Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Santuni Dhuafa, Pemuda Sendang Rogoh Kocek Pribadi

Indramayu, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Komunitas Pemuda Desa Sendang, Kecamatan Karangampel, Indramayu melakukan kegiatan santunan kepada para orang tua kurang mampu di wilayah RT 07. Santunan dilakukan Sabtu (13/1).

Untuk keperluan santunan para pemuda menggalang dana dari uang mereka sendiri. Mereka pun mendatangi langsung ke rumah warga dengan membawa amplop yang berisikan uang.

"Saya bersama teman-teman akan terus melakukan kegiatan ini. Agar masyarakat mempunyai kesadaran untuk saling membantu warga yang kurang mampu," kata Sarifudin, salah satu pemuda yang bergerak pada santunan itu.

Santuni Dhuafa, Pemuda Sendang Rogoh Kocek Pribadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Santuni Dhuafa, Pemuda Sendang Rogoh Kocek Pribadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Santuni Dhuafa, Pemuda Sendang Rogoh Kocek Pribadi

Ia juga mengatakan pentingnya nilai sosial dengan langkah-langkah yang positif, supaya masyarakat dapat tergerak untuk melakukannya.

"Langkah ini juga dapat mengaktifkan sinyal-sinyal positif kepada mereka di kemudian hari. Tetapi semua itu butuh proses. Dan perlu dilakukan terus menerus, hingga keadaan itu menjadi terwujud," kata dia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia mengatakan kegiatan serupa perlu terus di lakukan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Sedikit demi sedikit masyarakat juga akan tergerak ikut melakukannya. Baru kita akan sama sama merasakan nilai sosialitas itu sendiri," tandasnya.

Pelaksanaan santunan ini mendapat respons positif dari aparat desa setempat. Juru tulis Desa Sendang Sahidin menyatakan dukungannya kepada pemuda yang melaksanakan kegiatan itu. 

"Kegiatan ini sangat positif. Saya sangat bangga kepada mereka atas kegiatan santunan itu. Kedepannya harus terus diadakan, sebagai contoh baik untuk masyarakat," tuturnya.

Casri, salah satu penerima santunan terlihat senang menerima santunan tersebut. Ia pun mendoakan kepada generasi muda yang tergabung dalam pelaksanaan santunan tersebut.

"Saya ucapkan banyak terima kasih atas santunan ini. Dan semoga generasi muda menjadi orang-orang yang beradab," ungkapnya.

Sebelumnya Komunitas Pemuda Desa Sendang juga memberikan santunan kepada anak yatim pada malam tahun baru 2018. (Taryono/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Doakan Korban Pasuruan, Gus Dur Menangis

Pasuruan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sabtu (2/6) petang kemarin, mengunjungi kelurga korban tembak yang dilakukan Marinir di Desa Alastlogo Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Di depan ribuan warga yang menyambutnya, Gur Dur tampak menangis saat membaca doa tahlil untuk para korban meninggal.

Doakan Korban Pasuruan, Gus Dur Menangis (Sumber Gambar : Nu Online)
Doakan Korban Pasuruan, Gus Dur Menangis (Sumber Gambar : Nu Online)

Doakan Korban Pasuruan, Gus Dur Menangis

Gus Dur kembali lagi mengatakan insiden penembakan yang dilakukan oknum Marinir terhadap warga Desa Alastlogo adalah kasus besar. "Ini kasus besar yang harus kita menangkan,"katanya.

Atas insiden penembakan warga yang dilakukan Marinir, mantan ketua PBNU itu menegaskan akan menuntut PT Radjawali Nusantara Indonesia dan TNI AL lewat pengadilan Negeri Kabupaten Pasuruan.

Menurut Gus Dur tindakan  TNI AL menguasai tanah warga tidak sah, karena cara-cara pembelaiannya dilakukan denga cara kolusi. Begitu pula keberadaan PT RNI yang mengolah lahan tersebut sebagai usaha budidaya tanaman tebu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tindakan Marinir menmbaki warga. katanya, adalah tindakan yang salah dan melanggar hukum dan HAM. "Peluru yang dibeli dari uang rakyat kok digunakan untuk menemabaki rakyat,"katanya.

Dalam upaya penunutan hukum tersebut, Gur Dur mengaku telah menunjuk Prof Dr Machfudz MD sebagai ketua tim.

Ketua DPW PKB Jawa Timur Imam Nachrowi yang mendampingi Gus Dur menyebut pihaknya telah menyiapkan 23 pengacara yang dalam waktu dekat akan segera turun ke lapangan untuk melakukan pendampingan terhadap warga.(ant/sam)



Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Tanggulangi Radikalisme, Informasi Berbasis Tradisi Harus Diperkuat

Mataram, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Peneiti Senior The Wahid Institute, Ahmad Suaedy menyampaikan, bahwa paham dan gerakan radikalisme bisa ditanggulangi dengan memperbanyak pesan dan informasi berbasis tradisi. Memperkuat tradisi sangat penting untuk menumbuhkan kecintaan atas bangsa dan negaranya.

Hal demikian disampaikan oleh Suaedy sebagai narasumber dalam Workshop Metode dan Best Practice mengenai Countering Violent Extrimism (CVE), Rabu (9/9) di Hotel Golden Palace, Mataram, NTB.

Tanggulangi Radikalisme, Informasi Berbasis Tradisi Harus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanggulangi Radikalisme, Informasi Berbasis Tradisi Harus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanggulangi Radikalisme, Informasi Berbasis Tradisi Harus Diperkuat

“Tradisi harus diperkuat, bukan hanya mengemukakan dan menyebarkan informasi-informasi berbau kekerasan,” terang Suaedy.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, tradisi dapat memperkuat karena di dalamnya terdapat interaksi berbasis pluralitas atau keberagaman yang mampu menyatukan seluruh elemen bangsa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kalau sudah bersatu, intoleransi yang menjadi salah satu faktor utama munculnya radikalisme dapat dicegah,” katanya.

Dalam sesi pertama workshop bertopik ‘Intoleransi, Ekstremisme yang Menggunakan Kekerasan dan Terorisme di Indonesia’ ini mengahadirkan Pakar Psikologi Perdamaian UI, Dr Ichsan Malik, Aktivis Perdamaian yang juga mantan anggota Jama’ah Islamiyah, Ali Fauzi, Kepala Peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial, Solahudin Hartman, dan dari Portal Indonesia NGO, Ira Novita. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tokoh Adat Lampung dan Sunda Berbagi Tumpeng Keberagaman

Tanggamus,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Tokoh adat Lampung dari Pekon (Kampung) Gunung Tiga, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus, Lampung, Buya Sayuti Ibrahim dan tokoh adat Sunda, Suhadi AR berkenan berbagi tumpeng keberagaman yang diberikan Kasat Binmas Polres Tanggamus, AKP Djoko Sarianto pada Festival Bhinneka Tunggal Ika, Jumat (20/11).

Tokoh Adat Lampung dan Sunda Berbagi Tumpeng Keberagaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Tokoh Adat Lampung dan Sunda Berbagi Tumpeng Keberagaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Tokoh Adat Lampung dan Sunda Berbagi Tumpeng Keberagaman

"Ini simbol bahwa kita Indonesia, beragam tapi bukan persoalan," ujar Ajengan Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Teater Jabal Lampung WD Fatchurrochman Syam, di Tanggamus, Sabtu (21/11).

Bekerjasama dengan Gusdurian Lampung, Teater Jabal memperingati Hari Toleransi Internasional. Kegiatan antara lain memutar film dan mendiskusikan film "Bulan Sabit di Kampung Naga" karya sutradara M. Iskandar Tri Gunawan, didukung Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung, Persatuan Guru Nahdlatul Uama (Pergunu) dan Hipsi Lampung, IPNU, Yayasan Nurul Falah dan LP Maarif NU Tanggamus, serta Yayasan Shuffah Blambangan Umpu, dan Alumni BPUN Waykanan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Mari kita kawal keberagaman yang indah ini bersama-sama," kata Fatchurrochman lagi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain tokoh adat, tokoh agama KH Junaedi AR, Bc. Hk, Pengasuh YPIPP Nurul Falah Kabupaten Tanggamus, dan Romo Yosef Wiyoto, tokoh agama Katholik dari Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu juga berkenan saling menyuapi nasi tumpeng keberagaman.

"Bhinneka Tunggal Ika membuat kita nyaman. Membuat suasana aman dan nyaman ialah tugas kita," ujar AKP Djoko. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Kader Ansor Bersatu Aktif untuk NU dan Indonesia

Way Kanan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Pakuan Ratu Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung memperingati hari lahir (harlah) ke 82 tahun pemuda Nahldatul Ulama (NU) atau Ansor dengan menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) V di Pesantren Al-Falakhussadah asuhan Kiai Zainal Maarif.

Ketua PAC Ansor Pakuan Ratu, Bakti Gozali di Blambangan Umpu, Ahad (16/4) menjelaskan, tema kegiatan berlangsung 22-24 April 2016 tersebut ialah "Semangat Persatuan Menuju Kader Ansor yang Kuat, Aktif, Interaktif, dan Senantiasa Komitmen Menjaga Keutuhan NU, Amaliyah NU dan Setia pada NKRI".?

Kader Ansor Bersatu Aktif untuk NU dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Bersatu Aktif untuk NU dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Bersatu Aktif untuk NU dan Indonesia

"Insyaallah ada 86 calon kader Ansor dari Kecamatan Pakuan Ratu, Negeri Agung, Negara Batin dan Gunung Labuhan mengikuti PKD," ujar Bakti didampingi Kasatkoryon Eko Sugiyanto.

Ia melanjutkan, intruksi Pimpinan Cabang Ansor Way Kanan dipimpin Gatot Arifianto meminta kegiatan dilakukan untuk memperingati harlah ke-82 organisasi pemuda NU yang berdiri 24 April 1943 supaya tidak melulu seremonial.

Berbuat, merawat, mengembangkan organisasi lebih bermakna, maslahat dan jelas. Itulah hakikat berorganisasi dan pembuktian mencintai Ansor. Organisasi harus berjalan, menatap ke depan. Organisasi tidak memerlukan perkataan semata, namun juga perbuatan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Gerakan Pemuda Ansor merespon semangat pemuda berasal dari beberapa kecamatan di Kabupaten Way Kanan yang ingin bergabung dengan Ansor. Semangat tersebut kami sambut baik dengan menggelar PKD," kata Bakti lagi.

Penyelenggaran PKD V tersebut merupakan gagasan PAC Ansor Pakuan Ratu yang selaras dengan PC Ansor Way Kanan. Merupakan gerbang awal pemuda daerah itu untuk menjadi kader Ansor.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Selain itu guna membekali calon-calon generasi muda NU lebih kuat secara aqidah keislaman dan paham terhadap ke-Nahdlatul Ulamaan serta membekali kader dengan kreativitas dan kewirausahaan," demikian Bakti Gozali. Disisi Saidi Fatah. Red Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Warta, PonPes Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur

Oleh : Ahmad Ali Adhim



Pengasuh Pesantren Sunan Drajat Lamongan yang keturunan Kanjeng Sunan Drajat (Raden Qosim) ke-14 ini selalu mempunyai ciri khas tersendiri dalam mensyiarkan agama Islam. Beliau adalah Prof. Dr. KH Abdul Ghofur. Beberapa kali putra H. Marthokan ini mendapat gelar doktor honoris causa dari universitas dalam dan luar negeri karena pengabdian nya yang luar biasa untuk masyarakat, seperti penganugerahan Doktor HC di bidang Ekonomi Kerakyatan dari American Institute of Management Hawaii, Amerika. Tanpa melalu proses belajar di kampus beliau berhasil meneliti “Khasiat Buah Mengkudu dan Pelestarian Tanaman” akhirnya Beliau juga mendapat gelar professor. 

Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur (Sumber Gambar : Nu Online)
Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur (Sumber Gambar : Nu Online)

Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur

Pesantren peninggalan Wali Songo yang nyaris terkubur oleh sejarah itu, kini di bawah asuhan Kiai Abdul Ghofur memiliki kurang lebih 12.000 santri. Rasanya hal itu sebanding dengan proses belajar Kiai Abdul Ghofur, jika kita runtut kembali melihat riwayat pendidikan yang pernah beliau tempuh. Pada masa mudanya beliau Menghabiskan waktu belajarnya di Pondok Pesantren Denanyar – Jombang, Pondok Pesantren Kramat dan Sidogiri di Pasuruan, Kemudian melanjutkan mondoknya di Pondok Pesantren Sarang, Rembang dalam asuhan KH Zubair, lanjut ke Pondok Pesantren Lirboyo, Pesantren Tretek, Pesantren Roudhotul Qur’an Kediri. Sempat menimba ilmu juga di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo.

Pengalaman beliau sebagai kiai yang setiap hari menjadi tempat keluh kesah berbagai permasalahan kehidupan masyarakat, membuat beliau menarik kesimpulan bahwa pendidikan di pesantren merupakan ruang belajar yang terbaik. Selain tidak terpengaruh pergaulan bebas, seks bebas, dan narkoba, pesantren juga menjadikan seseorang selain mendapat ijazah resmi dari negara juga menjadikan seseorang bisa mengaji (baik Al-Qur’an maupun kitab kuning), berceramah agama dan berkhutbah, memimpin doa, kemampuan-kemampuan keahlian keagamaan lainnya yang berguna saat terjun di masyarakat nanti. Pendidikan di pesantren yang tidak bisa terlepas dari budaya ngantri, jauh dari orang tua, makan yang dibatasi, jam tidur yang singkat, dan padatnya kegiatan yang harus diikuti akan membentuk pribadi yang sabar, sederhana, rendah hati, peduli, ikhlas, rajin, disiplin, hemat, bersahaja, santun, dan beradab.

Manfred Ziemek (seorang ahli sosiologi) telah mengutip pendapat Kalnia Bhasin dan mengemukakan rumusan secara sederhana, di sini secara umum tujuan pendidikan pesantren adalah ditujuan untuk mempersiapkan pimpinan-pimpinan akhlak dan keagamaan. Setelah proses pembelajaran di bangku sekolah selesai diharapkan para santri akan pulang ke masyarakat mereka sendiri untuk menjadi pimpinan yang tidak resmi dari masyarakatnya. Rumusan tujuan pendidikan pesantren di atas merupakan sintesa dari beberapa tujuan pendidikan pesantren yang pernah dikunjungi Klania Bhasin. Rumusan tujuan tersebut ada titik temunya jika dikomparasikan dengan ayat Al-Qur’an yang artinya: “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan pada kaumnya apabila mereka kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (Q.S. At-Taubah: 122)

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, maka dalam merumuskan tujuan atau cita-citanya tentu saja mengarah kepada nilai-nilai Islam, baik rumusan tersebut secara formal atau hanya berupa slogan-slogan yang didawuhkan oleh pengasuh pesantren. Jika mengacu pada buku yang diterbitkan Dirjen Bimbaga Islam Depag RI, 1984/1985, hal. 6-7, di situ sangat jelas bahwa misi awal Proyek Pembinaan dan Bantuan kepada pondok pesantren, Dalam Standarisasi Pengajaran Agama di Pondok Pesantren menuju suatu lokakarya intensifikasi pengembangan pendidikan pondok pesantren bulan Mei 1987 di Jakarta telah merumuskan beberapa tujuan institusional pendidikan pesantren yang salah satunya secara khusus bertujuan untuk mendidik santri dan anggota masyarakat agar menjadi Muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, keterampilan, sehat lahir dan batin sebagai warga negara yang berpancasila. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rupanya untuk mencapai tujuan mulia itu, KH Abdul Ghofur memilih jalur Thoriqoh Pendidikan. Bagaimanakah konsep Thoriqoh Pendidikan yang ditawarkan oleh beliau? Dalam kitab Al-Ma’arif Al-Muhammadiyah Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku jalan (thoriqoh) terdekat kepada Allah yang paling mudah bagi hamba-hambanya dan yang paling utama bagi Allah!” Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi ketika di muka bumi masih terdapat orang yang mengucapkan lafadz “Allah”.”

Imam Ghazali dalam karyanya Muroqil Ubudiyah fi Syarhi Bidayatil Hidayah menjelaskan arti kata thariqah dalam kalimat aktif, yakni melaksanakan kewajiban dan kesunatan atau keutamaan, meninggalkan larangan, menghindari perbuatan mubah (yang diperbolehkan) namun tidak bermanfaat, sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari hal-hal yang tidak disenangi Allah dan yang meragukan (syubhat), sebagaimana orang-orang yang mengasingkan diri dari persoalan dunia dengan memperbanyak ibadah sunah pada malam hari, berpuasa sunah, serta menghindari kata-kata yang tidak beguna.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Annemarie Schimmel (Seorang ahli dalam bidang mistisisme Islam) dalam karyanya Mystical Dimensions of Islam (USA: The University of North Carolina Press, pada tahun 1975, halaman 98, ia mengartikan thoriqoh dengan istilah: “The tariqa, the “path” on which the mystics walk, has been defined as “the path which comes out of the sharia, for the main road is called shar‘i, the path, tariq.” This derivation shows that the Sufi’s considered the path of mystical education a branch of that high -way that consists of the God-given law, on which every Muslim is supposed to walk. No path can exist without a main road from which it branches out ; no mystical experience can be realized if the binding injunctions of the shar’ia are not followed faithfully first. The path , tariqa, however, is narrower and more difficult to walk and leads the adept—called salik, “wayfarer”—in his suluk, “wandering,” through different stations (maqam) until he perhaps reaches, more or less slowly, his goal, the perfect tauhid, the existential confession that God is One.”

Definisi tersebut memberi gambaran bahwa thoriqoh adalah jalan khusus bagi salik (penempuh jalan ruhani) untuk mencapai kesempurnaan tauhid, yaitu ma’rifatullah. Jalan yang diambil oleh para sufi berasal dari jalan utama, syariat. Dijelaskan oleh Carl W. Ernst seorang spesialis dalam studi Islam, dengan fokus di Asia Barat dan Selatan dalam bukunya Ajaran dan Amaliah Tasawuf yang diterjemahkan oleh Arif Anwar pada tahun 2003 hal 153. Adapun thoriqoh dalam bentuk institusi baru muncul pada abad 11. Awalnya merupakan gerakan bersifat privat yang dilakukan oleh orang-orang yang sepaham pada awal-awal masa Islam, akhirnya tumbuh menjadi suatu kekuatan sosial utama yang menembus sebagaian besar masyarakat Muslim.

Dalam Al-Qur’an sendiri, misalnya jika ditinjau dalam surat Al-Jin Ayat 16, kita akan menemukan penjelasan seperti ini “Dan jika manusia tetap pada suatu thoriqoh, pasti mereka akan mendapatkan air yang menyegarkan. Sedangkan dalam bidang tasawuf seringkali dikenal istilah thoriqoh, yang berarti jalan untuk mencapai keridhoan Allah SWT. Dengan pengertian ini bisa digambarkan, adanya kemungkinan banyak jalan, sehingga sebagian sufi mengatakan “jalan menuju Allah itu sebanyak hitungan nafas makhluk”, aneka ragam dan bermacam-macam.

Untuk memahami seperti apakah thoriqoh pendidikan yang dimaksud oleh Kiai Abdul Ghofur, kita bisa mengingat kembali bahwa Ibnu Abdil Barr pernah meriwayatkan satu hadits yang artinya seperti ini ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. Dalam Hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi Rasulullah pernah bersabda ”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang”. Kedua Hadits itu sudah sangat jelas bahwa menuntu ilmu (proses dalam pendidikan) adalah suatu jalan yang harus kita tempuh.

Kiai Abdul Ghofur dalam ceramahnya pernah menyampaikan “Aku wakafkan hidupku untuk pendidikan, dan thoriqohku adalah pendidikan.” Dapat kita fahami bersama, beliau sangat peduli terhadap pendidikan, karena bagi beliau “pendidikan” akan menjadikan manusia dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak tahu menjadi tahu. Bila kita merujuk pada tujuan pendidikan di negara kita seperti yang tercantum dalam undang-undang nomor 12 tahun 1954, terutama pasal 3. Tujuan pendidikan dan pengajaran, ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Mengusung misi yang sangat mulia seperti itu kenapa perhatian pemerintah terhadap pendidikan pesantren tidak begitu serius? Kiai Abdul Ghhofur sangat prihatin kenapa pesantren dijadikan pilihan kedua bahkan terakhir oleh banyak para orang tua dalam memilih pendidikan bagi anaknya?

Padahal tujuan pendidikan pesantren (Islam) sudah sangat jelas. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Addin bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan untuk mencari kedudukan yang menghasilkan uang. Seperti itulah ajaran-ajaran yang diberikan dalam pesantren. Karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan pada mendekatkan diri kepada Allah SWT, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian, dan permusuhan.

Konteks yang lebih menarik dari pengertian tujuan pendidikan adalah bagaimana kita melawan kebodohan dan kemalasan yang ada dalam diri kita. Sebagaimana dawuh Kiai Abdul Ghofur “Sekarang sudah bukan masanya berjihad dengan peperangan, akan tetapi yang lebih tepat adalah berjihad melawan kemalasan dan kebodohan, yaitu dengan cara memperbanyak beribadah, serius dalam belajar.”

Begitu agung dan bijaksana nasihat yang telah beliau berikan kepada kita, seakan-akan beliau mengajak kita semua untuk membuat “negara pondok pesantren“. Dimana semua pendidikan di negara ini berbasis pondok pesantren. Serta semua pemimpin dan pejabatnya sebisa mungkin harus lulusan pondok. Karena bagi beliau, dengan memiliki pemimpin lulusan pondok pesantren, maka Insya Allah negara kita akan menjadi negara yang sejahtera, religius, dan bebas korupsi. Seperti itulah Konsep Thoriqoh Pendidikan yang dikembangkan di Pondok Pesantren Sunan Drajat oleh KH Abdul Ghofur, kurang dan lebihnya hanya Allah SWT dan Kiai Abdul Ghofur yang tahu.





Penulis, mahasiswa Manajemen dan Kebijakan Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, IMNU, Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Hari Ini Ketum PBNU Serahkan Bantuan Senilai Rp. 505 Juta Pascagempa Aceh

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dijadwalkan mengunjungi warga pengungsi terdampak gempa bumi di Pidie Aceh, hari ini, Rabu (14/12). Selain silaturahmi dan berdialog dengan warga, kunjungan Kang Said ini diadakan dalam rangka penyerahan bantuan NU senilai total Rp. 505.000.000,-.

Kang Said hadir bersama Wakil Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Sekjen PBNU H Ahmad Helmy Faishal Zainy.

Hari Ini Ketum PBNU Serahkan Bantuan Senilai Rp. 505 Juta Pascagempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Ini Ketum PBNU Serahkan Bantuan Senilai Rp. 505 Juta Pascagempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Ini Ketum PBNU Serahkan Bantuan Senilai Rp. 505 Juta Pascagempa Aceh

Perolehan dana senilai itu adalah sumbangan warga NU dan masyarakat umum melalui NU Care Lazisnu. Rinciannya adalah Rp. 205.000.000,- berupa paket barang, obat-obatan, dan layanan kesehatan; serta bantuan perbaikan sarana masjid, sekolah, dan pondok pesantren yang terdampak bencana senilai dan Rp. 300.000.000,-.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Bantuan ini berasal dari 398 donatur termasuk dari NU Care Lazisnu Taiwan senilai Rp. 34.091.000,-.

Ketua NU Care Lazisnu Syamsul Huda menyampaikan apresiasi atas kepercayaan masyarakat yang menyalurkan bantuan melalui NU Care Lazisnu.

"NU Care Lazisnu berterima kasih kepada Kiai Said yang telah memotivasi seluruh pengurus NU untuk memberikan bantuan. Selain itu kepada masyarakat Indonesia di Taiwan, kami mengucapkan banyak terima kasih," kata Syamsul, Rabu (14/12) pagi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara Ketua LKNU Hisyam Said Budairi mengatakan, NU dalam konteks penanggulangan bencana berperan untuk membantu meringankan warga terdampak. Dalam hal ini NU perlu menggerakkan semua potensi yang ada dalam tubuh organisasi.

"LKNU sebagai bagian dari NU, dengan senang hati membantu PBNU dalam membantu masyarakat terdampak bencana. Ini merupakan bentuk hidmat LKNU kepada NU, dan khidmat NU untuk masyarakat," tutur Hisyam.

Senada dengan itu, Ketua LPBINU M Ali Yusuf menuturkan LPBINU bangga dan senang dapat terlibat dalam penanggulangan bencana gempa Aceh.

"Kerja sama LPBINU, LKNU, dan NU Care Lazisnu bukan pertama kali. Tentu ini sangat baik karena selama ini ada sebagian pihak yang beranggapan bahwa bantuan kemanusiaan bukan bagian ibadah mendasar yang diperjuangkan NU," ujar Ali. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock