Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Februari 2018

PCNU Pamekasan Keluarkan Tujuh Pernyataan Sikap

Pamekasan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pamekasan di Jalan R Abd Aziz Pamekasan, Jawa Timur, kedatangan banyak wartawan cetak, televisi, dan online, Rabu (2/2). Mereka sedang meliput rilis pernyataan sikap PCNU Pamekasan terkait perkembangan yang saat ini terjadi di internal NU.

Terdapat tujuh pernyataan sikap tertulis PCNU Pamekasan yang dibacakan langsung oleh Wakil Rais PCNU Pamekasan KH Wahdi Musyaffa. Surat pernyataan tersebut ditandatangani oleh Rois Syuriah KH Abd Mannan Fadholi, Katib K Abd Bari, Ketua Tanfidziyah KH Taufiq Hasyim, dan Sekretaris Abd Rahman Abbas.

PCNU Pamekasan Keluarkan Tujuh Pernyataan Sikap (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pamekasan Keluarkan Tujuh Pernyataan Sikap (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pamekasan Keluarkan Tujuh Pernyataan Sikap

"Pertama, KH Maruf Amin adalah Rais Aam PBNU juga sebagai Ketua Umum MUI yang harus dijaga, dihormati, ditaati juga ditadzimi oleh puluhan juta umat NU baik di seluruh pesantren maupun di tataran masyarakat bawah (grass root) dalam jamiyah NU," terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kedua, dalam sidang kasus penistaan terhadap agama Islam dengan terdakwa Basuki Tjahja Purnama (Ahok), KH Maruf Amin dihadirkan ke persidangan untuk memberikan keterangan ahli (vide: Pasal 184 (1) jo pasal 186 KUHP) bukan sebagai pelapor.

"Ketiga, keterangan yang diberikan oleh KH Maruf Amin, berdasarkan pengamatan kami PCNU Pamekasan sudah selaras dengan kompetensi maupun kapasitasnya sebagai ahli agama Islam, baik sebagai fuqaha, Rais Aam PBNU maupun sebagai Ketua Umum MUI," paparnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Keempat, tambah Kiai Wahdi, PCNU Pamekasan menyesalkan sikap, perilaku maupun kata-kata dari terdakwa Ahok maupun tim pengacaranya dengan dalih menolak keterangan KH Maruf Amin sebagai ahli justru memelintir/memutarbalikkan fakta, dan seolah-olah menempatkan KH Maruf Amin sebagai terdakwa.

"Bahkan, beberapa pernyataan maupun tuduhan serta kata-kata kasar yang ditujukan kepada KH Maruf Amin lebih merupakan sikap sikap yang menyerang terhadap pribadi KH Maruf Amin daripada mematahkan argumen yang terkait dengan keahlian beliau," tegasnya.

Kelima, PCNU Pamekasan tidak akan tinggal diam, dan dengan ini menyatakan siap mendampingi serta membela KH Maruf Amin sebagai pimpinan tertinggi PBNU secara lahir maupun batin dalam koridor hukum dan menyerukan kepada seluruh Banom PCNU Pamekasan, kepada seluruh MWCNU serta PRNU se-Pamekasan dengan satu komando sambil lalu memperbanyak istighatsah dan permohonan kepada Allah serta pembacaan Hizbun Nashor.

"Keenam, PCNU Pamekasan meminta agar PBNU mengambil langkah tegas sesuai hukum yang berlaku untuk mewaspadai setiap manuver-manuver yang dilakukan oleh pihak Ahok yang cenderung merugikan kepada NU baik secara personal maupun kelembagaan, sekaligus memohon agar PBNU memproses secara hukum sekalipun Ahok telah menyatakan permohonan maaf," tegasnya.

Terakhir, tambah Kiai Wahdi, PCNU Pamekasan memohon kepada PBNU untuk segera memberikan instruksi PWNU dan PCNU se-Indonesia tentang sikap yang akan dilakukan oleh PWNU dan PCNU terkait pernyataan ahok dan tim pengacaranya terhadap perlakuan kepada KH Maruf Amin selaku Rais Aam PBNU sekaligus sebagai Ketua Umum MUI. (Hairul Anam/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, Budaya Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja

Sumenep, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Buku tentang sejarah NU Sumenep yang berjudul Dinamika NU Sumenep Dalam Lintasan Masa dibedah di aula Yayasan Al-Arief Jate, pulau Giliraja, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep, Ahad (17/4).?

Buku yang ditulis Ach Taufiqil Aziz itu membahas tentang proses masuknya NU ke Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur serta perkembangan NU dalam setiap masa di daerah ujung timur pulau garam tersebut.

Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja

Dalam acara yang diselenggarakan Ikatan Alumni Yayasan Al-Arief (Ikayasrif) itu, penulis buku memaparkan pentingnya memahami perkembangan NU lokal.?

"Ini juga supaya kita mengetahui lebih detail ternyata peran kiai kampung sebenarnya sangat besar dalam mengembangkan NU di Sumenep," ujar Ach Taufiqil Aziz, penulis buku saat menjelaskan di depan puluhan hadirin.

Ia menambahkan, dalam buku yang ditulisnya itu, dirinya juga ingin membukukan perjalanan NU di daerahnya. "Karena buku ini, buku pertama yang mengupas sejarah NU Sumenep," tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Kiai Sutarman, Pengasuh Pesantren Al-Arief mengatakan, buku tersebut akan sangat berguna bagi warga NU. "Kita harus tahu NU dengan baik, termasuk sejarahnya. Biar tidak hanya ikut-ikutan," katanya saat memberikan sambutan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Romza, Ketua Ikayasrif mengaku ingin meleburkan tradisi literasi di daerahnya. "Bedah buku salah satu upaya kami menggerakkan tradisi itu (bedah buku, red)," tandasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, Nahdlatul Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Poligami dan Berburu Kebaikan

Ubaid dan Umar merupakan alumni pondok pesantren. Semenjak di pondok keduanya selalu berburu dan bersaing dalam hal kebaikan, terutama di shalat lima waktu. Tapi pada kenyataannya Ubaid selalu kalah dari Umar.

Suatu ketika Ubaid bertanya sama temannya itu. "Kang, kenapa sampean kok datang ke masjid selalu lebih cepat dari saya?”

Poligami dan Berburu Kebaikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Poligami dan Berburu Kebaikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Poligami dan Berburu Kebaikan

"Soalnya istri saya dua. Istri yang pertama membangunkan saya dan istri yang kedua menyiapkan perlengkapan shalat saya," jawab Umar santai.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selang beberapa bulan, Ubaid pun berpoligami. Harapannya bisa seperti Umar. Benar, setelah poligami Ubaid hampir selalu terlihat lebih awal dari Umar berada di masjid.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kok sampean sekarang bisa mendahului saya datangnya, Kang? Resepnya apa?” Tanya Umar.

"Saya takut pulang ke rumah istri pertama yang marah-marah, jadi saya tiap hari tidur di masjid,” jawab Ubaid. (Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tokoh, Budaya, Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mahasiswa Teologi Jakarta Kunjungi Redaksi NU Online

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Mahasiswa semester tiga, Sekolah Tinggi Teologi Jakarta mengadakan kunjungan ke kantor Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Selasa (10/11). Sekitar 40 mahasiswa ini disambut hangat oleh beberapa staff redaksi.

Dalam kunjungan singkat ini, para mahasiswa ini ingin mengenal lebih dekat dengan Nahdlatul Ulama.

Mahasiswa Teologi Jakarta Kunjungi Redaksi NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Teologi Jakarta Kunjungi Redaksi NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Teologi Jakarta Kunjungi Redaksi NU Online

Ketua rombongan, Eva Ena mengatakan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia yang didirikan oleh para kiai pesantren dan yang terpenting organisasi ini sangat terbuka dengan umat beragama lain. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Tidak seperti beberapa ormas Islam yang terkesan arogan dan menyerang umat beragama lain,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Eva menanyakan tentang perbedaan rakaat shalat tarawih yang pernah ia alami ketika ada tugas lapangan di sebuah desa. Di lokasi tersebut, kepala desanya adalah orang Katolik sehingga ia juga merasa kebingungan. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Apakah di dalam Islam ritual ibadah tidak diatur?” tanyanya.

Rizky Wijayanti, kru Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal menjelaskan bahwa tidak ada tafsir tunggal dalam pelaksanaan ibadah sehingga muncul beberapa perbedaan, salah satunya dalam pelaksanaan shalat tarawih. Karena itu, diantara umat Islam sendiri perlu saling menghormati perbedaan ritual ibadah yang dilakukan.

Rizki yang juga pengurus Muslimat NU ini mengatakan terkait dengan bilangan shalat tarawih antara 23 atau 11 rakaat, itu hanya bilangan saja dan Nabi Muhammad pernah melakukan dan dan tidak mengharamkan salah satunya. “Jadi kita tinggal pilih saja, mau yang mana?” imbuhnya. 

Selanjutnya Rizki menambahkan Nahdlatul Ulama mengenal prinsip tawasuth, maksudnya adalah tidak ekstrim kiri juga ektrim kanan sehingga dalam hidup bermasyarakat NU selalu menempatkan diri pada prinsip hidup menjunjung tinggi sikap moderat. 

“Menghindari segala bentuk pendekatan ekstrem,” katanya.

Di akhir kunjungan Alamsyah MJ dosen mata kuliah Islamologi STT Jakarta mengatakan bahwa kegiatan kali ini merupakan bagian dari pembelajaran di luar kelas. Mereka bisa secara langsung belajar dan bertanya terkait dengan subyek yang dihadapi. 

“Mereka senang sekali berkunjung ke kantor PBNU, ini terlihat dari antusiasnya mendengarkan beberapa paparan,” pungkasnya. 

Sebelumya rombongan ini mampir di ruang Pojok Gus Dur lantai dasar PBNU. (Faridurrahman/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, Quote, News Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Gila NU

Gus Dur memberikan penjelasan kepada Kang Maman Imanulhaq tetang klasifikasi gila. Kata Gus Dur, gila itu banyak macamnya. Ada gila karena kerjaan, gila karena urusan organisasi dan lain-lain.

Gusdur pun menceritakan kisahnya. Dulu Dr. Fahmi Djafar Saifuddin (putra KH Saifuddin Zuhri) datang ke rumah Gus Dur pada pukul 02.30 WIB.

"Mas...Mas...barusan di Jakarta Utara, di Tanjung Priok ada pertengkaran antarpengurus NU. Ayo kita ke sana Mas!”

Gila NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gila NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gila NU

Gus Dur menjawab, “Mas Fahmi, kalau dari jam 6 pagi-6 sore ngurusi NU, itu namanya senang dan cinta dengan NU.”

“Kalau jam 6 sore-12 malam masih ngurusi NU maka disebut orang gila NU. Tapi sudah jam 12 malam masih tetap ngurusi NU berarti NU gila,” kata Gus Dur, bercanda. (Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Syariah, Amalan, Budaya Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Sekolah Kaligrafi Al-Quran (Sakal) yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Kabupaten Jombang menyiapkan segala sesuatunya untuk perlombaan kaligrafi tingkat ASEAN. Kegiatan ini merupakan salah satu rentetan kegiatan Hari Santri Nasional (HSN) yang biasa dihelat pada setiap 22 Oktober.

Dirut Sakal Athoilah mengatakan, perlombaan ini adalah suatu amanah yang diberikan PBNU langsung kepada Sakal. "Tahun ini kita akan mengadakan lomba kaligrafi tingkat ASEAN di Jombang," katanya, Kamis (31/8).

Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang

Ia menambahkan, acara tersebut akan dilaksanakan pada 14-16 September 2017 di Denanyar. Selain lomba, imbuhnya, di acara itu juga ada pemberian sanad kaligrafi.

Puluhan pecinta seni kaligrafi dari berbagai negara juga dijadwalkan hadir di Jombang. Mereka semua akan bergabung bersama para santri seluruh Nusantara.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Pecinta Kaligrafi dari Turki, Malaysia, Brunai Darussalam sudah konfirmasi kehadirannya kepada kita," bebernya.

Ia menyebutkan kepercayaan yang diberikan oleh PBNU kepada santri Pondok Pesantren Denanyar ini merupakan kebanggaan dan tantangan tersendiri.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Mudah-mudah agenda ini bisa berjalan setiap tahun, kita buktikan santri bisa buat acara internasional," harapnya.

Ia menjelaskan, Sakal merupakan wadah khusus bagi santri yang ingin belajar kaligrafi dari nol. Sakal sendiri berdiri sejak bulan Mei 2001 lalu di bawah naungan Ponpes Manbaul Maarif.

Pesantren yang didirikan oleh KH Bisri Syansuri ini memang terkenal dengan prestasi di bidang kaligrafi. Ratusan santri sudah memenangkan berbagai perlombaan di tingkat nasional maupun internasional. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, IMNU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Cerita Siswa Madrasah Menghafal Al-Quran di Tanah Wali

Demak, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sejumlah Madrasah di Kabupaten Demak mengembangkan konsep madrasah berbasis tahfidz Al-Qur’an. Otak kanan bisa dimaksimalkan dengan memberi nilai tambah pada jam luar kelas. Hafalan bisa diberikan dengan senang layaknya bermain-main tanpa menambah beban studi akademik.

Matahari belum naik sepenggalah di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Demak, Desa Karang Tengah, Kecamatan Karang Tengah Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Masih setengah jam lagi sebelum bel masuk kelas berbunyi pada pukul 07.00 WIB.

Cerita Siswa Madrasah Menghafal Al-Quran di Tanah Wali (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita Siswa Madrasah Menghafal Al-Quran di Tanah Wali (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita Siswa Madrasah Menghafal Al-Quran di Tanah Wali

Membawa Al-Qur’an, siswa-siswi madrasah itu berkumpul di pelataran masjid yang terletak di bagian depan kompleks madrasah, sebelah lapangan olahraga. Secara serentak dan padu, mereka melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an secara bersamaan, dipandu seorang guru pembimbing. Ayat-ayat yang sama terdengar dibaca berulang-ulang.

Saat kami mengunjungi madrasah itu, Ramadhan lalu, tak kurang 200 siswa bersama-sama dibimbing menghafalkan surat an-Nazi’at ayat 22, 23, dan 24. Metodenya cukup unik. Guru pembimbing, yaitu Ustadzah Maulida Khasanah yang juga hafal Al-Qur’an, berdiri di depan menghadap siswa. Dia terlebih dahulu melafalkan surah an-Nazi’at ayat 22: “Tsumma adbara yas’aa”. Lalu semua siswa menirukan bacaanya secara serentak.

Setelah itu, melalui mikrofon, pembimbing meminta para siswa menghadap ke kanan dan mengulang ayatnya. Lalu mengulangi lagi ayat itu dengan cara menghadap ke kiri, menghadap ke atas, bawah dan kembali menghadap ke depan dengan mata terpejam. Setelah lima kali repetisi, satu ayat bisa dihafal dengan baik oleh para siswa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Setelah itu dilanjutkan dengan ayat berikutnya dengan metode yang sama hingga tiga ayat. Tiga ayat yang telah dihafal kemudian dibaca berkelanjutan dengan metode yang sama, yaitu dengan menghadap kanan, kiri, atas, bawah dan kembali menghadap ke depan dan mengucapkan kembali rangkaian ketiga ayat itu dengan mata terpejam. “Tsumma adbara yas’aa (QS. an-Nazi’at ayat 22), fahasyara fanaadaa (23), faqaala ana rabukum al-a’laa (24). Cara ini terbukti efektif, selama 30 menit sebelum masuk kelas, para siswa berhasil menghafal 3 ayat baru.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hal ini rutin dilakukan setiap hari dan para siswa akan ditagih untuk menyetorkan kumpulan hafalan itu secara periodik. Metodenya ternyata sangat sederhana dan tidak mengganggu jam pelajaran di kelas. Siswa diminta menjaga hafalannya di rumah atau di waktu-waktu senggang saat di madrasah.

Kepala MTs Negeri 2 Demak, Karsono, mengatakan, program tahfidz merupakan pilihan wajib di madrasahnya. Semua anak didik, tanpa kecuali, dibebani target menghafal 1 juz, yaitu juz 30, dengan deadline setoran akhir sampai lulus madrasah karena di MTsN ini tahfidz al-Qur’an dijadikan program dasar yang menjadi nilai plus, di samping prestasi akademik. “Kami ingin prestasi akademik anak didik kami dilandasi dengan jiwa Qur’ani,” kata Karsono.

Untuk itu semua siswa diminta menyiapkan waktu 30 menit sebelum jam belajar untuk meningkatkan hafalan setiap hari. Untuk menjaganya, dipersilahkan mengatur sendiri waktunya. Khusus bagi yang mengikuti peminatan tahfidz lengkap, disediakan program kedua yang khusus bagi para pelajar tahfidz yang kini berjumlah 25 siswa. Mereka dibimbing khusus dengan target hafal 30 juz hingga lulus.

Di Kabupaten Demak, sejumlah madrasah tengah mengembangkan pendidikan berbasis tahfidz. Seperti halnya di MTsN 2 tersebut, materi hafalan Al-Qur’an diberikan di luar kelas agar tidak mengganggu jam pembelajaran dan tidak mengurangi prestasi akademik siswa. Sejak Januari lalu, sebanyak 12 madrasah di Demak telah menjalankan program ini dengan master metodologi yang sama.

Tahfidzisasi madrasah di Demak diinisiasi oleh Kantor Kementerian Agama setempat sejak Januari 2017 lalu. Dalam waktu yang relatif singkat hasilnya sudah kelihatan. Sebanyak 12 madrasah pada jenjang MI, Mts, dan MA yang menjadi pilot project, tahun ini berhasil meluluskan siswa-siswinya dengan membekali mereka dengan hafalan Al-Quran juz 30. ? Sebuah hadiah menarik bagi orang tua siswa tentunya.

Menurut Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Demak, Muhammad Thobiq, hafalan juz 30 dianggap penting karena jus 30 merupakan bekal penting untuk berbagai peribadatan sehari-hari, terutama shalat. Selain itu, program ini akan membuat teknik mengaji para siswa menjadi bagus sehingga menunjang ibadahnya.

Tiga sekolahan yang leading menerapkan program ini adalah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Demak, MTsN 2 Demak, dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Mlaten, Kecamatan Mijen, Demak. Di MAN Demak, siswa-siswi telah fasih menghafal juz 30 menjelang ujian akhir lalu. Yang lebih menakjubkan adalah di MIN Mlaten, anak-anak kecil fasih membacakan satu surat lengkap apabila disebutkan nama suratnya.

Untuk anak-anak usia sekolah dasar, hafalan Al-Quran rupanya lebih mudah diberikan dan lebih awet daripada anak usia di atasnya. Menurut Kepala MIN Mlaten, Badrid Duja, anak-anak terlihat happy saat diminta menirukan sebuat ayat dengan cara menghadap kiri, kanan, atas, bawah dan dengan terpejam. Hal itu dilakukan setiap pagi selama setengah jam sebelum pelajaran dimulai.

Dalam waktu enam bulan terakhir, siswa kelas 2 telah mengoleksi hafalan 6 surat panjang di juz 30 dari surat an-Naba’ hingga al-Infithar. “Mereka menghafal dengan santai tanpa membebani pelajaran.” katanya. Di MIN Mlaten, program tahfidz belum diterapkan di kelas 1. Pada kelas 1 siswa masih difokuskan pada cara membaca dan tahsin (memperbaiki) tajwidnya. Baru pada kelas 2 hingga kelas 4 beban hafalan diberikan.?

Badrid Duja menyebut, ia ingin tahun 2020 mendatang, sebanyak seperempat dari 480 siswanya telah mencapai hafalan 5 juz. Hal ini telah dikonsultasikan kepada orangtua siswa dan mendapat dukungan penuh. Di desa agraris ini, para orang tua siswa kebanyakan adalah para petani yang agamis. Untuk itu mereka tidak dipungut biaya ekstra.?

Siswa hanya perlu menabung Rp1000 per hari untuk membeli al-Quran tahfidz versi empat warna. Dukungan orang tua siswa di MIN Mlaten direpresentasikan oleh Komite Madrasah yang menyumbang bangunan dua lantai di bagian depan madrasah dan mobil minibus untuk sarana antar-jemput siswa.?

Kepala Kantor Kementerian Agama Demak, M. Thobiq, mengaku gembira dengan perkembangan ini. Ia merupakan pemilik ide dan penggerak pertama mobilisasi madrasah berbasis tahfidz. Pada awalnya ia ingin agar madrasah memiliki diferensiasi dengan sekolah umum karena di daerah “hijau” seperti Demak, anak-anak sekolah umum pun berbaju panjang, berhijab, dan pandai membaca Al-Qur’an.?

Dengan fakta itu, ia ingin ada nilai lebih bagi siswa-siswi madrasah dan kemudian dicanangkanlah program tahfidz sebagai basis madrasah-madrasah di Demak. Namun dalam perkembangannya, ia mendapat laporan, program tahfidz ini ternyata memberikan pengaruh positif pada perilaku dan sopan santun siswa. (Muhtadin AR/Kemenag/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, Amalan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock