Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Corak Keberagamaan Muslim Kota Masih Didominasi NU

Oleh? Hasanuddin Ali

Setahun terakhir saya bersama rekan-rekan di Alvara Research Center mengamati dan melakukan kajian tentang apa yang kami sebut sebagai Islam Kota. Pengamatan yang kami lakukan bermula dari kegelisahan terhadap perubahan wajah Islam yang beberapa tahun terakhir mulai mengeras, dan hampir bisa dikatakan kehilangan jati diri keindonesiannya.

Kami mulai membuka data-data sekunder terkait pola pergeseran demografi dan geografi penduduk Indonesia, dan kami menemukan data yang menarik bahwa sejak tahun 2011 penduduk Indonesia yang tinggal di kota lebih banyak dibanding yang tinggal di desa.

Corak Keberagamaan Muslim Kota Masih Didominasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Corak Keberagamaan Muslim Kota Masih Didominasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Corak Keberagamaan Muslim Kota Masih Didominasi NU

Perbedaan antara kota dan desa bukan sekedar perbedaan geografis saja, lebih jauh dari itu adalah perbedaan karakter, pola pikir, mental, gaya hidup, dan sebagainya. Orang kota cenderug invidualis, sementara orang desa komunalis. Orang kota cenderung terbuka, sementara orang desa lebih memilih tertutup.?

Berbekal data Badan Pusat Statistik (BPS), kami mulai menghitung dan memprediksi tahun 2020 dengan asumsi 56.7% penduduk Indonesia berada di kota, jumlah umat Islam yang tinggal di kota hampir 137 juta jiwa, sementara yang tinggal di desa 104 juta jiwa. Tren ini akan terus berlanjut, penduduk yang tinggal di kota – termasuk umat Islam – akan semakin besar.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kembali ke soal karakter masyarakat kota tadi, maka kita bisa lihat corak keberagaman muslim kota yang cocok dengan karakter tersebut laku keras dikalangan muslim kota. Sebagai contoh ritual-ritual yang bersifat individual lebih laku dibandingkan dengan ritual-ritual keagamaan yang “rame”, ritual-ritual yang “boros biaya” banyak dihindari. Masyarakat kota juga biasanya lebih suka sesuatu yang simbolik, karena itu simbol-simbol agama yang menunjukkan kesalehan banyak kita lihat di muslim kota.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Simbol-simbol agama itu berkorelasi dengan sifat konsumerisme dikalangan muslim kota, kesadaran terhadap produk halal meningkat meskipun juga sering kebablasan, gerai dan toko pakaian muslim dan hijab merebak bak cendawan di musim hujan. Acara-acara TV juga dibanjiri berbagai hal yang berbau “islami”.

Lalu apakah ritual keagamaan yang “rame” akan punah di perkotaan? Berkaca pada hasil survei Alvara Research Center tahun 2015, ritual-ritual keagamaan yang “rame” seperti tahlilan dan maulid masih banyak dilakukan muslim perkotaan, lebih dari 80% muslim kota masih melakan ritual tahlilan dan maulid, dan 67% masil melakukan ziarah ke makam ulama.

Ciri masyarakat kota yang berpikiran terbuka dan rasional menyebabkan komposisi persentase ritual yang individual dan “rame” akan sangat dinamis. Pertarungan ide dan gagasan seputar keabsahan masing-masing ibadah ini akan terus terjadi. Adanya internet dan media sosial menjadikan ruang diskursus seputar hal ini semakin kuat dan masif. Media sosial dan internet adalah panggung terbuka, siapa yang menguasai turut pula menguasai publik.?

Di sisi lain, kehadiran media sosial juga menjadikan muslim kota menjadi emosional, terlihat bagaimana mereka memberikan komentar di berbagai media sosial yang kebetulan tidak sejalan dengan pengetahuan yang dimiliki. Untuk itu kita perlu secara konsisten menyuarakan Islam yang ramah dan santun, sebab wajah Islam Indonesia kedepan akan sangat ditentukan bagaimana orang kota memahami dan menghayati apa itu Islam.





CEO and Founder Alvara Research Center

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS

Buku Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya (2014) merupakan kelanjutan dari buku “Ideologi-Ideologi Pasca Reformasi” yang diterbitkan tahun 2012. Menurut penulisnya, As’ad Said Ali, kedua buku itu berangkat dari ambisi pribadnya untuk melakukan kajian menyeluruh tentang gerakan-gerakan radikal.

Buku Al Qaeda terdiri dari 9 bab yang dimulai dengan cerita mengenai pengalaman pribadi penulis saat bertugas sebagai pejabat Badan Intelijen Negara (BIN) di Timur Tengah pada 1982 sampai 1990. Selanjutnya penulis menyampaikan uraian panjang lebar mengenai ideologi kaum jihadi dan Al Qaeda secara khusus. Pertemuannya secara tidak sengaja dan perkenalannya dengan pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden menjadi titik poin tersendiri. As’ad Ali mencatat bahwa Perang Afghanistan sebagai sebuah permulaan terbentuknya jaringan jihad internasional dan mengenai gagasan pembentukan Al Qaeda. Penulis juga mengungkap pola pengorganisasiannya, serta operasi-operasinya pada tahap awal.

Bab 5 penulis menyampaikan uraian tambahan mengenai Jamaah Islamiyah dan hubungannya dengan Al Qaeda mengingat banyak orang salah kaprah, termasuk opini di sejumlah media, dalam memahami hubungan kedua organisasi ini. Bagaimana jaringan operasi dan rentetan aksi teror bom yang dilakukan Al Qaeda, disajikan dalam Bab 6 dan 7. Uraian dalam dua bab ini meliputi wilayah yang relatif luas, yakni Indonesia dan sejumlah negara di Asia Tenggara. Bab ini menggambarkan cukup menyeluruh mengenai operasi Al Qaeda di Asia Tenggara, dan bagaimana Asia Tenggara dijadikan pangkalan untuk menyerang sejumlah negara di kawasan lain.

Bab 8, merupakan bagian paling penting yang menyoroti generasi pasca Osama dan bagaimana dinamikanya. Osama tewas ditembak anggota pasukan elit Navy SEAL Amerika Serikat di Pakistan, pada Mei 2011. Pada bab ini penulis memulai pembahasan dengan menanyakan apakah setelah kematiannya itu, apakah Al Qaeda ikut hancur dan mati? Bagaimana dengan gerakan-gerakan jihad lainnya? Kenyataannya, kaum jihadi kini menemukan medan jihad baru di Syria, Iraq, dan kawasan Afrika. Bahkan telah lahir ISIS/ISIL (The Islamic State of Iraq and the Levant).

Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS

Bab terakhir, Bab 9 berisi uraian reflektif mengenai apa sesungguhnya penyebab Al Qaeda melakukan perlawanan global, dan mengapa akhirnya memilih cara kekerasan. Pada pagian epilog ini, penulis mengajukan rekomendasi, sebuah visi yang perlu dibangun untuk mengelola dan menciptakan perdamaian dunia. As’ad Said Ali yang juga Wakil Ketua Umum PBNU menilai bahwa masalah Al Qaeda sesungguhnya tidak bisa dipandang sekedar sebagai persoalan eksklusif negara semata. Atau lebih sempit lagi, urusan aparat keamanan. Al Qaeda adalah sebuah gerakan politik, dengan ideologi jihad yang kuat, mempunyai jaringan global dan skill militer. Visi politiknya terumuskan dalam sebuah kalimat yang sederhana: “menegakkan Islam dan melindungi kaum muslimin.”

Esensi ideologi Al Qaeda adalah jihad, dan pembentukan khilafah Islamiyah adalah suatu yang mutlak. Dengan ideologi seperti itu, kaum jihadi menyalahkan pemaknaan para ulama yang telah menjadi ijma’ selama berabad-abad, yang mengartikan jihad dalam arti qital (perang) hanyalah salah satu jenis saja dari jihad. Menurut As’ad, jihad yang lebih besar adalah mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Al Qaeda menganggap jihad qital (perang) adalah fardhu ‘ain, sebagai satu-satunya jihad yang berlaku mutlak sejak turunnya surat At Taubah. Sedangkan ayat-ayat lain, yang mengandung perintah jihad lainnya, telah terhapus. Ini berati, khususnya masalah jihad, Al Qaeda menganggap mayoritas umat Islam mengikuti ajaran yang salah.

Kaum jihadi juga beranggapan bahwa pembentukan khilafah islamiyah adalah mutlak. Mereka menilai agama Islam tidak bisa dilaksanakan dengan sempurna jika tidak melalui Daulah Islamiyah (pemerintah Islam). Dengan demikian terbentuknya Daulah Islamiyah akan menjadi menara api yang akan mengumpulkan kaum muslimin dari semua tempat menjadi satu kesatuan di bawah pemimpin khalifah, meskipun ? memang tidak ada kesatuan pandangan di kalangan mereka sendiri mengenai apa yang dimaksud khilafah. Namun doktrin kekhalifahan tersebut telah menghasilkan doktrin lanjutan lainnya yang menyeramkan, yakni pengkafiran terhadap umat Islam yang tidak mendukung prinsip kekhalifahan tersebut. Padahal, umumnya para ulama berpendapat bahwa kata-kata khalifah atau khilafah yang terdapat dalam Al-Qur’an berarti “kepemimpinan umat” dalam arti yang luas, tidak berarti model pemerintahan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu fakta menunjukkan bahwa negara-negara muslim masih banyak yang belum berhasil membangun sistem politik yang? dapat menggabungkan secara harmonis antara gagasan negara-bangsa dengan ajaran Islam. Barangkali baru sebagian saja yang berhasil. Itupun masih dalam proses, di antaranya adalah Indonesia dan sejumlah kecil negara Arab. Indonesia? adalah contoh unik, bagaimana para ulama madzhab (madhzab maslahat) khususnya, NU, Muhammdiyah dan ormas lainnya, bersama tokoh-tokoh nasionalis, Muslim maupun Non Muslim, mampu merumuskan suatu dasar negara yang secara esensial sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama. Bahkan dapat dikatakan pada basis prinsip-prinsip itulah negara ini ditegakkan atas dasar pesan moral rahmatan lil-‘alamin. Itulah Pancasila, sebuah rumusan cerdas mengatasi problem dikotomis, sekuler versus? teokrasi, yang dihadapi dunia Islam saat itu. Meski demikian, negara-negara yang relatif berhasil itupun kini dihadapkan dengan tantangan-tantangan barunya.

Penting dicatat, bahwa gerakan jihadis dan gerakan-gerakan ideologis Islam radikal lainnya, kelahirannya juga dirangsang oleh, dan sebagai respon atas, kekecewaan yang mendalam terhadap negerinya, yang dinilai telah terseret ke dalam situasi amoral, sekuler, libertarianisme dan semakin jauh dari cita-cita masyarakat teokratis. Sementara, kaum pembaharu Islam yang mulai berkibar menjelang runtuhnya khalifah Usmaniyah Turki, dinilai telah gagal membangun sistem politik yang memadai dengan situasi baru pasca perang dunia I. Derita Palestina dan sejumlah kawasan Islam lainnya, juga ditunjuk sebagai bukti bahwa penguasa-penguasa negeri muslim secara politik makin lemah dan kehilangan sikap independen; kemudian dicap sebagai thoghut yang mesti diperanginya.

Dengan demikian, dilihat dari sisi ini, secara moral lahirnya gerakan-gerakan radikal tidak dapat dipersalahkan. Sama halnya kita tidak dapat mempersalahkan lahirnya gerakan-gerakan liberal-sekuler. Keduanya adalah produk sejarah, yakni modernisasi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut As’ad, tugas penyelenggara negara dan kaum intelektual adalah menumbuhkan sistem politik yang mampu memperbaharui dirinya secara terus-menerus, untuk merespons kritik dan tuntutan-tuntutan baru yang juga terus lahir. Dalam kasus Indonesia, reformasi jangan justru menimbulkan disorientasi pada bangsa ini. Ini bukan sekedar persoalan membangun hubungan antara inisiatif pemerintah dengan partisispasi rakyat, atau bagaimana membangun tingkat kemampuan sistem politik mendorong proses perkembangan di bidang lain, namun semacam proses nation and character building dengan kedalaman dan dimensi yang lebih kekinian.

Data Buku

Judul : Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya

Penulis : DR H As’ad Said Ali

Penerbit : LP3ES Jakarta

Tahun : Cetakan I, September 2014

Tebal : xxvi + 438 hlm

ISBN : 978-602-7984-11-0

Harga : Rp. 80.000,-

Peresensi : A.Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba, Ahlussunnah, Halaqoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Muslimat NU dan Nahdliyin Perdalam Aswaja

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Wonomerto bekerja sama dengan Pengurus Cabang Aswaja NU Center Kabupaten Probolinggo menggelar seminar peningkatan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) bagi pengurus Muslimat NU dan Nahdliyin, Rabu (2/11).

Kegiatan yang diikuti oleh seluruh pengurus Muslimat NU mulai tingkat MWC hingga Ranting se-Kecamatan Wonomerto ini dihadiri oleh Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Wonomerto KH Mohammad Hasan Sidik, Ketua PC Aswaja NU Center Kabupaten Probolinggo Teguh MHZ dan segenap jajaran pengurus MWC hingga Ranting NU.

Muslimat NU dan Nahdliyin Perdalam Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU dan Nahdliyin Perdalam Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU dan Nahdliyin Perdalam Aswaja

Ketua MWCNU Kecamatan Wonomerto KH. Mohammad Hasan Sidik mengungkapkan bahwa para pengurus NU di semua tingkatan perlu memaksimalkan kegiatan rutinan seperti yasinan dan sarwaan yang diisi dengan kajian-kajian untuk membendung aliran-aliran yang ingin merusak NU.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Harus ada sinkronisasi dan koordinasi kegiatan antara NU, Muslimat, Fatayat serta Badan Otonom NU agar program-program NU berjalan sesuai keinginan bersama. Apalagi saat ini sudah banyak paham-paham baru yang bertentangan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja),” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Sidik, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan tambahan pemahaman kepada para pengurus NU tentang Aswaja dan firqah-firqah dalam Islam.”Setidaknya kegiatan ini bisa membentengi para Nahdliyin agar tidak terpengaruh paham-paham baru di luar NU,” jelasnya.

Sementara Ketua PC Aswaja NU Center Kabupaten Probolingo Teguh MHZ mengungkapkan bahwa pihaknya siap memfasilitasi kegiatan ke-Aswaja-an sampai ke tingkat Ranting NU.

”Kami sudah mempunyai tim sosialisasi Aswaja di tingkat kecamatan yang bisa diajak kerja sama. Memang perlu adanya pemahaman Aswaja kepada Nahdliyin sebagai benteng agar bisa tetap berpegang teguh kepada aqidah Ahlussunnah wal Jamaah,” katanya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Eta Bubarkanlah… Eta Bubarkan Full Day School…

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?



Keluarga Besar nadlatul Ulama (KBNU) Kabupaten Tasikmalaya bersatu padu menyatakan sikap menolak atas kebijakan Full Day School (FDS) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi. Belasan ribu KBNU Tasikmalaya melakukan aksi damai di depan Kantor Setda dan DPRD Kabupaten Tasikmalaya Selasa (15/8).?

Peserta aksi itu terdiri dari seluruh banom NU mulai dari IPNU, IPPNU, Ansor, Fatayat, Muslimat, Pagar Nusa dan organ-organ lainnya yang ada di tubuh organisasi NU Kabupaten Tasikmalaya, serta para aktivis PMII.?

Eta Bubarkanlah… Eta Bubarkan Full Day School… (Sumber Gambar : Nu Online)
Eta Bubarkanlah… Eta Bubarkan Full Day School… (Sumber Gambar : Nu Online)

Eta Bubarkanlah… Eta Bubarkan Full Day School…

“NU mendesak Presiden agar mencabut dan membatalkan Permendikbun Nomor 23 Tahun 2017 karena peraturan itu akan mengikis dan mematikan eksistensi madrasah diniyah yang ada di Kabupaten Tasikmalaya,” ujar Ketua PCNU Kabupaten Tasikmalaya, KH Atam Rustam sebagaimana dilaporkan salah seorang peserta aksi, Ali Roswan Fauzi ketika dihubungi Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dari Jakarta.?

Menurut Ali, Kiai Atam, pada aksi tersebut akan menuntut Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya untuk membatalkan rencana penambahan jam belajar sekolah di Kabupaten Tasikmalaya. Karena kebijakan itu dinilai akan mematikan eksistensi madrasah diniyah.?

Di antara para peserta aksi tersebut adalah santri-santri dari Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haur Kuning yang dipimpin langsung pengasuh pondok pesantren, KH Busyrol Karim. Para santri bersarung, berpakaian putih-putih, ada yang berkopiah hitam dan putih. Mereka berjalan pelan sambil bernyanyi diiringi dengan iringan drum. Sebagian santri mengibar-kibarkan bendera NU.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ali kemudian mengirimkan video berdurasi 1.34 menit yang mendokumentasikan aksi para santri Haur Kuning itu.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Hiji, dua, tilu,” kata salah seorang memberi komando kepada teman-temannya.?

“Eta bubarkanlah, eta bubarkanlah, eta bubarkan Fullday School. Eta bubarkanlah, eta bubarkanlah, eta bubarkan Fullday School…demi FKDT (Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah, red.).” (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Jadwal Kajian, Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Selama ini Ma’had Aly merupakan pendidikan tingkat tinggi khas pesantren yang konsisten mengajarkan ilmu-ilmu agama berbasis kitab kuning. Oleh Karena itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tentu menyambut baik pengakuan negara atas legalitas Ma’had Aly.

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly

Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU KH M. Maksoem Mahfoedz saat menghadiri Halaqah Nasional Penyusunan Kerangka Kurikulum Ma’had Aly yang digelar Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag dengan menggandeng Lakpesdam PBNU, Kamis (2/6) di The Media Hotel Jakarta.

Konsekuensi dari legalitas tersebut, lanjut Maksoem, Ma’had Aly harus merumuskan berbagai standar, kualifikasi, dan kurikulum agar eksistensinya menemukan relevansi dan signifikansi. “Siginifikansi inilah yang menjadikan peran Ma’had Aly sesuai dengan perubahan masyarakat di era global,” ujar Guru Besar UGM ini.

Dia juga menegaskan bahwa lulusan Ma’had Aly merupakan produk pendidikan tinggi khas pesantren. Sebab itu, Prinsip kemandirian dan pemahaman Islam secara substantif harus terus dipertahankan.

Dalam konteks penyusunan kurikulum, Maksoem menerangkan bahwa kurikulum sepenuhnya menjadi kewenangan lembaga tersebut. Namun demikian, pemerintah dan pihak-pihak terkait juga perlu memberikan atau mengusulkan kerangka sehingga Ma’had Aly tetap menemukan relevansinya dengan perubahan sosial masyarakat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hadir beberapa tokoh penting dalam halaqoh ini diantaranya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi, Ketua PP Lakpesdam PBNU H Rumadi, Sekretaris Lakpesdam PBNU H Marzuki Wahid, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag H Mohsen, A’wan PBNU Hj Sri Mulyati, dan beberapa pimpinan Ma’had Aly. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, Lomba, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Lewat Pagar Nusa, Noe Letto Ajak Generasi Milenial Siapkan Fisik dan Spiritual

Boyolali, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Noe Letto didaulat menjadi Duta Pagar Nusa. Selama ini, Sabrang Mowo Damar Panuluh, atau Noe Letto, dikenal sebagai musisi dan seniman yang peduli dengan gerakan keislaman, kebangsaan dan national security. Noe didaulat langsung sebagai Duta Pagar Nusa, oleh Ketum Pagar Nusa M Nabil Haroen di NU Center, Boyolali, Ahad (29/10).

Di hadapan ribuan pendekar Pagar Nusa, M Nabil Haroen menyematkan simbol Pagar Nusa kepada Noe Letto. Agenda ini berlangsung dalam rangkaian Pelantikan Pengurus Cabang Pagar Nusa Boyolal.

Lewat Pagar Nusa, Noe Letto Ajak Generasi Milenial Siapkan Fisik dan Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Pagar Nusa, Noe Letto Ajak Generasi Milenial Siapkan Fisik dan Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Pagar Nusa, Noe Letto Ajak Generasi Milenial Siapkan Fisik dan Spiritual

"Kami memberikan kehormatan kepada Noe Letto, sebagai Duta Pagar Nusa. Kami memberikan penghargaan sekaligus kesempatan sebagai Duta Pagar Nusa kepada orang-orang khusus, tidak sembarangan figur. Pimpinan Pagar Nusa melihat kiprah Noe Letto dalam memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan sekaligus pengabdian pada persatuan negeri ini. Ini selaras dengan visi Pagar Nusa," kata Nabil Haroen.

Nabil mengajak setiap pendekar dan kader Pagar Nusa untuk menjaga diri dan siap dengan amanah untuk mengabdi pada kiai serta menjaga Indonesia. "Peran Pagar Nusa semakin berat, tantangan yang menghadang di depan akan semakin besar. Negeri ini menghadapi berbagai gelombang ancaman, baik dari internal maupun dari luar. Pagar Nusa harus cerdas membaca geopolitik, sekaligus mempersiapkan diri. Silaturahmi sangat penting, untuk menguatkan barisan," jelas Nabil.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mendapat penghargaan sebagai Duta Pagar Nusa, Noe Letto ingin agar Pagar Nusa tidak hanya menjadi simbol. "Pagar Nusa ini kekuatan besar, yang tidak mudah dibaca oleh pihak lawan. Ini kekuatan kita, bagaimana pola-pola kaderisasi internal Pagar Nusa menjadi keistimewaan. Gerakan para pendekar Pagar Nusa yang solid, terkontrol, terkomando dan bergerak dalam senyap, menjadi kekuatan utama," kata Noe Letto.

Ia juga mengajak anak muda generasi milenial negeri ini untuk peduli pada bangsa Indonesia. "Lapisan baru anak muda, generasi milenial kita, harus peduli pada bangsa. Apalagi di era big data, era cyber war sekarang ini, isu national security sebagai kepedulian pada bangsa menjadi penting," jelas Noe.

Dalam kesempatan ini, Noe Letto mengajak generasi milenial bergabung dalam Pagar Nusa, untuk mengasah kekuatan mental, fisik dan spiritual. "Kepedulian pada bangsa menjadi sangat penting, apalagi di era sekarang ini. Pertahanan mental, fisik dan spiritual menjadi prasyarat penting untuk berkontribusi di era sekarang. Menjadi bagian dari Pagar Nusa, merupakan keistemewaan bagi generasi muda sekarang," ungkapnya.

Wakil Ketua Umum Pagar Nusa KH Athoillah Habib (Gus Atho) menegaskan bahwa pada masa depan Pagar Nusa harus siap dengan medan kompetisi baru. "Kita harus mampu berkontribusi di era cyber sekarang ini. Namun, pertahanan fisik dan spiritual masih sangat penting. Untuk itu, pencak silat masih sangat relevan. Kita bisa melihat, bagaimana negara China, Jepang dan beberapa negara lain, tetap menjaga warisan bela dirinya, di tengah perkembangan teknologi. Bahkan, keahlian bela diri dan kecerdasan mental-spiritual menjadi krusial untuk kehidupan masa sekarang," jelas Gus Atho.

Dalam beberapa tahun ini, Pagar Nusa telah melatih sekitar tiga juta pendekar dan kader yang tersebar di penjuru Indonesia dan beberapa negara, semisal Malaysia, Hongkong dan Taiwan. Para pelatih Pagar Nusa juga diundang ke beberapa negara Eropa dan Asia untuk menjalani program residensi bela diri dan pertemuan antarperguruan bela diri lintas Negara. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 08 Januari 2018

Lagi, NU Kota Malang Cetak Kader Dakwah

Malang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) mengadakan Workshop Training of Trainer (ToT) Aswaja. Acara ini akan dilaksanakan selama dua hari, Sabtu-Ahad (8-9/2), di Auditorium Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang milik KH Hasyim Muzadi.

Lagi, NU Kota Malang Cetak Kader Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, NU Kota Malang Cetak Kader Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, NU Kota Malang Cetak Kader Dakwah

Hadir dalam forum ini tidak kurang dari 40 orang peserta yang terdiri dari para kiai, gus dan asatidz dari daerah Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu. Karena kegiatan ini difokuskan pada kajian Aswaja berbasis pada Al-Qur’an dan Hadits dan Kitab Kuning, maka semua yang hadir merupakan Kiai, Gus, Ustadz atau para santri Senior.

“Tiada lain harapan kami atas terselenggaranya kegiatan semacam ini adalah semoga menjadi sebuah usaha untuk mempertahankan dan membela ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia dan khususnya kota malang,” kata Gus Ishroqun Naja, Ketua PCNU Kota Malang dalam sambutannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam acara yang bertemakan “Revitalisasi nilai-nilai Aswaja ditengah Tantangan Islam Transnasional” ini hadir sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama yang berkompeten dalam kajian Ahlussunnah Wal Jamaah. Seperti KH Muchit Muzadi (Jember), KH Marzuqi Mustamar (Malang), Muhammad Idrus Ramli (Jember) dan juga Wakil Walikota Malang Sutiadji, yang sebelumnya merupakan salah seorang Pengurus NU Kota Malang.

Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan kader-kader dakwah NU yang baru. Dimana hal tersebut dimaksudkan untuk membentengi masyarakat dari gerakan-gerakan transnasional. Oleh karenanya fokus kajiannya adalah mempelajari dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits tentang prinsip-prinsip yang selama ini dipegang oleh Nahdlatul Ulama yang sering dipermasalahkan oleh gerakan lain. Seperti amaliah, i’tiqad dan konsep berbangsa dan bernegara yang selama ini dipegang oleh NU.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kami berharap agar 40 orang kiai, gus atau ustadz yang hadir dalam forum ini nantinya mau menjadi ujung tombak dakwah Nahdlatul Ulama setelah kembali ke tempatnya masing-masing. Termasuk kepada para mahasiswa PTUN untuk di kota malang,” kata Gus Ish.

“Karena kita tahu, bahwa sebagian besar dari mereka sebenarnya anak-anak kita. Abnaa’una. Tapi pemikirannya masih labil dan pengetahuannya masih kurang. Adalah tugas kita untuk melindungi mereka,” tambahnya.

Memang, selepas kegiatan ini para alumni yang rata-rata orang pesantren diharapkan mampu menjadi melaksanakan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Setelah sesi pembukaan selesai, kemudian dilanjutkan diskusi panel bersama KH Marzuki Mustamar dan KH Muhammad Idrus Ramli selama 45 menit. Diskusi membahas masalah aqidah, amaliah dan pandangan Islam tentang tradisi masyarakat. Diadakan selama 2 (dua) hari, KH Marzuqi Mustamar dan Idrus Ramli menjadi nara sumber utama pada hari pertama.

Pada hari kedua, diskusi diisi oleh KH Abdullah Syamsul Arifin dari Jember bersama Kiai Badruddin, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan pembahasan Tashawuf. Kegiatan berakhir dengan menghasilkan tindak lanjut (follow UP) pembentukan? Aswaja Centre Kota Malang. (Ahmad Nur Kholis/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock