Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

LAZIS NU Terima Dana 100 juta dari Program Hi Low Sholeha

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Upaya LAZIS NU untuk mengembangkan sumber pendanaannya dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) telah menuai hasil. Kerjasama dengan Group Nutrifood melalui program Hi Low Sholeha selama 6 bulan telah menghasilkan dana sekitar 100 juta rupiah.



LAZIS  NU Terima Dana 100 juta dari Program Hi Low Sholeha (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZIS NU Terima Dana 100 juta dari Program Hi Low Sholeha (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZIS NU Terima Dana 100 juta dari Program Hi Low Sholeha

Secara simbolik, dana tersebut diserahkan kepada Ketua LAZIS NU Fathurrahman Rauf oleh Customer Relation Manager PT Nutrifood Indonesia May Pratisto di gedung PBNU, Rabu (6/8).

Fathurrahman menyatakan kegembiraannya atas kerjasama ini sebagai wujud kesadaran dari para muzakki (para pembayar zakat) untuk memenuhi kewajibannya. Ia sepakat dengan pendapat disatu sisi, minat orang beribadah berhaji sangat tinggi sampai-sampai harus antri selama beberapa tahun, namun ketika diminta untuk berzakat, kesadarannya masih rendah, yang antri adalah para mustadafien (orang yang membutuhkan) yang berharap memperoleh sumbangan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sekretaris LAZISNU Mabroer MS menjelaskan dana yang diperoleh dari Nutrifood dengan motto “Penuhi Panggilanmu, Berbagi Bersamamu” ini akan difokuskan untuk pelayanan masyarakat dalam bidang kesehatan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Beberapa program pelayanan kesehatan yang akan dilakukan adalah pengobatan gratis di Banten dan Tuban, sunatan massal di Tegal dan Kerawang dan untuk membiayai pembuatan klinik kesehatan bagi mustahik (penerima zakat) di Purwakarta.

”Meskipun ada Gakin, LAZIS masih kewalahan melayani orang yang meminta biaya pengobatan. Di kantor Lazis, kami selalu kedatangan orang yang meminta bantuan kesehatan dan kita tidak bisa menolak. Prinsip kita, menyumbang tidak akan membuat kita miskin. Semaksimal mungkin kita beri, tidak ada yang kita tolak,” tandasnya.

Kebutuhan lain yang sering disampaikan oleh masyarakat kepada LAZISNU adalah mahalnya biasa pendidikan, meskipun saat ini SPP dikatakan sudah gratis, tetapi fakta di lapangan masyarakat masih mengeluhkan mahalnya biaya pendidikan.

”Dukungan dari Nutrifood ini merupakan sebuah amal kebajikan, semoga amal ini bisa meningkatkan kinerja perusahaan,” terangnya.

Perusahaan lain yang sudah bekerjasama dengan LAZIS NU adalah Telkomsel dengan membangun masjid di Nias dan saat ini pemberian mobil pengumpul zakat, dengan koran Seputar Indonesia untuk pemberian beasiswa untuk korban gempa di Bengkulu dan Padang serta dengan sebuah perusahaan kopi, yang menyisihkan 500 perak per sachet-nya untuk kaum mustadafien.

Setiap bulan Ramadhan, LAZIS NU juga membagikan 40.000 paket zakat. Tahun 2007 lalu, zakat tersebut dibagi melalui jaringan NU dari Bali sampai Bengkulu. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Tokoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 22 Februari 2018

Gus Dur Tolak Jadi Capres, Pilih Besarkan PKB

Lebak, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mantan Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kini menolak dicalonkan kembali menjadi Presiden pada pemilihan umum (pemilu) presiden tahun 2009 mendatang, karena merasa disakiti dengan dilengserkan saat menjabat presiden sebelumnya.

Gus Dur menjawab ribuan dukungan kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada Musyawarah Wilayah Luar Biasa (Muswilub) DPW Provinsi Banten, di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Kamis (15/11), menyatakan keengganan dicalonkan sebagai presiden kembali walaupun dukungan untuk itu cukup kuat.

Rabu, 14 Februari 2018

Peserta Perwimanas II Bergembira Ikuti Outbond di Alam Bebas

Magelang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Hari kedua, Selasa (19/8), peserta Perkemahan Perkemahan Wirakarya Pramuka Ma’arif NU Nasional (Perwimanas) II mengikuti kegiatan outbond di alam bebas.

Peserta Perwimanas II Bergembira Ikuti Outbond di Alam Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Perwimanas II Bergembira Ikuti Outbond di Alam Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Perwimanas II Bergembira Ikuti Outbond di Alam Bebas

Kegiatan ini diikuti ratusan peserta yang berasal dari berbagai daerah dan terbagi ke dalam beberapa kelompok. Pada outbond ini, para peserta diharuskan melewati berbagai tantangan yang sudah disiapkan oleh panitia.

Ditemui Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal di tempat Outbond, Merisya Endora, yang memandu para peserta menjelaskan berbagai tantangan yang harus dilalui para peserta.

“Jadi kegiatan outbond pagi ini ada lima pos ya. Tantangan yang harus dilewati para peserta Pertama ada merayap jembatan dengan satu tali. Lalu merayap jembatan dua tali, setelah itu harus menaksir tinggi pohon dan menaksir lebar sungai,” jelas Merisya yang merupakan anggota Dewan Kerja Cabang Pramuka Temanggung.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tujuan yang bisa diambil dari outbond pagi ini, kata Merisya, para peserta dilatih untuk belajar kekompakan dan melatih mental setiap peserta.

“Mental mereka dilatih untuk bisa melewati setiap tantangan yang kita siapkan, selain itu biar antar peserta yang berasal dari berbagai daerah akrab dengan satu dan lainnya,” tambah Merisya.

Sementara itu, Rohmatul Fauzi peserta outbond dari SMK Ma’arif 2 Temon Yogyakarta megungkapkan kegembiraannya mengikuti kegiatan outbond di alam bebas.

"Senang karena bisa menambah wawasan dan pengalaman. Selain itu bisa mendapat pelajaran banyak. Harapan saya, mudahan-mudahan generasi muda lulusan Ma’arif  dan lainnya bisa meneruskan cita-cita pendiri bangsa ini,” tegas Rohmatul Fauzi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hal senada juga diungkapkan oleh Eka Melia Putri, Nur Hasanah dan Rani Suwardi peserta dari MA Muslimat NU Kalimantan.

“Banyak sekali pelajaran yang bisa kami dapatkan, seperti kekeluargaan, kebersamaan dan kekompakan dengan peserta dari daerah lain,” ujar Eka Melia Putri.

“Kami juga bisa belajar kebudayaan dari daerah lain. Jarang kami melihatnya langsung,” ungkap Rani Suwardi.

“Kami berharap bisa mengajarkan pelajaran yang kami dapatkan dari sini kepada teman-temann pramuka di sekolah kami di Kalimandan,” tegas Nur Hasanah.

Pada acara Perwimanas II kali ini, selain outbond para peserta diharuskan mengikuti berbagai kegiatan seperti giat wisata, giat bakti, dan giat wawasan. (Nur Rokhim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, Humor Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Menikmati Keindahan Bandung dari Menara Masjid Raya Saat Lebaran

Bandung, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Warga bisa menikmati pemandangan pusat Kota Bandung dari ketinggian sekitar 87 meter melalui Menara Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat memasuki libur Lebaran 2016.

Menikmati Keindahan Bandung dari Menara Masjid Raya Saat Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Menikmati Keindahan Bandung dari Menara Masjid Raya Saat Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Menikmati Keindahan Bandung dari Menara Masjid Raya Saat Lebaran

Penjaga tiket Menara Masjid Raya Bandung Yayat Ruhiyat, Jumat, mengatakan jumlah pengunjung mengalami peningkatan selama libur Lebaran ini yakni mencapai 1.000 orang per harinya.

"Kalau libur hari biasa paling banyak itu 400 orang, tapi satu hari setelah Lebaran kemarin jumlah pengunjungnya naik drastis yakni bisa 1.000 orang," kata Yayat sambil melayani pembelian tiket.

Untuk bisa naik ke Menara Masjid Raya Bandung, pengunjung harus antre dan kapasitas lift untuk menuju menara bisa menampung hingga 10 orang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Satu lift menampung sampai 10 orang, dari lantai dasar sampai ke puncak menara dibutuhkan waktu sekitar satu menitan," kata Yayat.

Selama libur Lebaran ini, harga tiket untuk menikmati pemandangan Kota Bandung dari Menara Masjid Raya Bandung adalah Rp5.000 per orang.

"Cuma selama libur Lebaran saja harga tiketnya menjadi Rp5.000. Tapi kalau hari bisa harga tiket untuk dewasa itu Rp4.000 dan anak kecil Rp3.000 ribu," kata dia.

Salah seorang warga yakni Asep Arif mengatakan ia sengaja naik menara tersebut karena ketika di atas menara dirinya bisa melihat pemandangan Kota Bandung secara keseluruhan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Ini saya datang sama sembilan anggota keluarga lainnya. Ada anak dan istri saya, mertua, orang tua saya sama adik saya. Sebenarnya sudah beberapa kali saya ke tempat menara ini dan kalau sudah sampai k puncaknya. Subhanallah lah pokoknya. Pemandangan Bandung dari atas indah pisan pokoknya," kata Asep. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, Humor Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi

Tangerang Selatan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Penulis buku Mahakarya Ulama Nusantara,? Ahmad Ginanjar Sya’ban membuka kajian rutin Islam Nusantara, Sabtu (19/8) dengan mengatakan bahwa Islam datang bukan untuk merusak tradisi.

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi

“Islam datang bukan untuk merusak tradisi bangsa lain,” katanya dalam diskusi yang bertema Manhaj Islamisasi di Nusantara Era Walisongo di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Penyempurnaan itulah yang dilakukan oleh Walisongo dalam menebarkan Islam secara damai. Ginanjar mengutip hadis, Innamaa bu’itstu liutammima makarimal akhlaq.?

Menurutnya, Islam datang itu untuk menyempurnakan hal-hal yang sudah sangat baik, tradisi yang luhur. Hal-hal buruk saja yang bersifat prinsip yang perlu diubah. Sementara hal yang bersifat furuiyah ataupun tahsiniyah tidak perlu diperdebatkan lagi.

Para wali terpilih itu tidak menghancurkan ekosistem, budaya, tradisi, bahkan agama. Direktur Islam Nusantara Center itu mengutip ayat Al-Quran, “Laa ikroha fiddin, tidak ada paksaan dalam agama,” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) itu mengutip hadis, “Laa yu’minu ahadukum hatta yukrima jarohu, belum sempurna iman seseorang kalau belum bisa memuliakan tetangganya.”

Saking menghormatinya kepada para penganut agama lain dan tradisi yang sudah ada, Sunan Kudus memfatwakan untuk tidak menyembelih sapi sebagai kurban karena sapi sangat dihormati oleh umat Hindu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Min babi ikromi jar, tidak menyembelih sapi,” ujarnya.

Wali bernama asli Ja’far Shodiq itu juga membangun masjid yang arsitekturnya senada dengan model bangunan pura pada masa itu. Hal ini pun terdapat di beberapa masjid lainnya, seperti Masjid Agung Demak.

Toleransi sebagai landasan dakwah Walisongo itu menyebabkan cepatnya persebaran Islam di Nusantara. Hal tersebut dikarenakan Walisongo dapat menaklukkan hatinya masyarakat, bukan sekadar wilayah atau kerajaannya.

“Kesuksesan cepatnya Islamisasi masa Walisongo itu karena yang ditaklukkan oleh Walisongo itu bukan wilayah atau kerajaan, tapi hati para penduduknya,” katanya.

Manhaj islamisasi Walisongo itu senada dengan apa yang dilakukan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih di Turki Utsmani. Penakluk Konstantinopel itu melarang pasukannya untuk merusak tempat ibadah dan menjarah harta masyarakat Bosnia yang juga ditaklukkannya saat itu.

“Pasukan orang-orang Muslim Turki dilarang merusak, menjarah harta orang-orang Bosnia, mengusik rumah-rumah mereka, memasuki tempat ibadah mereka, gereja-gereja harus tetap dalam keadaan semula,” ujarnya mengutip surat keterangan Sultan Muhammad Al-Fatih kepada masyarakat Bosnia.

Lebih lanjut, pria asal Majalengka itu mengatakan, bahwa orang-orang Bosnia dibebsakan melaksanakan praktik agama mereka, “Orang-orang Bosnia dibebaskan untuk tetap menjalankan ibadah dan keyakinan sesuai yang mereka anut,” katanya. (Syakir NF/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Syariah, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

PMII Bojonegoro Pertajam Intelektual dan Gerakan Jalanan

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sebagai organisasi ekstra kampus (Omek), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) terus berupaya menjadi wadah pembelajaran di luar kampus. Sehingga sebelum mengadakan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) dimasa khidmah 2015-2016, PMII Bojonegoro mengadakan diskusi di sekretariatnya, jalan Pondok Pinang 02 Bojonegoro, Ahad (24/1)

Dalam diskusi tersebut, selain diikuti puluhan kader dari mahasiswa kampus di Kota Ledre, juga menghadirkan narasumber, diantaranya ketua Majlis Pembina Cabang (Mabincab) PC PMII Bojonegoro, Ahmad Sunjani Zaid dan juga ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Bojonegoro (Aspertib), Hasan Bisri.

PMII Bojonegoro Pertajam Intelektual dan Gerakan Jalanan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bojonegoro Pertajam Intelektual dan Gerakan Jalanan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bojonegoro Pertajam Intelektual dan Gerakan Jalanan

Ketua PC PMII Bojonegoro, Ahmad Syahid mengaku, pengurus cabang periode 2015-2016 benar-benar serius dalam mengemban amanah satu tahun kedepan. Sehingga sebelum melaksanakan Rakercab nanti, sudah ada bekal matang yang akan dibahas.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Diskusi ini untuk mempertajam arah gerakan PMII satu tahun ke depan, baik dalam konteks kaderisasi, analisa wacana dan distribusi kader," jelasnya.

Sehingga Pra Rakercab ini sangat penting untuk menjaring gagasan dari berbagai aspek, baik dari kader, alumni dan juga perguruan tinggi. "Setahun kedepan, berorientasi pada penajaman intelektual dan gerakan jalanan PMII di Bojonegoro," ungkapnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain itu PMII, harapanya, bisa bersinergis dengan pihak kampus dalam menanamkan jiwa nasionalisme dan religiusme mahasiswa. "Namun tanpa meninggalkan semangat untuk selalu mengontrol kebijakan pemerintah," harapnya.

Sementara itu, ketua Mabincab, Ahmad Sunjadi Zaid meminta, kepada pengurus cabang PMII Bojonegoro agar sinergitas program internal PMII kedepan, harus produktif dan berkualitas. "PMII harus mampu menjawab problematika yang ada. Harus mampu mencetak ilmuan atau cendekiawan yang hebat, petarung jalanan, analisator wacana dan anggaran, jurnalis serta optimalisasi gerakan kembali ke kampus," terangnya yang juga menjabat Wakil Ketua DPRD Bojonegoro.

Sedangkan ketua Aspertib, Hasan Bisri berpesan kepada PMII perlunya sinergitas organ PMII dengan pihak kampus. "Sebenarnya PMII adalah aset kampus dan negera Indonesia. Jadi harus berjalan selaras dan harmonis, yakni mampu menjadi promotor kampus dalam berbagai kegiatan mahasiswa," tandasnya.

Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari kader PMII. Ketua Komisariat IKIP PGRI Bojonegoro, Nuzulul Furqon mengapresiasi betul langkah pengurus baru dengan mengadakan diskusi, untuk mempersiapkan bekal sebelum melaksanakan Rakercab nanti. Sehingga nanti mampu menjadi pijakan pengurus setahun kedepan.

"Semoga ini menjadi langkah taktis dan strategi untuk memperbaiki organisasi," pungkasnya.[M. Yazid/Abdullah Alawi]

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Humor Islam, Warta Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Santri Ibarat Kuntul Penjelajah, Pencari Pengalaman

Pati, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Madrasah Aliyah NU Luthful Ulum Wonokerto Pasucen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah bekerja sama dengan Perpustakaan Mutamakkin Kajen menggelar bedah novel Kuntul Nucuk Bulan. Bedah novel tersebut mendaulat Farid Abbad sebagai narasumber.

Farid, pada bedah novel Selasa (26/1), ini menjelaskan, kuntul adalah burung yang selalu terbang menjelajah ke berbagai tempat untuk mencari pengalaman dan ilmu baru. Burung itu tidak puas dengan apa yang diperoleh. Cita-citanya tidak bisa dibatasi karena sangat tingginya sehingga dikejar sepanjang hidup.

Santri Ibarat Kuntul Penjelajah, Pencari Pengalaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Ibarat Kuntul Penjelajah, Pencari Pengalaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Ibarat Kuntul Penjelajah, Pencari Pengalaman

Novel ini, kata aktivis Lakpesdam NU Pati, ini mengisahkan seorang santri yang mempunyai cita-cita tinggi yang tidak patah semangat oleh berbagai kendala dan rintangan yang menghadang. Santri tersebut terus belajar dan berkarya untuk mencapai cita-citanya yang tinggi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Para pelajar sebagai generasi masa depan bangsa, lanjut Farid, harus menjadi sosok yang pantang menyerah. Pemuda harus terbang tinggi untuk meraih mimpi yang dicanangkan. Cita-cita tinggi inilah yang mendorong seorang pemuda untuk belajar secara rajin dan membekali diri dengan berbagai keterampilan hidup.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Farid, alumnus Global University Libia, ini menjelaskan, salah satu keterampilan hidup adalah jurnalistik, kemampuan tulis menulis. “Untuk menjadi penulis hebat dibutuhkan ketekunan dan latihan terus menerus. Orang-orang besar, seperti Buya Hamka dan Pramodya,? mampu menghasilkan karya-karya besar di balik jeruji penjara. Begitu juga KH. MA. Sahal Mahfudh yang mampu menghasilkan karya yang menjadi karya internasional yang wajib dipelajari di Universitas Al-Ahqaf,” jelasnya.

Ia menganjurkan untuk penulis pemula agar menulis diary setiap hari. Misalnya setelah shubuh, waktu istirahat sekolah, dan lain-lain. Menulis ini? harus menjadi kebiasaan harian, sehingga lama-lama akan menjadi dokumen yang sangat berharga. Kebiasaan ini akan memperlancar kemampuan menulis. Menulis seperti mengalir deras tanpa ada ujungnya, karena ide-ide besar terus bermunculan tanpa henti.

Dalam rangka meningkatkan tradisi jurnalistik ini, MA NU Luthful Ulum selalu menerbitkan buku setiap tahunnya, seperti Mengibarkan Prestasi tahun 2014 dan Sayap-Sayap Rindu & Setitik Embun di Ujung Subuh tahun 2015.

Dalam tahun 2016 ini, madrasah berbasis pesantren ini mengadakan lomba cerpen internal untuk meningkatkan kemampuan siswa-siswi di bidang jurnalistik. Dengan menciptakan iklim kompetisi yang ilmiah, siswa-siswi akan mengeluarkan kemampuan terbaik untuk mengasah kemampuannya terus menerus untuk menggapai cita-cita yang tinggi.

Nur Alimah, selaku Waka Kesiswaan MA NU Luthful Ulum menjelaskan, kegiatan ilmiah, seperti bedah buku dan seminar remaja terus diadakan MA NU Luthful Ulum supaya siswa-siswi termotivasi mengejar cita-cita yang tinggi dengan usaha maksimal. (Jamal Mamur/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ulama, Humor Islam, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock