Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

Dikukuhkan, IPNU-IPPNU Kriyan Agendakan Ngaji Kitab

Jepara, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara, Jawa Tengah, masa khidmah 2015-2017 telah resmi dikukuhkan. Pengurus baru siap bergerak cepat melaksanakan program-program organisasi.

Dikukuhkan, IPNU-IPPNU Kriyan Agendakan Ngaji Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)
Dikukuhkan, IPNU-IPPNU Kriyan Agendakan Ngaji Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)

Dikukuhkan, IPNU-IPPNU Kriyan Agendakan Ngaji Kitab

"Setelah agenda Pelantikan, PR IPNU-IPPNU Kriyan siap mengadakan upgrading untuk pengurus sekaligus membuat progam organisasi. Namun kami sudah merencanakan untuk bulan September ini, tepatnya malam idul adha akan mengadakan takbir keliling se-Desa Kriyan," ujar Eko Supriyanto, Ketua PR IPNU Kriyan.

Hal senada juga disampaikan Nur Laili Nimah. Ia menyatakan siap melanjutkan progam-progam IPPNU yang sudah terlaksana di periode sebelumnya, seperti kegiatan rutin Yasinan tiap malam Jumat, acara dua mingguan dzikir Ratibul Hadad, serta forum pertemuan pengurus PR IPNU-IPPNU Kriyan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Dalam periode saya, akan kami tambahkan progam kegiatan, yaitu rutin kajian kitab baik untuk pengurus maupun anggota IPNU IPPNU Kriyan. Ini penting karena untuk bekal dalam kehidupan kita," tambahnya.

Fathurrohman, Ketua PR IPNU periode sebelumnya berharap, agar kepengurusan yang sudah dilantik ini bisa solid, sehingga dapat menjalankan progam yang sudah diagendakan bersama. Ia juga mengharapkan kegiatan yang sudah berjalan baik di periode sebelumnya untuk dilanjutkan dan diperbaiki untuk menjadi lebih baik.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pelantikan berlangsung meriah pada Jumat (4/9) di Gedung NU Ranting Kriyan dan dipandu langsung oleh Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Jepara. (Miqdad Syaroni/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Cerita, Tokoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Habib Luthfi: Menjaga Negeri adalah Penerapan Rasa Syukur kepada Allah

Tegal, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Mustasyar PBNU Maulana Muhammad Habib Luthfi bin Ali bin Yahya mengungkapkan, selagi para ulama,TNI-Polri berkumpul, meskipun berbeda politik, berbeda pendapat, tidak menjadi persoalan, yang pasti bangsa Indonesia satu kesatuan dalam bingkai kebhinnekaan dan NKRI. 

Hal itu diungkapkan Habib Luthfi saat menghadiri acara silaturahmi dan safari ramadhan 1438/2017 M Panglima TNI Jendral TNI Gatot Nurmantyo bersama keluarga Besar TNI dan komponen masyarakat di Mako Brigif /IV Dewaratna Slawi, Rabu (14/6)

Habib Luthfi: Menjaga Negeri adalah Penerapan Rasa Syukur kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Menjaga Negeri adalah Penerapan Rasa Syukur kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Menjaga Negeri adalah Penerapan Rasa Syukur kepada Allah

Menurut Rais Aam Jamiyah Ahlut Thoriqoh Al-Mutabaroh An-Nahdliyah (JATMAN) ini nilai Indonesia sangatlah tinggi setelah agama, dengan bersatunya TNI-Polri dan ulama tetap cinta NKRI.

Aplikasi rasa syukur manusia kepada Allah SWT terhadap bangsa Indonesia adalah selalu menjaga negeri ini dengan baik melalui acara-acara  seperti ini. "Dan saya terima kasih kepada TNI-Polri dan Pemda yang telah menyelenggarakan acara ini," ujar ulama kharismatik asal Pekalongan ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam kesempatan itu, Habib Luthfi mengajak seluruh masyarakat Indonesia jangan mau di pecah belah seperti negara Suriah. Karena hancurnya Suriah karena tidak percaya dengan ulama, tentara serta pemerintahan.

"Saya mengajak semua yang hadir di sini, ayo kita galang persatuan seluruh anak bangsa tunjukan bahwa bangsa Indonesia mengerti dan berterima kasih kepada para pejuang yang telah memerdekakan negeri ini," tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, hadir pula Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Tatang Sulaiman, Kapolda Jateng Irjend Pol Condro Kirono, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Habib Thohir Al Kaf, Bupati Tegal Enthus Susmono, Sejumlah ulama dan pejabat dan ribuan anak yatim. (Hasan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, PonPes, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

PCNU Pamekasan Keluarkan Tujuh Pernyataan Sikap

Pamekasan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pamekasan di Jalan R Abd Aziz Pamekasan, Jawa Timur, kedatangan banyak wartawan cetak, televisi, dan online, Rabu (2/2). Mereka sedang meliput rilis pernyataan sikap PCNU Pamekasan terkait perkembangan yang saat ini terjadi di internal NU.

Terdapat tujuh pernyataan sikap tertulis PCNU Pamekasan yang dibacakan langsung oleh Wakil Rais PCNU Pamekasan KH Wahdi Musyaffa. Surat pernyataan tersebut ditandatangani oleh Rois Syuriah KH Abd Mannan Fadholi, Katib K Abd Bari, Ketua Tanfidziyah KH Taufiq Hasyim, dan Sekretaris Abd Rahman Abbas.

PCNU Pamekasan Keluarkan Tujuh Pernyataan Sikap (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pamekasan Keluarkan Tujuh Pernyataan Sikap (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pamekasan Keluarkan Tujuh Pernyataan Sikap

"Pertama, KH Maruf Amin adalah Rais Aam PBNU juga sebagai Ketua Umum MUI yang harus dijaga, dihormati, ditaati juga ditadzimi oleh puluhan juta umat NU baik di seluruh pesantren maupun di tataran masyarakat bawah (grass root) dalam jamiyah NU," terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kedua, dalam sidang kasus penistaan terhadap agama Islam dengan terdakwa Basuki Tjahja Purnama (Ahok), KH Maruf Amin dihadirkan ke persidangan untuk memberikan keterangan ahli (vide: Pasal 184 (1) jo pasal 186 KUHP) bukan sebagai pelapor.

"Ketiga, keterangan yang diberikan oleh KH Maruf Amin, berdasarkan pengamatan kami PCNU Pamekasan sudah selaras dengan kompetensi maupun kapasitasnya sebagai ahli agama Islam, baik sebagai fuqaha, Rais Aam PBNU maupun sebagai Ketua Umum MUI," paparnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Keempat, tambah Kiai Wahdi, PCNU Pamekasan menyesalkan sikap, perilaku maupun kata-kata dari terdakwa Ahok maupun tim pengacaranya dengan dalih menolak keterangan KH Maruf Amin sebagai ahli justru memelintir/memutarbalikkan fakta, dan seolah-olah menempatkan KH Maruf Amin sebagai terdakwa.

"Bahkan, beberapa pernyataan maupun tuduhan serta kata-kata kasar yang ditujukan kepada KH Maruf Amin lebih merupakan sikap sikap yang menyerang terhadap pribadi KH Maruf Amin daripada mematahkan argumen yang terkait dengan keahlian beliau," tegasnya.

Kelima, PCNU Pamekasan tidak akan tinggal diam, dan dengan ini menyatakan siap mendampingi serta membela KH Maruf Amin sebagai pimpinan tertinggi PBNU secara lahir maupun batin dalam koridor hukum dan menyerukan kepada seluruh Banom PCNU Pamekasan, kepada seluruh MWCNU serta PRNU se-Pamekasan dengan satu komando sambil lalu memperbanyak istighatsah dan permohonan kepada Allah serta pembacaan Hizbun Nashor.

"Keenam, PCNU Pamekasan meminta agar PBNU mengambil langkah tegas sesuai hukum yang berlaku untuk mewaspadai setiap manuver-manuver yang dilakukan oleh pihak Ahok yang cenderung merugikan kepada NU baik secara personal maupun kelembagaan, sekaligus memohon agar PBNU memproses secara hukum sekalipun Ahok telah menyatakan permohonan maaf," tegasnya.

Terakhir, tambah Kiai Wahdi, PCNU Pamekasan memohon kepada PBNU untuk segera memberikan instruksi PWNU dan PCNU se-Indonesia tentang sikap yang akan dilakukan oleh PWNU dan PCNU terkait pernyataan ahok dan tim pengacaranya terhadap perlakuan kepada KH Maruf Amin selaku Rais Aam PBNU sekaligus sebagai Ketua Umum MUI. (Hairul Anam/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, Budaya Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 05 Februari 2018

PCINU Maroko Persiapkan Pertemuan Sufi Internasional

Rabat, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Istimewa NU Maroko mengagendakan seminar internasional perihal tasawuf pada 20 Januari 2015. Sejumlah ulama dari pelbagai negara akan hadir dalam seminar internasional yang dijadwalkan berlangsung di Rabat, ibu kota Maroko.

Rencana ini disepakati dalam kunjungan PCINU Maroko kepada Syeikh Dr Radhi Gennune, seorang dewan pakar tasawuf pengikut Tarekat Tijaniyah di kediamannya di Rabat, Senin (1/12). Hadir dalam pertemuan ini Ketua PCINU Maroko Kusnadi, Wakil Ketua PCINU Maroko Fakih Abdul Aziz, dan Nasrullah Afandi.

PCINU Maroko Persiapkan Pertemuan Sufi Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Maroko Persiapkan Pertemuan Sufi Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Maroko Persiapkan Pertemuan Sufi Internasional

Dalam kesempatan itu turut hadir Kiai NU asal Banjarmasin yang sedang berkunjung ke Maroko, KH Ahmad Anshori pengikut tarekat Tijaniyah. Ia sejak 1999 hingga sekarang sudah 34 kali berziarah ke zahwiyah atau maqbaroh Syeikh Tijani di kota Fes, Maroko.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Buya Anshori mendukung langkah PCINU Maroko itu. "Hal ini penting untuk menanamkam nilai-nilai tasawuf yang merupakan salah satu ajaran NU, juga sekaligus menambah wawasan tasawuf para putra-putri NU yang sedang menempuh pendidikan di negeri para wali Maroko ini.”

Dari Indonesia juga dijadwalkan akan ada beberapa ulama lain yang menjadi pembicara. Sedangkan dari kalangan ulama Maroko, akan diundang sejumlah pemuka tarekat Tijaniyah termasuk Syeikh Zuber, cucu tertua Syekh Ahmad Tijani (pendiri tarekat Tijaniyah).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Syeikh Dr Radhi Gennun sendiri dijadwalkan kembali berangkat ke Indonesia pada 5 Desember 2014. Ia akan menemui jamaah tarekat Tijaniyah di beberapa daerah Indonesia di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jakarta. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Muslimat NU dan Nahdliyin Perdalam Aswaja

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Wonomerto bekerja sama dengan Pengurus Cabang Aswaja NU Center Kabupaten Probolinggo menggelar seminar peningkatan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) bagi pengurus Muslimat NU dan Nahdliyin, Rabu (2/11).

Kegiatan yang diikuti oleh seluruh pengurus Muslimat NU mulai tingkat MWC hingga Ranting se-Kecamatan Wonomerto ini dihadiri oleh Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Wonomerto KH Mohammad Hasan Sidik, Ketua PC Aswaja NU Center Kabupaten Probolinggo Teguh MHZ dan segenap jajaran pengurus MWC hingga Ranting NU.

Muslimat NU dan Nahdliyin Perdalam Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU dan Nahdliyin Perdalam Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU dan Nahdliyin Perdalam Aswaja

Ketua MWCNU Kecamatan Wonomerto KH. Mohammad Hasan Sidik mengungkapkan bahwa para pengurus NU di semua tingkatan perlu memaksimalkan kegiatan rutinan seperti yasinan dan sarwaan yang diisi dengan kajian-kajian untuk membendung aliran-aliran yang ingin merusak NU.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Harus ada sinkronisasi dan koordinasi kegiatan antara NU, Muslimat, Fatayat serta Badan Otonom NU agar program-program NU berjalan sesuai keinginan bersama. Apalagi saat ini sudah banyak paham-paham baru yang bertentangan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja),” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Sidik, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan tambahan pemahaman kepada para pengurus NU tentang Aswaja dan firqah-firqah dalam Islam.”Setidaknya kegiatan ini bisa membentengi para Nahdliyin agar tidak terpengaruh paham-paham baru di luar NU,” jelasnya.

Sementara Ketua PC Aswaja NU Center Kabupaten Probolingo Teguh MHZ mengungkapkan bahwa pihaknya siap memfasilitasi kegiatan ke-Aswaja-an sampai ke tingkat Ranting NU.

”Kami sudah mempunyai tim sosialisasi Aswaja di tingkat kecamatan yang bisa diajak kerja sama. Memang perlu adanya pemahaman Aswaja kepada Nahdliyin sebagai benteng agar bisa tetap berpegang teguh kepada aqidah Ahlussunnah wal Jamaah,” katanya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Santri-Petani dan Ketahanan Pangan

Oleh Muhammad Afiq Zahara



Saya perkirakan lebih dari 30 persen santri adalah petani yang mengandalkan sawah dan ladang sebagai mata pencariannya. Mereka tinggal di desa-desa, tidak jarang merangkap sebagai guru ngaji atau profesi lainnya. Kehidupan mereka berada di bawah garis cukup. Hanya saja, pendidikan agama yang mereka peroleh menguatkan rasa kepasrahan mereka melebihi manusia pada umumnya.

Pertanian di Indonesia dalam skala besar sedang menghadapi krisis kualitas dan kuantitas. Generasi muda kita tidak berminat untuk terjun di bidang pertanian. Lebih suka berpindah ke kota dan mencari pekerjaan di sana. Belum lagi label “tiang tanos” (orang tani) yang dalam kultur kita sering dipandang sebagai orang bawah atau kelas terbelakang. Ditambah gaya hidup hedonistik yang dimunculkan sinetron-sinetron kita di televisi. Membuat minat generasi muda kita semakin terkikis

Santri-Petani dan Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri-Petani dan Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri-Petani dan Ketahanan Pangan

Sekarang ini, hampir tidak ada anak gadis yang bekerja di sawah. Alasannya macam-macam, dari mulai kurang gaul, takut hitam, jijik lumpur, sampai takut make up-nya luntur. Memang, di era globalisasi ini kecantikan telah direduksi maknanya sedemikian rupa oleh pabrik kosmetik dan iklan-iklannya. Pabrik-pabrik itu memonopoli pengertian tentang cantik. Akibatnya, cantik adalah apa yang digambarkan oleh iklan dan pabrik-pabrik kosmetik itu. Tidak ada lagi pemahaman tentang inner beauty, jika pun ada, ya, sekadar basa-basi.

Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap menurunnya minat generasi muda kita dalam bidang pertanian. Para pemuda takut dianggap kurang cool (keren), begitupun sebaliknya. Padahal, nenek moyang kita, laki-laki dan perempuan, pemuda dan gadis, menggarap sawah dengan penuh kerendah-hatian dan ketelatenan. Sekarang, jika generasi tua sudah tidak ada, siapa yang akan menggarap sawah-sawah itu?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kecenderungan merantau generasi muda ke kota menjadi problem lain yang perlu diatasi. Berkembang atau tidaknya sebuah desa bergantung pada tenaga produktifnya. Jika tenaga produktifnya tidak ada (bekerja di kota), hasil panen akan menurun. Lambat laun, kebutuhan pangan di pedesaan akan disuplai dari luar.Desa yang tadinya produsen berubah menjadi konsumen pangan.

Selain itu, kecilnya keuntungan pertanian pangan dan harga sawah yang tinggi menjadi penghalang generasi muda kita untuk membayangkan kehidupan yang lebih baik dari bertani. Di samping tidak jarang para pemilik sawah merubah fungsi lahannya menjadi tempat produksi batu bata karena dinilai lebih prospektif.

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah berubahnya lahan pertanian pangan menjadi perumahan dan perkebunan seperti kelapa sawit, kakao dan lain sebagainya. Tergantung permintaan pasar dan pertimbangan ekonominya. Hal ini menyebabkan angka produksi pangan nasional menurun.Impor beras dari luar negeri seakan-akan tidak dapat dihindarkan lagi. Parahnya, konversi itu tidak dibarengi dengan pembukaan lahan persawahan baru, sehingga ketahanan pangan kita terancam.

Akibatnya, dari kurun 2010-2013 impor beras nasional kita meningkat secara signifikan (Yunita T. Winarto [ed], Krisis Pangan dan “Sesat Pikir”: Kenapa Masih Berlanjut?, Pustaka Obor, 2016, hlm 174). Apabila kecenderungan impor yang disebabkan oleh stagnasi produksi pertanian terus berlanjut dan tidak ada perbaikan, kita akan memasuki situasi yang sangat aneh untuk sebuah negara agraris, ketergantungan pangan pada negara lain. 

Bagaimana Peran Santri dan Pesantren?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di pesantren tradisional, tidak sedikit santri yang menggarap ladang milik pesantren atau kiai. Baik santri putra maupun santri putri berperan aktif dalam proses cocok tanam hingga panen. Karena kehidupan mereka terbangun dari kultur pesantren, mereka belum terpengaruh gaya hidup hedonistik yang berkembang di luar. Mereka menghabiskan waktunya dengan belajar, menghafal, kerja bakti dan mengaji.

Banyak dari mereka ketika pulang ke daerahnya masing-masing menyandarkan hidupnya dari pertanian, menggarap sawah milik orangtua atau mertuanya.Perasaan gengsi tidak terlalu berpengaruh dalam diri mereka, meski tetap saja ada yang terpengaruh oleh hal itu. Akan tetapi, sebagian besar dari mereka dengan teguh menggenggam nilai-nilai kesantriannya.

Persoalannya malah terletak pada kecakapan mereka dalam bertani. Mereka tidak mendapatkan pendidikan atau pengajaran tentang cara bercocok tanam yang baik. Cara bertani mereka masih sangat tradisional dan seadanya, sebagaimana yang mereka lakukan ketika masih di pesantren. Karena itu, dalam hal melestarikan pertanian, mereka cukup memberikan pengaruh. Namun, dalam hal peningkatan produksi pangan, peran mereka masih teramat kecil.

Memandang hal tersebut, saya berpendapat, sudah saatnya pesantren mengembangkan pertanian dengan serius. Metode cocok tanam yang baik, pengenalan lahan pertanian, pencegahan hama yang efektif, dan bagiamana cara meningkatkan hasil panen harus diajarkan secara sistematik dan tepat.Pesantren harus membuka kelas-kelas pertanian modern yang rapih tanpa mengganggu proses ajar-mengajar santri.

Dilihat dari fenomena sosial yang berkembang, khususnya hilangnya minat anak muda untuk bergelut di bidang pertanian, dengan karakter kulturnya yang khas, santri bisa berperan aktif meningkatkan produksi pangan nasional. Tidak sekadar bertani ala kadarnya. Pesantren harus mengambil langkah-langkah strategis untuk mempersiapkan santri-petani yang mumpuni dan cakap.

Memang, sudah ada beberapa pesantren yang mengambil langkah ini, bahkan menjadikan pertanian sebagai ciri khasnya, seperti Pesantren Pertanian Darul Fallah di Bogor. Namun, pesantren dalam arti luas masih sangat jauh menuju ke arah itu. Pertanian harus dilebur dengan pesantren, terlepas apapun tipologi pesantrennya. Pemanfaatan lahan persawahan milik pesantren atau kiai harus diarahkan sebagai sarana belajar yang terskema dengan rapih, tidak sekadar penjalanan tugas santri kepada kiai dan pesantrennya.

Meskipun pertanian di pesantren umum (bukan pesantren takhasshus) sekadar kegiatan ekstra, tetapi kegiatan ekstra itulah yang kemudian banyak dijadikan mata pencarian oleh santrinya. Karena itu, diperlukan penyikapan yang lebih serius, dengan pendidikan pertanian yang matang sebagai bekal santri. Tidak hanya untuk mengarungi kehidupan pribadinya, tapi juga berperan serta dalam penguatan ketahanan pangan nasional. Bukankah hal ini juga termasuk jihâd fî sabîlillah? Wallahu a’lam.

Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Islam, Internasional, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Alumni PMII Fasilitasi Santri Masuk Kampus UI

Depok, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Untuk memotivasi kalangan santri dan pelajar NU melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia (UI), Forum Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UI atau Forluni PMII UI sejak 2014 telah merancang program khusus Sanlat Supercamp "Road to UI" yang merupakan inovasi atas Pesantren Kilat (Sanlat) Sukses Masuk PTN yang dilaksanakan Forluni PMII UI sejak 2012. ?

Selain memberikan materi tes masuk UI dan PTN (perguruan tinggi negeri) lain, manajemen Sanlat juga membekali peserta dengan motivasi spiritual, pengembangan karakter dan wawasan kebangsaan. Program Sanlat Supercamp 2014 lalu berhasil meluluskan 9 siswa dari total 14 peserta Sanlat, 5 siswa diantaranya berhasil diterima di UI.

Alumni PMII Fasilitasi Santri Masuk Kampus UI (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni PMII Fasilitasi Santri Masuk Kampus UI (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni PMII Fasilitasi Santri Masuk Kampus UI

"Dari 9 peserta yang lulus, 5 peserta di antaranya adalah santri lulusan pesantren yaitu 2 orang dari Pesantren Al Hamidiyah Depok dan masing-masing 1 orang dari Pesantren Al Itqon Jakarta Barat, Pesantren SMK Arrahman Depok, dan Pesantren An Nawawi Magelang," papar Alfanny.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Untuk Sanlat 2015, manajemen Sanlat akan mengadakan Try Out Seleksi sanlat dengan pola tes SIMAK UI pada Sabtu, 18 April 2015 di Pusat Studi Jepang Kampus UI Depok.? Bagi santri atau pelajar NU yang ingin mengikuti Sanlat, dapat mengetahui informasi tentang sanlat dan proses seleksinya di website www.sanlat.forluni.com.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Tidak ada alasan kalangan santri enggan berkuliah di UI, karena pemerintah sudah menyediakan banyak beasiswa khususnya beasiswa bidik misi.? Persaingan yang ketat untuk masuk UI juga bukan alasan, karena dengan disiplin belajar dan doa, banyak santri yang sudah kuliah di UI," urai Alfanny, Ketua Umum Forum Alumni PMII UI. (Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pahlawan, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock