Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Mulai Kuliah Perdana Hari Ini

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pascasarjana Program Magister (PPM) Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta mulai aktif perkuliahaan perdana hari ini, Jumat (9/10). Sebanyak 90 mahasiswa baru S2 ini akan mengikuti berbagai mata kuliah terkait dengan metodologi Islam Nusantara, baik secara sosiologis, antropologis, etnografis, dan lain-lain.

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Mulai Kuliah Perdana Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Mulai Kuliah Perdana Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Mulai Kuliah Perdana Hari Ini

Demikian disampaikan Asisten Direktur PPM STAINU Jakarta, Dr Muhammad Ulinnuha Husnan, MA saat dihubungi Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Jumat (9/10) di Jakarta.

“Untuk semester perdana ini diasuh atau diampu oleh berbagai dosen dan praktisi yang mumpuni di bidangnya,” ujar Ulin, sapaan akrabnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ulin menegaskan kepada mahasiswa baru, bahwa keseriusan dalam mengikuti perkuliahaan sangat penting untuk keseuksesan mahasiswa itu sendiri. Dia juga mengatakan, para mahsiswa juga diharap bisa memahami konsep Islam Nusantara dengan di PPM STAINU Jakarta.

“Hal ini saya sampaikan karena banyak informasi-informasi atau tulisan-tulisan tentang Islam Nusantara yang berkembang di media,” paparnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Namun demikian, kata Ulin, penting juga bagi mahasiswa untuk memahami konsep Islam Nusantara dari berbagai pandangan sehingga mampu mengidentifikasi distingsi atau perbedaan pendapat yang ada.

Proses perkuliahaan PPM STAINU Jakarta dilaksanakan dua hari, yakni setiap hari Jumat dan Sabtu. Hari Jumat dimulai dari pukul 14.00 WIB dan Sabtu dimulai sejak pukul 09.00 pagi. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Jelang Deklarasi soal Yerusalem, Donald Trump Telepon Raja Saudi

Riyadh, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sehari sebelum deklarasi pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menelpon Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al Saud. Selama pembicaraan, mereka membicarakan soal hubungan bilateral kedua negara, juga sejumlah perkembangan terkini tentang isu regional dan internasional.

Seperti diketahui, Arab Saudi merupakan mitra kuat Amerika Serikat. Pada 20 Mei 2017 lalu keduanya menjalin kerja sama bidang pertahanan dan bisnis dengan nominal USD150 miliar atau setara dengan sekitar Rp1.999 triliun. Penandatanganan ini merupakan upaya diversifikasi ekonomi dalam menunjang Visi Arab Saudi 2030.

Jelang Deklarasi soal Yerusalem, Donald Trump Telepon Raja Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Deklarasi soal Yerusalem, Donald Trump Telepon Raja Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Deklarasi soal Yerusalem, Donald Trump Telepon Raja Saudi

Kabar tentang komunikasi Trump dan Raja Salman itu diungkap kantor berita Arab Saudi, SPA, Selasa (5/12).

Saat menyinggung rencana AS mendeklarasikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Raja Saudi mengingatkan tentang bahaya keputusan ini terhadap proses perundingan damai. Menurutnya, deklarasi tersebut akan meningkatkan ketegangan di wilayah itu.

Menurut Raja Salman, pengakuan sepihak atas Yerusalem dan relokasi kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem merupakan provokasi mencolok bagi umat Islam di seluruh dunia, mengingat posisinya yang spesial, misalnya karena keberadaan Masjid Al Aqsha dan secara historis jadi kiblat pertama.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu (6/12), Presiden AS Donald Trump mendeklarasikan pengakuan negaranya terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memerintahkan kedutaan besarnya pindah dari Tel Aviv ke Yerusalem. Kebijakan ini menimbulkan kecaman regional dan internasional. Trump dinilai gegabah, provokatif, bahkan melanggar hak asasi manusia (HAM) dan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sholawat, AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

PCINU Maroko Persiapkan Pertemuan Sufi Internasional

Rabat, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Istimewa NU Maroko mengagendakan seminar internasional perihal tasawuf pada 20 Januari 2015. Sejumlah ulama dari pelbagai negara akan hadir dalam seminar internasional yang dijadwalkan berlangsung di Rabat, ibu kota Maroko.

Rencana ini disepakati dalam kunjungan PCINU Maroko kepada Syeikh Dr Radhi Gennune, seorang dewan pakar tasawuf pengikut Tarekat Tijaniyah di kediamannya di Rabat, Senin (1/12). Hadir dalam pertemuan ini Ketua PCINU Maroko Kusnadi, Wakil Ketua PCINU Maroko Fakih Abdul Aziz, dan Nasrullah Afandi.

PCINU Maroko Persiapkan Pertemuan Sufi Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Maroko Persiapkan Pertemuan Sufi Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Maroko Persiapkan Pertemuan Sufi Internasional

Dalam kesempatan itu turut hadir Kiai NU asal Banjarmasin yang sedang berkunjung ke Maroko, KH Ahmad Anshori pengikut tarekat Tijaniyah. Ia sejak 1999 hingga sekarang sudah 34 kali berziarah ke zahwiyah atau maqbaroh Syeikh Tijani di kota Fes, Maroko.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Buya Anshori mendukung langkah PCINU Maroko itu. "Hal ini penting untuk menanamkam nilai-nilai tasawuf yang merupakan salah satu ajaran NU, juga sekaligus menambah wawasan tasawuf para putra-putri NU yang sedang menempuh pendidikan di negeri para wali Maroko ini.”

Dari Indonesia juga dijadwalkan akan ada beberapa ulama lain yang menjadi pembicara. Sedangkan dari kalangan ulama Maroko, akan diundang sejumlah pemuka tarekat Tijaniyah termasuk Syeikh Zuber, cucu tertua Syekh Ahmad Tijani (pendiri tarekat Tijaniyah).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Syeikh Dr Radhi Gennun sendiri dijadwalkan kembali berangkat ke Indonesia pada 5 Desember 2014. Ia akan menemui jamaah tarekat Tijaniyah di beberapa daerah Indonesia di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jakarta. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali

Oleh: Sahal Japara

Pemimpin yang adil merupakan salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan “tiket khusus” masuk ke dalam naungan Allah, hari di mana tiada naungan selain naungan-Nya. Ia layak mendapatkan jaminan tiket khusus naungan dari Allah, karena kemampuannya menjadi tempat bernaung dan berteduh bagi semua rakyat. Semua merasakan keteduhan dan kesejahteraan, ketika bernaung di bawah kekuasaannya, lantaran tidak ada kedzaliman dan kelaliman.?

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali

Pemimpin adil adalah pribadi yang mampu mengemban amanah, menunaikan tugas dan kewajiban, memberikan hak-hak kepada orang-orang yang semestinya mendapatkan, memudahkan orang-orang yang sedang kesulitan dan kesusahan, serta menegakkan hukum sama rata tanpa pandang bulu kepada semua golongan. Sejarah membuktikan, banyak bangsa lestari disebabkan oleh karena sikap adil pemimpinnya. Sebaliknya, banyak bangsa menjadi hancur karena sikap dzalim pemimpinnya. Mengutip kata Imam Al-Ghazali: “Im?rat ad-duny? wa khar?buh? min al-mul?k”, bahwa kelestarian dan kehancuran dunia sangat ditentukan oleh para penguasa.?

Dalam kitab Tibr Masb?k fi Nash?hat al-Mul?k (Logam Emas yang Terpahat; Nasehat Bagi Para Raja), Imam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan sepuluh macam akar yang bisa menumbuhkan pohon dan membuahkan sikap adil bagi para pemimpin, yaitu:

1. Tahu Manfaat dan Bahaya Kekuasaan

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Akar pertama yang bisa mengantarkan seorang pemimpin menjadi adil adalah tahu secara mendalam tentang manfaat dan bahaya daripada kekuasaan. Pada dasarnya, kekuasaan merupakan anugerah dan karunia dari Allah yang diberikan kepada para pemimpin. Semua yang terpilih menjadi pemimpin semata-mata hanya atas izin dan kuasa-Nya. Kekuasaan yang dimiliki pemimpin adalah amanah yang dibebankan kepada manusia sebagai khalifatullah fil ardh. Sebuah amanah yang, langit-langit, bumi, dan gunung-gemunung enggan untuk memikulnya. Amanah yang bisa menaikkan pengembannya ke derajat tertinggi, sekaligus mampu menjatuhkannya ke jurang kesengsaraan abadi. Pemimpin yang amanah akan bahagia dan selamat. Sebaliknya, jika khianat, tiada yang didapat kecuali sengsara dan laknat. Sebagaimana halnya sabda Baginda Nabi Muhammad SAW: “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah pemimpin yang adil. Dan manusia yang paling dibencinya adalah pemimpin yang lalim.”?

Dengan mengetahui manfaat dan bahaya kekuasaan, seorang pemimpin akan memiliki sifat khauf (ketakutan) dan raja’ (harapan). Khauf, kalau-kalau ia menjadi pemimpin yang lalim. Khauf, kalau-kalau ia mendapatkan laknat. Khauf, kalau-kalau kelak di hari kiamat, Allah tidak berkenan melihatnya. Khauf, kalau-kalau ia dipersiapkan tempat duduk di neraka. Khauf, kalau-kalau Baginda Nabi SAW tidak berkenan memberikan syafa’at kepadanya.?

Dan raja’, agar senantiasa diberikan kekuatan menjadi pemimpin yang adil. Raja’, supaya Allah berkenan menurunkan rahmat. Raja’, supaya Allah selalu berkenan melihat dan membimbingnya. Raja’, supaya ia dipersiapkan tempat duduk di surga. Raja’, supaya Baginda Nabi SAW berkenan memberikan syafa’at kepadanya.

Pengetahuan mendalam tentang manfaat dan bahaya kekuasaan, yang dikuatkan dengan sikap khauf-raja’, akan mendorong seorang pemimpin menjadi pribadi yang selalu mengintrospeksi diri dan teliti dalam setiap perkataan, tindakan maupun kebijakan yang ia tetapkan. Sebab, ia tahu betul bahwa segala yang berkaitan dengannya, akan memberikan implikasi baik ataupun buruk terhadap rakyatnya. Oleh karena beratnya beban dan implikasi yang lahir dari segala sikap pemimpin, Baginda Nabi SAW memperingatkan, bahwa sesiapa yang memimpin sepuluh orang saja, kelak di hari kiamat akan datang dengan keadaan tangan terikat di leher. Jika ia beramal shaleh terhadap satu orang yang dipimpinnya, maka ikatannya akan terlepas satu. Dan jika ia beramal buruk terhadap satu orang yang dipimpinnya, maka ikatannya akan ditambah satu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

2. Selalu Rindu Nasehat Para Ulama

Akar kedua dari sepuluh akar yang bisa menumbuh-buahkan keadilan adalah selalu rindu nasihat para ulama. Yang dimaksud ulama di sini adalah ulama yang benar-benar ikhlas, yang tidak berkata dan tidak bertindak kecuali hanya karena Allah SWT semata. Bukan ulama’ s?’, yang selalu mendekat dan memuji para penguasa hanya karena mengejar-ngejar dunia. Nasehat ulama yang suci hati dan bening fikirannya ini akan menuntun para pemimpin menjadi imam yang adil bagi rakyatnya.?

Sebagai contoh, Umar bin Abdul Aziz, khalifah Bani Umayyah yang terkenal adil dan sederhana, seringkali meminta nasehat para ulama yang memiliki hati tulusa dan ikhlas. Suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz menghadap kepada Syekh Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi untuk meminta nasihat, seraya berkata: “Syekh, jelaskan kepada kami, apakah adil itu?” Kemudian Syekh Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi menjawab: “Siapa saja yang lebih tua darimu, jadilah anaknya. Siapa saja yang lebih muda darimu, jadilah ayahnya. Siapa saja yang sepadan umurnya denganmu, jadilah saudaranya. Hukumlah orang-orang yang bersalah setimpal dengan perbuatannya. Berhati-hatilah engkau! Jangan sampai engkau memukul orang karena rasa bencimu kepadanya, sebab hal itu bisa menjerumuskanmu ke dalam api neraka.”

3. Tidak Terima dengan Segala Macam Bentuk Kedzaliman

Akar ketiga yang bisa membuahkan sikap adil adalah tidak terima dengan kedzaliman, bagaimanapun bentuknya. Seorang pemimpin harus memiliki sikap ini, dan menanamkannya kepada segenap bawahan, ajudan dan para pembantunya. Pemimpin harus mampu menjauhkan dirinya dan para pembantunya dari perilaku dzalim sekecil apa pun. Andaikata ia mampu berlaku adil dan menjauhi kedzaliman, namun ternyata para ajudan dan pembantunya justru bertindak dzalim dan sewenang-wenang, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban dan turut menanggung dosa atas perilaku dzalim pembantunya, manakala ia hanya mendiamkannya saja. Dalam kitab Taurat tertulis bahwa, sebuah perilaku dzalim yang dilakukan oleh seorang bawahan, yang diketahui dan didiamkan pemimpinnya, maka kedzaliman itu akan dinisbatkan kepada sang pemimpin, dan ia akan mendapatkan siksa karenanya.?

Di antara contoh seorang pemimpin yang senantiasa berusaha menjauhkan dirinya dan segenap pembantunya dari sikap dzalim adalah Khalifah Umar bin Khathth?b RA. Khalifah Umar RA merupakan teladan ideal seorang pemimpin yang tidak rela dengan perilaku dzalim sekecil apa pun. Beliau senantiasa mengingatkan para pembantunya agar berlaku adil dalam mengemban amanah sebagai pelayan rakyat, sebagaimana yang tercermin dalam sebuah kisah, bahwa suatu ketika, Khalifah Umar bin Khathth?b RA menulis surat kepada sahabat Abu Musa al-Asy’ari RA, yang pada waktu itu menjabat sebagai Gubernur di Bashrah dan Irak. Dalam suratnya, Khalifah Umar RA berkata: “Ingatlah, sesungguhnya pemimpin yang paling sejahtera adalah yang mampu menyejahterakan rakyatnya. Berhati-hatilah dengan sikap menyepelekan sesuatu, sebab para pembantumu akan meniru perilakumu. Sesungguhnya engkau (yang sedang memegang kekuasaan) laksana hewan ternak yang melihat padang hijau, lalu memakan rumput hingga banyak dan menjadi gemuk. Gemuknya hewan ternak lah yang menyebabkannya menjadi binasa. Dan karena kegemukannya itu, hewan ternak disembelih dan dimakan.”

4. Tidak Sombong (Takabbur)

Akar keadilan yang keempat adalah tidak sombong atau takabbur. Pada umumnya, pemimpin seringkali terjangkiti penyakit sombong. Mereka mengira bahwa kekuasaan dan rakyat ada dalam genggamannya, padahal segala kekuasaan mutlak pemberian Sang Maha Kuasa Allah M?likul ‘?lam. Sikap sombong yang muncul dalam diri seseorang bisa mengaburkan akal sehat dalam dirinya. Dan keadilan tidak akan mungkin lahir dari pribadi-pribadi yang hatinya masih diliputi kesombongan. Alih-alih menjadi adil, pemimpin yang memendam bibit kesombongan dalam dirinya justru akan menjadi pemimpin lalim, mudah marah, dan boleh jadi akan sampai pada sikap kejam terhadap siapapun yang melawannya.

Pemimpin sudah seharusnya memiliki sifat rendah hati dan berusaha menjauhkan diri dari kesombongan. Dengan kerendahan hati, seorang pemimpin tidak akan menjelma pribadi yang lemah. Malah, ia akan menjadi pribadi kuat dan pemberani, karena telah mampu menaklukkan nafsu dan amarahnya. Sebagaimana sabda Baginda Nabi SAW tatkala diceritai tentang seorang yang dianggap kuat dan pemberani lantaran selalu mampu untuk membanting lawannya: “Orang yang kuat dan pemberani adalah orang yang telah menaklukkan nafsunya, bukan yang membanting lawannya.”

5. Empati Terhadap Rakyat

Akar keadilan yang kelima adalah berempati terhadap rakyat. Yang dimaksud dengan empati terhadap rakyat adalah benar-benar merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya. Bukan hanya sekedar bersimpati. Pemimpin yang memiliki rasa empati tinggi akan memperlakukan rakyatnya, sebagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri. Ia mencintai rakyatnya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Jika seorang pemimpin suka melakukan tindakan yang melukai rakyatnya, sementara ia juga merasakan luka yang sama ketika diperlakukan seperti itu, menurut Imam Ghazali, pemimpin yang demikian termasuk kategori pemimpin khianat yang tertipu oleh kekuasaan.?

6. Tidak Pernah Meremehkan Kebutuhan Rakyat

Akar keadilan yang keenam adalah tidak pernah meremehkan kebutuhan rakyat, meskipun terlihat sepele di mata seorang pemimpin. Kekuasaan bisa menimbulkan sifat takabbur, yang akan melahirkan ketidakpedulian terhadap nasib dan kebutuhan rakyat kecil. Semua kepentingan rakyat, baik yang nampak remeh maupun terlihat berat, harus selalu didahulukan oleh seorang pemimpin. Bahkan, menurut Imam Al-Ghazali, pemimpin tidak diperkenankan menyibukkan diri dengan ibadah sunnah sampai-sampai lalai pada tugasnya untuk melayani kebutuhan rakyat.?

Sebagai contoh, suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz tengah menjalankan tugas melayani kebutuhan rakyatnya. Saat dhuhur tiba, Umar bin Abdul Aziz merasa letih dan ingin beristirahat. Beliau pun pulang ke rumahnya untuk beristirahat. Saat hendak merebahkan diri, tiba-tiba anaknya berkata: “Hal apakah yang membuat ayahanda aman dari maut yang bisa jadi datang saat ini, sementara di depan pintu rumah ayah banyak kebutuhan rakyat tidak terurus karena kelalaian ayah?” Umar bin Abdul Aziz menjawab: “Kau benar anakku!” Beliau seketika bangkit dan bergegas kembali menemui rakyatnya.

7. Hidup Sederhana

Akar keadilan yang ketujuh adalah hidup sederhana. Seorang pemimpin tidak diperkenankan hidup glamor, foya-foya dan selalu menuruti hawa nafsunya. Sudah semestinya, pemimpin memiliki sifat qan?’ah, yakni menerima dengan lapang dada pemberian Sang Maha Kuasa serta tidak berlebih-lebihan dalam men-tasharruf-kannya. Menurut Imam Ghazali, keadilan tidak akan ada manakala seorang pemimpin ? tidak mempunyai sifat qan?’ah. Hidup sederhana yang didasari sifat qan?’ah sangat dianjurkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW. Betapa banyak kisah dan teladan kesederhanaan dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Rasulullah SAW memilih untuk mengikat perutnya dengan lipatan kain yang berisi batu untuk menahan rasa lapar, sampai-sampai para sahabat menangis tersedu-sedu saat mengetahui beliau dalam keadaan seperti itu. Rasulullah SAW memilih hidup sederhana, sementara andaikata beliau berdoa, dunia seisinya pun bisa berada dalam genggamannya. Inilah teladan kesederhanaan yang bisa mengantarkan pada sikap adil. Orang yang hidupnya sederhana tidak akan tertarik kepada gemerlap dunia seisinya. Sifat qan?’ah dan hidup sederhana dapat menjauhkan seorang pemimpin dari kehancuran. Teramat banyak kisah-kisah pemimpin terdahulu, yang kekuasaannya hancur lebur karena gaya hidupnya yang glamor dan foya-foya, sehingga lalai dalam mengemban amanah untuk membangun bangsa dan melayani rakyatnya. ? ?

8. Lemah Lembut Kepada Siapa Saja

Akar kedelapan yang bisa membuahkan keadilan adalah sikap lemah lembut terhadap siapa saja. Seorang pemimpin yang ideal adalah ia yang mampu bersikap lemah lembut terhadap rakyatnya, tanpa membeda-bedakan pangkat maupun profesinya. Lemah lembut bukan berarti lembek atau tidak tegas terhadap penegakan hukum. Lemah lembut adalah mengasihi sesama dan berperilaku sopan-santun kepada siapa saja. Tidak kasar, tidak mudah marah, tidak mudah membentak ketika sedang menghadapi rakyatnya. Jika ia melihat kesalahan dan kekeliruan, ia tetap menegakkan hukum setimpal dengan perbuatan pelakunya. Hukuman yang setimpal dengan perbuatan pelaku kejahatan adalah salah satu bentuk ungkapan kasih sayang seorang pemimpin kepada rakyatnya. Sebab, ia telah berusaha untuk berlaku adil kepada rakyatnya, baik kepada korban maupun kepada pelaku kejahatan dengan tidak menghukum melebihi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.?

9. Membahagiakan Rakyat dengan Hal-Hal yang Diperbolehkan Aturan Agama

Akar keadilan yang kesembilan adalah senantiasa berusaha membuat rakyat bahagia dan sejahtera, dengan menjalankan peraturan atau kebijakan yang masih tetap berada dalam koridor aturan agama. Tujuan adanya pemimpin adalah untuk mengatur dan melayani kebutuhan rakyat, sehingga seorang pemimpin dituntut mampu membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi rakyatnya. Ketika ia mampu membuat rakyatnya sejahtera, tentu rakyat akan mencintainya. Saat pemimpin dan rakyat saling mencintai, maka di situlah turun rahmat dan ridha Ilahi. Mereka akan menjadi sebaik-baik kaum, karena pemimpin dan rakyatnya saling mencintai dan saling ridha karena Allah. Sebagaimana yang dapat dipahami dari sabda Baginda Nabi SAW kepada para sahabat: “Sebaik-baik umatku adalah sekelompok orang yang mencintai kalian dan kalian juga mencintainya. Dan seburuk-buruk umatku adalah sekelompok orang yang memusuhi kalian dan kalian juga memusuhi mereka, yang suka melaknat kalian dan kalian juga melaknat mereka.” ?

10.? Tidak Menjual Agama untuk Mendapatkan Simpati Rakyat

Akar keadilan yang kesepuluh adalah tidak menjual agama untuk mendapatkan simpati rakyat. Pemimpin sudah semestinya berjuang untuk rakyat, membangun serta membawa kemajuan bagi bangsanya. Namun ia tidak diperkenankan menerjang aturan agama hanya untuk membuat rakyatnya bahagia dan sejahtera. Jika pemimpin hanya mencari simpati manusia, maka ia tidak akan pernah menemukannya. Ridhann?s gh?yatun l? tudrak! Setiap perkara, mengandung pro dan kontra. Pun juga sikap, gaya, maupun kebijakan yang lahir dari seorang pemimpin, takkan pernah lepas dari pro dan kontra. Ini sudah menjadi sunnatullah. Karena, likulli ra’sin ra’yun, setiap kepala tentu pendapatnya beda-beda.?

Rasulullah SAW, seorang pemimpin ideal yang mampu adil terhadap siapa pun saja, masih ada yang membenci. Apalagi sekedar manusia biasa? Sudah barang tentu ada yang memuji dan ada yang mencaci. Maka seorang pemimpin tidak perlu khawatir kehilangan simpati dari rakyatnya. Jika ada yang benci kepada sikap adilnya, maka kebenciannya itu tidak ada artinya sama sekali terhadap pemimpin. Baginda Nabi SAW bersabda: “Barang siapa mencari ridha Allah hingga orang-orang marah kepadanya, maka niscaya Allah akan meridhainya dan manusia pun akan ridha kepadanya. Dan barang siapa mencari ridha manusia hingga Allah murka kepadanya, niscaya Allah akan murka kepadanya dan semua makhluk akan memurkainya.”?

Sepuluh akar keadilan yang telah disebutkan di atas, bisa dijalankan oleh pemimpin, siapapun! Bukan hanya terkhusus untuk kepala negara, kepala daerah maupun pejabat-pejabat lainnya. Setiap orang ---sebagaimana yang disabdakan oleh Baginda Nabi SAW--- adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Berdasarkan kenyataan ini, maka setiap kita harus memiliki sepuluh akar keadilan yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, supaya pohon keadilan senantiasa tumbuh-kembang dan kokoh menancap dalam diri.





Penulis adalah? Mahasiswa Pascasarjana UIN Malang



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu, Pondok Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Kapolda Lampung Lepas Kontingen LSN Region Sumatera VIII

Bandar Lampung, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Kontingen Pesantren Al-Huda FC yang menjuarai Liga Santri Nusantara Region Sumatera VIII  Lampung beberapa waktu lalu dilepas secara resmi dan simbolis oleh Kapolda Provinsi Lampung Irjend Pol Suroso Hadi Siswoyo di Aula Mapolda Lampung setempat, Bandar Lampung, Jumat (20/10) Jumat.

Suroso Hadi Siswoyo dalam sambutan pelepasannya berpesan agar para santri tim Pesantren Al-Huda FC untuk sungguh-sungguh karena membawa nama besar Provinsi Lampung menuju laga seri nasional Liga Santri Nusantara yang akan digelar di Kota Bandung Jawa Barat pada 22-29 Oktober 2017, "Man jadda wajada", pekiknya.

Kapolda Lampung Lepas Kontingen LSN Region Sumatera VIII (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolda Lampung Lepas Kontingen LSN Region Sumatera VIII (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolda Lampung Lepas Kontingen LSN Region Sumatera VIII

"Saya yakin jika kalian berjuang sekuat tenaga, bersungguh-sungguh maka pasti akan memperoleh hasil yang terbaik, minimal masuk tiga besar, syukur mampu menjuarai Liga Santri Nusantara tahun 2017 ini," tutupnya.

Koordiantor LSN Region Sumatera VIII Lampung Munir A Haris memohon doa restu kepada seluruh keluarga besar nahdliyyin di Bumi Ruwa Jurai ini. Ia berharap tim kesebelasan Pesantren Al-Huda FC Kabupaten Lampung Selatan menorehkan sejarah dalam dunia persepakbolaan nasional.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kami yakin, santri selain telah menguasai kitab kuning juga mampu menorehkan prestasi dalam dunia olahraga, khususnya sepakbola, kepada Kapolda Lampung sekali lagi kami mengucapkan terima kasih telah berkenan melepas adik-adik santri," tutup alumnus Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga sekaligus mantan aktivis PMII Yogyakarta ini.

Hadir dalam agenda pelepasan tersebut, Ketua PWNU Provinsi Lampung KH RM Sholeh Bajuri, Pengasuh Pesantren Al-Huda Kabupaten Lampung Selatan KH Ahmad Habib, Koordiantor Liga Santri Nusantara Region Sumatera VIII  Lampung Munir A Haris, Ketua Panitia Pelaksana (Organizing Commitee) Liga Santri Nusantara Region Sumatera VIII Lampung Sugirin Tjastoni, Manajer Pesantren Al-Huda FC Ustadz Budi, Pelatih Pesantren Al-Huda FC Andre Bantaeng, beserta 22 pemain Pesantren Al-Huda FC Kabupaten Lampung Selatan. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr Bambang Pranowo mengatakan Islam moderat di Tanah Air harus diperkuat untuk mencegah meluasnya pengaruh paham radikal.

"Penguatan pemahaman Islam yang moderat dan toleran menjadi salah satu senjata untuk mencegah masuknya paham kelompok radikal dan terorisme seperti ISIS," katanya di Jakarta, Jumat.

Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat

Ia menilai langkah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melakukan kampanye dan sosialisasi pencegahan paham kekerasan dan ISIS di berbagai kalangan sudah bagus, namun harus ditindaklanjuti dengan adanya penguatan pemahaman tentang Islam sesuai ajaran yang benar.

Menurut Guru Besar Sosiologi Agama ini, pemerintah dan Ormas Islam di Indonesia seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah berkewajiban untuk memberikan pemahaman Islam kepada segenap anak bangsa.

Sementara itu Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) KH Ahmad Satori Ismail mengatakan Islam adalah agama yang mengajarkan kelembutan, cinta kasih, dan persaudaraan.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Dalam Islam tidak ada sama sekali ajaran untuk merusak, meneror, apalagi membunuh sesama manusia," katanya.

Menurutnya, Islam yang indah, lembut, dan damai itu selalu diajarkan Nabi Muhammad SAW. Bahkan saat terjadi perang, juga diajarkan untuk menghormati musuh dan tidak boleh menyakiti anak-anak, wanita, dan orang tua.?

Semua itu adalah cerminan bahwa cara-cara kekerasan itu bukan Islam, apalagi tindakan itu menimbulkan korban jiwa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Jadi tidak ada hubungannya antara Islam dengan aksi-aksi terorisme yang terjadi akhir-akhir ini. Mereka tidak paham makna sebenarnya dari Islam yang mengajarkan kelembutan, kedamaian dan rahmatan lil alamin. Itulah inti ajaran Islam," ujar Ahmad Satori.

Untuk itu, ia mengajak umat Islam Indonesia untuk memperkuat pemahaman tentang makna Islam yang benar agar tidak terjebak dan terpengaruh propaganda paham radikal terorisme.?

Terkait jihad, Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI ini mengatakan di alam kemerdekaan Indonesia saat ini, jihad tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata, melainkan dengan berbagai cara seperti menggunakan tenaga, harga, jiwa, dan lain-lain untuk kemaslahatan.

"Di zaman sekarang, perjuangan (jihad) kita bukan dengan angkat senjata, tapi dengan memerdekaan negeri ini dari pengaruh asing, kemiskinan, sehingga Indonesia bisa menjadi negara yang aman, damai, makmur, dan sejahtera," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu, Nusantara, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Hindari Penipuan, Kemenag Sosialisasikan 5 Pasti Umrah

Makassar, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Berbagai upaya dilakukan oleh Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat terkait lima pasti umrah. Selain memberikan pemahaman kepada masyarakat, langkah ini ditempuh dalam rangka meminimalisir potensi terjadinya penipuan yang belakangan banyak dilakukan oleh travel nakal.

Hindari Penipuan, Kemenag Sosialisasikan 5 Pasti Umrah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hindari Penipuan, Kemenag Sosialisasikan 5 Pasti Umrah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hindari Penipuan, Kemenag Sosialisasikan 5 Pasti Umrah

Salah satu yang dilakukan adalah dengan sosialisasi di arena pameran. “Ditjen PHU melalui Subdit Pembinaan Umrah ikut serta dalam pameran ‘Makasar Tour and Holiday’, untuk mengedukasi masyarakat tentang program lima pasti umrah,” terang Direktur Pembinaan Haji dan Umrah Muhajirin Yanis usai meninjau stand pameran di Makassar, Jumat (4/3).

Makasar Tour and Holiday digelar di salah satu tempat perbelanjaan di kota Ujungpandang. Dibuka hari ini, pameran dijadwalkan akan berlangsung sampai Ahad (6/3) mendatang. Pameran ini diselenggarakan oleh pihak swasta dan diikuti oleh travel wisata dan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Sejak dibuka siang tadi hingga malam ini, pengunjung stan kita cukup ramai. Masyarakat sangat antusias untuk mendapatkan informasi tentang umrah. Mereka tidak mau tertipu,” kata Muhajirin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Muhajirin,  pengunjung pameran  rata-rata awalnya hanya menanyakan soal biaya umrah. Ada sebagian dari mereka yang bahkan belum peduli dengan keberadaan travel umrah, apakah berizin atau tidak, tapi yang terpenting adalah biayanya murah. “Masyarakat seperti ini menjadi sasaran sosialisasi kita. Sebab, selama ini yang tertipu umumnya adalah program umrah dengan biaya relatif murah dan dijanjikan bisa segera berangkat,” tutur mantan Kakanwil Gorontalo ini.

Dalam rangka  mengedukasi masyarakat agar lebih hati-hati, Kementerian Agama terus mensosialisasikan lima pasti umrah. Masyarakat yang akan berumrah, harus memastikan apakah biro travelnya memiliki izin resmi atau tidak. Selain itu, masyarakat juga harus memastikan maskapai penerbangan yang akan digunakan, akomodasi selama di Tanah Suci, serta  seluruh jadwal dan agenda perjalanan umrahnya, hari demi hari seperti apa. Tidak kalah penting juga adalah memastikan visa nya sudah ada ataukah belum.

“Semoga dengan pameran ini, sosislisasi tentang umrah akan semakin sampai kepada masyarakat,” harap Muhajirin. (Kemenag.go.id/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba, AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock