Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Pelajar NU Pabedilan Ngaji Fiqih Seputar Haid

Cirebon, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Pimpinan Anak Cabang IPNU dan IPPNU Kecamatan Pabedilan Kabupaten Cirebon menggelar kajian fiqih seputar haid di Pesantren Raudlatut Tholibin Desa Kalibuntu, Pabebdilan, Kamis (30/6). Kegiatan ini terlaksana berkat kerja sama dengan Ikatan Alumni Pesantren Lirboyo Kecamatan Pangenan yang diikuti puluhan anggota IPNU dan IPPNU setempat.

Menurut Ketua IPPNU Pabedilan Sri Mahmudah, kegiatan seminar ini membahas perempuan khususnya haid, nifas, dan seluruh permasalahannya. Kajian ini menghadirkan narasumber Ustadz Harun Purhadi, alumni Pesantren Lirboyo.

Pelajar NU Pabedilan Ngaji Fiqih Seputar Haid (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Pabedilan Ngaji Fiqih Seputar Haid (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Pabedilan Ngaji Fiqih Seputar Haid

"Intinya menuju perempuan salehah. Minimalnya tahu dan mengerti seluk-beluk haid. Tentang haid ini menurutku sangat penting juga dikaji baik oleh perempuan maupun laki-laki. Karena perempuan dan laki-laki sudah seharusnya mengerti persoalan haid dan permasalahannya,” jelas Mudah.

Sedangkan Ketua IPNU Pabedilan Ahmad Fahrurrijal mengatakan, kegiatan ini penting karena banyak para kader yang membutuhkan pengetahuan seputar haid dan thaharah agar lebih mantap dalam menjalankan ibadah sehari-hari. Untuk laki-laki, agar kelak setelah berumah tangga paham tentang haid dan dapat menuntun istrinya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Alhamdulillah acara kami disambut dengan baik oleh kader. Setelah seminar acara kami lanjut dengan tadarus Al-Qur’an sambil ngabuburit dan buka bersama. Malamnya setelah Tarawih, kami isi dengan rapat koordinasi dengan seluruh ranting dan komisariat yang ada di Kecamatan Pabedilan,” jelas Rijal kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari IPNU-IPPNU Kabupaten Cirebon. Ketua IPNU Cirebon Ayub Al-Ansori dan Ketua IPPNU Cirebon Nur Aida Fajriyanti berharap ke depan seluruh anak cabang Pelajar NU selain gencar kaderisasi formal juga penting untuk memerhatikan keilmuan para pelajar baik dalam bentuk seminar, diskusi, maupun pelatihan. (Nurjannah Al-Kendali/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah, Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia

Kuala Lumpur, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj yang didampingi oleh ketua PP Pagar Nusa M. Nabil Haroen dan Ketua PP Fatayat Anggia Ermarini melantik kepengurusan cabang istimewa NU Malaysia, Pagar Nusa dan Fatayat periode 2017-2020, Ahad (24/9) di Dewan Sulaiman Kuala Lumpur. Kegiatan ini dihadiri pula dari perwakilan KBRI untuk Malaysia dan warga NU yang ada di Malaysia.

Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia

Ketua Pertubuhan Malaysia Ustadz Ahmad dalam sambutannya mengatakan, NU Malaysia berserta Banomnya merupakan organisasi yang telah sah di Malaysia karena telah didaftarkan secara resmi di Malaysia serta diakui oleh pemerintah Malaysia sebagai organisasi pertubuhan NU Malaysia. 

 

Dalam kesempatan itu, Ketum PBNU memberikan ceramah sekaligus memberi arahan kepada pengurus NU dan Nadliyin untuk memahami sejarah NU serta mampu memberikan pemahaman maupun meningkatkan praktik amaliyah ibadah yang menjadi tradisi kuat di tubuh NU. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kiai Said juga menegaskan bahwa NU berkomitmen mempertahankan negara Indonesia sebagai darussalam (negara damai) bukan negara darul Islam. 

“Sebaiknya nanti tetap kembali ke Indonesia untuk membangun daerahnya masing-masing dan berbakti untuk bangsa,” pesan Kiai Said.  

Kepengurusan PCINU Malaysia yang digawangi oleh Ustadz Ihyaul Lazib, Ketua PCI Fatayat Rizki Makiyyah, dan Ketua PCI Pagar Nusa Malaysia Mohammad Zakki berserta jajaran kepengurusannya berkomitmen untuk menjaga dan mengembangkan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah serta tentunya menjadikan NU bermanfaat bagi masyarakat Indonesia di Malaysia. (Wahyu Hidayat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS

Buku Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya (2014) merupakan kelanjutan dari buku “Ideologi-Ideologi Pasca Reformasi” yang diterbitkan tahun 2012. Menurut penulisnya, As’ad Said Ali, kedua buku itu berangkat dari ambisi pribadnya untuk melakukan kajian menyeluruh tentang gerakan-gerakan radikal.

Buku Al Qaeda terdiri dari 9 bab yang dimulai dengan cerita mengenai pengalaman pribadi penulis saat bertugas sebagai pejabat Badan Intelijen Negara (BIN) di Timur Tengah pada 1982 sampai 1990. Selanjutnya penulis menyampaikan uraian panjang lebar mengenai ideologi kaum jihadi dan Al Qaeda secara khusus. Pertemuannya secara tidak sengaja dan perkenalannya dengan pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden menjadi titik poin tersendiri. As’ad Ali mencatat bahwa Perang Afghanistan sebagai sebuah permulaan terbentuknya jaringan jihad internasional dan mengenai gagasan pembentukan Al Qaeda. Penulis juga mengungkap pola pengorganisasiannya, serta operasi-operasinya pada tahap awal.

Bab 5 penulis menyampaikan uraian tambahan mengenai Jamaah Islamiyah dan hubungannya dengan Al Qaeda mengingat banyak orang salah kaprah, termasuk opini di sejumlah media, dalam memahami hubungan kedua organisasi ini. Bagaimana jaringan operasi dan rentetan aksi teror bom yang dilakukan Al Qaeda, disajikan dalam Bab 6 dan 7. Uraian dalam dua bab ini meliputi wilayah yang relatif luas, yakni Indonesia dan sejumlah negara di Asia Tenggara. Bab ini menggambarkan cukup menyeluruh mengenai operasi Al Qaeda di Asia Tenggara, dan bagaimana Asia Tenggara dijadikan pangkalan untuk menyerang sejumlah negara di kawasan lain.

Bab 8, merupakan bagian paling penting yang menyoroti generasi pasca Osama dan bagaimana dinamikanya. Osama tewas ditembak anggota pasukan elit Navy SEAL Amerika Serikat di Pakistan, pada Mei 2011. Pada bab ini penulis memulai pembahasan dengan menanyakan apakah setelah kematiannya itu, apakah Al Qaeda ikut hancur dan mati? Bagaimana dengan gerakan-gerakan jihad lainnya? Kenyataannya, kaum jihadi kini menemukan medan jihad baru di Syria, Iraq, dan kawasan Afrika. Bahkan telah lahir ISIS/ISIL (The Islamic State of Iraq and the Levant).

Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS

Bab terakhir, Bab 9 berisi uraian reflektif mengenai apa sesungguhnya penyebab Al Qaeda melakukan perlawanan global, dan mengapa akhirnya memilih cara kekerasan. Pada pagian epilog ini, penulis mengajukan rekomendasi, sebuah visi yang perlu dibangun untuk mengelola dan menciptakan perdamaian dunia. As’ad Said Ali yang juga Wakil Ketua Umum PBNU menilai bahwa masalah Al Qaeda sesungguhnya tidak bisa dipandang sekedar sebagai persoalan eksklusif negara semata. Atau lebih sempit lagi, urusan aparat keamanan. Al Qaeda adalah sebuah gerakan politik, dengan ideologi jihad yang kuat, mempunyai jaringan global dan skill militer. Visi politiknya terumuskan dalam sebuah kalimat yang sederhana: “menegakkan Islam dan melindungi kaum muslimin.”

Esensi ideologi Al Qaeda adalah jihad, dan pembentukan khilafah Islamiyah adalah suatu yang mutlak. Dengan ideologi seperti itu, kaum jihadi menyalahkan pemaknaan para ulama yang telah menjadi ijma’ selama berabad-abad, yang mengartikan jihad dalam arti qital (perang) hanyalah salah satu jenis saja dari jihad. Menurut As’ad, jihad yang lebih besar adalah mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Al Qaeda menganggap jihad qital (perang) adalah fardhu ‘ain, sebagai satu-satunya jihad yang berlaku mutlak sejak turunnya surat At Taubah. Sedangkan ayat-ayat lain, yang mengandung perintah jihad lainnya, telah terhapus. Ini berati, khususnya masalah jihad, Al Qaeda menganggap mayoritas umat Islam mengikuti ajaran yang salah.

Kaum jihadi juga beranggapan bahwa pembentukan khilafah islamiyah adalah mutlak. Mereka menilai agama Islam tidak bisa dilaksanakan dengan sempurna jika tidak melalui Daulah Islamiyah (pemerintah Islam). Dengan demikian terbentuknya Daulah Islamiyah akan menjadi menara api yang akan mengumpulkan kaum muslimin dari semua tempat menjadi satu kesatuan di bawah pemimpin khalifah, meskipun ? memang tidak ada kesatuan pandangan di kalangan mereka sendiri mengenai apa yang dimaksud khilafah. Namun doktrin kekhalifahan tersebut telah menghasilkan doktrin lanjutan lainnya yang menyeramkan, yakni pengkafiran terhadap umat Islam yang tidak mendukung prinsip kekhalifahan tersebut. Padahal, umumnya para ulama berpendapat bahwa kata-kata khalifah atau khilafah yang terdapat dalam Al-Qur’an berarti “kepemimpinan umat” dalam arti yang luas, tidak berarti model pemerintahan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu fakta menunjukkan bahwa negara-negara muslim masih banyak yang belum berhasil membangun sistem politik yang? dapat menggabungkan secara harmonis antara gagasan negara-bangsa dengan ajaran Islam. Barangkali baru sebagian saja yang berhasil. Itupun masih dalam proses, di antaranya adalah Indonesia dan sejumlah kecil negara Arab. Indonesia? adalah contoh unik, bagaimana para ulama madzhab (madhzab maslahat) khususnya, NU, Muhammdiyah dan ormas lainnya, bersama tokoh-tokoh nasionalis, Muslim maupun Non Muslim, mampu merumuskan suatu dasar negara yang secara esensial sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama. Bahkan dapat dikatakan pada basis prinsip-prinsip itulah negara ini ditegakkan atas dasar pesan moral rahmatan lil-‘alamin. Itulah Pancasila, sebuah rumusan cerdas mengatasi problem dikotomis, sekuler versus? teokrasi, yang dihadapi dunia Islam saat itu. Meski demikian, negara-negara yang relatif berhasil itupun kini dihadapkan dengan tantangan-tantangan barunya.

Penting dicatat, bahwa gerakan jihadis dan gerakan-gerakan ideologis Islam radikal lainnya, kelahirannya juga dirangsang oleh, dan sebagai respon atas, kekecewaan yang mendalam terhadap negerinya, yang dinilai telah terseret ke dalam situasi amoral, sekuler, libertarianisme dan semakin jauh dari cita-cita masyarakat teokratis. Sementara, kaum pembaharu Islam yang mulai berkibar menjelang runtuhnya khalifah Usmaniyah Turki, dinilai telah gagal membangun sistem politik yang memadai dengan situasi baru pasca perang dunia I. Derita Palestina dan sejumlah kawasan Islam lainnya, juga ditunjuk sebagai bukti bahwa penguasa-penguasa negeri muslim secara politik makin lemah dan kehilangan sikap independen; kemudian dicap sebagai thoghut yang mesti diperanginya.

Dengan demikian, dilihat dari sisi ini, secara moral lahirnya gerakan-gerakan radikal tidak dapat dipersalahkan. Sama halnya kita tidak dapat mempersalahkan lahirnya gerakan-gerakan liberal-sekuler. Keduanya adalah produk sejarah, yakni modernisasi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut As’ad, tugas penyelenggara negara dan kaum intelektual adalah menumbuhkan sistem politik yang mampu memperbaharui dirinya secara terus-menerus, untuk merespons kritik dan tuntutan-tuntutan baru yang juga terus lahir. Dalam kasus Indonesia, reformasi jangan justru menimbulkan disorientasi pada bangsa ini. Ini bukan sekedar persoalan membangun hubungan antara inisiatif pemerintah dengan partisispasi rakyat, atau bagaimana membangun tingkat kemampuan sistem politik mendorong proses perkembangan di bidang lain, namun semacam proses nation and character building dengan kedalaman dan dimensi yang lebih kekinian.

Data Buku

Judul : Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya

Penulis : DR H As’ad Said Ali

Penerbit : LP3ES Jakarta

Tahun : Cetakan I, September 2014

Tebal : xxvi + 438 hlm

ISBN : 978-602-7984-11-0

Harga : Rp. 80.000,-

Peresensi : A.Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba, Ahlussunnah, Halaqoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

PW IPNU IPPNU Jabar Cetak Muharik Organisasi

Karawang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Berangkat dari rasa tanggung jawab organisasi untuk menciptakan kader  yang memiliki kapasitas intelektualitas serta menjadi kader penggerak, Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdaltul Ulama (IPNU) dan PW Ikatan Pelajar Putri Nahldatul Ulama (PW IPPNU) Jawa Barat melaksanakan Pendidikan Pengkaderan Latihan Intsruktur (Latin) dan Latihan Pelatih (Latpel). 

PW IPNU IPPNU Jabar Cetak Muharik Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PW IPNU IPPNU Jabar Cetak Muharik Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PW IPNU IPPNU Jabar Cetak Muharik Organisasi

Kedua kegiatan berlangsung di Pondok Pesantren Arrohmah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, 22-25 Desember 2017. 

Ketua Pelaksana Sahrul mengatakan kegiatan diikuti 150 peserta dari 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat.

“Kader yang hadir juga merupakan kader-kader terpilih dan terbaik yang diutus dan diseleksi dari masing-masing cabang, sehingga kegiatan tersebut dijadikan momentum silaturahim gagasan dan konsolidasi gerakan IPNU IPPNU se-Jawa Barat,” kata Sahrul, Jumat (22/12).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia mengatakan banyak pembahasan yang menarik untuk merumuskan strategi gerakan ke depan.

“(Adanya) tugas dan tantangan, IPNU IPPNU dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan dan tren tanpa kehilangan jati diri sebagai IPNU dan IPPNU,” lanjut Sahrul.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua PW IPNU Jawa Barat, Ziad Ahmad mengatakan kegiatan ini sebagai wujud peneguhan dan keseriusan dalam menjalankan proses kaderisasi formal IPNU/IPPNU.

“Latihan Intruktur (Latin) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri (IPNU/IPPNU) sebagaimana kita pahami adalah fase pengkaderan instruktur untuk membangun dan memperkuat basis pengetahuan,” kata Ziad seraya menyebut tema kegiatan adalah Reaktualisasi Sistem Kaderisasi, sebagai Landasan untuk Mencetak Muharik Organisasi.

Menurut dia, alumni Latin diharapkan menjadi kader penggerak dengan indikator selalu siap mewakafkan dirinya untuk diterjunkan ke daerah-daerah.

“Serta memiliki kemampuan dan keterampilan dalam mengawal organisasi, mampu mengembangkan kualitas kepemimpinan, merancang strategi gerakan jangka pendek dan jangka panjang, memilik kematangan dalam pengetahuan, sikap dan organisasi,” harap Ziad. (Dudi Rahman/Kendi Setiawan)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, Halaqoh, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tiga Harapan PBNU terhadap PWNU DKI Jakarta

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Marsudi Syuhud mengungkapkan beberapa harapan PBNU terhadap PWNU DKI Jakarta yang melaksanakan konferensi wilayah (konferwil) pada 25-27 Maret 2016.

Tiga Harapan PBNU terhadap PWNU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Harapan PBNU terhadap PWNU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Harapan PBNU terhadap PWNU DKI Jakarta

Pertama, PWNU DKI diimbau bisa menciptakan program-program yang realistis tentang ke-NU-an. DKI Jakarta, sebagai Ibu kota negara dengan jumlah penduduknya lebih banyak daripada daerah lain, pada siang hari ada sekitar 13 juta jiwa dan malam hari 9 juta jiwa. Karena itu, NU DKI sebagai jendela NU seluruh Indonesia, perlu melakukan program-program nyata.

Program-program nyata itu antara lain hidupnya kepengurusan NU dari wilayah sampai ranting dan anak ranting. Pada tingkat anak ranting kepengurusan bisa berbasis masjid.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Syukur alhamdulillah kalau minimal di tingkat cabang mempunyai kantor permanen. Alhamdulillah kalau sampai MWC, minimal punya satu sekolah SMP atau Tsanawiyah. Di tingkat ranting ada SD atau TK. Atau kalau bukan sekolah ya rumah sakit. Kalau nggak rumah sakit ya adiknya rumah sakit (klinik-klinik, red) agar ada di kampung-kampung. Selain itu juga dilakukan amal sosial lainnya. Program ini harus diutamakan oleh siapa saja yang mencalonkan diri, untuk menghidupkan NU DKI,” papar Marsudi panjang lebar saat dihubungi Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal pada Jumat (25/3).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kedua, menurut Marsudi, adalah menghadirkan jaringan sosial kemasyarakatan. Di masjid-masjid agar diadakan lailatul ijtima atau tradisi pertemuan malam khas NU sebagai ajang konsolidasi dan pembahasan sejumlah persoalan. Di masjid-masjid NU hendaknya juga mencantumkan simbol NU. Ketiga, para dai atau ustadz-ustadz NU hendaknya menyampaikan materi ke-NU-an dalam ceramah mereka walaupun sedikit.

Mantan sekjen PBNU tersebut menambahkan, bila PWNU DKI Jakarta melakukan program-program tersebut, pasti akan sangat didukung.

Harapan tersebut agaknya sejalan dengan harapan banyak pihak. Dihubungi secara terpisah pada Selasa (22/3), ulama Betawi, KH Maulana Kamal Yusuf mengatakan, sudah semestinya di setiap ranting dan anak ranting ada plang NU.

Kiai yang juga termasuk anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Konferwil DKI Jakarta itu menjelaskan, adanya plang NU menandakan bahwa NU aktif dan berkiprah di mana-mana di DKI Jakarta. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Muslimat NU Malaysia Santuni Mustadh’afin Setempat

Kuala Lumpur, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Satu per satu badan otonom PCINU Malaysia mengadakan acara buka bersama. Muslimat NU Malaysia yang dipimpin Mimin Mintarsih memilih acara buka puasa bersama bareng janda dan anak yatim. Lepas buka puasa, Muslimat NU menyerahkan bantuan berbentuk santunan untuk Tunjangan Hari Raya (THR).

“Alhamdulillah kami mampu mengadakan acara buka bersama ini, yang sejatinya dipersiapkan dalam tiga hari saja,” kata Mimin dalam sambutan buka bersama Muslimat, Kamis (9/7) petang.

Muslimat NU Malaysia Santuni Mustadh’afin Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Malaysia Santuni Mustadh’afin Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Malaysia Santuni Mustadh’afin Setempat

Santunan diberikan kepada sepuluh anak yatim dan enam janda. “Semoga apa yang sudah diberi oleh para dermawan ini tidak langsung dibawa mereka (penerima THR) ke Pasar Malam, tapi dibelanjakan untuk keperluan yang bermanfaat pada hari raya nanti,” pesan Mimin kepada penerima THR.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sepuluh anak yatim dan lima janda ini dipilih dari kalangan yang sangat tidak beruntung dan berdomisili di daerah yang menjadi basis Muslimat NU.

“Kami ingin agar keberadaan Muslimat di daerah-daerah basisnya seperti Sungai Cincin, Changkat, dan daerah lainnya punya arti, dan membekas di hati masyarakat,” tutur Wakil Ketua Muslimat NU Malaysia Rosmiati yang ikut dalam perencanaan acara ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Seperti biasanya, pendanaan acara ini selain merupakan swadaya anggota Muslimat sendiri juga melibatkan Aura JPS Cargo.

“Kami juga sangat berterima kasih kepada pihak Aura JPS Cargo yang dalam acara ini, dan juga sebelumnya, sudah banyak membantu Muslimat NU,” tuturnya mengakhiri sambutan. (Aziz Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Pesantren Walisongo Selamatkan Lingkungan dan Sumber Air

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Masalah perubahan iklim dunia dan rusaknya lingkungan kini menjadi keprihatinan dunia. Upaya penyelamatan lingkungan telah menjadi agenda bersama yang dikoordinasikan secara global.



Pesantren Walisongo Selamatkan Lingkungan dan Sumber Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Walisongo Selamatkan Lingkungan dan Sumber Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Walisongo Selamatkan Lingkungan dan Sumber Air

Meskipun luput dari hiruk pikuk membicarakan masalah ini, Pesantren Walisongo di Tuban Jawa Timur telah menjaga dan merawat lingkungan sekitarnya agar tetap kondusif bagi kehidupan sejak lama.

KH Nur Nasroh, pengasuh pesantren dalam perbincangan dengan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal baru-baru ini menuturkan upaya penyelamatan lingkungan ini dilakukan sejak tahun 1977, jauh sebelum isu lingkungan ini bergulir.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Saat pesantren didirikan pada tahun 1977, saya langsung berfikir untuk menanm pohon. Saat itu hutannya masih rimbun, tapi saya sudah berfikir kalau pohonnya, yang waktu itu sudah berumur 60 tahun ke atas ditebang, kemudian tidak ada penanaman generasi baru, pasti akan gundul,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sampai saat ini sudah ada 440.6 hektar dengan 121.6 hektar milik pesantren dan 319 hektar di kawasan perhutani yang ditanami dengan pohon jati berkualitas super.

Ia menjelaskan satu pohon jati bisa dipanen antara umur 18-20 tahun, dan menghasilkan satu kubik kayu yang saat ini berharga 4 juta sehingga dalam 20 tahun, satu hektar yang berisi 416 bisa pohon menghasilkan uang sekitar 1.6 M rupiah.

Upaya penyelamatan mata air juga dilakukan bersama dengan pala Kesatuan Pemangku Hutan (KKPH) Parengan, Dandim setempat, pramuka, Perguruan Setia Hati, SMKN Kehutanan, juga CBP IPNU.

“Alhamdulillah sumber mata air yang asalnya tinggal 6 meningkat menjadi 14, namun, kita masih kehilangan tiga, tapi sangat mungkin yang tiga ini bisa kita pulihkan kembali di musim hujan ini,” terangnya.?

Pemulihan mata air memungkinkan masyarakat menanami lahannya sehingga masyarakat bisa bekerja dan tidak menjarah hutan.

“Andaikata beberapa ribu orang ini tidak bekerja, lalu masuk di hutan, kira-kira berapa ribu gibik akan habis. Dari 80 ribu orang penduduk disini kalau ngambil satu-satu sudah 80 ribu gibik. Ini adalah upaya kita bersama, dari NU, Gerakan Nasional Kehutanan dan Lingkungan (GNKL NU), dari Perum Perhutani, Administratur Perhutani Parengan sangat aktif dalam hal ini,” tandasnya.

Untuk saat ini, upaya yang sedang serius dikembangkan adalah pengembangan SMK Kehutanan sebagai upaya untuk melakukan kaderisasi sadar lingkungan sejak usia dini, yang nantinya diharapkan bisa mempengaruhi keluarganya dan lingkungannya.

Bekerjasama dengan KKPH Parengan, pesantren Walisongo juga aktif mensosialisasikan penanaman kembali ke sejumlah pesantren di Tuban dan sekitarnya. Sebanyak 20 ribu bibit pohon dikirimkan ke pulau Bawean untuk mencegah erosi.

Dalam setiap acara pesantren, termasuk temu alumni, upaya memelihara lingkungan ini terus disosialisasikan kepada sekitar 6000 alumni yang sebagian sudah memiliki pesantren yang sudah tersebar di Indonesia.

Atas kepeloporannya ini, KH Nur Nasroh yang juga pengurus PWNU Jawa Timur ini pernah mendapatkan penghargaan sebagai petani hutan terbaik (1986), juara nasional untuk penghijauan (1998), juara terbaik Lingkungan Hidup (2002) dan juara perintis lingkungan di Jatim (2004).

Pohon jati yang ditanamnya tahun 1977 kini sudah dipanen dan sudah bisa untuk memberangkatkan haji para santri yang berbakti pada pesantren.

Salah satu potensi yang sedang berusaha dikembangkan adalah pengembangan pohon kepuh. “Kalau menanam Jarak, ini kan hanya dapat minyaknya saja, tapi kalau kepuh, dapat minyak dan pohonnya juga dapat dipergunakan untuk bahan bangunan atau untuk keperluan lainnya. Kita harapkan pemerintah juga berfikir ke sana,” ujarnya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal PonPes, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock