Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Februari 2018

Kenapa Saya Ditolak?

Alkisah ada seorang Ustadz yang isi ceramahnya bermuatan provokatif sehingga menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Dampaknya, si Ustadz ditolak di mana pun dia hendak berceramah.

Dalam keheningan, si Ustadz merenung. Dia bertanya-tanya kenapa dirinya sampai ditolak oleh masyarakat. Padahal ia hanya bermaksud menyampaikan apa yang dipahaminya.

Dalam keheningan tersebut, si Ustadz bertemu dengan seorang bernama Kholid yang sedang melintas tepat di hadapannya. Ia memanggil Kholid untuk sekadar curhat tentang persoalan yang sedang menimpa dirinya.

Kenapa Saya Ditolak? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Saya Ditolak? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Saya Ditolak?

“Lid, kenapa yah masyarakat sampai hati menolak saya,” terang si Ustadz sambil menatap tajam Kholid penuh harap agar mendapat jawaban yang memuaskan hatinya.

“Saya nggak menolak Pak Ustadz yang memanggil saya barusan,” kata Kholid diplomatis.

“Terus kenapa mereka menolak saya?” tanya si Ustadz penasaran akan jawaban Kholid.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Saya lihat Pak Ustadz mengajak saya untuk mencari solusi permasalahan. Kira-kira seperti itulah hendaknya dalam berceramah. Mengajak untuk mencari jalan keluar sebuah masalah, bukan malah menimbulkan masalah,” tukas Kholid yang direspon si Ustadz dengan mata terbelalak.

“Kok jadi kamu yang menceramahi saya?” seloroh si Ustadz.

“Lah, terus kenapa Pak Ustadz menolak ceramah saya?” jawab Kholid dengan balik bertanya kepada si Ustadz.

Akhirnya, mereka ngeloyor pergi tanpa mendapat jawaban dari pertanyaan yang disampaikannya masing-masing. “Kenapa saya ditolak?” kata mereka terus bergumam dalam hati.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

(Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali

Oleh: Sahal Japara

Pemimpin yang adil merupakan salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan “tiket khusus” masuk ke dalam naungan Allah, hari di mana tiada naungan selain naungan-Nya. Ia layak mendapatkan jaminan tiket khusus naungan dari Allah, karena kemampuannya menjadi tempat bernaung dan berteduh bagi semua rakyat. Semua merasakan keteduhan dan kesejahteraan, ketika bernaung di bawah kekuasaannya, lantaran tidak ada kedzaliman dan kelaliman.?

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali

Pemimpin adil adalah pribadi yang mampu mengemban amanah, menunaikan tugas dan kewajiban, memberikan hak-hak kepada orang-orang yang semestinya mendapatkan, memudahkan orang-orang yang sedang kesulitan dan kesusahan, serta menegakkan hukum sama rata tanpa pandang bulu kepada semua golongan. Sejarah membuktikan, banyak bangsa lestari disebabkan oleh karena sikap adil pemimpinnya. Sebaliknya, banyak bangsa menjadi hancur karena sikap dzalim pemimpinnya. Mengutip kata Imam Al-Ghazali: “Im?rat ad-duny? wa khar?buh? min al-mul?k”, bahwa kelestarian dan kehancuran dunia sangat ditentukan oleh para penguasa.?

Dalam kitab Tibr Masb?k fi Nash?hat al-Mul?k (Logam Emas yang Terpahat; Nasehat Bagi Para Raja), Imam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan sepuluh macam akar yang bisa menumbuhkan pohon dan membuahkan sikap adil bagi para pemimpin, yaitu:

1. Tahu Manfaat dan Bahaya Kekuasaan

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Akar pertama yang bisa mengantarkan seorang pemimpin menjadi adil adalah tahu secara mendalam tentang manfaat dan bahaya daripada kekuasaan. Pada dasarnya, kekuasaan merupakan anugerah dan karunia dari Allah yang diberikan kepada para pemimpin. Semua yang terpilih menjadi pemimpin semata-mata hanya atas izin dan kuasa-Nya. Kekuasaan yang dimiliki pemimpin adalah amanah yang dibebankan kepada manusia sebagai khalifatullah fil ardh. Sebuah amanah yang, langit-langit, bumi, dan gunung-gemunung enggan untuk memikulnya. Amanah yang bisa menaikkan pengembannya ke derajat tertinggi, sekaligus mampu menjatuhkannya ke jurang kesengsaraan abadi. Pemimpin yang amanah akan bahagia dan selamat. Sebaliknya, jika khianat, tiada yang didapat kecuali sengsara dan laknat. Sebagaimana halnya sabda Baginda Nabi Muhammad SAW: “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah pemimpin yang adil. Dan manusia yang paling dibencinya adalah pemimpin yang lalim.”?

Dengan mengetahui manfaat dan bahaya kekuasaan, seorang pemimpin akan memiliki sifat khauf (ketakutan) dan raja’ (harapan). Khauf, kalau-kalau ia menjadi pemimpin yang lalim. Khauf, kalau-kalau ia mendapatkan laknat. Khauf, kalau-kalau kelak di hari kiamat, Allah tidak berkenan melihatnya. Khauf, kalau-kalau ia dipersiapkan tempat duduk di neraka. Khauf, kalau-kalau Baginda Nabi SAW tidak berkenan memberikan syafa’at kepadanya.?

Dan raja’, agar senantiasa diberikan kekuatan menjadi pemimpin yang adil. Raja’, supaya Allah berkenan menurunkan rahmat. Raja’, supaya Allah selalu berkenan melihat dan membimbingnya. Raja’, supaya ia dipersiapkan tempat duduk di surga. Raja’, supaya Baginda Nabi SAW berkenan memberikan syafa’at kepadanya.

Pengetahuan mendalam tentang manfaat dan bahaya kekuasaan, yang dikuatkan dengan sikap khauf-raja’, akan mendorong seorang pemimpin menjadi pribadi yang selalu mengintrospeksi diri dan teliti dalam setiap perkataan, tindakan maupun kebijakan yang ia tetapkan. Sebab, ia tahu betul bahwa segala yang berkaitan dengannya, akan memberikan implikasi baik ataupun buruk terhadap rakyatnya. Oleh karena beratnya beban dan implikasi yang lahir dari segala sikap pemimpin, Baginda Nabi SAW memperingatkan, bahwa sesiapa yang memimpin sepuluh orang saja, kelak di hari kiamat akan datang dengan keadaan tangan terikat di leher. Jika ia beramal shaleh terhadap satu orang yang dipimpinnya, maka ikatannya akan terlepas satu. Dan jika ia beramal buruk terhadap satu orang yang dipimpinnya, maka ikatannya akan ditambah satu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

2. Selalu Rindu Nasehat Para Ulama

Akar kedua dari sepuluh akar yang bisa menumbuh-buahkan keadilan adalah selalu rindu nasihat para ulama. Yang dimaksud ulama di sini adalah ulama yang benar-benar ikhlas, yang tidak berkata dan tidak bertindak kecuali hanya karena Allah SWT semata. Bukan ulama’ s?’, yang selalu mendekat dan memuji para penguasa hanya karena mengejar-ngejar dunia. Nasehat ulama yang suci hati dan bening fikirannya ini akan menuntun para pemimpin menjadi imam yang adil bagi rakyatnya.?

Sebagai contoh, Umar bin Abdul Aziz, khalifah Bani Umayyah yang terkenal adil dan sederhana, seringkali meminta nasehat para ulama yang memiliki hati tulusa dan ikhlas. Suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz menghadap kepada Syekh Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi untuk meminta nasihat, seraya berkata: “Syekh, jelaskan kepada kami, apakah adil itu?” Kemudian Syekh Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi menjawab: “Siapa saja yang lebih tua darimu, jadilah anaknya. Siapa saja yang lebih muda darimu, jadilah ayahnya. Siapa saja yang sepadan umurnya denganmu, jadilah saudaranya. Hukumlah orang-orang yang bersalah setimpal dengan perbuatannya. Berhati-hatilah engkau! Jangan sampai engkau memukul orang karena rasa bencimu kepadanya, sebab hal itu bisa menjerumuskanmu ke dalam api neraka.”

3. Tidak Terima dengan Segala Macam Bentuk Kedzaliman

Akar ketiga yang bisa membuahkan sikap adil adalah tidak terima dengan kedzaliman, bagaimanapun bentuknya. Seorang pemimpin harus memiliki sikap ini, dan menanamkannya kepada segenap bawahan, ajudan dan para pembantunya. Pemimpin harus mampu menjauhkan dirinya dan para pembantunya dari perilaku dzalim sekecil apa pun. Andaikata ia mampu berlaku adil dan menjauhi kedzaliman, namun ternyata para ajudan dan pembantunya justru bertindak dzalim dan sewenang-wenang, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban dan turut menanggung dosa atas perilaku dzalim pembantunya, manakala ia hanya mendiamkannya saja. Dalam kitab Taurat tertulis bahwa, sebuah perilaku dzalim yang dilakukan oleh seorang bawahan, yang diketahui dan didiamkan pemimpinnya, maka kedzaliman itu akan dinisbatkan kepada sang pemimpin, dan ia akan mendapatkan siksa karenanya.?

Di antara contoh seorang pemimpin yang senantiasa berusaha menjauhkan dirinya dan segenap pembantunya dari sikap dzalim adalah Khalifah Umar bin Khathth?b RA. Khalifah Umar RA merupakan teladan ideal seorang pemimpin yang tidak rela dengan perilaku dzalim sekecil apa pun. Beliau senantiasa mengingatkan para pembantunya agar berlaku adil dalam mengemban amanah sebagai pelayan rakyat, sebagaimana yang tercermin dalam sebuah kisah, bahwa suatu ketika, Khalifah Umar bin Khathth?b RA menulis surat kepada sahabat Abu Musa al-Asy’ari RA, yang pada waktu itu menjabat sebagai Gubernur di Bashrah dan Irak. Dalam suratnya, Khalifah Umar RA berkata: “Ingatlah, sesungguhnya pemimpin yang paling sejahtera adalah yang mampu menyejahterakan rakyatnya. Berhati-hatilah dengan sikap menyepelekan sesuatu, sebab para pembantumu akan meniru perilakumu. Sesungguhnya engkau (yang sedang memegang kekuasaan) laksana hewan ternak yang melihat padang hijau, lalu memakan rumput hingga banyak dan menjadi gemuk. Gemuknya hewan ternak lah yang menyebabkannya menjadi binasa. Dan karena kegemukannya itu, hewan ternak disembelih dan dimakan.”

4. Tidak Sombong (Takabbur)

Akar keadilan yang keempat adalah tidak sombong atau takabbur. Pada umumnya, pemimpin seringkali terjangkiti penyakit sombong. Mereka mengira bahwa kekuasaan dan rakyat ada dalam genggamannya, padahal segala kekuasaan mutlak pemberian Sang Maha Kuasa Allah M?likul ‘?lam. Sikap sombong yang muncul dalam diri seseorang bisa mengaburkan akal sehat dalam dirinya. Dan keadilan tidak akan mungkin lahir dari pribadi-pribadi yang hatinya masih diliputi kesombongan. Alih-alih menjadi adil, pemimpin yang memendam bibit kesombongan dalam dirinya justru akan menjadi pemimpin lalim, mudah marah, dan boleh jadi akan sampai pada sikap kejam terhadap siapapun yang melawannya.

Pemimpin sudah seharusnya memiliki sifat rendah hati dan berusaha menjauhkan diri dari kesombongan. Dengan kerendahan hati, seorang pemimpin tidak akan menjelma pribadi yang lemah. Malah, ia akan menjadi pribadi kuat dan pemberani, karena telah mampu menaklukkan nafsu dan amarahnya. Sebagaimana sabda Baginda Nabi SAW tatkala diceritai tentang seorang yang dianggap kuat dan pemberani lantaran selalu mampu untuk membanting lawannya: “Orang yang kuat dan pemberani adalah orang yang telah menaklukkan nafsunya, bukan yang membanting lawannya.”

5. Empati Terhadap Rakyat

Akar keadilan yang kelima adalah berempati terhadap rakyat. Yang dimaksud dengan empati terhadap rakyat adalah benar-benar merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya. Bukan hanya sekedar bersimpati. Pemimpin yang memiliki rasa empati tinggi akan memperlakukan rakyatnya, sebagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri. Ia mencintai rakyatnya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Jika seorang pemimpin suka melakukan tindakan yang melukai rakyatnya, sementara ia juga merasakan luka yang sama ketika diperlakukan seperti itu, menurut Imam Ghazali, pemimpin yang demikian termasuk kategori pemimpin khianat yang tertipu oleh kekuasaan.?

6. Tidak Pernah Meremehkan Kebutuhan Rakyat

Akar keadilan yang keenam adalah tidak pernah meremehkan kebutuhan rakyat, meskipun terlihat sepele di mata seorang pemimpin. Kekuasaan bisa menimbulkan sifat takabbur, yang akan melahirkan ketidakpedulian terhadap nasib dan kebutuhan rakyat kecil. Semua kepentingan rakyat, baik yang nampak remeh maupun terlihat berat, harus selalu didahulukan oleh seorang pemimpin. Bahkan, menurut Imam Al-Ghazali, pemimpin tidak diperkenankan menyibukkan diri dengan ibadah sunnah sampai-sampai lalai pada tugasnya untuk melayani kebutuhan rakyat.?

Sebagai contoh, suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz tengah menjalankan tugas melayani kebutuhan rakyatnya. Saat dhuhur tiba, Umar bin Abdul Aziz merasa letih dan ingin beristirahat. Beliau pun pulang ke rumahnya untuk beristirahat. Saat hendak merebahkan diri, tiba-tiba anaknya berkata: “Hal apakah yang membuat ayahanda aman dari maut yang bisa jadi datang saat ini, sementara di depan pintu rumah ayah banyak kebutuhan rakyat tidak terurus karena kelalaian ayah?” Umar bin Abdul Aziz menjawab: “Kau benar anakku!” Beliau seketika bangkit dan bergegas kembali menemui rakyatnya.

7. Hidup Sederhana

Akar keadilan yang ketujuh adalah hidup sederhana. Seorang pemimpin tidak diperkenankan hidup glamor, foya-foya dan selalu menuruti hawa nafsunya. Sudah semestinya, pemimpin memiliki sifat qan?’ah, yakni menerima dengan lapang dada pemberian Sang Maha Kuasa serta tidak berlebih-lebihan dalam men-tasharruf-kannya. Menurut Imam Ghazali, keadilan tidak akan ada manakala seorang pemimpin ? tidak mempunyai sifat qan?’ah. Hidup sederhana yang didasari sifat qan?’ah sangat dianjurkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW. Betapa banyak kisah dan teladan kesederhanaan dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Rasulullah SAW memilih untuk mengikat perutnya dengan lipatan kain yang berisi batu untuk menahan rasa lapar, sampai-sampai para sahabat menangis tersedu-sedu saat mengetahui beliau dalam keadaan seperti itu. Rasulullah SAW memilih hidup sederhana, sementara andaikata beliau berdoa, dunia seisinya pun bisa berada dalam genggamannya. Inilah teladan kesederhanaan yang bisa mengantarkan pada sikap adil. Orang yang hidupnya sederhana tidak akan tertarik kepada gemerlap dunia seisinya. Sifat qan?’ah dan hidup sederhana dapat menjauhkan seorang pemimpin dari kehancuran. Teramat banyak kisah-kisah pemimpin terdahulu, yang kekuasaannya hancur lebur karena gaya hidupnya yang glamor dan foya-foya, sehingga lalai dalam mengemban amanah untuk membangun bangsa dan melayani rakyatnya. ? ?

8. Lemah Lembut Kepada Siapa Saja

Akar kedelapan yang bisa membuahkan keadilan adalah sikap lemah lembut terhadap siapa saja. Seorang pemimpin yang ideal adalah ia yang mampu bersikap lemah lembut terhadap rakyatnya, tanpa membeda-bedakan pangkat maupun profesinya. Lemah lembut bukan berarti lembek atau tidak tegas terhadap penegakan hukum. Lemah lembut adalah mengasihi sesama dan berperilaku sopan-santun kepada siapa saja. Tidak kasar, tidak mudah marah, tidak mudah membentak ketika sedang menghadapi rakyatnya. Jika ia melihat kesalahan dan kekeliruan, ia tetap menegakkan hukum setimpal dengan perbuatan pelakunya. Hukuman yang setimpal dengan perbuatan pelaku kejahatan adalah salah satu bentuk ungkapan kasih sayang seorang pemimpin kepada rakyatnya. Sebab, ia telah berusaha untuk berlaku adil kepada rakyatnya, baik kepada korban maupun kepada pelaku kejahatan dengan tidak menghukum melebihi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.?

9. Membahagiakan Rakyat dengan Hal-Hal yang Diperbolehkan Aturan Agama

Akar keadilan yang kesembilan adalah senantiasa berusaha membuat rakyat bahagia dan sejahtera, dengan menjalankan peraturan atau kebijakan yang masih tetap berada dalam koridor aturan agama. Tujuan adanya pemimpin adalah untuk mengatur dan melayani kebutuhan rakyat, sehingga seorang pemimpin dituntut mampu membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi rakyatnya. Ketika ia mampu membuat rakyatnya sejahtera, tentu rakyat akan mencintainya. Saat pemimpin dan rakyat saling mencintai, maka di situlah turun rahmat dan ridha Ilahi. Mereka akan menjadi sebaik-baik kaum, karena pemimpin dan rakyatnya saling mencintai dan saling ridha karena Allah. Sebagaimana yang dapat dipahami dari sabda Baginda Nabi SAW kepada para sahabat: “Sebaik-baik umatku adalah sekelompok orang yang mencintai kalian dan kalian juga mencintainya. Dan seburuk-buruk umatku adalah sekelompok orang yang memusuhi kalian dan kalian juga memusuhi mereka, yang suka melaknat kalian dan kalian juga melaknat mereka.” ?

10.? Tidak Menjual Agama untuk Mendapatkan Simpati Rakyat

Akar keadilan yang kesepuluh adalah tidak menjual agama untuk mendapatkan simpati rakyat. Pemimpin sudah semestinya berjuang untuk rakyat, membangun serta membawa kemajuan bagi bangsanya. Namun ia tidak diperkenankan menerjang aturan agama hanya untuk membuat rakyatnya bahagia dan sejahtera. Jika pemimpin hanya mencari simpati manusia, maka ia tidak akan pernah menemukannya. Ridhann?s gh?yatun l? tudrak! Setiap perkara, mengandung pro dan kontra. Pun juga sikap, gaya, maupun kebijakan yang lahir dari seorang pemimpin, takkan pernah lepas dari pro dan kontra. Ini sudah menjadi sunnatullah. Karena, likulli ra’sin ra’yun, setiap kepala tentu pendapatnya beda-beda.?

Rasulullah SAW, seorang pemimpin ideal yang mampu adil terhadap siapa pun saja, masih ada yang membenci. Apalagi sekedar manusia biasa? Sudah barang tentu ada yang memuji dan ada yang mencaci. Maka seorang pemimpin tidak perlu khawatir kehilangan simpati dari rakyatnya. Jika ada yang benci kepada sikap adilnya, maka kebenciannya itu tidak ada artinya sama sekali terhadap pemimpin. Baginda Nabi SAW bersabda: “Barang siapa mencari ridha Allah hingga orang-orang marah kepadanya, maka niscaya Allah akan meridhainya dan manusia pun akan ridha kepadanya. Dan barang siapa mencari ridha manusia hingga Allah murka kepadanya, niscaya Allah akan murka kepadanya dan semua makhluk akan memurkainya.”?

Sepuluh akar keadilan yang telah disebutkan di atas, bisa dijalankan oleh pemimpin, siapapun! Bukan hanya terkhusus untuk kepala negara, kepala daerah maupun pejabat-pejabat lainnya. Setiap orang ---sebagaimana yang disabdakan oleh Baginda Nabi SAW--- adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Berdasarkan kenyataan ini, maka setiap kita harus memiliki sepuluh akar keadilan yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, supaya pohon keadilan senantiasa tumbuh-kembang dan kokoh menancap dalam diri.





Penulis adalah? Mahasiswa Pascasarjana UIN Malang



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu, Pondok Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Hari Santri, Merayakan Sikap Jalan Tengah

Oleh Abdullah Aniq Nawawi

Akhir-akhir ini Indonesia kembali memanas karena politik di Jakarta. Di saat bersamaan kaum santri sibuk menyiapkan peringatan Hari Santri. Ini lebih tinggi dari sekadar politik praktis semacam Pilkada sebab peringatan tersebut adalah mengingat Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama 22 Oktober 1945, sebuah resolusi untuk mengusir penjajah. Maka? memperingatinya, setali tiga uang dengan bersyukur atas anugerah terbesar untuk bangsa Indonesia. Kita menyebutnya kemerdekaan.

Hari Santri, Merayakan Sikap Jalan Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri, Merayakan Sikap Jalan Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri, Merayakan Sikap Jalan Tengah

Di sini kita tidak akan membahas kemerdekaan dan peranan santri di dalamnya. Adalah hal yang dharuriy (wajib) bagi seorang santri untuk menjunjung tinggi nasionalisme dan cinta tanah air. Tengok saja jargon hubbul wathan minal iman yang terkenal itu. Itu bukanlah hadits atau ayat suci. Tetapi santri meyakininya sepenuh hati. Lebih dari itu santri merealisasikannya dalam kehidupan nyata. Dengan kata lain itu bukanlah sesuatu yang nadzariy (sebatas teori) belaka. Itu adalah sesuatu yang tajribiy (telah dilaksanakan), dan sekali lagi Resolusi Jihad adalah contoh terbaiknya.

Apa yang kemudian melatarbelakangi lahirnya Resolusi Jihad tentu lebih penting untuk diketengahkan di sini. Karena fikrah (pemikiran) apa sebenarnya yang membuat kita meyakini bahwa mencintai negara adalah bagian dari iman, dan berjihad membelayanya adalah fardhu ‘ain (wajib bagi semuanya)? Bukankah tak ada hadits atau ayat suci yang secara eksplisit menerangkan itu? Tentu saja ada banyak jawaban. Mulai dari teori sederhana ushul fiqh yang menyebutkan al-wasilah laha hukmul ghayah. Yakni sebuah perantara sama hukumnya dengan hal yang dituju. Karena jika hifdz wa iqamat ad-din (menjaga dan mendirikan agama) adalah wajib, maka menjaga negara dengan tujuan itu tentu saja wajib.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tentu masih ada jawaban lainnya dari pertanyaan di atas. Tetapi hal yang paling menarik dari kasus ini adalah sikap NU (baca: santri) yang meyakini bahwa agama dan negara harus berjalan bergandengan. Sikap ini adalah semacam usaha mencari jalan tengah (tawassuthiyyah) di antara dua kutub yang terlalu berjauhan; yang satu adalah kutub kiri yang beranggapan bahwa nasionalisme adalah segalanya. Karena itu tak perlu mencampurkan agama di dalamanya. Dan kutub yang lainnya adalah kutub kanan yang menganggap bahwa agama adalah segalanya. Karena itu negara harus tunduk pada agama.

Di antara dua kutub ini NU mencoba hadir untuk memberikan jalan tengah. Bahwa agama dan negara tidak ada yang saling mengungguli dan keduanya harus berjalan beriringan. Sikap ini lahir dari prinsip penting yang dipegang NU. Prinsip itu disebut tawassuthiyyah (sikap mencari jalan tengah). Inilah yang membuat jargon hubbul wathan minal iman bukan hanya sekedar teori bagi Santri. Dan inilah yang –salah satunya- melatarbelakangi lahirnya Resolusi Jihad yang terkenal itu. Inilah yang membuat kita bisa merasakan kemerdekaan sampai saat ini. Dan sesungguhnya perayaan 22 Oktober adalah perayaan atas prinsip tawassuth yang kita yakini selama ini.

Jika kita mundur ke belakang, sejak? pertama kali sejarah bermula, selalu ada dua kelompok ekstrem yang menghiasi roda perjalanannya. Dua kelompok ekstrem ini –ekstrem kanan dan ekstrem kiri- telah mewarnai berbagai macam ideologi yang ada, mulai dari politik, sampai keagamaan. Kitab suci setidaknya menulis bahwa ada dua kelompok yang terlalu kanan seperti malaikat, juga yang terlalu kiri seperti iblis yang pada akhirnya, kedua kelompok ini tidak dipilih Tuhan untuk menjadi khalifah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tuhan memilih manusia yang memang memiliki dua karakter di atas. Tuhan pada akhirnya lebih menyukai penengah dan penyambung dua kutub daripada mereka yang terlalu berlebihan. Ketika Nabi bersabda halaka al-mutanaththi’un (celakalah mereka yang terlalu berlebihan), sesungguhnya nabi sedang menekankan kepada kita bahwa sikap tawassuthiyyah sangatlah penting. Atau ketika beliau berkata kepada sayyidina Ali: “halaka fika itsnani, muhibbun ghalin wa mubghidhun ‘alin (celakalah mereka yang? mencintai atau membencimu secara berlebihan), ini sesungguhnya adalah penegasan bahwa mencari jalan tengah harus terus diupayakan.

Itu artinya memperingati 22 Oktober harus kita maknai sebagai memperingati anjuran ini. Perayaan Hari Santri lebih dari sekadar seremonial belaka, melainkan momentum di mana kita harus terus meyakinkan diri kita bahwa kita adalah pelaku utama dari sikap yang dianjurkan Islam, yaitu sikap yang membuat 22 Oktober layak dirayakan. Sekali lagi, itu adalah sikap tawassuth.

Tetapi sebagaimana tenaga ada habisnya, semangat itu pun terkadang ada redupnya. Dan sebagaimana makhluk tak pernah sempurna, selalu ada yang harus dibenahi bersama. Karena itu sangat perlu untuk terus mengingat, memperbarui, dan membenahi semangat ber-tawassuth kita. Itulah mengapa peringatan Hari Santri memiliki urgensi tersendiri untuk terus menjaga semangat ini tetap ada dan terwariskan dengan baik kepada generasi berikutnya. Karena tugas utama dari setiap generasi adalah mempersiapkan generasi setelahnya.



Abdullah Aniq Nawawi, PCINU Maroko



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Gurutta Sanusi: Nikmat Tidak Identik dengan Kekayaan

Makassar, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Rais Syuriyah PWNU Sulsel Anregurutta KH M Sanusi Baco mengajak hadirin lailatul ijtima’sekali sebulan untuk memandang nikmat hidup dari sisi lain. Gurutta Sanusi mengatakan bahwa banyak sekali nikmat selain kekayaan yang tidak disadari oleh manusia.

Demikian disampaikan Gurutta Sanusi pada lailatul ijtima’ di kediaman Mustasyar PWNU Sulsel Ir Agus Arifin Nu’mang jalan Yusuf Dg Ngawing, Makassar, Kamis (13/8).

Gurutta Sanusi: Nikmat Tidak Identik dengan Kekayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gurutta Sanusi: Nikmat Tidak Identik dengan Kekayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gurutta Sanusi: Nikmat Tidak Identik dengan Kekayaan

Di hadapan pengurus wilayah, cabang, dan beberapa pengurus lembaga serta badan otonom NU, Gurutta Sanusi mengungkapkan sesungguhnya nikmat tidak hanya identik dengan harta kekayaan, melainkan nikmat kesehatan adalah nikmat yang besar.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kesehatan adalah mahkota. Tidak ada yang dapat melihat kecuali orang yang sakit,” kata Gurutta Sanusi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada kesempatan ini Gurutta juga menyinggung akhlak Nabi Muhammad terhadap keluarganya. Rasulullah SAW, kata Gurutta, tidak membawa jabatan dan kenabiannya ketika menemui istri, anak, dan cucunya. Sehingga, tidak ada yang membatasi sedikitpun dalam hubungan keluarganya.

Sementara istri Agus Arifin Nu’mang A Majdah M Zain atas nama keluarganya mengucapkan terima kasih atas pemilihan lokasi lailatul ijtima’ bulan ini di kediamannya.

"Selaku tuan rumah, kami berterima kasih atas ditunjuknya rumah kami untuk tempat berkumpul dalam momen lailatul ijtima ini, semoga membawa berkah," kata A Majdah. (Andy M Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Jalan Panjang Lebanon Ungkap Pembunuhan Politik

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Lebanon terbelah soal pengadilan terkait pembunuhan bekas Perdana Menteri Rafik Hariri yang dimulai Kamis (16/1) di Den Haag, Belanda.

Seorang akuntan di Beirut, Abu Marwan, 62, misalnya menilai pengadilan penting, agar "pelaku mengetahui bahwa mereka tidak akan lolos dari hukuman," katanya, seperti dilansir oleh laman deutsche welle.?

Sebaliknya pemilik supermarket, Ali Hamid menuding Israel dan Amerika Serikat sedang berkomplot menggerogoti kekuasaan kelompok Syiah, Hizbullah.?

Jalan Panjang Lebanon Ungkap Pembunuhan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalan Panjang Lebanon Ungkap Pembunuhan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalan Panjang Lebanon Ungkap Pembunuhan Politik

"Hizbullah berperang melawan Israel dan mengusir tentara Israel dari selatan Lebanon. Karena itu mereka akan dihukum sekarang."

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada 14 Februari 2005 konvoi kendaraan yang membawa Hariri meledak di jantung Beirut. Politisi Sunni berusia 61 tahun itu seketika tewas, bersama 22 orang lain. Komisi penyelidikan bentukan Dewan Keamanan PBB saat itu mengisyaratkan keterlibatan Suriah. Hasilnya, saat ini lima anggota Hizbullah didakwa secara in absentia. Kelompok Syiah itu menolak menyerahkan ke-lima terdakwa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Opini penduduk Lebanon terkait pengadilan Hariri mencerminkan afiliasi politik terhadap salah satu faksi. Abu Marwan yang bermadzhab Sunni adalah simpatisan "gerakan masa depan," yang didirikan oleh Rafik Hariri. Ali Hamid sebaliknya mendukung Hizbullah yang menolak pengadilan tersebut lantaran dinilai sebagai campur tangan barat terhadap politik dalam negeri Lebanon.

Konspirasi atau Balas Dendam

Lukman Slim adalah satu dari sedikit suara independen di Beirut. Menurutnya, pengadilan Hariri adalah sebuah terobosan dalam sejarah modern Lebanon. Terlepas dari dukungan politik, pengadilan itu menurut Slim membawa angin segar ke dalam budaya politik Lebanon, yakni prinsip tanggungjawab.?

"Saya bahagia bisa mengalami momentum semacam ini dan melihat bagaimana penduduk Lebanon bereaksi. Hal ini adalah sebuah ujian."?

Kendati begitu Slim pesimis, penduduk Lebanon bakal melihat pengadilan Hariri sebagai balas dendam, konspirasi atau instrumen politik yang akan memecah penduduk antara pelaku dan korban, Syiah atau Sunni.

Lukman Slim dan isterinya, Monika Borgman mengabdikan diri mengupas sejarah modern Lebanon. Situs "Memory at Work" adalah salah satu hasil kerja keduanya. Muatan terpanas berpusar pada pembunuhan beraroma politik di negeri cedar itu. Di dalamnya Slim dan Borgman membuat daftar pembunuhan selama satu dekade terakhir, Hariri adalah satu dari sekian banyak korban.

Sejak kemerdekaan hingga pembunuhan Hariri, Lebanon selalu berhasil menyingkirkan isu pembunuhan politik, kata Slim. Tapi dengan dimulainya pengadilan di Den Haag, pembunuhan politik tidak lagi bisa ditutupi.

Secercah Harapan

Pembunuhan Rafik Hariri mempengaruhi perkembangan politik di Lebanon. Awalnya demonstrasi spontan yang muncul usai kematiannya terkesan mampu memaksakan reformasi politik. Penduduk kala itu menuntut pembubaran sistem konvensional.

Lebanon menganut sistem pemerintahan unik karena undang-undang mengatur pembagian kekuasaan secara ketat. Cuma politisi Kristen saja yang misalnya bisa menjabat Presiden. Sementara jabatan perdana menteri dipegang oleh Islam Sunni dan ketua parlemen diserahkan kepada kelompok Syiah.

Aksi demonstrasi tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Revolusi Cedar

Lebanon kala itu tenggelam dalam debat panas soal legitimasi senjata Hizbullah pasca penarikan pasukan Israel dari Lebanon Selatan tahun 2000. Selain itu Beirut juga meributkan keberadaan tentara Suriah dan reformasi politik. Lukman Slim sendiri cendrung menyebut aksi protes itu sebagai "karnaval ala Lebanon."

Perseteruan dua Faksi Politik

Meskipun salah satu tuntutan demonstran, yakni penarikan mundur pasukan Suriah dari Lebanon, sudah terpenuhi, tapi sebagian besar kecewa. Pasalnya gerakan untuk mereformasi sistem politik dan pemilu mengalami kegagalan.

Rafik Hariri buat kebanyakan warga Lebanon adalah simbol pembangunan kembali pasca perang saudara (1975-90). Sebagai pengusaha dan politikus, ia mendorong pembangunan infrastruktur di Lebanon. Buat kaum Sunni, Hariri adalah pemimpin.

Hampir sembilan tahun setelah kematiannya, Lebanon masih menghadapi perpecahan antara Sunni dan Syiah. Di samping pengadilan Hariri di Den Haag, perang di negeri jiran Suriah juga menciptakan ketegangan di Beirut. Stabilitas politik tampaknya belum akan berjejak dalam waktu dekat. (mukafi niam)

Foto: CNN

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren, Amalan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Puisi Nadirsyah Hosen: Bisik

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi?

Akankah kau minta aku kembali bergerak

Sementara kakiku masih mencari pijakan kokoh pada jejakmu.

Puisi Nadirsyah Hosen: Bisik (Sumber Gambar : Nu Online)
Puisi Nadirsyah Hosen: Bisik (Sumber Gambar : Nu Online)

Puisi Nadirsyah Hosen: Bisik

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi?

Belum selesai sedu-sedanku, namun kau begitu cepat berkilatan dan aku pun terengah-engah mengejarmu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi?

Pesonamu meruntuhkan tembok tebal yang ku bangun di jiwaku, dan bisikanmu menembus semuanya.

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi? Bagaimana kalau kau kembali memelukku saja? Agar kutumpahkan air mata ini pada bahumu yang penuh berkah.

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi? Aku mencintaimu. Sungguh. Oh Muhammadku. Bawa aku bersama langkahmu.

Kuala Lumpur, akhir Juli 2017

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Olahraga, Pondok Pesantren, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Besok, Ada Jagongan Nahdliyin di Lakpesdam Malang

Malang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Malang menggelar Jagongan Nahdliyin, besok (21/08) di Aula Kantor NU Kota Malang. Kegiatan tersebut mengundang pembicara  Zuhairi Misrawi.

Besok, Ada Jagongan Nahdliyin di Lakpesdam Malang (Sumber Gambar : Nu Online)
Besok, Ada Jagongan Nahdliyin di Lakpesdam Malang (Sumber Gambar : Nu Online)

Besok, Ada Jagongan Nahdliyin di Lakpesdam Malang

Kongkow bertajuk “Lini Gerakan Radikalisme Islam dan Peran Konstruktif NU Untuk Islam Indonesia” sengaja disuguhkan di tengah maraknya gerakan-gerakan radikal yang mulai santer merebak di Kota Malang.

“Kita sebagai Pemuda sekaligus pemikir NU perlu mengkaji hingga akarnya, dengan membincang bersama pakar yang satu ini, kami berharap substansinya mengena dan membuka ruang piker para Intelek kita untuk menangkis gerakan-gerakan brutal yang dapat merusak Islam Indonesia kita,” papar Mahphoer, pakar Psikolog sekaligus Dosen UIN Maliki Malang saat ditemui di Kantor NU, Jl. KH. Wahid Hasyim 21 Malang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tak pelak, penggagas acara juga menyampaikan respon beberapa pemuda NU baik dari Pengurus Lakpesdam ataupun dari Aktivis IPPNU, PMII Kota Malang merespon apik. Beberapa diantaranya bahkan bersedia menjadi relawan demi suksesnya acara ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Acara Jagongan Nahdliyin akan dimulai pukul 18.00-selesai, “Semua sudah Ready, tinggal eksekusi besok” pungkas Mahphoer. (Diana Manzila/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren, Kajian Sunnah, Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock