Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Larangan Melaknat dan Mendoakan Jelek

Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudzâharah wal Muwâzarah, halaman 141, menjelaskan tentang larangan mendoakan jelek dan melaknat, baik ditujukan pada diri sendiri, orang lain maupun sesuatu apa pun di luar dirinya sebagai berikut:

Larangan Melaknat dan Mendoakan Jelek (Sumber Gambar : Nu Online)
Larangan Melaknat dan Mendoakan Jelek (Sumber Gambar : Nu Online)

Larangan Melaknat dan Mendoakan Jelek

? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?,  ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? "? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?".

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Artinya: “Jangan sekali-kali mendoakan datangnya bencana atau mengutuk diri sendiri, keluargamu, hartamu ataupun seseorang dari kaum Muslimin walaupun ia bertindak dzalim terhadapmu, sebab siapa saja mengucapkan doa kutukan atas orang yang mendzaliminya, berarti ia telah membalasnya. Rasulullah SAW telah bersabda: ‘Jangan mendoakan bencana atas dirimu sendiri, anak-anakmu ataupun harta hartamu. Jangan-jangan hal itu bertepatan dengan saat pengabulan doa oleh Allah SWT’.”

Dari kutipan diatas dapat diuraikan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, mendoakan jelek atau melaknat siapa pun dan apa pun dari kaum Muslimin termasuk diri sendiri, harta benda, keluarga dan orang lain agar tertimpa suatu bencana sangat tidak dianjurkan sekalipun mereka telah berbuat kedzaliman kepada kita. Artinya tidak sepantasnya kita melakukan hal yang sama buruknya sebab mendoakan jelek dan melaknat bukan akhlak karimah. Doa yang sebaiknya diucapkan untuk  orang yang telah berbuat dzalim adalah doa yang baik saja, misalnya agar ia mendapatkan hidayah dari Allah SWT, lalu menyadari kesalahannya dan bertobat.

Kedua, mengucapkan doa kutukan atau laknat atas orang lain agar tertimpa bencana bisa sama saja dengan melaknat diri sendiri. Alasannya,  sebagimana dijelaskan Rasulullah SAW, adalah  bisa saja pada saat kita mengucapkan kutukan atau laknat kepada orang lain, pada saat itu Allah sedang menghendaki  terkabulnya doa-doa, sementara orang lain tersebut ternyata tidak pantas mendapat kutukan karena tidak bersalah, misalnya.  Kutukan atau laknat seperti itu bisa berbalik kepada diri sendiri  sebagaimana dijelaskan  Sayyid Abdullah Al-Haddad di halaman yang sama (hal. 141) sebagai berikut: 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. 

Artinya: “Ketahuilah bahwa suatu laknat, bila telah keluar dari mulut seseorang, akan naik ke arah langit, maka ditutuplah pintu-pintu langit di hadapannya sehingga ia turun kembali ke bumi dan dijumpainya pintu-pintu bumi pun tertutup baginya, lalu ia menuju ke arah orang yang dilaknat jika ia memang patut menerimany , atau jika tidak, laknat itu akan kembali kepada orang yang mengucapkannya.”

Dari kutipan di atas sangat jelas bahwa kutukan atau laknat memiliki dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, orang yang dilaknat akan terkena bencana jika memang menurut Allah ia pantas menerimanya. Kemungkinan kedua, jika ternyata Allah memandang lain, maka bencana itu akan menjadi bumerang  atau berbalik arah menuju orang yang telah mengucapkannya. Ini artinya sangat riskan melakukan kutukan atau melaknat orang lain. 

Dalam kaitan itu, Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh atau teladan yang baik ketika beliau didzalimi orang-orang Thaif yang menolak dakwahnya. Beliau mendoakan agar mereka tetap diberi keselamatan atau hak hidup dengan berharap dari anak cucunya akan ada yang mau beriman kepada Allah SWT. Sebenarnya mengutuk atau melaknat orang lain hanya diperbolehklan kepada orang-orang tertentu saja yang telah di-nash oleh Allah sendiri sebagaimana penjelasan Sayyid Abdullah Al-Haddad di halaman yang sama (hal. 141) sebagai berikut: 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. 

Artinya: “Jauhkan dirimu dari perbuatan melaknat seorang Muslim (termasuk pelayan dan sebagainya), bahkan seekor hewanpun. Jangan melaknat seorang manusia tertentu secara langsung, walaupun ia seorang kafir, kecuali bila Anda yakin bahwa ia telah mati dalam keadaan kafir sepeti Fir’aun, Abu Jahal dan sebagainya. Ataupun, yang Anda ketahui bahwa rahmat Allah tak mungkin mencapainya seperti Iblis.”

Dari kutipan diatas semakin jelas bahwa kita sangat dianjurkan untuk tidak pernah melaknat siapa pun dan apa pun, baik itu manusia maupun bukan manusia; baik itu Muslim maupun kafir. Orang kafir sekarang bisa saja akan menjadi mukmin di masa depan dengan hidayah Allah SWT. Laknat hanya boleh ditujukan kepada orang-orang kafir yang sudah jelas kekafirannya hingga akhir hayat  seperti Fir’aun, Abu Jahal dan sebagainya. 

Iblis juga boleh dilaknat karena rahmat Allah SWT memang tidak akan pernah sampai kepadanya. Ia telah membangkang terhadap perintah Allah dan menyombongkan diri kepada-Nya sebagaimana di tegaskan di dalam Al-Qur’an, surah Al-Baqarah, ayat 34: “Aba wastakbara wakâna minal kâfirîn.” (Iblis membangkang Allah dan menyombongkan diri. Ia kafir).  Demikian pula setan-setan boleh dilaknat sebagaimana terdapat dalam bacaan ta’awudz:  “A’ûdzu billâhi minasy-syaithânir rajîm.” (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk). Wallahu alam. (Muhammad Ishom)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Syariah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi

Tangerang Selatan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Penulis buku Mahakarya Ulama Nusantara,? Ahmad Ginanjar Sya’ban membuka kajian rutin Islam Nusantara, Sabtu (19/8) dengan mengatakan bahwa Islam datang bukan untuk merusak tradisi.

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi

“Islam datang bukan untuk merusak tradisi bangsa lain,” katanya dalam diskusi yang bertema Manhaj Islamisasi di Nusantara Era Walisongo di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Penyempurnaan itulah yang dilakukan oleh Walisongo dalam menebarkan Islam secara damai. Ginanjar mengutip hadis, Innamaa bu’itstu liutammima makarimal akhlaq.?

Menurutnya, Islam datang itu untuk menyempurnakan hal-hal yang sudah sangat baik, tradisi yang luhur. Hal-hal buruk saja yang bersifat prinsip yang perlu diubah. Sementara hal yang bersifat furuiyah ataupun tahsiniyah tidak perlu diperdebatkan lagi.

Para wali terpilih itu tidak menghancurkan ekosistem, budaya, tradisi, bahkan agama. Direktur Islam Nusantara Center itu mengutip ayat Al-Quran, “Laa ikroha fiddin, tidak ada paksaan dalam agama,” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) itu mengutip hadis, “Laa yu’minu ahadukum hatta yukrima jarohu, belum sempurna iman seseorang kalau belum bisa memuliakan tetangganya.”

Saking menghormatinya kepada para penganut agama lain dan tradisi yang sudah ada, Sunan Kudus memfatwakan untuk tidak menyembelih sapi sebagai kurban karena sapi sangat dihormati oleh umat Hindu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Min babi ikromi jar, tidak menyembelih sapi,” ujarnya.

Wali bernama asli Ja’far Shodiq itu juga membangun masjid yang arsitekturnya senada dengan model bangunan pura pada masa itu. Hal ini pun terdapat di beberapa masjid lainnya, seperti Masjid Agung Demak.

Toleransi sebagai landasan dakwah Walisongo itu menyebabkan cepatnya persebaran Islam di Nusantara. Hal tersebut dikarenakan Walisongo dapat menaklukkan hatinya masyarakat, bukan sekadar wilayah atau kerajaannya.

“Kesuksesan cepatnya Islamisasi masa Walisongo itu karena yang ditaklukkan oleh Walisongo itu bukan wilayah atau kerajaan, tapi hati para penduduknya,” katanya.

Manhaj islamisasi Walisongo itu senada dengan apa yang dilakukan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih di Turki Utsmani. Penakluk Konstantinopel itu melarang pasukannya untuk merusak tempat ibadah dan menjarah harta masyarakat Bosnia yang juga ditaklukkannya saat itu.

“Pasukan orang-orang Muslim Turki dilarang merusak, menjarah harta orang-orang Bosnia, mengusik rumah-rumah mereka, memasuki tempat ibadah mereka, gereja-gereja harus tetap dalam keadaan semula,” ujarnya mengutip surat keterangan Sultan Muhammad Al-Fatih kepada masyarakat Bosnia.

Lebih lanjut, pria asal Majalengka itu mengatakan, bahwa orang-orang Bosnia dibebsakan melaksanakan praktik agama mereka, “Orang-orang Bosnia dibebaskan untuk tetap menjalankan ibadah dan keyakinan sesuai yang mereka anut,” katanya. (Syakir NF/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Syariah, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Gila NU

Gus Dur memberikan penjelasan kepada Kang Maman Imanulhaq tetang klasifikasi gila. Kata Gus Dur, gila itu banyak macamnya. Ada gila karena kerjaan, gila karena urusan organisasi dan lain-lain.

Gusdur pun menceritakan kisahnya. Dulu Dr. Fahmi Djafar Saifuddin (putra KH Saifuddin Zuhri) datang ke rumah Gus Dur pada pukul 02.30 WIB.

"Mas...Mas...barusan di Jakarta Utara, di Tanjung Priok ada pertengkaran antarpengurus NU. Ayo kita ke sana Mas!”

Gila NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gila NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gila NU

Gus Dur menjawab, “Mas Fahmi, kalau dari jam 6 pagi-6 sore ngurusi NU, itu namanya senang dan cinta dengan NU.”

“Kalau jam 6 sore-12 malam masih ngurusi NU maka disebut orang gila NU. Tapi sudah jam 12 malam masih tetap ngurusi NU berarti NU gila,” kata Gus Dur, bercanda. (Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Syariah, Amalan, Budaya Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 08 Januari 2018

MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00

Banyuwangi,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyuwangi menerbitkan surat edaran yang ditujukan kepada takmir masjid dan pengurus mushalla. Isin surat itu meminta pengeras suara digunakan tadarus dimatikan mulai pukul 22.00.

“Kita semua mencintai tadarrus dan semua ingin mengagungkan bulan puasa, tapi alangkah bijaknya kalau kita tadarrus tidak menggunakan pengeras suara setelah pukul 22.00. Sebab, di jam itu umat Islam mulai istirahat setelah seharian puasa,”? ujar Ketua II MUI Banyuwangi, Nur Chozin di kediamannya, Selasa (1/7).

MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00 (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00 (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00

Ia menyadari bahwa untuk mengubah kebiasaan warga yang menggelar tadarrus hingga dini hari, tidak gampang. Sebab, mereka beralasan ingin mencari pahala dan mengagungkan malam Ramadhan, sehingga mereka cukup sensitif terhadap segala bentuk? larangan dalam tadarrus. “Bisa-bisa mereka menuding kita macam-macam. Padahal, yang kita larang cuma pengeras suaranya, bukan tadarrusnya,” tambahnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain soal tadarrus, surat edaran MUI itu juga mengimbau semua rumah makan dan restoran yang beroperasi di siang hari memasang penutup selama Ramadhan. Itu untuk menghormati orang yang tengah berpuasa.

Ia menambahkan, sedangkan tempat hiburan malam diimbau untuk menghentikan aktivitasnya selama bulan suci Ramadhan. “Semua itu demi kebaikan kita semua dan menjaga kesucian bulan Ramadhan itu sendiri,” jelasnya. (aryudi a razaq/abdullah alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Syariah, Amalan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Haul, Tradisi Baik yang Harus Dijaga

Cipete, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menghadiri peringatan Isra Miraj sekaligus Haul Habib Syekh Abu Bakar ? Salim dan Haul Masyayikh (ulama) yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim Raudhotul Jannah, Cipete, Sabtu (14/05) malam.?

Menurutnya, haul adalah satu dari sekian banyak tradisi warisan para pendahulu, ulama, kiai, umara, dan pendiri bangsa yang harus dijaga dan dirawat oleh generasi sekarang dengan baik.

Haul, Tradisi Baik yang Harus Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul, Tradisi Baik yang Harus Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul, Tradisi Baik yang Harus Dijaga

“Kita dituntut untuk menjaga dan merawat warisan pendahulu yang baik-baik. Bahkan (kita) seharusnya memberikan kreasi, inovasi yang baru sesuai kondisi masyarakat,” kata Menag seperti dilansir oleh laman kemenag.go.id.?

Peringatan Isra Miraj dan Haul ini dihadiri oleh ratusan umat Muslim di wilayah Cipete dan sekitarnya. Haul merupakan tradisi peringatan tahunan atas wafatnya seorang tokoh. Selain Habib Syekh, para masyayikh yang peringati haulnya adalah ? KH Muhammad Naim, KH Halim, KH Idris Kamali, KH Kholid, KH Saifuddin Zuhri, KH Raisin, KH Adris Kaisar, KH Abdurrahman Said, KH Ahmad Falaq Ibrahim, KH Mukri Azhari, KH M Thohir, KH Muhiddin Naim, KH Musyaffa, Hb Muchsin Mohdar BSA, dan KH Halwani Hasbulloh.

Menag yang hadir berseragam putih menyampaikan, tradisi haul selain mendoakan guru, ulama, kiai, dan para pendahulu, juga untuk mengambil teladan yang mereka tinggalkan. Menurutnya, masyarakat Indonesia patut bersyukur, karena telah mendapat waris pemahaman keislaman yang menjunjung tinggi para leluhur dan warisan lainnya yang sangat baik.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menag berharap warisan itu menjadikan bekal dalam menghadapi tantangan hidup yang semakin kompleks dan keras. Saat ini, ? tekanan hidup semakin tinggi, beban hidup semakin kompleks, hingga menjadikan orang mudah stres. Ruang gerak semakin sempit, menjadikan kompetisi semakin keras, bukan hanya sesama kampung, tapi antar negara. Akibatnya, ? orang semakin sensitif dan reaktif dalam kehidupannya.

Kalau dulu ? masyarakat Indonesia dikenal lembut, ? pemaaf, penyabar, dan santun, belakangan sebagian menjadi ? reaktif, ? emosional, dan mudah tersulut emosinya. Tindak kriminal meningkat, praktek miras, pornografi dan pornoaksi, serta penyalahgunaan narkoba kerap terjadi.?

“Ini tantangan kekinian kita, yang tidak dialami pedahulu kita, sekarang kita mengalami yang lebih kompleks,” tandas Menag.

Menag menegaskan, bahwa Kementerian Agama sudah merancang program pembinaan, penguatan dan pengawasan, dari unit komunitas terkecil, yakni kelurga.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Persoalan di masyarakat bisa dikendalikan jika ketahanan keluarga berjalan dengan baik,” katanya.

Untuk itu, Menag mengimbau jamaah Majlis Taklim Raudhotul Jannah dapat berperan aktif meningkatkan faham keagamaan keluarga dan ? anak-anak.?

“Mari kita jaga tradisi haul yang baik ini, untuk baiknya bangsa Indonesia ke depan,” ajak Menag.

Sebelumnya, Habib Jindan Bin Noufal yang dinobatkan sebagai penceramah menyampaikan bahwa orang-orang yang berilmu itu selayaknya menyampaikan pengetahuannya kepada masyarakat. Sebab, ilmu yang sejalan dengan pengamalan, dipraktekkan, lalu disampaikan kepada masyarakat diharapkan akan menambah kemaslahatan ummat. Red Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Syariah, Sejarah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Siang ini FNKBA Sarbumusi Mulai Diskusi Berkala Industri Kreatif

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Federasi Niaga, Koperasi, Bank, dan Asuransi (FNKBA) Sarekat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Nahdlatul Ulama akan mengadakan diskusi industri kreatif bertema “Prospek Industri Kreatif: Meretas Kendala, Memperluas Pertumbuhan” di gedung PBNU, Jakarta, siang ini Rabu (1/10).

Menurut Sekretaris FNKBA Sarbumusi? Ayi Fahmi, diskusi yang direncanakan berkala tersebut akan mengupas lanskap ketenagakerjaan di sektor industri kreatif dan positioning buruh di tengah besarnya penyerapan tenaga kerja di sektor industri kreatif.

Siang ini FNKBA Sarbumusi Mulai Diskusi Berkala Industri Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Siang ini FNKBA Sarbumusi Mulai Diskusi Berkala Industri Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Siang ini FNKBA Sarbumusi Mulai Diskusi Berkala Industri Kreatif

Ayi menambahkan, diskusi tersebut juga akan membahas solusi alternatif yang mungkin/bisa dilakukan oleh pemerintah maupun organisasi buruh guna memberikan perlindungan dan kesejahteraan tenaga kerja di sektor industri kreatif.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Ayi, FNKBA Sarbumusi merupakan upaya dari organisasi buruh di bawah naungan NU tersebut dalam menyejahterakan kaum buruh. NKBA pertama dibentuk dibawah kepemimpinan pada bulan Agustus 2014 di Hotel Bidakara, Jakarta. (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Syariah, Kyai, Pahlawan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

IPNU-IPPNU Empat Kecamatan di Jombang Gelar Makesta

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Menjelang akhir tahun 2014, IPNU – IPPNU se-Jombang menyelenggarakan Makesta (masa kesetiaan anggota) di empat kecamatan di Kabupaten Jombang yang meliputi Kecamatan Jogoroto, Diwek, Jombang Kota, dan Ngoro. Kegiatan ini merupakan tahap paling awal jenjang kaderisasi.

IPNU-IPPNU Empat Kecamatan di Jombang Gelar Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Empat Kecamatan di Jombang Gelar Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Empat Kecamatan di Jombang Gelar Makesta

Dengan mengambil tema “Menuju Generasi Muda yang Mandiri, Loyal, dan Militan dalam Beraswaja & Berbangsa”, IPNU-IPPNU Kecamatan Jogoroto sukses melatih 90 anggota baru dari berbagai ranting dan pimpinan komisariat setempat pada Selasa-Kamis, 23-25 Desember 2014 di MTs. Al-Hikmah Janti Jogoroto. Selain materi-materi Makesta peserta juga diberikan wawasan tentang Kewirausahaan.?

“Dengan adanya kegiatan semacam ini diharapkan kader IPNU-IPPNU dapat menjadi kader yang berjiwa militan dan loyal terhadap organisasi selain menjadikan mereka sebagai kader yang mandiri, berbekal pengetahuan dan pemahaman materi yang mereka dapatkan selama tiga hari ini,” ungkap ketua PAC IPPNU Jogoroto ketua Fathiyah Putri Ramadhani di sela acara.?

Lain halnya dengan Makesta gabungan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Diwek yang lebih fokus pada materi-materi dasar Makesta mulai Kamis-Jum’at, 26-27 Desember 2014. Bertempat di MI Miftahul Ulum Desa Jatipelem, puluhan kader IPNU-IPPNU se-Kec. Diwek khidmad mengikuti pelatihan kaderisasi yang mengambil tema “Menciptakan Kader Pelajar NU yang Berpegang Teguh pada Ahlussunnah wal Jama’ah”.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara kegiatan serupa juga dilaksanakan oleh PAC IPNU-IPPNU Ngoro pada 27-28 Desember 2014, menyusul PAC IPNU-IPPNU Jombang Kota pada 28-29 Desember 2014 dan PR IPNU-IPPNU Desa Gondek pada 3-4 Januari 2015 di tempat yang berbeda.?

Kegiatan lain yang akan berlangsung adalah Latihan kader muda (Lakmud) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU – IPPNU Mojoagung pada bulan pertama tahun mendatang. Lakmud merupakan jenjang kedua setelah Makesta. (aulia rohmah/mukafi niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu, Quote, Syariah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock