Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

Habib Luthfi Perintahkan Buka Posko Layanan Peserta Muktamar JATMAN di Jalur Pantura

Pekalongan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Rais ‘Am Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya memerintahkan kepada Pengurus Cabang (Idaroh Syubiyah) membuka posko layanan kedatangan peserta muktamar di Pekalongan 23 - 27 Desember 2017 yang menggunakan jalur darat . Perintah itu berlaku bagi pengurus yang berada di jalur Pantura, mulai Cirebon hingga Lasem. 

Habib Luthfi Perintahkan Buka Posko Layanan Peserta Muktamar JATMAN di Jalur Pantura (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi Perintahkan Buka Posko Layanan Peserta Muktamar JATMAN di Jalur Pantura (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi Perintahkan Buka Posko Layanan Peserta Muktamar JATMAN di Jalur Pantura

Pembukaan posko layanan dirasa cukup penting, pasalnya mayoritas peserta muktamar JATMAN adalah berasal dari pulau Jawa yang akan hadir menggunakan jalur darat. Sehingga untuk membantu kemudahan dan kelancaran  peserta, kiranya dirasa perlu Pengurus Cabang Jatman yang ada di jalur Pantura membuka posko bekerja sama dengan Kodim, Polres, Rumah Sakit dan Banser.

Ketua 1 Panitia Muktamar JATMAN KH. Mirza Hasbullah mengaku telah menindaklanjuti perintah Rais ‘Am dengan berkoordinasi kepada Pengurus Cabang Jatman yang berada di Jalur Pantura untuk membuka posko layanan bekerjasama dengan berbagai pihak mulai tanggal 22 - 24 Desember mendatang.

"Posko layanan sifatnya hanya membantu kepada peserta muktamar yang mengalami masalah di perjalanan, sehingga berbagai kesulitan yang dialami peserta muktamar seperti ban bocor, mobil mogok hingga jika terjadi laka lantas dengan cepat bisa dibantu oleh petugas posko," ucap Mirza.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dikatakan, Hingga saat ini telah tercatat ada 7.500 calon peserta yang akan menghadiri Muktamar ke-12 di Pekalongan. Dari ribuan peserta yang hadir, mayoritas berasal dari pulau Jawa yang menggunakan jalur darat. Maka, pihaknya memandang perlu membuat posko layanan informasi seputar bengkel mobil, rumah sakit hingga Polres dan Kodim setempat untuk mempermudah dan memperlancar perjalanan peserta.

"Nantinya pola kerja pengurus cabang melakukan kerja sama dengan pihak terkait dan santri santri pondok pesantren untuk berjaga di posko secara bergiliran," ujar Kiai Mirza.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hingga berita ini ditulis, berbagai persiapan terus dilakukan oleh panitia pusat maupun daerah. Beberapa seksi dalam kepanitiaan terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, terutama pada kesiapan tim regristasi peserta yang akan dibagi di dua tempat mengingat banyaknya peserta dan penempatan akomodasi penginapan peserta di rumah rumah penduduk yang selesai dipersiapkan.

KH Mirza yang juga Koordinator Khidmah Husnul Khotimah Muktamar mengaku telah merampungkan pendataan penginapan peserta yang tersebar di 8 kecamatan, yakni Wonopringgo, Kedungwuni, Buaran, Warungasem, Bojong, Tirto, Pekalongan Selatan dan Pekalongan Barat. 

Pemondokan peserta menurut Mirza tidak saja menyediakan penginapan, akan tetapi juga konsumsi, kendaraan plus bensin dan sopir. Dari pantauan di lapangan ada beberapa pemodokan  yang menyediakan penginapan, konsumsi dan mobil ditanggung secara gandeng renteng oleh masyarakat setempat, sehingga dapat tercipta suasana kebersamaan dalam semangat menyukseskan hajatan nasional berupa Muktamar Thariqah untuk yang ketiga kalinya di Pekalongan. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sunnah, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Adrian, anak umur 5 tahun pengidap Hepatitis B dan kanker hati, meninggal dunia Selasa (5/1). Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) yang turut menggalang dana untuk pengobatannya pun melakukan takziah ke kediaman keluarga Adrian di Kampung Kelapa Cagak, Desa Teluk Lada, Pandeglang, Banten, Rabu (6/1).

Direktur Program dan Operasional Pengurus Pusat LAZISNU Nur Rohman bersama rombongan datang ke rumah duka sebagai bentuk ungkapan belasungkawa. Ketua PP LAZISNU Syamsul Huda yang berhalangan hadir mengucapkan duka melalui sambungan telepon.

LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati

Mereka disambut hangat ayah Adrian, Susanto, didampingi relawan dan mahasiswa Banten. Pihak keluarga mengucapkan terima kasih kepada LAZISNU atas bantuan dan tali persaudaraan yang dijalin sebagai sama-sama keluarga besar NU. Dalam kesempatan itu LAZISNU menyerahkan dana santunan sebesar 5 juta rupiah hasil sumbangan dari masyarakat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rombongan dari LAZISNU menempuh perjalanan tujuh jam dari Jakarta menuju rumah duka. Medan yang sulit membuat waktu tempuh lebih lama dari yang diperkirakan. “Jalannya kayak kobangan kerbau di sawah,” kata Nur Rohman.

Ia mengucapkan terima kasih kepada para donatur yang telah sudi membantu Adrian melalui rekening LAZISNU. Rohman berharap, bantuan menjadi amal ibadah yang membawa berkah bagi para dermawan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sebelum meninggal dunia, Adrian sempat menjalani pengobatan di Rumah Sakit Cipto Mengunkusumo (RSCM), Jakarta. Ia divonis dokter mengidap Hepatitis B dan kanker hati sehingga harus melakukan transplantasi hati dan karenanya membutuhkan biaya 1,2 miliar. Orang tuanya yang berpenghasilan 30 ribu rupiah per hari sebagai buruh tani tak sanggup menanggung biaya itu. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Sunnah, Habib Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

Habis Tarawih, Santri Nurul Islam Main Sepakbola Api

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Dalam rangka mengisi bulan suci Ramadhan, sejumlah santri yang berada di Pondok Pesantren Nurul Islam Kelurahan Triwung Lor Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo bermain olahraga sepakbola api. Rutininas selama bulan suci Ramadhan ini dilakukan usai shalat Tarawih.

Namun sebelum melakukan olahraga sepakbola api ini, para santri terlebih dahulu diberi wejangan dan ilmu kebal oleh kiai pengasuh supaya tubuh tidak merasakan sakit sedikitpun saat bermain sepakbola api.

Habis Tarawih, Santri Nurul Islam Main Sepakbola Api (Sumber Gambar : Nu Online)
Habis Tarawih, Santri Nurul Islam Main Sepakbola Api (Sumber Gambar : Nu Online)

Habis Tarawih, Santri Nurul Islam Main Sepakbola Api

Olahraga sepak bola ini memang sangat berbeda dengan sepakbola pada umumnya. Selain bola terbuat dari kelapa yang kering direndam dalam minyak tanah, seluruh pemainnya tidak boleh mengenakan sepatu alias bertelanjang kaki saat menendang bola.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Uniknya, meskipun menendang bola api dengan kaki telanjang, para pemain ini tidak merasakan panas atau sakit sedikit pun saat menggiring dan menendang bola api. Bahkan yang mereka rasakan hanya seperti menggiring bola pada umumnya.

Para santri mengaku usai diberi ilmu kebal oleh kiai, mereka tidak merasakan sakit sedikitpun saat menendang bola api, yang mereka rasakan hanya capek berlarian mengejar bola untuk disarangkan ke gawang lawan.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam Ustadz Mukhlas mengatakan kegiatan semacam ini sudah rutin dilakukan di kalangan pesantren. Selain menguji ilmu kebal juga merupakan hiburan tersendiri dikalangan santri.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kegiatan ini rutin dilakukan setiap malam selama bulan suci Ramadhan. Semua ini kami lakukan untuk menguji ilmu kebal yang diamalkan oleh para santri,” katanya, Ahad (19/6).

Setelah puas bermain dan melihat sepakbola api, para santri selanjutnya membersihkan diri dan melakukan tadarus Al Qur’an. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Tokoh, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Banser Kutuk Keras Pesta Seks Kaum Gay

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Satuan Koordinasi Nasional (Satkornas) Banser Ansor mendukung aparat kepolisian menindak tegas pelaku pesta seks kaum gay yang berhasil digerebeg di salah satu tempat kebugaran di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Ahad (21/5) malam. Banser meminta kepada berbagai pihak tidak menggunakan HAM untuk melindungi pelaku.

Hal ini disampaikan Komandan Satkornas Banser, Alfa Isnaini di sela acara Halaqah Internasional Ansor di GOR Hasbullah Said PPBU (Pondok Pesantren Bahrul Ulum) Tambakberas Jombang, Senin (22/5). 

"Mereka (pelaku pesta gay) telah tercerabut dari akar budaya Indonesia. Sungguh ini kejadian yang tidak bermoral di tengah bangsa yang sedang membangun peradaban," ujar Alfa Isnaini.

Banser Kutuk Keras Pesta Seks Kaum Gay (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Kutuk Keras Pesta Seks Kaum Gay (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Kutuk Keras Pesta Seks Kaum Gay

Mantan Ketua PW GP Ansor Jatim ini juga mengimbau ke berbagai pihak agar tidak mengatasnamakan HAM untuk melindungi para pelaku. "Karena hal tersebut bukan budaya kita," sambungnya.

Alfa mengapresiasi penggrebekan yang dilakukan polisi. Namun demikian pihaknya meyakini bahwa perkembangan gay di Indonesia seperti fenomena gunung es. Artinya, yang tidak tampak di permukaan lebih besar dari yang tampak.

Seperti diketahui bersama, jajaran kepolisian Jakarta Utara melakukan penggeregkan pesta gay di salah satu ruko tempat kebugaran. Sebanyak 144 pria yang tengah melakukan pesta seks kemudian digelandang oleh petugas. Sebagain besar para peserta pesta gay telanjang bulat saat ditangkap. Tak sehelai benang pun menempel di tubuh para pria yang sebagian berbadan tegap dan berambut cepak itu. (Muslim Abdurrahman/Mukafi Niam)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

LTNNU Klaten Siapkan Pendirian Radio dan Perpusling

Klaten, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Meski baru dibentuk, berbagai ide sudah disiapkan para pengurus Lajnah Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Demikian dipaparkan Ketua LTNNU Klaten, Minardi, usai rapat pertemuan beberapa lajnah dan lembaga NU di Kantor PCNU Klaten, Ahad (27/3) malam.

“Beberapa program jangka dekat yang sudah kami rencanakan, yakni pembuatan buku khutbah jumat, buletin jumat, dan buku amaliyah NU,” terang Minardi.

LTNNU Klaten Siapkan Pendirian Radio dan Perpusling (Sumber Gambar : Nu Online)
LTNNU Klaten Siapkan Pendirian Radio dan Perpusling (Sumber Gambar : Nu Online)

LTNNU Klaten Siapkan Pendirian Radio dan Perpusling

Menurut Minardi, program-program tersebut akan disinergikan dengan program yang ada di LDNU Klaten.

“Kami akan terus berkoordinasi secara intensif dengan LDNU Klaten soal itu, khususnya tentang kebutuhan pembuatan buku khutbah jumat dan buletin jumat yang sangat mendesak,” papar Minardi.

Pembuatan buku dan buletin ini, lanjut dia, juga sebagai wujud respon terhadap keluhan takmir masjid NU. mereka kesulitan mendapatkan buku khutbah NU. Selama ini buku-buku khutbah masih didominasi dari non-NU.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ditambahkan Minardi, selain itu pihaknya juga telah membuat rencana untuk jangka panjang, yakni pembuatan radio NU dan perpustakaan keliling (perpusling). “Untuk jangka panjang, kami memimpikan NU Klaten memiliki radio dan perpustakaan keliling,” ungkap dia. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 29 Januari 2018

PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mempertanyakan dasar pemberhalaan praktik ziarah kubur di makam para wali. Dengan menyebut makam wali sebagai berhala, Ditjen Pendis Kemenag dalam buku guru SKI Kelas VII MTs Kurikulum 2013 sudah seharusnya mempertanggungjawabkan pijakan argumentasinya.

Rais Syuriyah PBNU KH Saifuddin Amsir meminta Kemenag mengeluarkan klarifikasi dan pernyataan permohonan maaf secara terbuka atas keteledorannya.

PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah

“Di mana letak pemberhalaan ziarah kubur?” Kiai Saifuddin menuntut penjelasan Kemenag, Rabu (17/9) pagi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Orang-orang yang berziarah ke makam orang tuanya, para guru dan kiai, orang-orang saleh, para wali hingga makam Rasulullah Saw, hakikatnya mengikuti perintah Rasulullah sendiri. Kiai Saifuddin menyitir hadits Nabi Muhammad Saw, ‘Ala fazuruha. Liannaha tudzakkirukumul mauta’ (Ingat, berziarahlah. Karena, ziarah kubur itu akan mengingatkanmu pada kematian).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Jadi kalau Nabi yang menyuruh orang ziarah untuk mengingat kematian, kok malah disamakan dengan penyembahan berhala? Musyrik? Apanya yang musyrik? Yang musyrik itu orang yang mempertahankan sesuatu selain Allah,” kata Rais Syuriyah PBNU yang aktif mengajar kitab kuning di puluhan masjid di Jakarta kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Kiai Saifuddin menantang pihak Kemenag untuk musyawarah perihal argumentasi pernyataan itu. “Saya pengen banget lihat tampang orang Kemenag yang sok-sok begitu, yang ngomongnya ngaco. Kalau mereka bisa meruntuhkan argumentasi kesunahan ziarah kubur, saya akan membayar mereka.” (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sunnah, Meme Islam, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi

Tangerang Selatan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Penulis buku Mahakarya Ulama Nusantara,? Ahmad Ginanjar Sya’ban membuka kajian rutin Islam Nusantara, Sabtu (19/8) dengan mengatakan bahwa Islam datang bukan untuk merusak tradisi.

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi

“Islam datang bukan untuk merusak tradisi bangsa lain,” katanya dalam diskusi yang bertema Manhaj Islamisasi di Nusantara Era Walisongo di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Penyempurnaan itulah yang dilakukan oleh Walisongo dalam menebarkan Islam secara damai. Ginanjar mengutip hadis, Innamaa bu’itstu liutammima makarimal akhlaq.?

Menurutnya, Islam datang itu untuk menyempurnakan hal-hal yang sudah sangat baik, tradisi yang luhur. Hal-hal buruk saja yang bersifat prinsip yang perlu diubah. Sementara hal yang bersifat furuiyah ataupun tahsiniyah tidak perlu diperdebatkan lagi.

Para wali terpilih itu tidak menghancurkan ekosistem, budaya, tradisi, bahkan agama. Direktur Islam Nusantara Center itu mengutip ayat Al-Quran, “Laa ikroha fiddin, tidak ada paksaan dalam agama,” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) itu mengutip hadis, “Laa yu’minu ahadukum hatta yukrima jarohu, belum sempurna iman seseorang kalau belum bisa memuliakan tetangganya.”

Saking menghormatinya kepada para penganut agama lain dan tradisi yang sudah ada, Sunan Kudus memfatwakan untuk tidak menyembelih sapi sebagai kurban karena sapi sangat dihormati oleh umat Hindu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Min babi ikromi jar, tidak menyembelih sapi,” ujarnya.

Wali bernama asli Ja’far Shodiq itu juga membangun masjid yang arsitekturnya senada dengan model bangunan pura pada masa itu. Hal ini pun terdapat di beberapa masjid lainnya, seperti Masjid Agung Demak.

Toleransi sebagai landasan dakwah Walisongo itu menyebabkan cepatnya persebaran Islam di Nusantara. Hal tersebut dikarenakan Walisongo dapat menaklukkan hatinya masyarakat, bukan sekadar wilayah atau kerajaannya.

“Kesuksesan cepatnya Islamisasi masa Walisongo itu karena yang ditaklukkan oleh Walisongo itu bukan wilayah atau kerajaan, tapi hati para penduduknya,” katanya.

Manhaj islamisasi Walisongo itu senada dengan apa yang dilakukan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih di Turki Utsmani. Penakluk Konstantinopel itu melarang pasukannya untuk merusak tempat ibadah dan menjarah harta masyarakat Bosnia yang juga ditaklukkannya saat itu.

“Pasukan orang-orang Muslim Turki dilarang merusak, menjarah harta orang-orang Bosnia, mengusik rumah-rumah mereka, memasuki tempat ibadah mereka, gereja-gereja harus tetap dalam keadaan semula,” ujarnya mengutip surat keterangan Sultan Muhammad Al-Fatih kepada masyarakat Bosnia.

Lebih lanjut, pria asal Majalengka itu mengatakan, bahwa orang-orang Bosnia dibebsakan melaksanakan praktik agama mereka, “Orang-orang Bosnia dibebaskan untuk tetap menjalankan ibadah dan keyakinan sesuai yang mereka anut,” katanya. (Syakir NF/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Syariah, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock