekat kuat di masyarakat dengan serta-merta dan semena-mena.”

“Kita, sebagai umat Islam yang toleran dan kreatif musti bisa ‘memasuki’ perayaan ultah supaya tidak melanggar aturan agama. Lebih dari itu, kita wajib menggunakan sarana ultah biar muncul manfaatnya. Biar berisi. Tidak hanya tiup lilin dan makan-makan saja.”

Pertanyaan penting dilontarkan lagi sesaat kemudian, “Bagaimana sikap kita kepada orang yang menghukumi bid’ah, baik acara haulan ataupun maulidan?” kata mereka bid’ah itu sesuatu yang tidak diajarkan agama atau Nabi Muhammad. Semua bid’ah itu sesat. Dan tiap kesesatan adalah dosa.”

Pertanyaan teologis itu hanya dijelaskan saja oleh Kang Fuad, “Kita tidak usah menghiraukan pendapat orang yang belum mengerti itu. Selagi tidak mengganggu, tidak apa-apa, biarkan saja. Tidak perlu dihardik. Pada suatu saat nanti mereka akan mengerti, dan melihat ada manfaat pada ibadah haulan dan maulidan itu. Dan mereka akan mengikutinya.”

Maulid Nabi bertujuan untuk mengagungkan, mengingat perjuangan serta meneladani Nabi Muhammad. Tradisi Maulid ini juga merupakan salah satu bentuk dakwah Islam Nusantara. Di dalam acara Maulid Nabi juga disyiarkan rasa kebersamaan dan solidaritas sosial, sebagai salah satu cara untuk mensyukuri nikmat Allah SWT. Melihat begitu semarak dan semangat perayaan Maulid yang juga dilakukan dengan tulus, sepertinya, Maulid Nabi tak akan pernah berhenti. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) berharap pelajar putri NU berperan dalam menjaga kedamaian dan keutuhan NKRI. Menurut Menpora, saat ini indikasi ingin memecah-belah negara ini makin sering terjadi. ?

Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja

"Selamatkan Indonesia dengan menyelamatkan Ahlussunnah wal Jamaah. Kita jaga NU di bumi Nusantara. Saat ini NU mendapatkan godaan yang semakin berat," katanya saat pidato di Rakernas Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama pada Jumat (23/12) di Pondok Pesantren Luhur Ats-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan.

Untuk hal itu, menurutnya, IPPNU saat ini perlu memperkuat kaderisasi dari bawah.?

Sebagai kader IPPNU jangan malu menunjukkan identitas sebagai kader NU. Tebarkan paham-paham Aswaja melalui media sosial.?

"Kita buktikan bahwa Aswaja telah menyelamatkan dan memberikan perdamaian dunia," tegasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Saat ada acara-acara kepemudaan di daerah, lanjutnya, kader IPPNU harus bepartisipasi. Bahkan, kalau ia hadir ke daerah, maka kader IPPNU di daerah itu wajib hadir, mau diundang atau tidak.

"Dampingi dan kawal saya atau Menteri yang lain berkunjung ke daerah," pesannya.

Sementara Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj berpesan agar kader IPPNU konsisten dalam bersikap moderat (tawasuth) meski tidak mudah.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tawasuth adalah sikap yang memerlukan kecerdasan dan keberanian seperti telah dicontohkan Imam Syafi’i dalam bidang fiqh, Abu Musa Al-Asyari dalam bidang tauhid, Imam Ghazali dalam bidang akhlak dan Hadratusysekh KH M Hasyim Asyari dalam bidang kenegaraan.

Rakernas pertama ini dihadiri para pengurus wilayah se-Indonesia. Turut hadir Staf Ahli Mendikbud Hari Budiman, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU MargaretAliyatul Maimunah. (Ahmad Suhendra/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Meme Islam, Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Teror Bersifat Merusak, Jihad Bersifat Memperbaiki

Pringsewu, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Perjuangan Nabi Muhammad dalam mendakwahkan Islam bukan untuk mendirikan negara Islam (darul-islam) namun Rasulullah memiliki konsep mulia yaitu mendirikan negara yang menjunjung tinggi keselamatan dan kemaslahatan bagi seluruh warganya (darussalam). Hal ini disampaikan Ustadz Ahmad Rifai saat menjadi pemateri pada program Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi).

"Islam menyebar keseluruh dunia untuk menjadi rahmatan lil alamin bagi seluruh manusia tanpa membedakan ras, budaya, dan tempat tinggal. Oleh sebab itu ketika Nabi Muhammad datang ke Madinah, beliau tidak membentuk darul-islam atau Negara Islam namun mendirikan darussalam atau Negara Kedamaian," terangnya, Ahad(17/01/16) di Pringsewu, Lampung.

Teror Bersifat Merusak, Jihad Bersifat Memperbaiki (Sumber Gambar : Nu Online)
Teror Bersifat Merusak, Jihad Bersifat Memperbaiki (Sumber Gambar : Nu Online)

Teror Bersifat Merusak, Jihad Bersifat Memperbaiki

Rifai menambahkan bahwa Islam bukanlah agama pemberontak, agama teroris, atau agama pembuat masalah. "Islam datang dengan kedamaian. Kalaupun ada orang Islam yang melakukan teror dan sebagainya, hal tersebut hanyalah kebetulan saja karena oknum tersebut tidak bisa mengartikan makna Jihad," tegas Ketua LP Maarif Kabupaten Pringsewu ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, teror bersifat merusak sedangkan jihad bersifat memperbaiki. Oleh karena itu jika ada yang mengatasnamakan jihad namun merusak dan merugikan orang lain maka itu dikategorikan sebagai teror. "Kewajiban kita untuk memperbaiki dan membangun negara bukan malah merusaknya," tegasnya.

Rifai mengingatkan bahwa kemerdekaan tanah air Indonesia tidak diperoleh dengan gratis. "Indonesia merdeka dengan menumpahkan darah para pejuang. Indonesia merdeka dengan perjuangan. Adalah kewajiban bagi kita untuk berjihad mempertahankan negara kita sebagaimana resolusi jihad yang dikumandangkan oleh para ulama pejuang pendahulu kita," ingatnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rifai juga menjelaskan bahwa Islam terlahir bukan hanya mengurusi masalah shalat, zakat dan permasalahan seputar ibadah saja. Namun Islam juga membahas dan membawa misi penting lainnya yaitu muamalah yang berkaitan dengan kemaslahatan hidup bersama orang lain di dunia.

Oleh karena itu dalam rangka mewujudkan kemaslahatan tersebut setiap muslim haruslah memiliki 3 prinsip dalam beragama. Prinsip-prinsip tersebut adalah ruhuddin (semangat beragama), ruhuddinul adabi wal hadoroh (semangat membangun agama yang beradab dan budaya), serta ruhul wathaniyyah (spirit kecintaan kepada tanah air). (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Sholawat, Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof Dr Kamaruddin Amin, Senin (10/8) dalam jumpa pers di kantornya menuturkan, bahwa pendidikan agama Islam di madrasah dan sekolah mempunyai peran yang sangat signifikan. Karena pengajaran agama tersebut turut menanamkan karakter kepada diri siswa.

Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah

“Bayangkan jika sekitar 50 juta siswa yang sedang belajar di madrasah dan sekolah ini pendidikan agamanya bersifat radikal, tentu negara ini akan mengalami kekacauan,” ujarnya di ruang jumpa pers, Kantor Kemenag lantai 7 Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Oleh sebab itu, menurutnya, pengajaran dan pendidikan Islam di sekolah harus dikemas semenarik mungkin agar peserta didik termotivasi untuk mendalami agama Islam yang baik dan benar.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamaruddin menambahkan, bahwa salah satu instrumen untuk membangkitkan motivasi belajar peserta didik terhadap agama Islam, yaitu dengan menyelenggarakan Pentas PAI. Pentas ini tidak hanya mengakomodasi keterampilan seni siswa, tetapi juga mengolah pemahaman mereka selama di sekolah dengan lomba seperti cerdas cermat, pidato, debat, dan lain-lain.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Dari kegiatan tersebut , nanti akan terlihat seperti apa pemahaman agama yang dimiliki oleh peserta didik. Media ini juga sebagai sarana peserta didik untuk mengaktualisasikan kemampuannya dari sisi seni pendidikan Islam, seperti lomba kaligrafi, nasyid, tahfidz Qur’an, lomba kreasi busana, dan lain-lain,” paparnya.

Lebih jauh, Kamaruddin menjelaskan, potensi radikalisme di setiap sekolah pasti ada. Sebab itu, pendidikan dan pengajaran agama Islam yang menarik menjadi upaya yang penting untuk menanamkan pemahaman Islam yang damai.?

“Pendidikan Islam damai harus terus menerus kita ajarkan dan tanamkan kepada peserta didik, yaitu Islam yang berusaha menghargai dan menyadarkan kita sebagai warga negara,” terangnya.

Lomba Pentas PAI Nasional VII yang akan berlangsung 10-14 Agustus 2015 di Asrama Haji Embarkasi Bekasi ini akan diikuti oleh 1000 peserta hasil seleksi tingkat nasional yang terdiri dari siswa SD, SMP, SMA, dan SMK dari 33 Provinsi.

Adapun jenis mata lomba yang dikompetisikan adalah Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), Lomba Pidato PAI (LPP), Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ), Lomba Cerdas Cermat PAI (LCP), Lomba Kaligrafi Islam (LKI), Lomba Seni Nasyid (LSN), Lomba Debat PAI (LDP), dan Lomba Kreasi Busana (LKB).

Sementara itu, Direktur Pendidikan Agama Islam pada Sekolah, Dr Amin Haedari menyatakan, bahwa kepada para siswa yang juara pada kompetisi ini akan diganjar dengan hadiah yang sangat menarik. “Kepada para juara I, II, dan III, serta juara harapan I, II, dan III, Kemenag telah menyiapkan hadiah dan pengahargaan yang diharapkan dapat memotivasi mereka untuk terus meningkatkan minat, bakat, dan keterampilan mereka di bidang agama Islam,” ucap Amin. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin?

Saya sedang belajar Iqro’ melalui guru privat namun masih dalam proses, sambil mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Sementara ini saya membaca Al-Qur’an sehari-hari untuk shalat, atau surat-surat pendek dari huruf latin. Yang ingin saya tanyakan, apakah sah saya membaca atau menghafal Al-Qur’an untuk shalat dari tulisan bahasa latin?

Apakah kalau saya membaca surat-surat pendek atau potongan ayat hikmah dalam bahasa latin saya tetap mendapatkan pahala? Mohon maaf sebelumnya, karena saya sedang dalam proses belajar. Tapi karena sudah mulai tua dan sibuk, saya tidak secepat anak saya yang sama-sama belajar membaca Al-Qur’an.

Anggie, tinggal di Tangerang

?

Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin? (Sumber Gambar : Nu Online)
Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin? (Sumber Gambar : Nu Online)

Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin?

Jawaban:

Ibu Anggie yang saya hormati, belajar adalah kewajiban bagi setiap orang Islam. Kita patut bersyukur karena masih diberi kemauan, kemampuan dan kesempatan untuk belajar, apalagi belajar membaca Al-Qur’an. Belajar Al-Qur’an terkait dengan ibadah sholat. Bacaan dalam sholat berisi ayat-ayat AlQur’an dan beberapa bacaan do’a dalam sholat harus disesuaikan dengan cara baca yang benar dalam aturan membaca Al-Qur’an seperti memperjelas Tasydid/Syiddah dalam bacaan Tasyahhud Akhir. Al-Qur’an ditulis dengan bahasa arab dan tidak ada transliterasi yang tepat dalam bahasa lain. Pemindahan tulisan dari bahasa Arab ke bahasa lain bisa menghilangkan kekhasan Al-Qur’an dan berpengaruh pada cara baca dan arti yang dikandung dalam tiap kata. Ini pada gilirannya akan merubah makna dan perubahan makna bisa berakibat fatal.

Ibu Anggie yang baik, ulama’ mengharamkan membaca al-Qur’an dengan tulisan latin karena dapat merubah cara baca dan arti dari Al-Qur’an. Imam Qulyubi memperbolehkan menulis Al-Qur’an dengan bahasa selain bahasa Arab tapi melarang membacanya. Penjelasan tentang hal ini disebutkan dalam kitab Hasyiyah Al-Jamal ’Ala Syarhil Minhaj juz I hal. 76 sebagai berikut :

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Artinya : Imam Qulyubi berpendapat boleh menulis Al-Qur’an dengan selain bahasa arab namun tidak boleh membacanya, dan Al-Qur’an yang ditulis dengan selain bahasa arab tersebut dihukumi seperti mushaf(Al-Qur’an dalam bahasa Arab) dalam hal membawanya dan menyentuhnya.

?

Namun demikian, ibu Anggie harus terus belajar hingga bisa membaca Al-Qur’an dengan tulisan Arab lengkap dengan tajwid-nya. Sholat ibu tetap sah karena masih dalam tahap belajar membaca Al-Qur’an. Bacaan Al-Qur’an ibu dengan tulisan latin tetap berpahala asal dengan niat yang baik. Semoga Ibu Anggie selalu diberi kemudahan dalam belajar, khususnya belajar membaca Al-Qur’an dan semoga amal Ibu Anggie dan kita semua diterima oleh Allah SWT. Aaamiin…

? Wallaahu Alamu bishshawab

?

Maftuhan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Nusantara, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

PCNU Imbau Pemerintah Daerah Tak Fasilitasi Kelompok Radikal

Sukoharjo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sukoharjo menhimbau kepada pemerintah daerah untuk tidak memfasilitasi kelompok radikal.

“Contohnya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di tingkat Kabupaten dan kota, tidak sedikit pengurusnya berasal dari kelompok Islam radikal. Bukan hanya itu, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) daerah, juga berasal dari kleompok radikal,” papar Ketua PCNU Sukoharjo, M. Nagib Sutarno, saat memimpin rapat pleno PC NU Sukoharjo, Minggu malam (16/9).

PCNU Imbau Pemerintah Daerah Tak Fasilitasi Kelompok Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Imbau Pemerintah Daerah Tak Fasilitasi Kelompok Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Imbau Pemerintah Daerah Tak Fasilitasi Kelompok Radikal

Terlibatnya kelompok Islam radikal di beberapa institusi keagamaan dan sosial itu, diduga ada beberapa penyebab. pertama Muspida (Bupati, Wakil Bupati, Kepolisian dan Kodim) belum memahami peta kondisi sosial keagamaan di masyarakat.  Contoh kasus, selama dua tahun belakangan ini  Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Sukoharjo mengisi pengajian penghantar buka puasa di radio siaran pemerintah daerah (RSPD). Setelah diprotes oleh NU, baru pihak pemerintah sadar bahwa, visi misi HTI bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Beberapa institusi lain seperti Masjid Agung, Masjid di IPHI, dan Masjid di lingkungan Kodim, dijadikan sebagai tempat dakwahnya kelompok Islam radikal, yang setiap harinya  menjelek-jelakan Republik Indonesia, Negara thogut, pemerintahan kafir, dengan berbagai semboyan, rakyat sejahtera bersama khilafah. “Tapi anehnya eksekutif diam,”tegas Sutarno.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kedua, Muspida memahami kondisi sosial, tapi lemah dan kalah. ” Pemerintah daerah lemah dan kalah, bisa jadi karena beberapa factor diantaranya kepentingan politik.” Dikatakan Sutarno, pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan pemerintah daerah, sekarang ini sudah banyak yang bergabung dalam komunitas Islam radikal. Bukan hanya itu, kata Tarno, pihak tentara juga sudah disusupi kelompok Islam radikal. 

Contohnya, Perpustakaan Kodim yang seharusnya berisikan buku-buku tentang empat pilar kebangsaan seperti Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, tapi anehnya, papar Tarno buku-buku jihad, terorisme karya Imam samudra dkk, yang jelas-jelas bertentangan dengan NKRI mendapat tempat.

Keanehan Sutarno diamini oleh warga NU yang juga mantan anggota TNI, Mulyatno. Menurutnya, memang ada orang yang intervensi di tubuh tentara. ” Tentara kita sudah tidak sehat lagi, mudah diintervensi oleh pihak lain,” kata Mulyatno. 

Melihat persoalan tersebut pengurus MWC, Banom, Laznah dan lembaga NU Sukoharjo, mengharap kepada PC NU untuk melakukan silaturahmi dan dialog dengan Muspida. ”Kami berharap PC NU melakukan dialog dengan pihak eksekutif dan lembaga lainnya yang dianggap setrategis. Membicarakan tentang kondisi sosial kemasyarakatan Sukoharjo,” papar Kyai Ahmad Baidlowi.  

Acara rapat pleno juga, menunjuk H Shofwan Faisal Sifyan, selaku wakil ketua tanfizd, menggantikan sementara ketua PC NU Sukoharjo untuk waktu 50 hari, lantaran H Nagib Sutarno, menunaikan ibadah haji. Peserta rapat juga menunjuk Cecep Choirul Sholeh, sebagai ketua Tim Kartanu Kabupaten Sukoharjo. Tampak hadir diantaranya, KH Maksum Waladi, H Mustain Ahmad, dan perwakilan 12 MWC serta banom, laznah dan lembaga NU Sukoharjo.( Cecep Choirul Sholeh)

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Cecep Ainurrazaq

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara, Ubudiyah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock