Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

GP Ansor Merauke Fasilitasi Pembentukan Ikatan Muslim Marind

Merauke,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Merauke, Papua di Rumah Kediaman memfasilitasi pembentukan Ikatan Muslim Marind (suku bangsa asli Merauke) di kediaman Maliha Arsyad Basik-Basik di Gudang Arang, Kelurahan Kamahe Doga.

Kegiatan yang berlangsung akhir Ramadhan atau 4 Juli lalu tersebut, secara aklamasi terpilih Burhanuddin Zein sebagai ketua dan Jumat Dambujai sebagai sekretaris.

GP Ansor Merauke Fasilitasi Pembentukan Ikatan Muslim Marind (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Merauke Fasilitasi Pembentukan Ikatan Muslim Marind (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Merauke Fasilitasi Pembentukan Ikatan Muslim Marind

Burhanuddin Zein adalah pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Idonesia (PMII) di Kabupaten Merauke. Saat ini tercatat sebagai Ketua Majelis Pembina PMII dan Sekretaris Dewan Penasehat PC GP Ansor Kabupaten Merauke.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pembentukan Ikatan Persaudaraan Muslim Marind untuk lebih meningkatkan dan mempersiapkan SDM Muslim Marind untuk mampu mengambil peran terdepan dalam pembangunan di tanah Marind, Merauke dan Papua Selatan. (Syahmuhar M Zein/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi

Jakarta,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Fenomena keagamaan mutakhir, menunjukkan gejala semakin mengerasnya kelompok Muslim radikal. Kelompok-kelompok Islam yang melakukan aksi politik dengan simbol agama, mengabaikan tradisi-tradisi yang selama ini menjadi strategi dakwah.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siroj mengungkapkan betapa pergerakan ormas-ormas Islam yang menyingkirkan tradisi, melupakan sejarah panjang dakwah Islam di negeri ini.

Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi

Hal ini, disampaikan Kiai Said, menjelang Peringatan Harlah Nahdlatul Ulama, di kantor PBNU, Jakarta, pada Sabtu (28/01/2017). Peringatan Harlah NU akan diselenggarakan pada 30-31 Januari 2017.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Mereka yang berdakwah dengan kekerasan dan memusuhi seni budaya, lupa dengan sejarah hadirnya Islam di bumi Nusantara. Dakwah Wali Songo dengan cara damai, menggunakan rasa dan seni. Medianya berupa wayang dan suluk-suluk yang menguatkan rasa," ungkap Kiai Said.

Menurut Kiai Said, memahami cara dakwah Wali Songo, harus bertahap hingga komprehensif. "Dakwah para wali itu merangkul, bukan memukul. Misalnya, mereka yang suka slametan diajak slametan dulu, yang kemudian diisi dengan ritual Islam, membaca ayat-ayat Al-Quran dan shalawat. Wayang juga sama, ada pesan tentang syahadat dan ajaran Islam," jelas Kiai Said.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kiai Said berpesan, agar pendakwah Islam haruslah belajar dari Wali Songo. "Strategi Wali Songo dan kiai-kiai pesantren berhasil mengislamkan orang kafir. Ini sudah terbukti. Bukan malah mengkafir-kafirkan orang," terang Kiai Said.

Dalam uraiannya, Kiai Said menjelaskan tentang pentingnya fiqih, akhlak dan tasawuf sebagai rangkaian yang tidak bisa putus.

Menurut Kiai Said, dengan memahami hukum Islam, teladan sikap Rasulullah dan puncak spiritualitas, maka Islam akan menjadi agama yang sejuk dan ramah, bukan agama yang mengerikan. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja

Sumenep, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Buku tentang sejarah NU Sumenep yang berjudul Dinamika NU Sumenep Dalam Lintasan Masa dibedah di aula Yayasan Al-Arief Jate, pulau Giliraja, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep, Ahad (17/4).?

Buku yang ditulis Ach Taufiqil Aziz itu membahas tentang proses masuknya NU ke Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur serta perkembangan NU dalam setiap masa di daerah ujung timur pulau garam tersebut.

Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja

Dalam acara yang diselenggarakan Ikatan Alumni Yayasan Al-Arief (Ikayasrif) itu, penulis buku memaparkan pentingnya memahami perkembangan NU lokal.?

"Ini juga supaya kita mengetahui lebih detail ternyata peran kiai kampung sebenarnya sangat besar dalam mengembangkan NU di Sumenep," ujar Ach Taufiqil Aziz, penulis buku saat menjelaskan di depan puluhan hadirin.

Ia menambahkan, dalam buku yang ditulisnya itu, dirinya juga ingin membukukan perjalanan NU di daerahnya. "Karena buku ini, buku pertama yang mengupas sejarah NU Sumenep," tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Kiai Sutarman, Pengasuh Pesantren Al-Arief mengatakan, buku tersebut akan sangat berguna bagi warga NU. "Kita harus tahu NU dengan baik, termasuk sejarahnya. Biar tidak hanya ikut-ikutan," katanya saat memberikan sambutan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Romza, Ketua Ikayasrif mengaku ingin meleburkan tradisi literasi di daerahnya. "Bedah buku salah satu upaya kami menggerakkan tradisi itu (bedah buku, red)," tandasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, Nahdlatul Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Kemenag Terus Lakukan Penyempurnaan Terjemah Al-Qur’an

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?



Terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama telah mengalami penyempurnaan sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1967. Pgs Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Muchlis M Hanafi mengatakan, Terjemah Al-Qur’an Kementerian Agama mengalami penyempurnaan pertama kali pada tahun 1989.

Sedangkan penyempurnaan terakhir dilakukan pada tahun 2002 dan sampai sekarang masih dipergunakan. “Penyempurnaan terjemah Al-Qur’an merupakan sebuah kebutuhan, untuk merespon perkembangan masyarakat, terutama terkait dengan pemahaman masyarakat,” ujar Muchlis M Hanafi pada Seminar Hasil Penelitian Penggunaan Terjemah Al-Qur’an Kementerian Agama di Masyarakat, Jakarta, Selasa (8/8) sebagaimana dilansir kemenag.go.id.

Kemenag Terus Lakukan Penyempurnaan Terjemah Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Terus Lakukan Penyempurnaan Terjemah Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Terus Lakukan Penyempurnaan Terjemah Al-Qur’an

Alasan perlunya penyempurnaan terjemah Al-Qur’an, lanjut Muchlis, yaitu untuk merespon perkembangan dinamika di masyarakat dan berkembangnya Bahasa. “Jadi kita perlu menyesuaikan dari perkembangan tersebut. Maka dari itu, kita mengundang Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk ikut serta mencermati terjemahan Al-Qur’an dari sisi tata bahasa,” katanya.

“Sejak tahun anggaran 2016, LPMQ telah memulai kegiatan penyempurnaan terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama,” sambungnya.

Muchlis M Hanafi memperkirakan penyempurnaan terjemah ini akan selesai pada tahun 2019. Sebab, proses saat ini belum sampai setengah jalan. Di samping itu, masih ada satu mekanisme lagi yang ? tidak hanya selesai di tingkat tim penyempurna karena harus dilakukan ? uji publik. ? Proses itu akan dilakukan pada Forum Musyawarah Ulama Al-Qur’an yang mengundang ulama dan pakar Al-Qur’an.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Dummi yang sudah disusun oleh tim akan diserahkan kepada para ulama pakar Al-Qur’an dan bila selesai baru disebarkan ke masyarakat. Hal ini perlu hati-hati dalam penerjemah Al-Qur’an,” ucap Muchlis M Hanafi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Seminar ini dibuka Kepala Badan Litbang dan Diklat Keagamaan Abd Rahman Mas’ud. Seminar ini dihadiri 75 peserta yang berasal dari berbagai unsur baik peneliti LPMQ, unsur masyarakat, perguruan tinggi, serta dari unit-unit Eselon 1 di Kementerian Agama.

Sebagai narasumber pada acara tersebut yaitu ? Prof Muljani A Nurhadi, M.Ed, M.S dan Dr. Moch. Syarif Hidayatullah (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Dr.H. Muchlis M. Hanafi dan H. Abdul Aziz Sidqi,M.Ag (LPMQ), ? serta H. Jamaluddin M Marki,Lc, M.Si dari Bimas Islam. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, IMNU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Syukuri Kemerdekaan, GP Ansor Kota Bondowoso Gelar Pelatihan Ekonomi

Bondowoso, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?

Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kota Bondowoso menggelar tasyakuran kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 Tahun dengan mengadakan Pelatihan Ekonomi Kreatif.

Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama dengan para mahasiswa Universitas Jember yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Balai Desa Pejaten, Kecamatan Kota Bondowoso, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Sabtu (19/8). Pada kesempatan itu diselipkan pelantikan Pengurus Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor untuk desa Pejaten.

Syukuri Kemerdekaan, GP Ansor Kota Bondowoso Gelar Pelatihan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Syukuri Kemerdekaan, GP Ansor Kota Bondowoso Gelar Pelatihan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Syukuri Kemerdekaan, GP Ansor Kota Bondowoso Gelar Pelatihan Ekonomi

Ketua PAC Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kota Bondowoso Mustakim mengatakan bahwa pelatihan ekonomi kreatif ini semata-mata ingin berupaya memberikan hal yang menjadi urusan keseharian anggota, yaitu bidang prekonomian.

Ia berjanji kepada para perserta pelatihan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut akan terus diadakan untuk meningkatkan ekonomi di desa itu.

Senada dengan Mustakim, Ketua GP Ansor Bondowoso Muzammil mengatakan, kegiatan semacam itu juga akan ditingkatkan Pimpinan Cabang dengan memfasilitasinya. Untuk tujuan itu, PC CP Ansor akan bersinergi dengan pemerintah melalui dinas terkait, baik dari Dinas Ketenagakerjaan maupun Diskoperindag.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Inssyaallah akhir bulan ini atau bulan depan Gerakan Pemuda Ansor akan melaksanakan palatihan ternak unggas yang akan dilaksanakan di balai latihan kerja kabupaten Bondowoso," terangnya.

Kegiatan semacam itu, menurut dia, adalah upaya Gerakan Pemuda Ansor berkontribusi dalam mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.?

Edi Susanto yang mewakili Kepala Dinas Diskoperindag meminta GP Ansor untuk terus meningkatkan ekonomi anggota dan masyarakat secara umum.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kami dari Diskoperindag selalu mendukung kegiatan-kegiatan Pemuda Ansor yang sesuai dengan tupoksi-tupoksi bagi kita," jelasnya pada kegiatan yang dihadiri Polsek Kota, Kades Pejaten, dan MWCNU Kota itu. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Nahdlatul, Humor Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Sejarah Ilmu Nahwu

Oleh Syafiq Hasyim

Sejarahwan dan sosiolog Muslim, Ibn Khaldun pernah berkata, “Dengan ilmu nahwu dasar-dasar syariah menjadi tampak jelas. Diketahuilah beda antara f?il dari maf?l dan mubtada? dari khabarnya. Jika nahwu itu tidak ada maka maka gelaplah maksud syariah.”

Minggu lalu saya ungkapkan tentang urgensi penguasaan ilmu Nahwu untuk meningkatkan kualitas diskursus keberagamaan Islam kita di ruang publik. Kali ini saya akan mulai berbicara tentang ilmu itu sendiri, yaitu dimulai dengan pembahasan atas pertanyaan, “Kapan sesungguhnya ilmu nahwu ini bermula dan bagaimana hubungannya dengan tradisi awal Islam?”

Sejarah Ilmu Nahwu (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Ilmu Nahwu (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Ilmu Nahwu

Sejarah awal ilmu nahwu dapat dilacak melalui istilah Arab al-la?n, kebiasaan orang Arab berbicara salah secara tata bahasa (grammatical). Lalu pertanyaannya, mungkinkah seorang penutur bahasa asli (native) melakukan kesalahan tata bahasa atas bahasanya sendiri? Sangat mungkin dan itu terjadi sejak zaman dulu. Ab? ?ayyib pernah mensinyalir jika kesalahan gramatik biasa terjadi pada orang Arab pedalaman, kalangan pekerja kelas bawah (budak sahaya) dan orang yang terarabkan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sahabat Abu Bakar pernah berkata jika dia lebih senang mendengar orang membaca meskipun salah daripada orang yang melakukan kesalahan gramatikal. Tidak hanya Abu Bakar, sahabat Umar bin Kha?b juga sering menjumpai orang-orang di sekitar dia yang berbahasa Arab dengan tata bahasa yang salah dan terkadang membuatnya marah. Misalnya, Umar suatu saat pernah berkata, “Sungguh demi Allah, kesalahan kalian dalam berbahasa lebih berbahaya bagiku daripada kesalahn kalian dalam memanah, Wall?hi lakha?a’ukum fi lis?nikum ashaddu ?alayya min kha?a?ikum fi ramyikum.” Ibn Qutaybah pernah mendengar orang pedalaman Arab azan dimana dia membaca nasab (fathah) pada lafal “ras?la,”dari kalimat komplit, “ashhadu anna muhammadar ras?lall?h.”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hal di atas adalah sekadar contoh dari sekian banyak riwayat-riwayat lain yang menceritakan mengapa tata bahasa Arab (ilmu Nahwu) itu sudah menjadi perhatian sejak zaman Rasulullah masih hidup. Dunia Arab sebelum al-Qur’an turun sudah mencapai kemajuannya dalam bidang sastra. Karenanya, al-la?n di sini tidak identik dengan kemajuan sastrawi itu, tapi dengan keharusan berbahasa Arab secara benar, berdasarkan hukum-hukum dasar bahasa yang disepakati. Para sahabat Nabi merasa prihatin dengan al-la?n ini karena dampaknya bisa merusak ajaran Islam.

***

Dengan demikian, ilmu nahwu berdasarkan riwayat-riwayat yang diungkapkan di atas gejalanya sudah muncul pada masa awal-awal sejarah Islam. Iraq adalah kawasan dimana ilmu nahwu mulai menemukan identitasnya yang agak jelas. Dari Iraq kemudian berkembang ke kawasan lain sesuai dengan perkembangan Islam sebagai agama baru pada saat itu.

Lalu bagaimana kongkritnya tema-tema nahwu itu disusun?

Pendapat tentang hal ini di kalangan sejarahwan Nahwu terbelah ke dalam dua kelompok. Pertama, mereka yang berpandangan jika tema-tema nahwu itu dibentuk dari peristiwa-peristiwa kesalahan gramatika masyarakat Arab sendiri. Dari peristiwa-peristiwa al-la?n ini kemudian berkembang pada tema-tema bahasan lain. Pendapat demikian adalah yang dipegang oleh kalangan mayoritas ulama nahwu.

Kedua, mereka yang berpandangan jika tema-tema awal nahwu itu dibangun atas dasar pemikiran (istinb?t), bukan atas dasar kesalahan gramatik yang terjadi di lapangan. Bahan dasarnya adalah prinsip-prinsip umum berbahasa untuk menolak terjadinya kesalahan gramatik di kalangan masyarakat Arab saat itu. Meskipun golongan kedua ini agak siantifik, namun tidak kuat riwayatnya.

Berdasarkan dua hal ini maka sejarah pembentukan ilmu Nahwu berasal dari kawasan Arab. Hal ini sekaligus juga untuk membantah beberapa pendapat para pemikir Eropa yang menyatakan jika ilmu nahwu terbentuk setelah ada persentuhan dengan tradisi Syiriac (Suryani) dan Yunani. Para pemikir Eropa berpendapat demikian karena Iraq adalah dimana Islam bertemu dengan peradaban lain.

Namun demikian, adakah mungkin sebuah ilmu muncul tanpa keterpengaruhan atau proses interaksi dengan tradisi lain?

Di sinilah kemudian muncul pendapat tengah yang menyatakan jika benar sejarah nahwu mulai dari Iraq, murni dari kalangan Islam, namun kemudian berdealektika dengan tradisi lain. Disusun di Iraq, lalu dikembangkan definisi-definisi, lalu bersentuhan dengan budaya bahasa negara lain. Ketika pada masa orang-orang Islam belum mengenai tradisi lain di luar Islam, maka yang muncul dalam ilmu Nahwu awal adalah sangat murni Arab.

Namun keadaan mulai menjadi lain ketika para filosof Islam belajar filsafat Yunani melalui karya-karya terjemahan dalam bahasa Suryani. Perlu diketahui bahwa terjemahan filsafat Yunani dalam bahasa Suryani sangat melimpah di Iraq pada masa itu dan bahasa inilah yang menjembatani para filosof Islam belajar tentang Yunani.

Lalu siapa peletak dasarnya?

Masalah ini menjadi bahasan yang panjang lebar di kalangan para sejarahwan Nahwu seperti Ibn ?al?m dalam ?abaq?t al-shu?ara’, Ibn Qutaybah dalam al-Ma?rif, al-Zuj?j? dalam al-Am?l?, Ab? ?ayyib al-Lughaw? dalam Mar?tib al-na?wiyyin, al-Sayraf? dalam al-Akhb?r al-na?wiyyin al-ba?riyyin, al-Zabid? dalam al-?abaq?t, Ibn Nad?m dalam al-Fahrasat, al-Anb?r? dalam Nuzhat al-alb? dan al-Qaf? dalam Inb? al-ruwwa.

Mereka semua berpendapat jika peletak dasar pertama ilmu ini adalah Imam Ali karamma l-l?hu wajhahu dan Ab? al-Aswad ad-Du’al?. Peneguhan Imam Ali sebagai pelatak dasar ilmu Nahwu justru berasal dari riwayat Ab? Aswad al-Du’al? dimana menurutnya Imam Ali memberikan kata kunci pertama tentang ilmu Nahwu misalnya yang terakit dengan riwayat Imam Ali yang menyatakan jika kalam itu ada tiga isim, fi?il dan huruf. Ad-Dua’l? juga bercerita bahwa Sayyidina Ali lah yang membagi kata benda (nama) menjadi tiga; kata benda lahir (?hir), kata benda tidak lahir (?mir) dan kata benda yang bukan keduanya. Selain Ali, ada juga yang berpandangan jika ilmu Nahwu ditemukan oleh ?Abdur  Ra?m?n b. Hurmuz al-A?raj dan Na?r b. ?im.

Namun menurut mayoritas sejarahwan pendapat ini dipandang lemah. Sejarah yang benar adalah setelah Imam Ali, Nahwi dikembangkan oleh Abu al-Aswad ad-Du’al?. Al-Anb?r? dan az-Zuj?z? meneguhkan ad-Du?ali sebagai pelatak dasar ilmu ini setelah Imam Ali karena dialah yang mentransmisikan hal ini dari Imam Ali. Sudah menjadi kesepakatan di kalangan ulama Nahwu jika ad-Du’al? lah yang pertama memberikan harakat pada mushaf al-Qur’an. Kebenaran ini hampir tidak bisa kita pungkiri sebab hampir semua generasi salaf dan juga khalaf tidak mempermasalahkannya.

Namun demikian, ilmu baru diberikan dengan nama sebagai ilmu Nahwu justru sepeninggal ad-Du’al?. Pada masa dia, nama ilmu Nahwu adalah al-?Arabiyya. Ibn ?ajar dalam kitabnya al-I?bah menyatakan, “awwalu man ?aba?a al-mu?haf wa wa?a?a al-?arabiyyata Ab? al-Aswad,” pertama kali orang yang memberi harakat pada mushaf dan yang meletakkan al-?arabiyya adalah Ab? al-Aswad. Setelah adl-Du’al? mangkat, maka nama untuk al-?arabiyyata digantikan dengan Nahwu. Namun demikian, istilah Nahwu diambil dari pernyataan Ab? al-Aswad di depan Imam Ali.

***

Jika kita bicara ilmu Nahwu, maka sama saja kita membicarakan suatu aliran pemikiran yang sangat penting dalam ini ini yaitu madzhab Ba?rah. Berbicara tentang madzhab Ba?rah sama dengan berbicara tentang upaya pengharakatan al-Qur’an untuk yang pertama kalinya. Ilmu Nahwu yang sekarang ini banyak dipelajari dan dibaca di seluruh dunia termasuk pesantren-pesantren di Indonesia adalah lahir dan berkembang di Ba?rah. Para ahli sepakat bahwa kemunculan cabang ilmu ini adalah untuk melindungi al-Qur’an dari cara pembacaan yang salah. Ingat bahwa al-Qur’an pada awal-awal bukan seperti al-Qur’an yang kita nikmati sekarang, ada harakatnya lengkap. Al-Qur’an pada masa itu adalah gundul, tak bertanda baca.

Bagi para t?bi?n (secara bahasa pengikut sahabat) dan t?bi?it t?bi?n (secara bahasa berarti pengikutnya tabi?n) yang sudah ?mil al-Qur’?n (hafal al-Qur’an) tiadanya tanda baca dalam al-Qur’an tidak masalah, namun bagi mereka yang tidak hafal, maka tanda baca sangat diperlukan di sini. Ab? As?ad adl-Dual? adalah pembangun awal ilmu yang disebut nahwu ini. Ad-Du?al? mengambil inspirasi dari Sayyida Ali (r.a). Ad-Du?al? berkata, “Jika engkau benar-benar telah melihat mulutkan membaca fathah, maka kasihlah tanda baca fat?ah di atasnya, jika mulutku sudah membaca ?ammah, maka kasihlah tanda baca ?ammah di atasnya, jika mulutku membaca kasrah, maka kasihlah tanda baca kasrah di bawahnya (Dikutip dari Ibn al-Na?m, al-Fahrasat, h. 59).

Dalam perkembangannya, menurut Prof. Abduh al-Rajihi dalam kitabnya, Dur?s f?l-Madh?hib al-Nahwiyyah, dikatakan bahwa ternyata apa yang dilakukan oleh ad-Du’al? tidak hanya berguna untuk menjaga al-Qur’an dari “kesalahan gramatik” dari para pembaca dan penghafalnya, namun memiliki implikasi yang lebih jauh, yakni untuk mencapai prinsip-prinsip Islam yang paling mendalam (h. 10). Jika halnya yang demikian, mari kita mengingat kembali ilmu ini dan menggunakannya untuk membaca Islam –al-Qur’an, Sunnah dan turast. Sebagaimana yang disebutkan tentang peran Abu al-Awad ad-Du’al?; dimana ilmu Nahwu sudah berkembang tidak hanya menjaga kebenaran cara membaca al-Qur’an, kemudian ilmu ini tumbuh untuk memahami al-Qur’an. Bersambung...

 

Bahasan ilmu nahwu ini merupakan bagian kedua. Bagian pertama bisa dilihat di sini. Silakan diikuti pembahasan selanjutnya yang dikupas Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman, Syafiq Hasyim. Belum lama ini ia meraih gelar Dr. Phil dari BGSMCS, FU, Berlin, Jerman.  

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Nahdlatul Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 30 November 2017

Lima Langkah Mempererat Keimanan Menurut Gus Ali

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Nabi Muhammad SAW bersabda tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya. Hadits ini disampaikan KH Agoes Ali Masyhuri saat menjadi Khotib Jumat di Masjid Al-Akbar Surabaya, Jumat (27/10).

Lima Langkah Mempererat Keimanan Menurut Gus Ali (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Langkah Mempererat Keimanan Menurut Gus Ali (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Langkah Mempererat Keimanan Menurut Gus Ali

Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ini memang pendek tapi memiliki arti yang cukup luas. Pentingnya persatuan dan kesatuan bagi hidup berbangsa dan bernegara. Islam bertujuan menciptakan masyarakat yang penuh dengan kasih sayang. Berdamaian satu sama lain harus terus dilakukan. 

"Itu semua tidak akan teralisasi kalau tidak ada rasa kecintaan kepada seksama, ini yang pertama," tegas Pengasuh Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo ini.

Kedua, keimanan tidak akan kokoh kecuali menghindari rasa dendam, rasa iri dan rasa dengki. Tapi dia harus memikirkan untuk orang lain dan mencintai orang lain. Ketiga, keimanan akan sempurna apabila kalian peduli terhadap sesama manusia, mencintai manusia kepada siapapun termasuk non-muslim.

Keempat berlombalah dalam mendapatkan kebaikan. "Ini adalah bagian kesempurnaan dari iman, sikap seperti ini merupakan bukti keimanan sesorang," terang Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kelima, masyarakat harus memiliki hati yang bersih dan berwibawa. Hendaklah sesama muslim mendorong agar senantiasa berusaha membantu orang lain. kehidupan ini ibaratkan tubuh manusia, jika ada anggota tubuh yang sakit, niscaya anggota tubuh lainnya juga ikut merasakan kesakitan.

"Ini bukti kesempurnaan dan mampu menciptakan manusia yang harmonis," ungkapnya. (Rof Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, Nahdlatul, Ubudiyah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock