Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Melalui Koin Bakti NU, MWCNU Banyuwangi Berikan Bantuan Dana dan Pakaian

Banyuwangi, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Kesekian kalinya Lembaga Amil Zakat Infaq Sedekah (LAZIS) MWC NU Kecamatan Banyuwangi membagikan hasil donasi kepada para korban banjir dan tanah longsor di Pacitan yang menelan banyak korban. Dikumpulkannya donasi tersebut melalui program Koin Bakti NU yang dijalankan sejak bulan Mei 2017.

Secara simbolis bantuan dana sebesar Rp 500 ribu dan pakaian layak diberikan oleh sekretaris MWCNU Kecamatan Banyuwangi Nano Hermawan kepada Sekretaris PCNU Kabupaten Banyuwangi Guntur Al-Badri di Kantor PCNU Banyuwangi, Senin (4/12) pagi.

Melalui Koin Bakti NU, MWCNU Banyuwangi Berikan Bantuan Dana dan Pakaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Melalui Koin Bakti NU, MWCNU Banyuwangi Berikan Bantuan Dana dan Pakaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Melalui Koin Bakti NU, MWCNU Banyuwangi Berikan Bantuan Dana dan Pakaian

Nano berharap semoga dengan sedikit bantuan yang berhasil dikumpulkan ini dapat meringankan beban yang dihadapi oleh warga Pacitan.

"Kita hanya dapat berusaha semaksimal mungkin apa yang kami bisa. Sebagai rasa turut belasungkawa atas musibah di sana. Betapa saya turut rasakan kepedihan batin yang mendalam, ketika melihat mereka kehilangan keluarga, saudara, sampai harta benda," tutur Nano.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia menambahkan, seketika pengurus berusaha semaksimal mungkin untuk penggalangan bantuan dana di kepengurusan setempat.

"Alhamdulillah saya mengucapkan banyak terima kasih dengan hadirnya program koin bakti NU yang digagas oleh LAZIS ini dapat dirasakan hasil pengabdiannya. Karena itu, saya apresiasi atas konsistensi dedikasi pengurus LAZIS sejauh ini. Semoga dengan berjalannya waktu, jumlah donatur dapat terus ditingkatkan untuk berdonasi setiap bulan," tutup Nano.

Guntur Al-Badri mengatakan, sejauh ini dari pengurus cabang telah berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 13,67 juta beserta pakaian layak dan obat-obatan.

"Data bantuan ini berhasil dikumpulkan dari seluruh MWCNU se-Kabupaten Bayuwangi beserta badan otonomnya. Tentunya ini akan terus bertambah," jelas Guntur.

Deadline kami bantuan akan ditutup saat prosesi pemberangkatan di Pacitan tanggal 5 Desember 2017 esok. Semoga ini menjadi keberkahan dan dijauhkannya kita semua dari segala malapetaka, harap Guntur. (M Sholeh Kuriawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Daerah, Fragmen, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 19 Februari 2018

Delapan Pelajaran Istimewa Hatim al-‘Asham Berguru 30 Tahun

Sudah maklum adanya bahwa mencari ilmu hukumnya wajib, utamanya ilmu agama dan syariat yang menjadi kunci keberhasilan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Delapan Pelajaran Istimewa Hatim al-‘Asham Berguru 30 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Delapan Pelajaran Istimewa Hatim al-‘Asham Berguru 30 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Delapan Pelajaran Istimewa Hatim al-‘Asham Berguru 30 Tahun

? ? ? ? ? ?

“Mencari ilmu sangat wajib bagi setiap orang muslim” (HR. Ath-Thabrani)

Sungguh beruntung sekali orang yang diberi kesempatan oleh Allah ta’ala untuk bisa belajar dan mengeyam pendidikan agama. Namun tidak semua orang mengerti terhadap cara dan tujuan yang benar di dalam mencari ilmu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Oleh sebab itu, pentinglah kiranya bagi kita belajar dari teladan-teladan yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita di dalam cara dan tujuan yang benar dalam mencari ilmu. Di antaranya adalah teladan yang diriwayatkan dari seorang ulama besar di masanya. Beliau adalah Hatim al-Asham, murid Syaqiq al-Balkhi radliyallahu ‘anhuma.

 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Suatu ketika Syaqiq bertanya kepada Hatim, “Berapa lama engkau menemaniku?”

Hatim menjawab, “Tiga puluh tiga tahun.”

“Lalu apa yang telah engkau pelajari dariku selama ini?” lanjut Syaqiq. 

“Delapan pengetahuan,” jawab Hatim. 

Inna lillahi wa inna ilahi raji’un. Umurku telah habis bersamamu namun engkau tidak belajar kecuali delapan permasalahan,” jawab Syaqiq keheranan.

“Wahai guruku, aku tidak mempelajari selain delapan permasalahan itu, dan sungguh aku tidak suka berbohong,” Hatim meyakinkan.

“Sampaikan delapan permasalahan itu, agar aku mendengarnya,” lanjut Syaqiq.

 

Hatim berkata, “Aku melihat seluruh manusia. Kemudian aku melihat masing-masing dari mereka mencintai kekasihnya. Ia bersama kekasihnya tersebut hingga sampai kubur. Namun, ketika ia sudah sampai kubur, maka apa yang ia kasihi meninggalkannya. Maka aku jadikan amal-amal baik sebagai kekasihku. Sehingga, ketika aku masuk kubur, maka kekasihku masuk ke kubur bersamaku.”

“Bagus wahai Hatim. Lalu apa yang kedua?” sahut Syaqiq.

Hatim melanjutkan, “Aku melihat firman Allah azza wa jalla:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40 - 41)

Aku yakin bahwa sesungguhnya firman Allah subhanahu wa ta’ala adalah benar. Maka aku memaksa nafsuku untuk menolak hawa (kesenangannya) hingga nafsuku tenang untuk taat kepada Allah ta’ala. Yang ketiga, sesungguhnya aku melihat seluruh manusia. Aku melihat setiap orang yang memiliki sesuatu yang berharga dan bernilai, maka ia akan mengangkat dan menjaganya. Kemudian aku melihat firman Allah azza wa jalla:

? ? ? ? ? ? ? 

“Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.”(QS. An-Nahl: 96)

Sehingga, setiap aku memiliki sesuatu yang bernilai dan berharga, maka aku hadapkan kepada Allah agar tetap terjaga di sisi-Nya. Yang keempat, sesungguhnya aku melihat semua manusia ini. Aku melihat bahwa masing-masing dari mereka kembali ke harta, keturunan mulia, kemuliaan dan nasab. Aku renungkannya, ternyata semua itu tidak ada artinya. Kemudian aku melihat firman Allah ta’ala:

? ? ? ? ? ? ? ? ? 

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. al-Hujurat: 13)

Maka aku beramal taqwa berharap aku menjadi orang yang mulia di sisi Allah. Yang kelima, sesungguhnya aku melihat semua manusia ini. Sebagian dari mereka mencela sebagian yang lain, dan sebagian dari mereka melaknat sebagian yang lain. Penyebab semua ini adalah sifat dengki. Kemudian aku melihat firman Allah azza wa jalla:

? ? ? ? ? ? ? 

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.”(QS. Az-Zukhruf: 32)

Maka aku tinggalkan sifat dengki dan aku menjauh dari manusia. Aku yakin bahwa sesungguhnya pembagian sudah ada dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Maka aku menghindari permusuhan dengan manusia.

Keenam, aku melihat para manusia. Sebagian dari mereka berbuat zalim pada sebagian yang lain. Dan sebagian dari mereka memerangi sebagian yang lain. Kemudian aku kembali kepada firman Allah ta’ala:

? ? ? ? ? ?

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu).”(QS. Fathir: 6)

Maka aku hanya memusuhi setan saja. Dan aku berusaha sekuat tenaga waspada dan berhati-hati padanya. Karena sesungguhnya Allah ta’ala telah bersaksi bahwa sesungguhnya setan adalah musuhku. Maka akutidak memusuhi makhluk selain setan.

Yang ketujuh, aku melihat para manusia, masing-masing dari mereka mencari serpihan roti hingga ada yang menghinakan diri sendiri untuk mendapatkannya. Dan mereka terjerumus ke dalam sesuatu yang tidak halal. Kemudian aku melihat firman Allah ta’ala:

? ? ? ? ? ? ? ? ? 

“Dan tidak ada suatu binatang melata (makhluk hidup) pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.”(QS. Huud: 6)

Maka aku yakin bahwa sesungguhnya aku merupakan salah satu dari dawwab (makhluk hidup) ini yang ditanggung rezekinya oleh Allah. Maka aku tersibukan dengan apa yang menjadi hak Allah ta’ala atas diriku, dan aku meninggalkan apa yang menjadi hakku di sisi-Nya. 

Yang kedelapan, aku melihat para manusia berpasrah diri dan bertawakkal kepada makhluk. Sebagian tawakkal pada kebunnya, sebagaian lagi tawakkal pada dagangannya, sebagian lain tawakkal pada pekerjaannya, dan sebagian lain lagi mengandalkan kesehatan badannya. Semua makhluk tawakkal pada makhluk yang lain yang sama lemahnya dengannya. Kemudian aku kembali pada firman Allah ta’ala:

? ? ? ? ? ?

“Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Maka aku berserah diri kepada Allah azza wa jalla. Aku yakin Allahlah Tuhan yang mencukupiku.”

Dengan senyum penuh bangga dan bahagia Syaqiq berkata, “Wahai Hatim, semoga Allah ta’ala memberi taufiq padamu. Sesungguhnya aku telah melihat ilmu-ilmu di dalam kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an al-Adhim. Aku menemukan semua jenis kebaikan dan ajaran agama. Semuanya berkutat pada delapan permasalahan ini. Sehingga, orang yang mengamalkannya, maka sesungguhnya ia telah mengamalkan keempat Kitabullah.”

Semoga kita dapat mengambil kedelapan pelajaran penting yang telah disampaikan oleh Hatim al-Asham, amin ya rabbal alamin. Wallahu a’lam. (Moh. Sibromulisi)





Kisah diambil dari keterangan al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Beirut, Dar al-Fikr al-Ilmiyah, cetakan kelima, jilid I, halaman 145 – 147.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia

Kuala Lumpur, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj yang didampingi oleh ketua PP Pagar Nusa M. Nabil Haroen dan Ketua PP Fatayat Anggia Ermarini melantik kepengurusan cabang istimewa NU Malaysia, Pagar Nusa dan Fatayat periode 2017-2020, Ahad (24/9) di Dewan Sulaiman Kuala Lumpur. Kegiatan ini dihadiri pula dari perwakilan KBRI untuk Malaysia dan warga NU yang ada di Malaysia.

Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia

Ketua Pertubuhan Malaysia Ustadz Ahmad dalam sambutannya mengatakan, NU Malaysia berserta Banomnya merupakan organisasi yang telah sah di Malaysia karena telah didaftarkan secara resmi di Malaysia serta diakui oleh pemerintah Malaysia sebagai organisasi pertubuhan NU Malaysia. 

 

Dalam kesempatan itu, Ketum PBNU memberikan ceramah sekaligus memberi arahan kepada pengurus NU dan Nadliyin untuk memahami sejarah NU serta mampu memberikan pemahaman maupun meningkatkan praktik amaliyah ibadah yang menjadi tradisi kuat di tubuh NU. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kiai Said juga menegaskan bahwa NU berkomitmen mempertahankan negara Indonesia sebagai darussalam (negara damai) bukan negara darul Islam. 

“Sebaiknya nanti tetap kembali ke Indonesia untuk membangun daerahnya masing-masing dan berbakti untuk bangsa,” pesan Kiai Said.  

Kepengurusan PCINU Malaysia yang digawangi oleh Ustadz Ihyaul Lazib, Ketua PCI Fatayat Rizki Makiyyah, dan Ketua PCI Pagar Nusa Malaysia Mohammad Zakki berserta jajaran kepengurusannya berkomitmen untuk menjaga dan mengembangkan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah serta tentunya menjadikan NU bermanfaat bagi masyarakat Indonesia di Malaysia. (Wahyu Hidayat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Pergunu Intruksikan PW, PC, dan PAC Shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama mengintruksikan kepada pengurus Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang Pergunu untuk melakukan shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi yang meninggal Sabtu (11/3) dini hari.

berikut intruksi tersebut:

Pergunu Intruksikan PW, PC, dan PAC Shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Intruksikan PW, PC, dan PAC Shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Intruksikan PW, PC, dan PAC Shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi

Pimpinan Pusat Pergunu menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Bapak H. Akhsan Ustadhi, SH, MA. (Wakil Ketua PP Pergunu. Berkaitan dengan wafatnya Bapak H. Akhsan Ustadhi, SH, MA. tersebut, PP Pergunu mengintruksikan kepada Pimpinan Wilayah, Cabang, dan Anak Cabang Pergunu se-Indonesia agar menyelenggarakan shalat Ghaib dan Tahlil ditujukan untuk almarhum.



Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Surat dengan intruksi bernomor 109/PP Pergunu/3/2017, dikeluarkan 11 Maret 2017 tersebut ditandatangani Ketua Umum PP Pergunu KH Asep Saifuddin Chalim dan sekretaris Umum H. Gatot Sujono.

H. Akhsan Ustadhi wafat Sabtu dini hari (11/3). Menurut keterangan keluarganya yang dishare di media sosial, ia kecapekan beraktivitas. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi tidak tertolong. Ia mengembuskan napas terakhirnya pada usia 43 tahun dengan meninggalkan seorang istri dan tiga anak. (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Fragmen, Sholawat, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja

Probolinggo,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Menteri Ketenagakerjaan RI M. Hanif Dhakiri melakukan jalan santai bersama seribu perempuan Kota Probolinggo, Senin (27/7). Kegiatan dalam rangka pelantikan Pimpinan Cabang Fatayat NU Kota Probolinggo itu dimulai dari Pesantren  Raudlatul Muta’allimin di Kelurahan Wonoasih Kecamatan Wonoasih.

Jalan santai dilepas Menteri M. Hanif Dhakiri didampingi istrinya Hj. Marifah Hanif Dhakiri sekitar pukul 06.00 WIB. Rencana awal, menempuh rute sekitar 2 kilometer dari Ponpes Raudlatul Muta’allimin menuju GOR Mastrip dan finish kembali di pesantren yang sama, berubah haluan. Mereka memilih rute dengan start dari Ponpes Raudlatul Muta’allimin ke utara menuju Pasar Sapi Jrebeng Kidul dan belok kanan menuju Jalan Ir. Sutami dan belok kanan di Pasar Wonoasih serta finish di tempat asal.

Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja

“Bapak Menteri menginginkan rute jalan santai bisa bertatap langsung dengan masyarakat sekaligus bisa blusukan,” ujar Ketua PC Fatayat NU Kota Probolinggo Nur Hudana.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam acara itu, Menteri Hanif Dhakiri bersama istrinya yang didampingi Ketua PC Fatayat NU Kota Probolinggo Nur Hudana dan Sekretaris PP Fatayat NU Anggi Maharani terlihat antusias mengikuti jalan santai. Usai jalan santai, Menteri Hanif melakukan dialog dan sosialiasi penempatan tenaga kerja dalam negeri atau luar negeri kepada peserta jalan santai.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hanif menegaskan, pihaknya menyetop dan melarang pengiriman Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Timur Tengah. Sebab, perlindungan dan gaji jadi TKI di Timur Tengah, sangat minim.

“Berbeda di Asia Pasifik, perlindungan dan gajinya cukup baik,” ujarnya didampingi Dirjen Binapentasker Hery Sudarmanto, Direktur PTKDN Wisnu Pramono, Direktur PTKLN Guntur Wicaksono dan Direktur PTKS Erna Novianti.

Meski begitu kata Hanif, tak semua TKI yang di Timur Tengah dilarang. Larangan ini khusus pembantu rumah tangga. Sedangkan, bila bekerja di mal atau rumah sakit, masih boleh. Katanya, ke depan pihaknya akan terus memperbaiki pelayanan TKI. “TKI harus dipersiapkan keterampilan dan skill-nya. Sehingga, performa kerjanya lebih baik,” ujarnya.

Sedangkan untuk tenaga kerja dalam negeri, Hanif mengaku pihaknya mempunyai program Three in One. Yakni, pelatihan, sertifikasi dan penempatan. Masyarakat yang belum bekerja bisa dilatih, setelah itu diberi sertifikat dan ditempatkan. Salah satu upayanya adalah melalui Balai Latihan Kerja (BLK).

Di samping itu, Menteri juga menghapus persyaratan minimal harus berijasah SMA bila hendak masuk BLK. Menurutnya, siapa pun yang ingin belajar bisa langsung ke BLK. Tak peduli yang lulus SD atau SMA. Semua harus diberi kesempatan. Langkah ini agar masyarakat yang tak punya ijazah, punya kesempatan untuk belajar. Sehingga, punya kompetensi.

“Sementara kami juga mendorong para pelaku IKM (Industri Kecil dan Menengah) untuk menempatkan syarat lowongan bukan pada ijazah. Tapi, berdasar kompetensi yang dimiliki. Misalnya, pabrik garmen. Yang dicari, ya orang yang bisa menjahit, tidak berdasar lulusan SMA,” tegasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Fragmen, Makam, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film

Bondowoso, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Jaringan Gusdurian Kabupaten Bondowoso dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional mengadakan acara Nonton Bareng Film “Cahaya dari Timur” bersama pemuda lintas agama yang ada di Bondowoso, Jawa Timur.

Kegiatan yang dikemas dengan sederhana ini dilaksanakan di halaman Kampus Akedemi Komunitas Negeri Bondowoso (Akom) Kabupaten Bondowoso, Rabu (16/11) malam.

Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film (Sumber Gambar : Nu Online)
Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film (Sumber Gambar : Nu Online)

Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film

Koordinator Jaringan Gusdurian Bondowoso Daris Wibisono Setiawan mengatakan hari toleransi mulai diperingati oleh dunia pada tahun 1995. Menurutnya, malam itu adalah momentum untuk merajut kerukunan di tengah perbedaan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Gus Dur pernah bilang Keberagaman adalah bahasa keindahan Tuhan. Menolak keberagaman, memaksakan segala perbedaan, berarti tidak pernah mengakui eksistensi Tuhan,” tuturnya.

Kepala sekolah SMK NU Tenggarang ini berpendapat bahwa agama adalah wilayah pribadinya dengan Tuhan. Sementara hubungan sosial adalah hal lain. “Ketika saya keluar dari tempat ibadah, berarti kita duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, itulah ke indahan keberagaman," ucapnya di hadapan peserta yang sekaligus mewakili pihak Islam dalam pertemuan itu.

Sementara perwakilan Buddha, Hermawan, mengaku bersyukur Gusdurian mengajaknya berkumpul bersama komunitas lintas agama. Ini merupakan pertemuan pertama yang ia ikuti bersama Gusdurian.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Saya harap kegiatan ini bisa di laksanakan setiap tahun mungkin kita bisa lebih kompak, lebih maju mudah-mudahan Gusdurian lebih jaya, lebih kompak , banyak teman-temannya untuk kepadulian," harapnya.

Sambutan juga datang dari agama lain secara bergiliran. Acara tersebut dihadiri para pemuda lintas komunitas dan agama, antara lain Kristen, Buddha, Mahasiswa Akademi Komunitas Negeri Bondowoso, OSIS SMA NU Bondowoso, serta organisasi kepemudaan lainnya. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Fragmen, Internasional, Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Kiai Navis: Daurah Aswaja Murni Kaderisasi, Bukan Politis

Surabaya,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Tujuan diselenggarakannya kegiatan seminar internasional yang dilanjutkan dengan daurah nasional Aswaja murni demi meneguhkan akidah sebagai identitas Islam Nusantara. Tidak ada tujuan penggalangan suara jelang Muktamar NU tahun depan serta tujuan politis yang lain.

Kiai Navis: Daurah Aswaja Murni Kaderisasi, Bukan Politis (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Navis: Daurah Aswaja Murni Kaderisasi, Bukan Politis (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Navis: Daurah Aswaja Murni Kaderisasi, Bukan Politis

Hal itu disampaikan Direktur PW Aswaja NU Center Jawa Timur, KH Abdurrahman Navis saat memberikan sambutan pada seminar Rabu (23/12) pada seminar internasional yang diselenggarakan di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Seminar menghadirkan narasumber para ulama dan akademisi dari Malaysia dan Indonesia.

"Berdasarkan amanat Muktamar NU di Makassar serta rekomendasi dari Konferensi Wilayah NU Jawa Timur bahwa keberadaan Ahlus Sunnah wal Jamaah harus diteguhkan keberadaannya," kata dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini. Aalagu secara kasat mata telah banyak pendangkalan dan rongrongan bagi Aswaja di sejumlah kawasan, lanjutnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Karena itu keberadaan seminar internasional yang dilanjutkan dengan penandatanganan kerja sama dengan kontingen Malaysia, sebagai bagian dari implementasi dari amanah tersebut. Dan pada kegiatan selanjutnya yakni hingga Jumat (26/12) diselenggarakan daurah Aswaja tingkat nasional yang menghadirkan peserta dari seluruh PWNU se Indonesia.

"Jadi kegiatan yang diselenggarakan hari ini hingga Jumat mendatang adalah murni kaderisasi, bukan penggalangan suara jelang Muktamar NU tahun depan maupun tujuan politis yang lain," tandas Kiai Navis yang disambut aplaus hadirin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Bagi Wakil Ketua PWNU Jatim, kesadaran akan kian terdesaknya anak muda dengan berbagai aliran ekstrim kanan maupun kiri hendaknya menjadi keprihatinan bersama. Dan langkah cepat harus segera dilakukan dengan melakukan berbagai pendalaman Aswaja seperti yang diselenggarakan kali ini.

"Kami berharap, usai kegiatan daurah nasional, maka para kontingen dapat menggagas terbentuknya Aswaja NU Center di masing-masing daerah," katanya. Dan bila hal ini telah dilakukan, maka pada Muktamar tahun depan Kiai Navis berharap keberadaan Aswaja NU Center bisa menjadi lembaga khusus di lingkungan NU.

"Ya semacam Densus 99 untuk meneguhkan Islam Aswaja di seluruh Nusantara," terangnya. Dan untuk bisa meraih hal ini, yang harus dilakukan adalah kerja keras dan lillahi taala, bukan tujuan jangka pendek apalagi dengan pamrih duniawi.

Seminar dan daurah Aswaja ini dihadiri oleh Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, Rais PWNU Jatim, KH Miftachul Akhyar, Ketua PWNU Jatim, KH Mutawakkil Alallah, juga KH Abdusshomad Bukhori, Ketua MUI Jatim.(Syaifullah/Abdullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Quote, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock