Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman

Purworejo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Departemen Seni dan Budaya Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Purworejo, Jawa Tengah, ikut ambil bagian dalam Festival Musik Akustik yang digelar dalam rangka memperingati HUT WR Supratman di Desa Somongari Kecamatan Kaligesing dan monumen WR Soepratman di Kota Purworejo, .

Selain menampilkan lagu wajib, IPNU Band yang digawangi oleh Fikri Amrillah juga menyanyikan lagu karyanya sendiri berjudul "Purworejoku.

IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman

Ketika lagu Purworejoku dinyanyikan, sorak-sorai penonton memecah suasana menjadi ramai. Tak terkecuali, Mantan Bupati Purworejo, Kelik Sumrahadi, ikut standing uplaus atas lagu itu. Bahkan, di akhir acara menyempatkan menyambangi personil IPNU Band. "Saya minta liriknya ya, lagu tadi benar-benar bagus." katanya dilanjutkan kesiapan IPNU Band menyerakhannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Sofyan Rizali Zain, keikutsertaan IPNU Band dalam event ini bertujuan mengenalkan lebih jauh dengan masyarakat. Selain itu, adalah memicu mental kader di berbagai pentas.

"Kita ingin kader memiliki mental bernyanyi yang mumpuni. Lagu yang dibuat rekan-rekan juga konstruktif, edukatif dan tidak cengeng seperti kebanyakan lagu band dewasa ini," ungkapnya. Meski tak dapat juara, imbuhnya, para personil tetap semangat untuk bermusik sebagai media ekspresi jiwa dan menyampaikan pesan positif kepada khalayak luas.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di tempat terpisah, Kasi Kerjasama dan Promosi Diskoperindagpar Purworejo Dyah Woro S mengatakan, event ini digelar untuk memeringati HUT WR Soepratman. Event pertama berupa lomba musik akustik akan diadakan pada 16 Maret di Somongari dan event kedua berupa resepsi peringatan HUT WR Soepratman di kawasan Monumen WR Soepratman pada 19 Maret.

"Untuk lomba musik akustik kami adakan di Somongari, di jalan masuk menuju rumah tempat lahir WR Soepratman. Hal ini kami lakukan sekalian untuk memromosikan obyek tersebut kepada masyarakat. Kami harapkan ini bisa menjadi semacam brand untuk memerkenalkan obyek bersejarah tersebut," jelas Woro.

Kepala Bidang Pariwisata Diskopperindagpar Purworejo, Lilos Anggorowati menambahkan, untuk event pada 19 Maret akan berfokus pada resepsi peringatan HUT Wr Soeprartman. Dalam kesempatan tersebut, selain penyerahan hadiah, para pimpinan daerah misalnya Bupati akan membacakan puisi mengenai WR Soepratman.

"Meski masih sederhana, namun kami harap event ini bisa kembali mengingatkan masyarakat akan jasa WR Soepratman yang juga putra daerah Purworejo," katanya. (Ahmad Naufa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Jadwal Kajian, Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Gus Dur Tolak Jadi Capres, Pilih Besarkan PKB

Lebak, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mantan Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kini menolak dicalonkan kembali menjadi Presiden pada pemilihan umum (pemilu) presiden tahun 2009 mendatang, karena merasa disakiti dengan dilengserkan saat menjabat presiden sebelumnya.

Gus Dur menjawab ribuan dukungan kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada Musyawarah Wilayah Luar Biasa (Muswilub) DPW Provinsi Banten, di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Kamis (15/11), menyatakan keengganan dicalonkan sebagai presiden kembali walaupun dukungan untuk itu cukup kuat.

Kamis, 25 Januari 2018

Di Bawah Langit Baitur-Rahman

Baru kali ini Luthfi membawaku keluar dari kamar asramanya, menikmati angin pagi di dataran tinggi Sukorejo. Selama tiga tahun ini aku selalu tersimpan rapi dalam lemarinya, di dekat foto mimi

Setelah semua kegiatan pesantren selesai, ia baru akan masuk kamar, memanjatkan doa sebelum tidur, menjamah butiran-butiran tubuhku dengan asma Allah. Terkadang ia menitihkan air mata kala kerinduan itu tak bisa dibendung lagi, kerinduan pada seorang pahlawan dalam hidupnya, yang membesarkannya seorang diri.

Di Bawah Langit Baitur-Rahman (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Bawah Langit Baitur-Rahman (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Bawah Langit Baitur-Rahman

Semua pekerjaan pagi ini telah Luthfi selesaikan. Sebagai santri khodim, ia selalu bangun paling awal dan beristirahat paling akhir. Selalu ada kekaguman di matanya tiap kali melihat daun-daun yang hijau tumbuh dengan riang, air yang mengalir tiap waktu, dan udara yang berhembus menerobos tiap pori-pori kulitnya. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Luthfi, kau lihat Rafi? Sejak sahur tadi saya tidak melihatnya, dia juga tidak ikut mengaji lagi pagi ini, kemana anak itu?” 

Suara Kiai Taufiq memecah renunganku, aku masih di genggaman Luthfi, sayangnya Kiai Taufiq tidak melihatku, jika ia melihatku pasti ia akan mengenali Luthfi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Enggih, Kiai, nanti saya cari.”

“Kamu yang rajin, jangan tinggal ngaji, jangan lelah nuntut ilmu,” Kiai Taufiq tersenyum sembari menepuk pundak Luthfi, pesan yang selalu sama, “Jangan lelah nuntut ilmu!”

Luthfi pun bergegas mencari sahabatnya, Rafi, yang memang agak susah bangun pagi untuk mengikuti pengajian selepas shalat Shubuh, tapi tampaknya Luthfi sudah tahu di mana tempat persembunyiannya.

“Astaghfirullah, Rafi, kebiasaan buruk toh ya diubah, Kiai Taufiq cari kamu lagi,” Luthfi menyingkirkan ember-ember yang bertumpuk di tempat persembunyian Rafi, memang, ia kerap bersembunyi di bawah tempat tidurnya yang selalu ditutupi deretan ember-ember agar santri yang lain tidak mengetahui keberadaannya.

“Jangan bangunkan saya dulu, Luth,” suaranya masih lemas bahkan matanya masih tertutup rapat.

“Cepat bangun, bukannya kau bilang hari ini kau akan ke kota?”

“Hah? Kota? Ya, kota, aku harus mengambil kiriman ayah,“ seketika Rafi terbangun.

Daerah Pondok Pesantren Baitur-Rahman memang cukup terpencil, istilah bank masih disebut dengan kota, karena bank hanya ada di kota. Mungkin hari ini untuk pertama kalinya aku akan melihat hiruk pikuk Sukorejo lagi, seperti tiga tahun lalu ketika pertama kali Luthfi menginjakkan kakinya di sini. Kemudian bertemu dengan Kiai Taufiq dan akhirnya dibawanya ke Pondok Pesantren Baitur-Rahman, milik kakaknya, Kiai Rahman. Namun sejak saat itu aku hanya bisa membisu, melihat dari sedikit celah di kantong baju Luthfi, ingin aku teriak “Tolong lihat aku!” Tetap saja tidak bisa, aku tetap hanya menjadi saksi mati di antara mereka.

“Raf, apa tidak sebaiknya kita izin dulu pada Kiai taufiq?” Luthfi berjalan dengan cepat sambil membujuk Rafi.

“Sudahlah, Luthfi, hanya sebentar, dua jam, aku janji,” jawab Rafi.

Sebenarnya satu kalipun Luthfi tidak pernah melakukan pelanggaran, “Cukup kali ini saja Raf, sudah.”

Rafi dan Luthfi kemudian berjalan meninggalkan komplek pesantren dengan gelisah dan tergesa-gesa. Di separuh langkah mereka bertemu dengan salah satu santri yang merasa curiga. 

“Rafi, Luthfi, tunggu!,”

Tampak wajah Luthfi yang ketakutan, sebaliknya Rafi yang merasa tenang-tenang saja. 

“Kami akan membeli kitab,” Rafi menjawab.

“Benarkah? Ya sudah, pergilah,” santri itu percaya, pasti karena melihat Rafi bersama Luthfi, Luthfi santri khodim, dia sering membelikan kitab untuk keperluan pesantren, aku baru melihat wajah Luthfi setegang itu, dia bukan orang yang pandai berbohong.

***

“Raf, mesin apa toh ini, bisa ngeluarin uang?” wajah polos Luthfi yang penasaran dengan apa yang dilihatnya.

“Ini namanya ATM Luth, ayahku mengirimkan uang dari Jakarta. Nah, saya bisa ngambil lewat mesin ini, tapi saya harus punya kartu ini, kartu ATM,” Rafi menyodorkan kartu ATM-nya ke hadapan mata Luthfi.

“Canggih ya zaman sekarang Raf, uang bisa berjalan dari Jakarta ke Sukorejo lewat mesin macam ini,” Luthfi masih kebingungan, Rafi hanya tertawa.

“Saya anak tunggal, Luth, tiap hari orangtua saya hanya sibuk bekerja, bekerja dan bekerja, sampai akhirnya saya dipesantrenkan. Sebenarnya saya tidak mau jadi santri yang bandel, Luth, tapi semua orang terlanjur men-cap saya seperti itu, jadi saya memilih apa yang orang-orang tuduhkan.” 

Bukan hanya Luthfi yang terlihat iba, bahkan akupun merasa iba padannya, Luthfi masih menggenggamku erat.

“Seharusnya kamu bersyukur, Raf, karena kamu masih punya orangtua, saya yatim piatu, mimi meninggal di Cirebon saat usia saya baru 10 tahun.  Kalau mama,  kuburannya pun saya tak pernah melihat. Saya hanya tahu namanya, sama seperti namaku, Luthfi Zidni.”

Luthfi, mungkin hanya akulah saksi tentang dirimu sejak lahir, suatu saat nanti, kau pasti akan tahu siapa ayahmu.

Rafi pun iba, ia mendaratkan tangannya ke bahu Luthfi, kemudian menunjuk beberapa spanduk calon presiden yang terpapar di jalanan. 

“Lihat Luth, banyak orang sedang memperebutkan tahta, saya tidak mengerti, banyak orang yang menjadikan kedudukan adalah hal yang sangat penting.”

“Menurut saya, dalam hidup seseorang pastilah ada yang mereka kejar dan dijadikan kebiasaan.”

“Contohnya?”

“Ya, orang-orang yang mengejar harta, kedudukan, cinta, atau agama. Contohnya orang-orang yang setiap hari bekerja, sampai melupakan segalanya, karena yang mereka cari adalah harta.”

“Bagaimana dengan agama?”

“Kamu pernah lihat orang yang setiap hari hanya menghabiskan waktunya dengan berpuasa, shalat dan mengaji, sementara dia juga melupakan hal lain yang juga menjadi kewajibannya. Dalam hidup semua harus seimbang, Raf, Allah tidak menyukai sesuatu yang berlebih-lebihan, walaupun dari segi ibadah.”

“Kalau kamu, apa yang ingin kau kejar, Luth?”

“Saya? Kamu lihat Kiai Taufiq, Raf? Beliau itu seorang yang taat beribadah, menjadi pemimpin pesantren. Beliau juga berladang dan memiliki istri yang shalihah seperti Nyai Fatimah.”

“Dan putri yang cantik seperti Ning Annisa kan?” Rafi menggoda, Luthfi tersenyum.

“Ya sudah sekarang antar aku beli kitab Taklim-Muta’alim,  Luth.”

“Kitab?”

“Kau ingat apa yang kujawab saat ada santri yang bertanya kita hendak kemana? Aku tak mau berbohong, Luth.” 

Tawa mereka pun pecah di antara panasnya Sukorejo di bulan Ramadan.

***

Kulihat, Kiai Taufiq sudah menunggu di pintu masuk pesantren, tubuhnya yang ditegakkan berhasil membuat Luthfi dan Rafi menjadi ketakutan, tiap butir tubuhku digenggamnya, bermandi keringat.

“Dari mana kalian berdua?”

Aku tahu Luthfi semakin gusar saat mendengar pertanyaan Kiai Taufiq.

“Ka... kami dari kota, Kiai,” Rafi menjawab dengan gemetar.

“Sekarang kalian shalat Ashar, setelah itu isi semua bak mandi santri dan bersihkan surau, semuanya harus sudah selesai sebelum waktu berbuka puasa!”

“Enggih Kiai,” Mereka berdua menjawab.

Aku tahu, ini kali pertamanya Luthfi di ta’zir selama menjadi santri di Baitur-Rahman.

***

Semua bak mandi telah diisi penuh oleh Luthfi dan Rafi. Kasihan mereka berdua, terlihat sangat lelah. Andai aku bisa membantu. 

Kiai Taufiq yang sejak  Ashar di dalam surau, masih memperhatikan mereka berdua. Aku tahu bagaimana cara membantu Luthfi, mudah-mudahan ini cara yang tepat. Aku menjatuhkan diri ke tanah, nyaris terinjak santri lain. Beruntung Luthfi segera mengambilku, ia membersihkanku dengan usapannya yang halus. Ternyata usahaku tidak sia-sia, Kiai Taufiq melihatku.

“Luthfi! kemarilah,” Kiai Taufiq memanggil Luthfi ke surau, aku masih sigap di tangannya.

Mereka berdua pun duduk, Kiai Taufiq membuka pembicaraanya.

“Tiga tahun lalu saat pertama kali kita bertemu di terminal Sukorejo, saya tidak menanyakan nama orangtuamu, karena kau bilang kau yatim piatu, siapa nama ibumu, Nak?”

“Sulastri, Kiai,” Luthfi tidak mengerti kenapa Kiai Taufiq tiba-tiba menanyakan hal tersebut.

“Pada tahun 1986, pesantren ini terletak di Getas, di kaki Gunung Rogo Jembangan. Dulu nama pesantren ini adalah Annur, almarhum abah yang mendirikannya. Kemudian dilanjutkan Kiai Rahman, kakakku. Kau pernah bertanya tentang lukisan di rumah Kiai Rahman, itu adalah  Nyai Aisyah,  istrinya, dan Luthfi Zidni, adalah putranya. Luthfi menikah dengan seorang santriwati khodimah, sejak kecil ia tinggal bersama kami, karena ia yatim piatu, namanya Sulastri.”

Aku bahagia, kebenaran akan terungkap, aku tahu Kiai Taufiq adalah orang yang peka. 

“Maksud Kiai bagaimana?” Luthfi masih belum mengerti.

“Sejak awal aku melihatmu, hatiku tergerak, terlebih saatku mendengar namamu. Delapan belas tahun yang lalu pesantren kami di Getas mengalami persengketaan tanah, padahal di mata hukum tanah itu sah milik keluarga abah. Hingga suatu malam terjadi kerusuhan, orang-orang membakar pesantren Annur. Saat itu Luthfi dan Nyai Aisyah sedang berada di dalam surau, mereka terjebak api, sementara aku dan Kiai Rahman dihakimi oleh benyak orang. Kiai Rahman menyuruh Sulastri untuk menyelamatkan diri dan anaknya, yang kala itu masih bayi merah, bahkan belum sempat diberi nama. Kiai Rahman memberinya sebuah tasbih yang beliau buat sendiri. Butirannya terbuat dari kayu yang terdapat di hutan Gunung Rogo Jembangan. Butir kesebelas diukir nama Rahman Zidni dan butir ke-77 diukir nama Luthfi Zidni. Saya masih paham betul tasbih itu. Setelah kerusuhan itu usai, Kiai Rahman mendirikan pesantren di Sukorejo, dengan nama Baitur-Rahman, dan sejak itu pula kami tidak pernah bertemu lagi dengan Sulastri, dan anaknya,”

Seketika Kiai Taufiq melihatku, memang akulah yang ia maksud. Butiran ke-11 dari tubuhku terukir nama Rahman Zidni, dan butiran ke 77 terukir nama Luthfi Zidni. Kiai Taufiq memeluk Luthfi erat sekali. Ia langsung membawa Luthfi ke hadapan Kiai Rahman yang tak pernah keluar dari kamarnya karena lumpuh. Bukan hanya mereka yang bahagia, bahkan kerinduanku terhadap Kiai Rahman yang dulu dengan sepenuh hati mengukir namanya di  tubuku, akan selalu membekas.

Ning Annisa melihat kami begitu haru, ia menatap dari balik pintu, aku percaya, sepahit apapun, Takdir Tuhan adalah yang terbaik dan akan menjadi indah.

LUSY SYARIFAH, adalah siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat. Ia aktif menulis di MadingSekolah.Net | Portal Pelajar Indonesia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Eta Bubarkanlah… Eta Bubarkan Full Day School…

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?



Keluarga Besar nadlatul Ulama (KBNU) Kabupaten Tasikmalaya bersatu padu menyatakan sikap menolak atas kebijakan Full Day School (FDS) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi. Belasan ribu KBNU Tasikmalaya melakukan aksi damai di depan Kantor Setda dan DPRD Kabupaten Tasikmalaya Selasa (15/8).?

Peserta aksi itu terdiri dari seluruh banom NU mulai dari IPNU, IPPNU, Ansor, Fatayat, Muslimat, Pagar Nusa dan organ-organ lainnya yang ada di tubuh organisasi NU Kabupaten Tasikmalaya, serta para aktivis PMII.?

Eta Bubarkanlah… Eta Bubarkan Full Day School… (Sumber Gambar : Nu Online)
Eta Bubarkanlah… Eta Bubarkan Full Day School… (Sumber Gambar : Nu Online)

Eta Bubarkanlah… Eta Bubarkan Full Day School…

“NU mendesak Presiden agar mencabut dan membatalkan Permendikbun Nomor 23 Tahun 2017 karena peraturan itu akan mengikis dan mematikan eksistensi madrasah diniyah yang ada di Kabupaten Tasikmalaya,” ujar Ketua PCNU Kabupaten Tasikmalaya, KH Atam Rustam sebagaimana dilaporkan salah seorang peserta aksi, Ali Roswan Fauzi ketika dihubungi Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dari Jakarta.?

Menurut Ali, Kiai Atam, pada aksi tersebut akan menuntut Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya untuk membatalkan rencana penambahan jam belajar sekolah di Kabupaten Tasikmalaya. Karena kebijakan itu dinilai akan mematikan eksistensi madrasah diniyah.?

Di antara para peserta aksi tersebut adalah santri-santri dari Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haur Kuning yang dipimpin langsung pengasuh pondok pesantren, KH Busyrol Karim. Para santri bersarung, berpakaian putih-putih, ada yang berkopiah hitam dan putih. Mereka berjalan pelan sambil bernyanyi diiringi dengan iringan drum. Sebagian santri mengibar-kibarkan bendera NU.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ali kemudian mengirimkan video berdurasi 1.34 menit yang mendokumentasikan aksi para santri Haur Kuning itu.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Hiji, dua, tilu,” kata salah seorang memberi komando kepada teman-temannya.?

“Eta bubarkanlah, eta bubarkanlah, eta bubarkan Fullday School. Eta bubarkanlah, eta bubarkanlah, eta bubarkan Fullday School…demi FKDT (Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah, red.).” (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Jadwal Kajian, Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Dinilai Ancam Madin, 32 Ribu Warga Tegal Tolak FDS

Tegal, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Sekitar 32000 warga Tegal melakukan aksi menolak Aksi tolak full day school (FDS). Merek adalah pengurus dan anggota banom dan lembaga NU seperti Muslimat, Fatayat, GP Ansor, PMII, IPNU, IPPNU, LP Maarif, RMI, FKDT Kabupaten Tegal.

Dinilai Ancam Madin, 32 Ribu Warga Tegal Tolak FDS (Sumber Gambar : Nu Online)
Dinilai Ancam Madin, 32 Ribu Warga Tegal Tolak FDS (Sumber Gambar : Nu Online)

Dinilai Ancam Madin, 32 Ribu Warga Tegal Tolak FDS

Pada aksi tersebut, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tegal, H Akhmad Wasyari mengungkapkan, Madrasah Diniyah (Madin) adalah kawah candradimuka dalam pembentukan karakter bangsa.?

"Jika ruang gerak madrasah dipersempit karena pemberlakukan lima hari sekolah (FDS), maka negara tidak berpihak kepada pembentukan karakter bangsa," tegas H Wasyari saat menyampaikan pernyataan sikapnya pada Aksi Tolak Full Day School di depan Taman Rakyat Slawi, Jumat (25/8)

Ia juga mendesak agar pemerintah pusat segera membatalkan kebijakan tersebut. Dia mengungkapkan, warga Kabupaten Tegal juga merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Untuk itu, dia meminta agar Mendikbud mendengarkan aspirasinya dan ditindaklanjuti.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di sela aksi, H Wasyari yang juga menjabat Sekretaris Dinas Dikbud itu menyampaikan surat pernyataan sikap PCNU Kabupaten Tegal kepada Bupati Enthus Susmono dalam bentuk besar dan eksklusif yang isinya menolak kebijakan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang pemberlakuan lima hari sekolah.

Senada Rais Syuriah PCNU Kabupaten Tegal KH Chambali Utsman juga meminta agar FDS segera dibatalkan. Sebab, kebijakan tersebut dapat mengancam eksistensi di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) yang dilaksanakan setiap sore.

Padahal, menurut KH Chambali, madrasah Diniyah merupakan pendidikan dasar agama yang penting untuk membekali generasi muda dengan Akhlakul Karimah.

"Tanpa lestari dan eksisnya madrasah, maka fondasi generasi muda tidak bisa terlaksana. Mari pertahankan MDA. Permendikbud (Nomor 23 Tahun 2017) harus dihapus," tegasnya. (Hasan/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sholawat, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Formalisasi Agama Bisa Jadi Alat Berangus Oposan

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Formalisasi agama dengan alasan untuk menciptakan masyarakat yang Islami ternyata memiliki potensi yang besar untuk disalahgunakan sebagai alat untuk memberangus para oposan. Menurut NU, sebenarnya yang penting mengambil substansi ajaran Islamnya, bukan simbol-simbolnya saja.

Demikian diungkapkan oleh Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj menanggapi maraknya pembuatan perda syariat di sejumlah daerah yang ditakutkan sebagai awal untuk mengganti dasar negara kita menjadi negara Islam. Menurut Kang Said, dalam sejarah formalisasi Islam, hal tersebut telah terbukti. Para oposan selalu dianggap kafir, zindiq, padahal bukan masalah kafirnya, tapi masalah kritisnya.

“Karena negaranya negara Islam, maka yang menentang Islam berarti kafir, lha begitu….Korbannya banyak, Hallaj dibunuh karena dibelakangnya ada orang-orang yang teraniaya, orang kulit hitam yang didholimi. Salah seorang pujangga, Sholeh bin Abdul Kuddus, juga jadi korban.  Abdullah bin Mukoffak juga dibunuh dengan alasan kafir karena menentang negara.Islam,” tuturnya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal beberapa waktu lalu. 

Formalisasi Agama Bisa Jadi Alat Berangus Oposan (Sumber Gambar : Nu Online)
Formalisasi Agama Bisa Jadi Alat Berangus Oposan (Sumber Gambar : Nu Online)

Formalisasi Agama Bisa Jadi Alat Berangus Oposan

Hal yang sama juga berlaku di Saudi Arabia saat ini. Kalau ada yang mengkritik pemerintah dianggap kafir, zindik karena menentang pemerintah Islam. “Padahal bukan masalah agama, tetapi masalah perilaku penguasa yang tidak benar. Senjata yang paling efektif itu agama. Allahu Akbar…. Islam, padahal mereka dibayar kan,” tuturnya.

 

Perda Anti Maksiat

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selanjutnya, Kang Said yang juga lulusan Universitas Ummum Qura Makkah tersebut berharap agar beberapa perda yang dinamakan perda syariat tersebut diganti saja dengan perda anti maksiat.

“Aturan yang melarang tentang perjudian, narkotika, miras dan lainnya, ini gak usah bilang syariat Islam, ini perda anti maksiat. Menggunakan kata syariat Islam ini menyebabkan ekskusif, kemudian resistensi dan selanjutnya bisa menimbulkan retaknya bangsa ini,” imbuhnya.

Berbagai istilah seperti Tim Pembela Islam untuk membela salah satu tokoh di pengadilan juga bisa menimbulkan masalah. “Membela Syaikh Abu Bakar Baasyir sebut saja sebaga tim pembela Abu Bakar Baasyir, gak usah disebut tim pembela Islam. Nanti akan timbul tim pembela Kristen, Tim pembela Buddha, tim pembela Hindu. Ini hak mereka untuk membela, tapi jangan sebut agama, ini bukan negara agama. Kalau ada orang China, Kristen perilakunya baik, ya kita bela,” tegasnya. (mkf)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Islam, Hadits, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Helmy Faishal: Umat harus Bersatu Membangun Peradaban

? Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Umat Islam khusunya dan kaum beragama di Indonesia umumya diimbau untuk bersatu-padu bahu-membahu membangun peradaban dan tatanan masyarakat yang lebih baik dan maju. Peradaban yang baik tidak akan pernah dicapai oleh masyarakat yang terpecah-belah.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekjen PBNU HA Helmy Faishal Zaini di acara maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan oleh Majlis Darul Hasyimi Jakarta Selatan yang dipimpin oleh Mustasyar PBNU Habib Luthfi bin Yahya (6/8). Dalam sambutannya, pria kelahiran Cirebon tersebut menjelaskan bahwa perbedaan itu hal yang lumrah. Perbedaan tidak boleh dipertajam. Justru sebaliknya, perbedaan bisa dijadikan modal untuk mencari persamaan satu dengan lainnya.

Helmy Faishal: Umat harus Bersatu Membangun Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)
Helmy Faishal: Umat harus Bersatu Membangun Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)

Helmy Faishal: Umat harus Bersatu Membangun Peradaban

“Sudah saatnya kita tidak menghabiskan waktu hanya untuk mengurusi hal yang tidak terlalu urgen. Bukan saatnya lagi membahas hal yang remeh-temeh. Kita harus mulai lebih memikirkan hal yang dapat membangun umat seperti pembangunan sektor ekonomi, pendidikan, dan juga kesehatan,” jelas Helmy.

Mengenai konflik bernuansa agama belakangan ini, Helmy menjelaskan bahwa yang paling penting untuk didahulukan adalah sikap waspada dan hati-hati dalam memandang sebuah peristiwa. “Kita tidak boleh gegabah menyimpulkan sebuah peristiwa. Harus jelas ditelusuri kronologinya agar kita tidak salah menyimpulkan,” imbuhnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain dihadiri langsung oleh Habib Luthfi bin Yahya, majlis maulid tersebut juga dihadiri oleh Habaib lainnya di sekitar Jakarta beserta ratusan jamaah. Habib Luthfi berpesan agar bangsa Indonesia bersetia kepada Pancasila. ?

“Pancasila merupakan manifestasi dari penafsiran terhadap ajaran agama dan bagaimana manifestasi tersebut bisa terimplementasikan guna menuju kemanusiaan yg adil dan beradab,” tandas Habib Luthfi. (Fariz Alniezar)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock